Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 67


__ADS_3

Kini Mawar dan Rasya sedang diperjalanan menuju ke rumah sakit tempat biasa Mawar meriksakan kandungannya. Setelah dari kamar mandi, Mawar memberi tahu Rasya jika dia sudah mengeluarkan tanda-tanda akan melahirkan, namun dia tidak memberi tahu, jika dia sudah mengeluarkan banyak darah.


Sepanjang perjalanannya Mawar hanya diam, sesekali dia memegang tangan Rasya jika kontraksi itu datang. Mawar tidak berteriak, dia hanya mengatupkan mulutnya, serta meringis menahan sakitnya.


"Sayang kamu tahan ya, sebentar lagi kita sampai" ucap Rasya sedikit panik, keringat Rasya sudah sebesar biji jagung, dia menggenggam erat tangan Mawar


"Hubby.... kan aku yang mau lahiran, kenapa kamu yang panik?" Mawar terkekeh, dia lucu sendiri melihat wajah panik Rasya


"Jangan ketawa sayang, kamu nggak tahu, aku begitu takut"


"Tenang hub, aku yakin aku bisa, kamu lihat kan, aku nggak panik" Mawar menenangkan Rasya, walau dia sendiri merasa gugup


Rasya mengambil ponsel yang ada disaku celananya "Aku hubungi mama dulu ya?" izinya pada sang istri.


Mawar mengangguk, ia kembali meringis, dikala kontraksi itu terasa kembali.


Tak lama mereka sampai pada rumah sakit, Rasya yang memang sudah dikenal disana, segera Mawar mendapatkan pertolongan, ia langsung dibawa ke ruang perawatan.


Dokter wanita yang memang menangani Mawar dari awal segera datang memeriksanya


Kembali Mawar meringis saat jari dokter tersebut masuk pada inti tubuhnya


"Wah, Bu ini sudah pembukaan 6, nggak lama lagi ya" ucap dokter yang berusia hampir kepala lima tersebut


"Sus, siapkan semua ya" perintahnya pada sang perawat yang datang bersamanya, perawat itupun mengangguk, lalu ia keluar.


"Saya tinggal sebentar ya, mungkin ini masih dua atau tiga jam lagi, atau lebih cepat" pamit dokter tersebut, "Oh ya, sebaiknya Bu Mawar tidur miring ke kiri, untuk mempercepat bayi lahir, dan mengurangi resiko tekanan darah Vena cava inferior (pembuluh darah utama yang mengalirkan darah ke rahim)" saran nya sebelum berlalu


"Dok, ini tidak apa-apa istri saya ditinggal?" tanya Rasya, dia takut terjadi apa-apa pada Mawar, apalagi ini pengalaman pertama untuknya, dan merupakan anak pertamanya


"Tidak apa-apa Pak, saya nanti akan kembali lagi untuk memeriksa keadaan ibu Mawar"


"Dari tadi istri saya mengeluarkan darah Dok, apa itu tidak apa-apa?" tanpa sengaja Rasya melihat darah yang mengecap dari baju bagian belakang Mawar.


"Tidak apa-apa Pak, itu normal terjadi pada ibu yang akan melahirkan, ini disebabkan karena karena rahim mulai melunak dan melebar, ini dan juga ada pembuluh darah yang pecah dan menjadi tanda bahwa persalinan akan segera tiba" jelas sang dokter pada Rasya


"Baik Dok, saya mengerti" angguk Rasya setelah mendapat penjelasan dari dokter


Dokter tersebut tersenyum sebelum berlalu dari ruangan Mawar.


Cengkraman tangan Mawar pada lengan Rasya membuat Rasya menoleh pada istrinya.


"Sayang kamu harus kuat ya" usap Rasya kening Mawar yang mengeluarkan banyak keringat "Kamu butuh sesuatu, mau minum?, makan? atau kamu pengen makanan apa?"


Mawar terkekeh, melihat kepanikan Rasya yang berlebihan.


"Kamu yakin kamu baik-baik aja hubby? kamu tadi liat darah aku" Mawar tahu Rasya menyembunyikan takutnya


"Iya aku tidak apa-apa" jawab Rasya bohong. Dia harus terlihat kuat demi bisa menemani Mawar dalam berjuang melahirkan anak pertama mereka.


"Hubby.... boleh aku minta sesuatu sebelum aku melahirkan?"

__ADS_1


"Apa sayang? kamu mau minta apa? tapi tolong jangan buat aku panik" permintaan Mawar malah membuat pikiran Rasya melayang kemana-mana.


"Cium aku, untuk menambah tenaga aku nanti" pinta Mawar dengan senyum malu-malunya. Lalu ia kembali meringis, kala kontraksi itu kembali terasa


"Sayang kamu yakin?" tanya Rasya, ia tidak yakin jika dia hanya akan mencium istrinya


"Kamu nggak mau hubby?" tanya Mawar, ia nampak kecewa


"Bukan begitu, kamu tahu sendirikan, aku nggak bakalan kuat jika hanya mencium"


"Kamu jahat, kamu nggak sayang sama aku, harusnya kamu juga tahu batasannya, aku mau lahiran, cium saja harusnya kamu bisa, dan juga bisa nahan sebentar, gimana nanti kalo kamu harus puasa 40 hari setelah aku lahiran" Mawar kembali meringis, kontraksi itu sekarang lebih sering, dan dia juga merasakan jika ada darah yang keluar dari bawah tubuhnya.


Rasya dibuat tertawa oleh amarah istrinya, bisa-bisanya Mawar membuat drama saat akan melahirkan.


Rasya berdiri menghadap istrinya, dan mengambil tangan Mawar. Ia kecup tangan itu


"Maafin aku ya, dan satu aku minta, jangan pernah berpikir aku nggak sayang, kamu segalanya dalam hidup aku, kamu nyawa aku"


Seketika Rasya menyatukan bibirnya dengan Mawar, dengan lembut ia mencium bibir tipis itu.


"Astaga"


Suara Mama Rika membuat tautan bibir mereka terlepas.


"Teh Sumi apa kita salah masuk kamar?" tanya Mama Rika pada asisten rumah tangga Mawar yang datang bersamanya, namun wanita paruh baya itu tetap masuk, dan langsung mendudukkan tubuhnya di sofa panjang pada ruangan itu.


"Maksud ibu?" tanya teh Sumi, yang beruntung tidak melihat adegan majikannya itu, ia membawa tas yang berisikan keperluan bayi Mawar


"Mama udah datang Ma?" tanya Mawar basa-basi, dia begitu tidak enak pada mertuanya.


"Iya sayang, Mama harus menjadi orang pertama yang melihat cucu Mama, karena Mama nggak yakin ayahnya bisa menemani cucu Mama" Mama Rika melirik Rasya yang salah tingkah


Setelah tiga puluh menit berlalu, kontraksi Mawar lebih sering lagi, 10 menit sekali kontraksi itu terasa.


Mama Rika menenangkan Mawar, ia memberikan arahan pada menantu kesayangannya itu dan membantu Mawar mengucapkan doa sebelum persalinan.


Rasya selalu setia disamping istrinya, ia menjadi tempat pelampiasan Mawar ketika ia merasakan kontraksi itu. Beruntung Mawar tidak pernah memelihara kuku panjang, jika tidak, sudah habislah kulit Rasya. Sedikitpun Mawar tidak berteriak, dia hanya merapatkan bibirnya dan mengucap kalimat-kalimat pujian pada sang pencipta.


Dokter datang bersama dengan beberapa perawat, ia kembali memeriksa kandungan Mawar.


"Ini lebih cepat dari dugaan saya, bayinya sudah tidak sabar untuk segera launching ya, mau segera bertemu dengan ayah dan ibunya" ucap dokter, lalu dokter meminta para perawat membantunya menyiapkan segala keperluannya.


"Oh ya Pak, apa pak Rasya mau menemani Ibu Mawar dalam persalinannya?" tanya dokter pada Rasya


"Iya Dok, saya mau disini menemani istri saya" ucap Rasya percaya diri


"Hubby kami yakin?" tanya Mawar yang ragu Rasya sanggup menemaninya.


"Aku yakin sayang, demi kamu Dan anak kita" tangan Rasya tak lepas menggenggam tangan Mawar


"Aku ..."

__ADS_1


Sshhh


Mawar kembali meringis


"Nggak pa-pa sendiri"


Sshhh


"Kamu nggak usah khawatir" ucap Mawar terputus-putus kala ia merasakan sakit perutnya.


Mama Rika yang melihat itupun memberi solusi. "Sya, biar Mama aja ya yang nemani Mawar, kamu kan nggak bisa liat darah"


"Nggak pa-pa Ma, Rasya sekarang sudah kuat"


Dokter yang melihat itu bertanya "Pak, apa pak Rasya ada trauma atau takut melihat darah? jika ada jangan dipaksakan"


"Tidak apa-apa Dok, itu dulu" jawab Rasya tegas, tapi berbeda dengan hatinya


"Bapak yakin, jangan sampai nanti saat istri anda mengejan, anda malah pingsan"


"Tidak Dok, saya kuat"


"Yakin?" tanya dokter sekali lagi untuk memastikan


"Yakin Dok" jawab Rasya mantap


"Baiklah Pak, kalau begitu, kita akan mulai"


Mama Rika keluar dari ruang persalinan, dengan hati yang tidak tenang, tidak tenang karena memikirkan Mawar ,dan ditambah Rasya yang memaksakan ingin menemani Mawar.


Setelah dirasa semua siap, dokter melihat bahwa bayi Mawar sudah akan keluar, dia memberi aba-aba.


"Dengar saya ya Bu, ikutin saya, jika kata saya mengejan ibu mengejan, tapi jika saya bilang jangan dulu, jangan ya Bu" arah dokter tersebut, agar Mawar rileks


"Pak tolong pegang kaki istrinya ya, supaya tidak mengangkat pinggulnya" dokter mengarahkan Rasya untuk memegang kaki Mawar yang sudah ditekuk


Saat dokter memberi arahan pada Mawar, dan meminta Mawar mengejan, kehebohan terjadi pada ruangan tersebut.


Rasya jatuh pingsan saat melihat banyak darah yang keluar dari tubuh bawah istrinya.


.


.


.


.


*Disini siapa yang ada pengalaman suaminya pingsan saat istrinya lahiran hayo komen... kalo ini pengalaman tetangga saya🤭🤭


Jangan lupa kasih hadiahnya donk buat Mawar, bila perlu vote sekalian 😍😍❤️*

__ADS_1


__ADS_2