
Rasya terus mengatur nafas, menyeka keringat pada pelipis yang terus mengalir menggunakan sapu tangannya, bukan karena cuaca yang panas, itu dilakukan untuk menghilangkan rasa gugup.
Duduk lesehan diatas karpet bulu-bulu berwarna silver, didepan meja yang sudah disediakan, tatanan dekorasi yang sederhana namun terkesan mewah dan elegan, dengan bunga-bunga disekelilingnya, dan menggantung diatas gorden berwarna senada, namun tak menghilangkan suasana tegang baginya.
Didepannya sudah ada sang penghulu dan dua orang saksi, serta seorang wali hakim, sebagai wali nikah untuk Mawar.
Yah, papa Marcel memilih wali hakim sebagai wali Mawar, karena ia menyadari kesalahannya. Sebelumnya dia sudah mengatakan kepada keluarga Rasya jika dia bukan wali yang sah, semua atas kesalahan masa lalunya, dia memang tidak mengatakan yang sebenarnya, namun keluarga Rasya yang memang sudah mengetahui hal itu, dapat mengerti, dan tak mempermasalahkannya. Papa Marcel pun memilih duduk dibelakang, bersama yang lain.
Ibu Vivi dan Papa Marcel terlihat biasa saja, sejak pertengkaran itu, keduanya memilih bersikap acuh, seperti tak terjadi apa-apa. Mama Vivi terlihat kesal, karena sang putra kesayangan, tak terlihat, ponselnya pun tak bisa dihubungi.
"Apa Papa tidak melihat Marvin Pa?". Tanyanya pada sang suami dengan berbisik, dengan muka yang begitu kesal.
"Aku tidak mengurusi yang bukan anakku" Jawab Papa ketus, tanpa melihat ibu Vivi.
Ibu Vivi hanya mendengus sebal, ia cukup berdiam diri, sebab sedang banyak tamu.
Karena memang ini hanya acara akad, tamu yang datang pun tak banyak, hanya keluarga Rasya serta Abdi sang asisten, dan keluarga Mawar, dan dihadiri beberapa pengurus RT/RW tempat Mawar tinggal. Dan beberapa pekerja rumah Mawar yang ikut menjadi saksi pernikahan mereka.
Putri yang belum mengetahui apapun, hanya duduk diam bersama yang lain, ia yang tak mengenali sama sekali orang yang ada disini. Matanya terus mencari keberadaan Mawar.
"Sya ada Putri." Bisik Abdi
Rasya terhenyak, tak berani melihat gadis yang telah ia buat penuh harap padanya. Ia menyadari, telah membuat kesalahan besar.
"Biarkanlah, nanti aku yang akan menjelaskan." Ia pun berbisik pada Abdi
Abdi hanya menggelengkan kepalanya, hidup sahabatnya ini begitu rumit, lebih baik ia tak ikut campur, membayangkannya saja sudah membuat kepalanya berdenyut, bergidik ngeri. Dia yang seorang cassanova tak pernah berani untuk membuat patah hati seorang wanita, wanita yang dikecaninya juga, wanita bayaran.
"Mana pengantin wanitanya?" tanya sang penghulu
Melihat papa Marcel yang berdiri, mama Rika bergegas, mengangkat tangannya, "Biar aku saja yang melihatnya."
Mama Rika bangkit, lalu berjalan menuju kamar Mawar.
Diketuknya kamar Mawar, namun karena tak mendapatkan jawaban dari dalam, mama Rika berinisiatif masuk.
Ceklek
Hening.... Kamar Mawar begitu rapi, tak melihat keberadaan Mawar, mama Rika mencari kesetiap ruangan, dibukanya kamar mandi, namun kosong, seketika mama Rika menemukan secarik kertas diatas tempat tidur Mawar.
Degh
Kakinya terasa lemas, mama Rika merasakan kemungkinan buruk yang terjadi, tangannya bergetar mengambil kertas itu. Mama membungkam mulutnya, membaca tulisan tangan Mawar.
"PAPAAAA...." Teriak histeris mama Rika.
Semua yang ada diruang depan terkejut mendengar teriakkan mama Rika.
Semuanya berdiri, papa Marcel langsung berlari, begitu juga Rasya dan papa Reyhan.
__ADS_1
"Kenapa Ma?." Tanya Rasya dan papa Reyhan.
Mama Rika sudah terduduk lemas dipinggir tempat tidur itu, masih memegang kertas dari Mawar.
"Mana Mawar?" Tanya papa Marcel cemas.
Mama Rika hanya menggeleng lemah, mulutnya keluh, tak bisa menjawab.
Papa Marcel langsung mengambil kertas yang ada ditangan mama Rika, dan membacanya.
"*Pa.... maafkan Mawar, Mawar mengecewakan papa, sungguh Mawar sangat bahagia, papa bisa menerima Mawar, Mawar selalu bangga punya papa sehebat papa Marcel.
Pa.... sampaikan maaf Mawar pada Tante Rika. Mawar sangat menyayangi beliau.
Untuk Rasya semoga kamu bahagia bersama Putri, jangan sakiti dia, dia gadis yang baik, terima telah menjadikan aku sepupu untukmu."
Mawar si Paku kuntilanak ❤️❤️*
Semua yang berada disana merasa lemas.
"Mawar kau_" Rasya begitu terpukulnya, baru saja dia akan meminta maaf dan memulai semuanya, menjelaskan tentang hubungannya dengan Putri, tapi Mawar telah mengambil keputusan, mengikuti yang selama ini dia inginkan.
Rasya berlari, meminta Abdi mencari Mawar. semua pekerja dirumah itu dikerahkan, mungkin saja Mawar belum jauh.
Didalam kecemasan semua orang, hanya Putri yang nampak bingung, ada apa sebenarnya? apa yang terjadi?. Kenapa semua orang mencari mba Mawar? Apa jangan-jangan?.
Putri menutup mulutnya, dia begitu terkejut, dia menggelengkan kepala, menepis kemungkinan yang terjadi.
"Lihatlah Nak.... Akibat ketidak dewasaan mu, banyak orang yang terluka." Lirih mama Rika begitu kasihan pada Putri.
"Kamu Putri bukan?"
Putri hanya mengangguk, dia masih dalam keadaan syoknya.
"Ayo duduk" dituntunnya Putri untuk duduk disofa yang ada disana.
Mama Rika menarik nafasnya, dia bingung harus menjelaskan dari mana.
"Saya ibunya Rasya"
"Tante...."
"Maafkan kesalahan anak saya, Rasya saya jodohkan dengan Mawar, dan hari ini adalah hari pernikahan mereka." Terang Mama Rika, ia digenggamnya lembut tangan Putri, menenangkan gadis yang telah diberi harapan oleh putranya.
"Apa?."
Ya Tuhan, jadi benar?, jadi selama ini....
Putri begitu merasa bodoh, Mawar selama ini begitu baik padanya, Putri merasa menjadi wanita jahat, mengingat dimana malam kecelakaannya, Rasya memperkenalkannya sebagai sepupunya, dan Mawar hanya tersenyum, Mawar membantunya dalam segala hal.
Apalagi malam dimana Rasya mengajaknya makan malam, Mawar begitu telaten dan sabar membantunya. "Mba.... maafkan Putri." Putri menunduk, merasa bersalah, tak mengetahui yang sebenarnya, bulir bening itu jatuh pada tangan mama Rika.
__ADS_1
Membayangkan bagaimana perasaan Mawar selama ini, menutupi segalanya. Putri sungguh sangat merasa bersalah.
Mama Rika memgusap-usap pundak Putri, menenangkan gadis cantik yang tertunduk itu. "Semua bukan salahmu, anak Tantelah yang bersalah atas kegaduhan ini."
Putri menggeleng, masih terisak, menyalahkan dirinya yang menyakiti Mawar. Dia melepaskan cincin pemberian Mawar.
"Ini dari mba Mawar Tante." Diberikannya cincin itu pada mama Rika.
"Ini cincin pertunangan mereka."
Putri semakin terisak mendengarnya, Mawar begitu tegar, memberikan cincin pertunangan mereka, pada wanita lain. Terbuat dari apa hatinya?. Tuhan maafkan aku yang tak mengetahui semuanya.
Mama Rika memeluk Putri, dia yang tak kalah terpukulnya, Mawar begitu ia inginkan menjadi menantunya, malah memilih pergi, dan merelakan Rasya menikahi wanita lain.
Mama Rika tahu, kemana Mawar pergi, dia begitu tenangnya, membiarkan Rasya, dengan segala usahanya, mempertanggung jawabkan kesalahannya selama ini. Membiarkan anaknya belajar dari semua kesalahannya.
Mama Rika menangkap ibu Vivi, sedari tadi mondar-mandir, nampak sibuk menghubungi seseorang, entah siapa itu.
Rasya dan Abdi mencari Mawar menggunakan mobil, mereka menyusuri perumahan Mawar, Rasya berharap, dia akan menemukan Mawar. Dia begitu khawatir, merutuki dirinya, yang tak menemui Mawar secara langsung, meminta agar Mawar tetap tinggal, mata keduanya terus meneliti setiap jalan, setiap orang yang mereka lihat, agar tak terlewatkan sama sekali.
"Sya.... kita sudah lumayan jauh ini, mataku sudah perih, dari tadi belum sempet kedip." keluh Abdi, yang sudah lelah, mengelilingi perumahan Mawar, entah sudah berapa kali mereka, melewati tempat yang sama, dan sekarang, sudah menuju jalan raya.
"Diem bisa nggak sih, Dar tadi ngeluh terus."
Rasya tak kalah sewotnya.
"Ck.... lagian, ini bukannya kemauan kamu ya"
"Di... kalo nggak tau apa-apa, mending mingkem"
"Kemarin aja, mati-matian minta Mawar ngebatalin pernikahan ini, lah sekarang dia yang panik, lagian kalo cinta mah ngapain gengsi, nyeselkan ujungnya"
"Bacot ya."
"Makan tuh karma"
"Kalo nggak bisa diem, turun sekarang."
"Huh.... bisanya ngancem." Selalu seperti ini, jika sudah begini, Abdi pasti tak bisa berkutik, kesetiaannya pada Rasya memang tak bisa diragukan lagi.
Chhhiiiiit
Rasya menginjak rem mendadak, melihat seorang wanita, yang berlari, dia nampak tak asing. Rasya bergegas keluar, menghampiri wanita yang ia yakini adalah Mawar.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung