Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 17


__ADS_3

Hati yang mulai membaik. Baru saja merasakan bahagia dicintai oleh laki-laki yang dianggap cinta pertamanya seorang anak perempuan. Kini harus kembali dihadapkan pada sebuah pilihan. Yang mana jika dia memilih salah satunya, tetap dia yang akan menanggung semuanya.


Tak mau lagi mengalah, tak mau lagi diremehkan dan hanya diam, dia juga harus tegas. Tak ingin lagi dia mengikuti semua kemauan orang lain. Saatnya dia menentang dan menunjukkan sikapnya yang sebenarnya.


Yah, didepan laki-laki yang beberapa hari lagi akan menjadi suaminya, laki-laki yang biasa mengeluarkan kata kasar padanya, dia mengeluarkan semua yang dipendam selama ini.


Dikepalkanya tangan sebagai kekuatan, agar tak terlihat ragu ataupun bergetar saat berbicara.


Mawar melangkahkan kakinya, mendekati Rasya yang mengurungkan langkahnya untuk berbalik menuju mobilnya.


"Jangan pernah meminta hal yang menyulitkan orang lain, selama ini aku diam, tapi jika memang kamu tidak mau menikah dengan ku, katakan pada mama mu, dia yang memulai semuanya."


Rasya menghembuskan nafasnya.


"Terserah.... berarti aku yang akan melakukannya" Jawabnya acuh, ia pun merogoh ponsel didalam sakunya.


"Halo... Putri..."


"Iya mas" ujar suara dari ponselnya, terdengar sangat manja, Rasya sengaja mengeraskan suara panggilannya.


Mawar... sadarlah apa yang kamu harapkan?. Mawar yang mendengar itu, berusaha menyadarkan dirinya.


"Kamu sudah siap, aku jemput ya" Rasya bahkan tersenyum sangat bahagia. Ia pun mematikan panggilannya.


"Aku yakin, kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku, kamu cantik, dari keluarga kaya, aku jamin keluarga mu tidak akan menanggung dari semua ini." Dipandangnya Mawar sekilas.


"Semudah itu kamu menganggap semuanya? Rasya kamu benar-benar laki-laki tak berperasaan"


"Apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini, cuma harta keluarga ku bukan?"


"OMONG KOSONG, jaga mulutmu, jangan pernah menghina keluarga ku?" Mawar tersulut, dia tak bisa terima, jika keluarganya dihina.


Rasya tersenyum mencebik "Apalagi?."


Plakkk

__ADS_1


Untuk kedua kalinya Rasya mendapatkan tamparan dari Mawar, nampaknya tamparan kali ini lebih keras dari sebelumnya, sampai wajah Rasya memerah, telapak tangan Mawar membekas disana.


David yang berada didalam mobil pun tersentak atas yang dilihatnya, namun ia senang, Mawar tak lagi menjadi wanita lemah. Walau ia tak tahu apa yang sedang terjadi.


"Nggak nyangka, anak dari seorang pengusaha terkenal, berpendidikan tinggi, tapi tidak bisa menjaga tutur kata yang baik." Mawar sudah tak dapat lagi mengontrol emosinya.


"Jadi ini sifat asli seorang Mawar, pantas ibumu tak menyukai mu, Hem." Simpulnya pada kejadian direstoran beberapa hari lalu. Rasya tersenyum mencibir, tangan kirinya masih memegangi pipi yang masih terasa panas.


"Jangan pernah mengatakan hal-hal yang kamu tidak tahu kejadian yang sebenarnya"


"Dan aku juga... Ora urus" Rasya melengoskan tepat di depan wajah Mawar.


Rasya melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Mawar yang yang masih terpekur ditempatnya.


Pandangannya kosong menatap mobil Rasya yang semakin menjauh, sampai mobil itu tak terlihat lagi.


Kenapa nasib baik tak pernah berpihak kepada ku, Tuhan... apa kesalahanku, sehingga aku harus menanggung semuanya.


Mawar menengadahkan kepalanya, mencoba menghalau bulir bening yang akan jatuh. Kenapa dunia begitu tidak adil untuknya, dia menerima diasingkan di keluarga sendiri, mencoba bersabar menerima takdir, tapi mengapa bahkan jodoh yang baik pun, tak berpihak padanya.


Laki-laki mana yang akan mengenalnya, sedang dia sendiri tidak punya teman kecuali Chio. Keluar rumah juga hanya bertemu Chio, selalu dikawal, dan selalu dilaporkan apapun yang dia lakukan diluar.


Tidak Mawar... tidak... jangan biarkan orang lain tertawa melihat kehancuran hidupmu, bukankah papa sekarang sudah berubah?. Itu semua karena kesabaranmu, tanpa kamu melakukan apapun, tapi Allah sungguh maha baik.


Mawar putuskan untuk kembali kerumahnya, ia urungkan bertemu Putri, karena Putri sendiri sudah pasti sedang bersama Rasya.


...****************...


"Mas ...."


Putri menghampiri mobil Rasya yang baru saja tiba dirumahnya.


Rasya membuka kaca mobilnya "Sudah siap?" Lihatnya Putri yang sudah rapi. Putri pun mengangguk sebagai jawaban.


"Yuk masuk." Perintah Rasya.

__ADS_1


Putri segera naik ke mobil Rasya, wangi parfum Rasya langsung menyeruak, masuk ke indra penciumannya. Hal yang paling disukai Putri,


aroma kayu-kayuan, bercampur dengan jeruk Mandarin. Ciri khas dari laki-laki itu.


"Kamu mau kemana?". Putri tersentak, suara berat Rasya mengagetkannya yang sedang menikmati wangi parfum miliknya.


"Eh... Putri mau kerumah orang tua Putri". Ia tersenyum


Rasya mengernyitkan keningnya. "Rumah orang tua, bukanya katamu..."


"Anak yatim piatu..." Sela Putri.


Rasya mengangguk "Maaf". ujarnya tak enak hati.


"Ia ... lagian Mas tadi aneh, telepon tanpa nanya dulu, main langsung mau jemput aja, kan Putri belum sempat jelasin" Putri memberenggut, dimanyunkanya bibirnya.


Rasya terkekeh melihatnya, "Jadi kita kemana ini tuan Putri yang cantik?"


"Gombal". Ujar Putri, tapi menyukai ini.


Putri pun menunjukkan arah dimana tujuannya.


Mobil Rasya berhenti pada pemakaman umum. Mereka berjalan beriringan, Rasya mengikuti langkah Putri.


Berhentilah mereka pada dua makam yang berdekatan, Putri duduk ditengah antara kedua makam tersebut. Sedang Rasya berdiri, memperhatikan Putri yang khusyuk berdoa, entah apa yang dibaca gadis itu, karena Putri tak mengeluarkan suaranya. Rasya membaca nama keduanya, terus ia melihat tanggal kematian keduanya yang nampak sama.


Hatinya berdenyut, tak bisa ia bayangkan bagaimana Putri yang ditinggalkan orang yang sangat berarti disaat yang bersamaan.


Terbersit dibenaknya, apa ia nyatakan saja perasaannya? tak tega, melihat Putri hidup seorang diri. Berjuang sendiri demi mencukupi kebutuhannya, diusianya yang masih tergolong sangat kecil. Jika Putri hidup bersamanya, maka, Putri tak perlu lagi, banting tulang, karena ia yang akan memenuhi semua kebutuhannya.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2