Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 15


__ADS_3

Suara erangan dan lirihan terdengar menggema pada kamar apartemen dilantai sepuluh itu. Dua orang yang tak muda lagi saling memuaskan satu sama lain, kesalahan awal atas penghianatan cintanya, menjadi berlanjut, terlanjur jatuh terlalu jauh. Ia tak bisa menghentikan yang sudah dia awali, karena ada darah daging yang menjadi pengikat keduanya. Kamar apartemen miliknya yang dibeli atas nama pasangannya, menjadi saksi bisu setiap ia melampiaskan kemarahannya, membalas dendam atas kesakitan hati yang tiada berkesudahan.


Menyudahi kegiatan,keduanya tersenyum. Harus kembali lagi ke kehidupan yang mereka jalani penuh kepalsuan. Sang wanita memakai kembali aksesoris yang melekat pada dirinya, memoles wajah dan bibir yang berantakan akibat kegiatan panas yang mereka lakukan.


Tak ada bayaran selembar atau dua lembar uang, karena mereka melakukannya atas dasar cinta. Ciuman panas kembali mereka lakukan sebagai salam perpisahan.


Hati dan raga yang tak ingin berpisah, namun semua harus mereka lakukan, demi menutupi hubungan haram dan terlarang.


Melajukan mobil hitam miliknya, wanita yang masih terlihat cantik dan muda dari usianya itu, menerobos kelengangan jalan yang merangkak tengah malam.


"Semalam ini kamu baru pulang?." Suara berat pria yang sudah tak muda lagi itu, memergokinya yang sudah memelankan jalan agar tak mengusik penghuni rumah yang sudah terlelap dalam mimpi.


"Banyak urusan yang harus aku kerjakan." Jawabnya santai, tak menghiraukan sang suami yang menunggu kepulangannya. Ia terus melangkahkan kaki, menuju kamarnya untuk mengistirahatkan badan yang sudah lelah.


"Aku membiarkanmu melakukan sesuka hati, tapi sekarang, kau telah melewati batas."


Ia menghentikan langkah diundakan tangga "Sudah malam, aku tak ingin berdebat, aku lelah." ujarnya tanpa menoleh.


Prang...


Vas bunga yang tak bersalah menjadi pelampiasan atas kemarahannya. Kesal karena tak dihiraukan. Papa Marcel memegangi dadanya, mencoba meredam rasa sakit.


"Aku sudah mengikuti semua kemauan mu, tapi kau malah... " lelaki itu mengacak rambutnya frustasi.


Mawar yang belum tertidur mendengar benda yang pecah, "Apa itu?" Lirihnya pada diri sendiri. Ia mencoba mendengar kembali, namun tak ada suara apa-apa lagi. Digelengkanya kepala, mungkin ia salah dengar. Ia melanjutkan kembali memeriksa data yang dikirim Chio melalui benda tipis nan pintar miliknya, yang ia sembunyikan agar tak diketahui atau pun disadap oleh ibu Vivi. Mawar tersenyum bahagia, puas akan kerja keras Chio.


Diliriknya waktu, sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam, ia meregangkan ototnya yang kaku akibat terlalu lama duduk.


Semenjak ia mulai bertegur sapa dengan papanya, Mawar merasa lebih bersemangat menjalani hari-harinya. Ditambah lagi, impiannya memiliki usaha sendiri berjalan lancar, tanpa ada yang mencegahnya.


......................


Hari masih terlihat gelap, Mawar sudah berkutat memasak kembali makanan untuk diantarkannya pada Rasya. Hari pernikahan mereka tersisa lima hari lagi, tak ia pedulikan Rasya yang masih acuh padanya.


Ia mencoba berdamai, melupakan kejadian yang kemarin. Ia yakin, Rasya hanya salah paham.


"Mawar, kamu sudah bangun nak?." Suara Papa Marcel mengagetkan Mawar.


"Papa... maaf Mawar ganggu tidur papa"

__ADS_1


"Nggak, papa memang biasa bangun jam segini." Bohongnya, padahal ia semalam tidur di sofa ruang tengah.


Dilihatnya Mawar yang sedang membuat sarapan berupa roti bakar yang ia olesi dengan mentega dan selai kacang. Mereka berdiri bersisian di pantry.


"Masih gelap, anak papa sudah sibuk didapur." diusapnya pucuk kepala Mawar. Yah ia mencoba dekat dengan anaknya, meski ia rasa terlambat.


Mawar begitu mengharu mendengar panggilan Papa untuknya. Sungguh ia tak pernah marah atas sikap Papanya selama ini. Untuk ibu Vivi, ia harus lebih bersabar lagi, Mawar yakin akan ada masanya, ibu akan membuka hati untuknya.


"Papa mau mencoba sarapan buatan Mawar?"


"Kamu tidak repot?"


"Untuk papa dengan senang hati, Mawar akan membuatkannya." Senyum Mawar tak pernah surut, Ia benar-benar menunggu momen seperti ini.


"Kapan kamu belajar memasak sayang? Papa tidak pernah melihat kamu didapur?" Papa Marcel mencomot roti buatan Mawar yang sudah disajikan di piring.


"Ih... papa belum cuci tangan." Diambilnya roti yang sudah siap masuk kedalam mulut Papa.


"Wahhh... ternyata kamu cerewet juga ya." Papa mencolek slai, lalu menempelkannya pada pipi Mawar.


"Ih... papa rese.." Mawar mengelap noda slai menggunakan punggung tangannya, dengan wajah yang ia buat seperti merajuk.


Mawar menangkap suara isakan, ia berbalik, dilihatnya punggung Papa Marcel yang bergetar. Cepat Mawar letakkan roti yang dipegangnya, menghampiri Papa yang membelakanginya.


"Pa... ada apa Pa?." Mawar sangat panik, Papa yang tiba-tiba menangis.


Papa tak menyahut, suara isakan itu makin menjadi.


"Pa ... maafkan Mawar, Mawar nggak bermaksud melarang Papa... " Mawar mengapit bibirnya, merasa bersalah atas tindakannya yang membuat Papa Marcel tersinggung. Sungguh ia tak bermaksud apa-apa.


Papa Marcel menggelengkan kepala, ia semakin terisak, tak dapat berkata-kata lagi Mawarnya yang begitu lugu, Mawarnya yang begitu pintar, Mawarnya yang terabaikan.


"Pa ..."


"Kamu tidak salah, maafkan Papa." Potong Papa, akhirnya Papa meminta maaf juga. "Seharusnya ini terjadi dari dulu, Papa menjadi laki-laki pertama yang mencicipi masakan mu, menjadi laki-laki yang menjagamu, menjadi cinta pertama untuk kamu, maafkan Papa, membuat keadaan menjadi tak nyaman, kita yang selama ini tak pernah bertegur sapa, Papa berharap ini tidak terlambat, walau waktu kita tinggal sedikit lagi untuk bersama."


"Papa tahu, Papa tetap menjadi cinta pertama untuk Mawar, belum pernah ada yang bisa membuat Mawar jatuh cinta, kecuali Papa, terima kasih Pa... ". Mawar memeluk Papanya.


Terima kasih Tuhan, engkau memberi ku kesempatan, telah memberi ku putri yang begitu Solehah.

__ADS_1


Papa mengurai pelukan mereka "Apa Rasya belum membuat mu jatuh cinta?."


Mawar tersipu malu atas pertanyaan Papa "Ish.. papa nanya apa sih?." Mawar kembali menyusun roti miliknya, memasukkan nya kedalam kotak untuk ia hantar kerumah Rasya.


Sedang Papa terkekeh melihat ekspresi Mawar.


"Jika suatu saat Rasya menyakitimu, kembalilah pada Papa, jangan pergi pada orang lain, Papa tidak pernah tahu hubungan kalian, tapi jika kamu terpaksa menerima perjodohan ini, katakan, papa akan membatalkannya." nasihat Papa sukses membuat Mawar merasa dicintai. Ia tak dapat mengungkapkan betapa bahagianya dia. Ingin rasanya dia meminta Papa membatalkan perjodohan ini, agar bisa lebih lama lagi dapat bersama dengan Papanya, memperbaiki waktu yang hilang, namun ia tak mau Papa menanggung resiko, atas kerugian yang mereka alami, jika sampai ia melakukan itu.


"Eh... mana roti untuk papa, kenapa Papa tidak disisakan?."


Mawar tertawa, ia lupa menyisakan untuk Papa. Akhirnya ia membuat kembali sarapan khusus untuk Papanya. Dan untuk pertama kalinya, Papa memakan makanan yang dibuat Mawar, Papa yang akhirnya sarapan seorang diri,


Marvin belum bangun, sedang mama Vivi, tak mungkin memakan sarapan dari Mawar. Masakan yang sudah disajikan para pembantu pun tak tersentuh, karena mama memilih langsung pergi kekantor, sebab masih kesal.


Pagi sekali Mawar sudah berada dirumah Rasya, ia langsung pergi, sebab ingin menemui Putri sebelum Putri pergi untuk bekerja, karena ia tak tahu jadwal Putri.


Rasya yang sudah rapi, turun dengan menenteng tas kerjanya, dan jas yang ia sampirkan di tangan.


"Pagi Ma, Pa." sapanya pada Mama dan Papanya yang sudah menunggu di meja makan. Mata Rasya celingukan, mencari sosok yang ia dengar tadi ada suaranya.


"Pagi ..." Jawabnya keduanya serempak.


Mama Rika menangkap Rasya seperti mencari keberadaan seseorangpun tersenyum.


"Kamu cari Mawar?."


"Hah ...?." Wajah Rasya panik, tertangkap basah mencari keberadaan Mawar. Namun ia menghalau dengan langsung memakan roti yang sudah tersaji dihadapannya.


"Dia sudah pulang." Ujar Mama seolah menjawab yang ada dipikiran Rasya, "Cuma mengantar sarapan untuk kamu."


Rasya tersedak mendengarnya, ia takut jika Mawar meletakkan lagi pelet pada makanannya.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf jika bab ini kurang ngefeel... tapi tetep jangan lupa kasih lopenya ya ...


__ADS_2