
Aku hanya kasihan
Ucapan Mawar terus terngiang, jahat sekali Mawar mengatakan itu, padahal semalam mereka saling membagi rasa. Rasya menyugar rambutnya, melihat pantulan dirinya didepan cermin, menampakkan tubuh atletisnya yang terus dialiri air shower.
Rasya terus berdiri dibawah pancuran shower, mendinginkan hatinya yang terasa panas. Semua tak seperti yang diinginkannya, bayangannya kembali memadu kasih bersama wanita yang membuat hatinya menjadi menggila, terpatahkan dengan ucapan "hanya kasihan".
Lama Rasya terus membiarkan dirinya basah, berharap ucapan Mawar tadi hanya salah dengar. Namun semakin dia mengingatnya, ucapan itu begitu semakin nyatanya, yah, benar Mawar mengatakan itu.
Sudah hampir satu jam Rasya berdiri dibawah guyuran air, ia merasa badannya sedikit menggigil, karena memang dia belum sembuh betul dari sakitnya kemarin. Rasya mematikan airnya, menyudahi mandi, namun hanya mandi bebek, tanpa memakai sabun.
Rasya duduk diujung tempat tidur, melihat lagi kalung yang dia beli, kalung berbentuk love menjadi pilihannya, yang dia pesan secara mendadak pada temannya, ingin memberikan kejutan pada Mawar, namun justru dia yang diberi kejutan atas ucapan hanya kasihan.
Rasya memejamkan matanya, mengurangi rasa sakit yang masuk ke relung hatinya. Apa Mawar balas dendam atas perlakuannya selama ini? inikah yang Mawar rasakan disaat dia mengatakan kata-kata tajam pada Mawar?. Padahal dia sudah berkali-kali meminta maaf, mengapa Mawar begitu pendendamnya.
Diletakkannya lagi kalung itu pada kotak beludru berwarna hitam dengan pita merah muda. Memasukkan kembali pada laci nakas disebelahnya. Ia merebahkan tubuhnya, berharap saat dia bangun nanti, rasa itu telah hilang.
Dikamarnya, Mawar masih terpikirkan Rasya. Dia merasa bersalah.
"Maafkan aku Sya, aku tidak ingin kesalahan orang tuaku terjadi padaku, walau keadaan yang berbeda, namun aku tidak ingin hal itu terjadi, sedang aku, belum siap menerima ajakan mu untuk menikah, aku belum bisa percaya padamu, aku belum yakin, perubahan sikapmu padaku yang tiba-tiba lembut. Apa alasan kamu?, sedang dulu, kamu begitu tidak menyukai ku." Setidaknya, Mawar menghindar terlebih dahulu, dia takut terjadi hal-hal diluar dugaannya. Mengingat semalam dia yang terlena, dan tak bisa menghindar dari perlakuan manis Rasya.
Mawar memejamkan matanya, membuat kubangan embun yang bertumpu pada matanya jatuh begitu saja. Ia meremasi dadanya, begitu sedih akan kisah orang tuanya. Mawar akan menemui papanya, dia harus segera tahu dimana ibu kandungnya berada.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, setelah Chio dan Marvin pergi ke toko, Mawar bilang ingin menemui Putri, dia ingin tahu kabar gadis itu sekarang, sekaligus meminta maaf, atas kelancanganya, membuat Putri terlibat dalam masalahnya.
Mawar menaiki taksi, yang kebetulan lewat setelah menurunkan penumpang diapartemen itu.
Huff
Seperti ini rasanya hidup bebas, dia yang biasanya kemanapun diantar supir, upss, maaf ralat, bukan supir melainkan pengawal sekaligus yang memata-matainya, kini harus membiasakan diri menaiki kendaraan umum. Ini lebih baik, tak ada yang melaporkan kemanapun, dan apapun itu tentang semua yang dilakukannya
Tak lama taksi itu berhenti tak jauh dari rumah Putri, Mawar sengaja berhenti diseberang rumah Putri agak jauh, sebab dia melihat mobil Rasya yang sudah terparkir cantik disana.
__ADS_1
Terlihat jelas, mereka sedang berpelukan. Mawar membuang mukanya, tak ingin melihat pemandangan didepannya. Sakit rasanya, secepat itu Rasya berubah pikiran. Ya, seharusnya kamu sadar dari awal Mawar, tidak mungkin Rasya tiba-tiba begitu lembut, setelah dia memutuskan kabur dari acara pernikahan, padahal sebelumnya, Rasya dengan tegas, memintanya membatalkan pernikahan itu.
Hemm ya, baru semalam dia membuat Rasya marah, dan pagi ini laki-laki itu sudah berada dirumah wanita yang dicintainya.
"Jalan lagi Pak." Pinta Mawar pada supir taksi tersebut, dan diangguki oleh sang supir.
Dia yang awalnya begitu khawatir dan ingin minta maaf, diurungkannya niat tersebut. Tujuannya saat ini adalah toko. Lebih baik dia membantu Chio dan Marvin. Hidupnya kini terasa lebih hidup, tak seperti dulu, hidup seperti tak ada tujuan.
Memulai dengan melayani para pengunjung, Mawar mencoba berinteraksi langsung, apa tanggapan dari para pelanggan.
"Terima kasih mba, saya menjadi berlangganan disini, bisa request wangi sesuai kemauan saya, ditambah lagi, setiap pembelian satu produk, dapat gift untuk mama, mama selalu suka sama wanginya, nggak pasaran"
"Terima kasih mba, saya sangat menyukai rose's mom, selain harganya merakyat, dapat gift khusus padahal saya tidak punya mama, tapi di rose's mom, bisa menyediakan khusus untuk papa, dan papa suka, bisa pesan sesuai karakter saya juga, nggak bisa ada yang menyamai wanginya"
"Aku suka dan puas sama pelayanannya, awalnya tahu dari selegram, terus coba datang langsung kesini, biasanya nggak sesuai ekspektasi, tapi ini jauhhh lebih baik dari yang aku bayangin"
Begitulah komentar para pembeli, mereka selalu puas, dengan pelayanan rose's mom. Hati Mawar begitu bahagia mendapati kepuasan para pengunjung.
Tak pernah ia menyangka, kesukaannya terhadap membaca, membawanya pada titik ini. Mawar jadi tahu, komponen apa saja yang bisa menghasilkan wangi parfum yang enak. Walau mereka harus mengimpor bahan baku dari Prancis.
"Chiiii, waktunya makan siang, khusus hari ini, aku yang traktir" Panggil Mawar pada Chio, yang sedang sibuk pada paket yang akan dia kirimkan. Dan diikuti sorak kegembiraan para teman Chio.
Sedang Chio memberenggut, Mawar seperti adik menyebalkannya, memanggilnya Chiii, yang kini diikuti teman kerjanya.
Teman Chio senang, makan siang kali ini terasa begitu istimewa, mereka makan bersama pencetus rose's mom. Sekaligus cuci mata, kecantikan Mawar yang alami, membuat mereka tak bisa berkedip memandangnya.
"Mawar sepertinya kita harus menggaet rekan lagi, untuk bisa memproduksi secara massal."
"Loh kenapa Chiii?"
"Mawar, Chio, terdengar lebih macho ya" Protes Chio, yang tidak terima nama panggilannya diganti.
__ADS_1
Mawar terkekeh, begitu juga yang lainnya
"Ini sudah membludak orderannya, kebetulan Reza, research deplopment (peracik parfum) kita ada kenalan pemilik pabrik parfum, tak jauh, di daerah Tangerang" Terang Chio.
"Efektif nggak, aku nggak mau nanti jika diproduksi secara massal, kualitas kita menurun"
"Benar Chiii kata kak Mawar, sedang rose's mom, terkenal dengan wangi ciri khasnya, mereka bisa memesan sesuai dengan yang mereka inginkan." Lanjut Marvin yang setuju dengan kakaknya.
Begitu juga yang lainnya, mereka tak ingin kualitas rose's mom menurun.
"Bagaimana kalau penambahan tenaga pekerja saja" Saran Rio, pemegang finishing.
"Ide bagus itu, mungkin kita bisa coba dulu, dan meminta pembeli, untuk PO terlebih dahulu, supaya kita bisa meminimalisir keterlambatan produksi" Lanjut Mawar lagi.
Semua yang disana setuju dengan penambahan tenaga kerja baru. Mereka semakin bersemangat, walau mereka sebenarnya sedikit kewalahan.
Cekrek
Cekrek
Jepretan kamera mengintai kegiatan mereka diluar sana.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1