Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 41


__ADS_3

Sehari setelah Mawar mengunjungi makam ibunya, Rasya juga belum datang menemui apalagi menghubunginya.


Pagi ini Mawar dikejutkan dengan kedatangan keluarga Rasya, waktu masih menunjukkan pukul enam pagi sebenarnya. Namun entah mengapa semua sudah berkumpul. Mawar keluar kamar masih dengan piaya Spongebobnya. Rasanya malu sekali, semua orang terlihat sangat rapi.


Ada apa ini?. Kenapa tak ada yang membangunkannya?.


Diantara mereka, terlihat ada pak RT dan RW juga, serta dua orang laki-laki yang sama sekali tak Mawar kenali.


Dengan menyunggingkan senyum mencurigakan, Rasya melambaikan tangannya, laki-laki itu duduk bersama yang lain, menyapa Mawar yang masih terkepur didepan pintu kamarnya.


Mama Rika datang menghampiri, membawa sebuah kotak yang entah itu apa isinya, bersama dua orang, yang satu wanita manis dengan gayanya yang kasual, dan yang satu seorang laki-laki, eh bukan, wanita, eh tapi kok maskulin ya, Mawar menebak sendiri. Mereka menenteng sebuah tas besar .


"Tante" sapanya, Mawar menyalami tangan wanita yang begitu dihormatinya.


Mama Rika dengan senyum menghangatkannya, menyambut uluran tangan Mawar, membelai kepala gadis itu.


"Kamu sehat sayang?" Mawar hanya mengangguk, masih bingung dengan kedatangan banyak orang.


"Yuk masuk, kamu siap-siap, nanti diberi perawatan duku, sekaligus dandanin kamu"


Tak ada protes, dan banyak tanya, Mawar menurut, bersama dengan dua orang tadi.


"Ada apa ini Tante?"


"Nanti kita kasih tahu, ini kejutan, kamu pake ini ya" Mama Rika memberikan kotak berpita pink, berpita tadi pada Mawar, ternyata berisi kebaya putih gading, dengan payet-payet yang terangkai indah sebagai pemanis, dengan ekor yang sedikit menjuntai.


"Ini Rasya yang milih sendiri loh" mama Rika mengerlingkan matanya.


"Tante tinggal dulu, kamu harus dandan yang cantik, dan kenalin ini Valerie" tunjuk nya pada wanita manis tadi "Dan ini Mona" lanjutnya lagi, memperkenalkan si wanita maskulin. Mama Rika berlalu, meninggalkan Mawar yang masih dalam kebingungannya.


"Hyuuk kita capcus, you nggak banyak yang dipermak yey, syudah syantik, eyke mulai dari rambut yey"


Dua jam Mawar telah selesai, rambutnya disanggul rendah, dengan sedikit menyisakan bagian depan rambutnya, mahkota sederhana bersemayam dikepalanya, dia terlihat begitu cantik.


Mawar terus memperhatikan tampilannya didepan cermin meja riasnya.


"Mba kok saya didandani kayak gini, kayak orang mau nikah aja?"


Seorang MUA bernama Valerie itu hanya tersenyum, "Kamu cantik, pasti mas Rasya makin cinta, pantes segera mau dihalalkan"


"Cucok meong ya boo, cetar membahana, itu si mas ganteng, nggak pernah gandeng cewek, sekalinya dapat, bidadari, uhh iri deh" Sambung Mona di wanita maskulin.


"HAH, halal? Rasya?" Mata Mawar sudah membulat, terkejut bukan main. Jantungnya berdetak tak seperti biasanya, Menikah? Siapa? Sama siapa?


"Seneng yey boo you, dapat kejutan, bangun tidur dateng pangeran bawa pasukan, langsung meminang, kalo eyike udah pingsan" Ucap Mona lagi.


Mawar benar-benar tak mengerti apa yang dibicarakan mereka,

__ADS_1


"Saya keluar dulu ya Mba, udah selesai"


"Eh, tunggu dulu, ini siapa yang mau nikah" Masih bingung, dia yang sama sekali memang tak tahu.


Sang MUA lagi hanya menjawab lewat senyuman.


"You siapin aja yup jantung, biar kuat terima banyak kejutan, uhhh si ganteng memang romantis, nggak bisa nunggu hari esok lagi, biar bisa setrum-setruman kejang-kejang, jangan banyak mikir, siapin tenaga juga"


Mawar terduduk lemas, tak ada yang memberitahunya sama sekali.


Ketukan di pintu membuyarkan Mawar dari lamunannya.


"Papa boleh masuk?"


"Iya Pa" jawab Mawar lemah.


"Pa ada apa ini?" Tanya Mawar lagi.


"Kita keluar sekarang, ada banyak yang harus kita bahas"


"Pa.... bisa kasih tau Mawar dulu, ini kenapa Mawar disuruh dandan seperti ini?"


"Rasya ingin melamarmu, sekaligus menikah kamu sayang"


"Apa?" Lagi-lagi dia dikejutkan kata menikah, Rasya, kenapa tidak bertanya dulu.


Mawar benar-benar dibuat bingung, dia harus bahagia atau sedih.


Sedih, karena tak ada yang memberi tahunya tentang hal ini. Tak menanyakan dulu, dia bersedia atau tidak.


"Mawar harus jawab apa Pa?"


"Ikuti kata hati mu, Papa senang jika kamu senang, namun sebaliknya, jika kamu tidak menyukai Rasya, kamu bisa mengatakannya"


Mawar keluar menggandeng tangan sang Papa, jantungnya terus berdetak tak karuan, dadanya bergemuruh, tatapannya beradu dengan Rasya, laki-laki itu tak kalah gugupnya, darahnya berdesir, melihat Mawar yang begitu cantik, dengan dandanan naturalnya, kebaya yang dipakainya begitu pas.


Melihat Mawar yang terus menggigiti bibir bawahnya, membuat Rasya ingin sekali menghampiri gadis itu sekarang juga, menggantikan bibir Mawar untuk menggigit bibir tipis itu, jika saja tidak ada orang. Ahh sabar Rasya, tinggal menunggu hitungan jam, kamu akan memiliki semuanya.


Papa Reyhan membuka percakapan.


"Kita langsung pada intinya saja ya, mungkin Mawar sudah diberi tahu Marcel tujuan kedatangan kami kesini, maaf jika sangat mendadak, dan terkesan kurang sopan, putra kami baru kemarin juga mengutarakan keinginannya, dan langsung mengurus segala keperluannya, kami sebagai orang tua sangat mendukung niat baik anak kami, tidak ingin terjadi sesuatu diluar kendali kita"


Semua yang berada disana mengangguk, setuju dengan yang diutarakan papa Reyhan.


"Mungkin Rasya ada yang mau dikatakan terlebih dahulu, sebelum kita memulai acara inti yang kita nanti-nanti sejak tadi, dan mendengar jawaban Mawar sebagai mempelai wanita secara langsung" Ucap papa Reyhan lagi.


Sumpah demi apapun, Mawar rasanya saat ini merasakan sesuatu yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata, Rasya ingin melamarnya, secepat ini?. Semua diluar dugaannya. Ini bukan mimpi?

__ADS_1


Rasya berdehem mengatur suaranya.


"Mawar aku memang pernah melakukan kesalahan diawal yang membuat kita belum bersama, tapi untuk kali ini, beri aku kesempatan, dari lubuk hati yang paling dalam, aku ingin melamarmu, sekaligus menikahimu, aku butuh jawaban IYA, untuk melengkapi kebahagiaan kita" Konsentrasi Rasya hilang, melihat Mawar yang terus menggigiti bibirnya. Kata-kata yang sudah disusunnya sedemikian rupa, hilang begitu saja.


"Walau dengan keadaan yang tidak romantis, aku minta kamu katakan IYA"


Semua yang ada disana tertawa, Rasya terkesan memaksa Mawar untuk menerimanya.


Mawar yang tak tahu harus menjawab apa, hanya menunduk, lalu mengangguk kecil.


Melihat itu, Rasya bersorak, hatinya lega, semua kekhawatirannya tadi lenyap setelah mendapat jawaban itu dari Mawar, dia yang memang tak mengatakan apapun pada Mawar sebelumnya, sangat takut jika Mawar akan menolaknya. Dia ingin momen ini menjadi hal yang tak bisa dilupakan Mawar.


Semua yang melihat itu menjawab Alhamdulillah secara kompak. Mereka pun mulai mempersiapkan segala keperluan untuk akad.


"Pa Mawar boleh undang Marvin?" Mawar ingin Marvin hadir dalam hari bahagianya, walau mereka bukan saudara, tapi Mawar tetap menganggap Marvin adiknya.


"Tidak masalah, anak itu tidak bersalah, dia tetap bagian keluarga kita"


Mawar mengulas senyum, bahagia papanya bisa menerima Marvin, walau Marvin bukan anaknya.


Berkali-kali Mawar mencoba menghubungi Marvin, namun nomor Marvin diluar jangkauan. Dia bertanya pada Chio, Chio semalam tidak pulang, karena mereka harus lembur.


Duduk lesehan didepan meja yang telah diberi hiasan, Mawar melihat Rasya dengan penuh kesungguhan, menjabat tangan penghulu, mengikrarkan janji suci pernikahan. Laki-laki itu mengucapkan dengan lantang, tanpa ragu. Setelahnya terdengar suara SAH itu menggema, suasana menjadi haru biru, Mawar tak lagi dapat membendung air matanya, bukan air mata kesedihan, tapi sekarang, air mata itu berubah menjadi air mata kebahagiaan.


Semua orang mengangkat tangan, mengaminkan setiap doa terbaik untuk kebahagiaan keluarga baru itu.


"Jaga Mawar nak, dia tidak pernah tahu kehidupan diluar, jangan pernah sakiti dia, jika kau bosan padanya, rumah Papa terbuka 24 jam, kembalikan dia secara baik-baik, tanpa ada luka, Papa tidak pernah membuatnya bahagia, Papa berharap dengan melalui kamu, dia mendapatkan kebahagiaan yang selama ini diinginkannya, yang tidak bisa Papa berikan padanya selama ini" Rasya tak menjawab iya atau mengucap janji , dia hanya berusaha, apapun akan ia lakukan demi kebahagian Mawar.


Saat akan melakukan pemasangan cincin, Rasya justru meminta Mawar untuk memakan kue hijau dengan taburan parutan kelapa, yang jika digigit isinya akan bersiburan kemana-mana.


Dengan terpaksa Mawar mengikuti kemauan laki-laki yang kini sudah menyandang status sebagai suaminya itu. Mawar menggigit sedikit kue berisi gula merah tersebut, walau dengan penuh hati-hati, tetap saja isinya mengotori sudut bibi Mawar, dan dengan sigap Rasya membersihkan dengan bibirnya. Tanpa peduli mendapat sorakan para orang tua yang menyaksikannya, dan wajah mawar yang memerah karena menahan malu.


Tidak berhenti disitu, Mawar mendapati cincin bermatakan permata didalam kue yang digigitnya.


"Sya, kenapa harus pakai kue ini, nanti kalau kemakan sama aku gimana?" Mawar melotot, heran dengan ide Rasya yang tak masuk akal untuknya.


"Karena aku tahu itu tidak akan terjadi, kamu pasti menemukan cinta kita walau diletakkan dikitub utara sekalipun"


Rasya memakaikan cincin itu dijari manis Mawar, dan Mawar juga melakukan hal yang sama. Rasya mengecup kening Mawar begitu dalam, mengungkapkan betapa dia begitu mencintainya.


Ucapan selamat ditujukan kepada mereka berdua, walau tidak digelar secara mewah, dan hanya dihadiri keluarga inti, namun tak mengurangi kehidmatannya.


.


.


.

__ADS_1


.


Mawar sama Rasya udah sah ya, kasih ucapan selamat donk.... biar othor yang otaknya masih suci ini bisa bikin malam pertama buat mereka 🤭🤭


__ADS_2