Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 56


__ADS_3

Mawar terus berperang pada pikirannya, apapun yang dibicarakan Rasya dan David, serta seorang advokat itu ia tak menyimaknya sama sekali, kebimbangan tengah menyerangnya.


Dia tidak menaruh dendam sama sekali pada Vivi, apalagi sampai harus melaporkannya, ia juga memikirkan perasaan Marvin, munkin Marvin memang tidak secara terang-terangan mengatakan bahwa dia menyayangi sang mama, dan juga tidak melarang jika memang mamanya harus bertanggung jawab atas perbuatannya.


Mawar mendesah pasrah, hal yang paling ia takuti adalah kekecewaan Rasya dan yang lainnya. Sudah pasti keputusan yang dia ambil akan menimbulkan banyak resiko untuknya. Tapi Mawar yakin, hal itu akan berlalu dengan sendirinya.


Sedang putusan sidang akan menghukum Vivi seumur hidup bukanlah sesuatu keputusan yang benar, wanita itu akan menghabiskan sisa hidupnya dijeruji besi, Mawar tidak akan tega melihat itu, ia yakin, Vivi akan berubah.


Mawar menarik nafasnya dalam, ia sudah siap akan keputusannya ini


"Maaf saya menyela" ucapan Mawar membuat ketiga laki-laki itu menatapnya, dipandangnya wajah David, lalu sang pengacara, dan yang terakhir suaminya.


"Ada apa sayang" Rasya mengambil tangan Mawar yang saling meremas, mencoba mengalirkan ketenangan, tangan itu begitu dingin, Rasya tahu istrinya gugup, diselaminya mata itu.


"Aku tidak akan melaporkan ibu Sya, aku tidak akan melaporkannya" ucap Mawar tegas.


Rasya terkejit, ia berkerut dahi "Apa maksud kamu?"


"Maaf"


Hanya itu yang ia katakan, Mawar menunduk, ia tak sanggup melihat wajah kecewa Rasya.


David dan juga pak Rizal pun tak kalah terkejutnya, padahal mereka baru saja serius membahas ini


"Mawar apa ada yang mengancammu" tebak David, ia memang sedari tadi menaruh curiga, Mawar seperti menutupi sesuatu.


Mawar menggeleng, dengan masih menunduk, ia melepaskan genggaman tangan Rasya.


"Maaf pak Rizal, bukankah sebuah laporan akan gugur, jika korban tidak hadir dalam persidangan?" tanya Mawar pada sang pengacara


"Iya, sesuai dengan undang-undang yang telah ditetapkan, apabila penggugat tidak hadir dalam persidangan, terutama sidang pertama, maka hakim dapat memutuskan gugatan gugur, karena dinilai penggugat tidak menunjukkan keseriusannya terhadap gugatan yang telah diajukan dirinya" terang pengacara singkat dan jelas.

__ADS_1


"Iya, saya tidak akan melakukan laporan apa-apa, pelaku adalah ibu saya, jadi saya tidak akan melaporkannya" jawab Mawar


Mendengar itu Rasya membuang muka, dia terkejut sekaligus kecewa, padahal tadi pagi mereka sudah membahas ini, tapi tiba-tiba Mawar berubah haluan, ia malah membuat keputusan sendiri tanpa bertanya padanya terlebih dahulu.


Begitu juga David, padahal dia juga akan mengerahkan segala upaya, agar Vivi menanggung akibat dari perbuatannya, sudah lama ia menunggu momen ini, berharap dapat membalaskan sakit yang diderita Mawar dan bibinya selama ini, tapi Mawar malah membebaskan wanita itu.


"Kita memberi kamu waktu Mawar, bahaslah bersama Rasya, ingat penderitaan ibumu, wanita itu telah membuat hidup kalian seperti ini, dan membuat kita terpisah" lirih David pada adiknya, berharap Mawar nanti mampu merubah keputusannya, ia mencoba menutupi rasa kecewanya.


David dan seorang pengacara itu berpamitan, dan mereka akan datang lagi, jika Mawar berubah pikiran.


Kini tinggal Rasya dan Mawar, mereka masuk kekamar.


"Apa yang kamu pikirkan Mawar? kenapa mengubah keputusan sendiri?" Rasya mencoba menahan amarahnya.


"Maaf Sya, aku tidak bisa melakukan itu pada ibu, aku tahu dia melakukan ini karena kekesalannya pada ibuku dan papa Marcel"


"Dia bukan ibumu, jangan naif Mawar, kamu tidak memikirkan perasaan ku?, betapa sakitnya aku melihat kamu diperlukan seperti itu, kamu hampir dilecehkan oleh orang suruhannya" urat leher Rasya sampai terlihat, ia menahan kesal


"Kamu menganggap aku ini apa? aku seperti suami yang tidak berguna, tidak bisa melindungi mu, aku datang pun terlambat, dan sekarang aku berusaha untuk menjadi suami yang terbaik, hanya ini sekarang yang bisa aku lakukan, memberi pelajaran pada wanita iblis itu, tapi kenapa kamu malah membebaskan dia, membiarkan dia berkeliaran kemana-mana, siapa yang bisa menjamin dia tidak akan melakukan hal yang lebih parah lagi?"


"Sya, belajarlah untuk memaafkan kesalahan orang lain, dan melupakan kesalahannya, kita tidak bisa menuntutnya berbuat baik, tapi kita bisa untuk tidak melukai orang lain, apalagi dendam" Mawar mencoba memberi pengertian pada suaminya "Aku saja bisa memaafkan mu, lihat, sekarang kamu bisa menjadi orang yang begitu lembut, dan aku percaya, ibu juga bisa seperti itu"


Tanpa Mawar sadari ucapannya justru memantik amarah pada suaminya.


"Jadi kamu membandingkan aku dengannya?"


"Bu-bukan itu maksud ku Sya" Mawar ingin menggapai tangan suaminya, namun ditepis begitu saja oleh Rasya.


"Apa kamu terpaksa menikah dengan ku?" Rasya memandang kearah lain, hatinya sungguh sangat kecewa.


"Sya"

__ADS_1


"Oke, diantara mungkin cuma aku yang mencintai dengan tulus, sehingga kamu tidak bisa menjangkau yang aku rasakan" Rasya melihat waktu "Aku sudah terlambat, semoga kamu bisa merubah keputusanmu"


"Sya" Mawar mencoba mengejar Rasya yang sudah keluar, ia merasa bersalah.


Didepan pintu Rasya berhenti, "Nanti akan ada pembantu yang datang, yang bisa membantu pekerjaan mu, jangan terlalu capek, dan jika ingin pergi, aku sudah menyiapkan supir, juga untuk menemani mang Dadang, aku berharap Vivi tidak berulah lagi"


Rasya berlalu, namun Mawar tak tinggal diam, dia terus mengejar Rasya, dan memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku, jangan seperti ini Sya"


Rasya memejam, dia sebenarnya tidak tega, namun ia berharap Mawar mau merubah keputusannya dengan dia seperti ini. Ia melepaskan pelukan Mawar tanpa melihat istrinya lagi


"Aku sudah terlambat, jaga dirimu"


Rasya berlalu, ia langsung masuk kedalam mobilnya, wajahnya sungguh sangat tidak bersahabat.


Mawar mencelus, Rasya tidak lagi melihatnya, bahkan tidak melambaikan tangan pun tidak, padahal ia berdiri didepan pintu, berharap Rasya akan melihatnya, ada setitik rasa nyeri masuk kedalam relung hatinya, "Maafkan aku Sya"


Mereka bahkan belum sempat sarapan bersama.


...****...


Dikediaman keluarga Marcel, laki-laki paruh baya itu kini tak lagi merasa kesepian, ada Marvin beserta Putri yang ikut turut sarapan bersamanya, walau suasana canggung masih dapat ia lihat dari kedua pasangan itu, Marcel cukup memahaminya, ia menangkap rambut keduanya yang nampak kering, seperti musim kemarau.


"Apa air dikamar mu kering Marvin?"


Marvin menatap Marcel bingung, dahinya berkerut "Maksud Papa?" tanyanya tak mengerti


"Kalian bahkan sudah melakukannya, kenapa sekarang justru membuat jarak" Marcel menggelengkan kepalanya.


Marvin dan Putri saling pandang, mereka tahu maksud ucapan Marcel. Putri sangat malu mendengar ucapan papa mertuanya, iya, mereka pernah melakukannya, tapi Marvin dalam keadaan tidak sadar, dan sekarang mereka bahkan belum saling menyapa sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2