
Dari pagi, siang, dan sekarang menjelang sore, namun belum juga ada tanda-tanda Putri akan melahirkan, Putri menjadi sangat jenuh, dia sudah banyak melakukan aktivitas, dari lari pagi mengitari kompleks mereka, ditemani Marvin dan juga Marcel. Dia juga membersihkan halaman rumah dan merapikan bunga-bunga disana, ia lakukan demi menghalau rasa bosan.
"Kamu jangan menangis Putri, yakinlah, jika saatnya anak kita lahir, dia juga akan lahir, aku tahu apa yang kamu pikirkan, tadi dokter mengatakan anak kita baik-baik saja bukan?"
"Dokter juga sudah memberikan obat perangsang agar jalan lahirnya terbuka, tapi kenapa belum mules juga Vin, aku takut"
"Ada aku dan juga Papa, juga yang lainnya, mama Rika yang selalu ada untuk kamu, jangan ada yang kamu takuti, yang terpenting anak kita sehat didalam sini, atau kita mau ambil jalan pintas nya saja? agar kamu tidak terus terpikirkan begini"
Putri menggeleng "Kita lihat besok Vin, jika belum menunjukkan tanda-tanda juga, apa boleh buat, kita ambil tindakan operasi saja"
"Baiklah" Marvin membawa kepala Putri dalam dadanya, mencoba menenangkannya.
Tak lama ponsel Marvin berdering, sebuah panggilan video dari Mawar, Marvin meminta izin pada Putri sebelum mengangkat telepon dari kakaknya, lalu menggeser tombol terima.
Dari sebrang sana terlihat Mawar yang tersenyum begitu lebar, wanita itu nampak begitu bahagia
"Ada apa Kak?" tanya Marvin yang merasa aneh, tak biasanya Mawar melakukan panggilan video padanya
"Aku kangen padamu adikku" ujar Mawar kembali dengan senyumnya yang terlihat begitu bahagia
"Ada apa Kak?" Marvin kembali bertanya
"Apa Kakak ganggu kegiatan kalian" Mawar menutup mulutnya, menahan tawa penuh ledekan
Marvin sungguh meras aneh sekali, ia terus menatap wajah kakaknya yang terlihat terus menyunggingkan senyumnya, tanpa memperhatikan keberadaan Mawar
"Vin Kakak ingin memberi hadiah untuk mu, apa kamu siap Vin?"
"Jangan bercanda Kak, hadiah apa?" Marvin sungguh sangat pusing, dia terus terpikirkan Putri.
"Turunlah sayang, Kakak didepan" Mawar menyorot keberadaannya, dan menunjukkan rumah mereka
Marvin menepuk jidatnya, sungguh ia sangat bodoh, tak menyadari keberadaan Mawar. Marvin segera mematikan panggilan itu, mengajak Putri turun, untuk menemui Mawar yang sepertinya membawa sebuah hadiah spesial untuk mereka.
Marvin bertemu Marcel diruang tengah, dan mengatakan ada Mawar didepan, membuat Marcel mengikuti Marvin untuk menemui anaknya, ia kembali merindukan cucunya, padahal baru siang tadi ia bertemu Marsha. sang cucu cantiknya.
Saat mereka keluar, pemandangan didepan membuat mereka menghentikan langkahnya, terlihat Vivi yang duduk di kursi roda, dibelakangnya ada seorang laki-laki yang Marcel sangat kenal itu, serta ada Mawar dan Rasya yang sedang menggendong si cantik Marsha.
Diruang tengah, mereka semua berkumpul, Vivi yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata,
"Maaf kan Mama Vin, mama baru bisa menemui mu, mama bersama ayahmu, dia ingin melihatmu"
Ya, setelah hari dimana Seno mengatakan Mawar tengah hamil, Vivi berangsur membaik, ia menyadarkan dirinya, bahwa ia harus segera meminta maaf pada Mawar, dan segera menemui Marvin, ia tidak bisa terus seperti ini, rasa bersalah terus menghantuinya, apalagi ia rasa usianya tak lama lagi.
__ADS_1
Marvin hanya diam, dia menundukkan kepalanya, berperang pada pikirannya, dia bingung, Marvin mendongakkan kepalanya, melihat kearah Marcel, namun Marcel membuang muka kearah lain, ia menyerahkan semua keputusan pada Marvin,
Lalu Marvin melihat Mawar, kakaknya memberi senyuman, dan mengangguk samar, ia ingin Marvin memaafkan Vivi dan Seno.
Lihatlah dia yang tidak dilahirkan dari rahimnya saja memaafkan, tak ada dendam dihatinya, padahal begitu banyak penderitaan yang dia terima, apa aku yang lahir dari rahimnya tidak ingin memaafkan? tak ada alasan aku untuk tidak memaafkan, aku sebentar lagi akan menjadi orang tua juga, dan aku tidak bisa menjadi orang tua yang sempurna
"Marvin juga minta maaf pada Mama, Marvin tidak bisa menjadi anak yang baik"
Marvin berdiri, menghampiri mamanya yang duduk diseberangnhya, ia merundukkan badannya, memeluk Vivi yang duduk di kursi roda, mereka menangis bersama, melepaskan rindu yang selama ini mereka pendam, hati mereka sebenarnya saling menyayangi, namun keadaan memaksa untuk berpisah, agar menyadari kesalahan masing-masing.
Lalu Marvin berganti memeluk Seno, ayah biologisnya yang ia tahu dulu asisten mamanya dikantor.
Seno begitu erat memeluk Marvin, tak ingin melepaskan, untuk pertama kalinya dia bisa memeluk anaknya, sebuah keajaiban yang dia pikir Marvin tidak menerima kehadirannya, tanpa Seno sadari dia mengeluarkan bulir bening kepipinya, dan membasahi pundak Marvin, hal yang sama juga terjadi pada Marvin
"Ma, ayah, kenalkan ini istri Marvin, Putri, dia sedang hamil anak Marvin" perkenalkan Marvin istrinya pada orang tuanya.
Betapa Vivi dan Seno sangat tahu siapa Putri, wanita yang dulu dekat dengan Rasya, wanita yang dulu selalu ia buntuti, dan ia cari tahu tentang keluarga serta tempat tinggalnya, tak disangka, wanita itu kini jadi menantunya.
Seno begitu bahagia, Marvin memanggilnya ayah, sesuatu yang sangat ia impikan didalam hidupnya, dan kini dia bisa merasakan bagaimana rasanya dipanggil ayah.
Takdir hidup tak ada yang tahu
Suasana malam dirumah Marcel begitu haru, Marcel yang dapat berdamai dengan Vivi dan Seno, dan untuk pertama kalinya juga Rasya membawa istri dan anaknya bermalam dirumahnya, rumah itu terasa ramai dan hangat, ditambah tangis Marsha begitu menggema, bayi itu menjadi pusat perhatian, dia seperti piala bergilir, digendong sana sini, hingga ia pun mengeluarkan jurusnya, tangisnya adalah jurus ampuh agar dia bisa digendong oleh ibunya.
Dan benar, saat digendongan Amamnya, Marsha langsung terdiam, seakan tahu tangan itu yang nyaman untuknya, kembali bayi pintar itu menjadi sorakan atas tingkahnya, padahal umurnya baru akan menginjak dua minggu, tapi sudah pandai mencuri perhatian banyak orang.
"Terima kasih Mawar, berkat kamu, semua orang dapat memaafkannya dan menerima Vivi kembali, dan aku dapat diterima oleh Marvin" ucap Seno ditengah obrolan mereka, ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk berterima kasih pada Mawar.
"Aku tidak melakukan apa-apa Pak, doa Bapak lah yang dikabulkan Tuhan, dialah yang maha membolak-balikkan hati manusia, saya hanya pelantara" jawaban Mawar membuat Rasya semakin cinta pada istrinya, bersyukurnya dia memiliki istri berhati tulus seperti Mawar.
Obrolan mereka berakhir setelah pukul dua dini hari, dimana mereka semua telah merasa lelah, apalagi Vivi dan Seno habis perjalanan jauh, Magelang-Jakarta, mereka butuh mengistirahatkan diri untuk menyambut hari esok.
...****...
Pagi hari rumah itu kembali heboh, Putri merasakan kontraksi pada perutnya, dia juga mengeluarkan tanda-tanda akan melahirkan seperti yang pernah diceritakan Mawar padanya, semua disana sibuk, Marvin yang hanya mondar-mandir tidak jelas karena panik, padahal dia harus segera membawa Putri kerumah sakit.
Mawar dan Rasya yang tengah sibuk memandikan baby Marsha pun akhirnya segera menyudahi kegiatan itu, sebab terusik dengan suara teriakan para orang tua yang akan menyambut kelahiran cucu baru mereka.
Akhirnya Seno mengendarai mobil menuju rumah sakit, sedang Marvin duduk dibelakang bersama Putri, Putri terus berteriak sakit.
Tak lama mereka tiba dirumah sakit, Putri segera mendapat pertolongan. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya terdengar suara tangis bayi, Marvin tak dapat membendung lagi, air matanya tumpah ketika bayi itu dalam dekapannya, dan iapun memberikan lantunan pertama ditelinga anaknya.
"Aku akan memberinya nama Arvi Puma Pramudipta yang berarti raja elang yang cerdas dan bijaksana"
__ADS_1
"Bagus Vin, aku suka"
"Terima kasih Putri, kamu telah mau mengandung anakku, menjaga dan memberikannya asupan terbaik, aku menyayangimu" cium Marvin kening Putri
"Kita sekarang sudah menjadi orang tua Vin"
"Iya, aku akan berusaha menjadi ayah dan suami yang baik untuk kalian"
Diambang pintu Seno nampak berkaca-kaca, anaknya jauh lebih dewasa dibandingkan dia, Marvin mau menerima Putri, walau pernikahan mereka awalnya terpaksa.
Putri menyadari keberadaan Seno
"Ayah, kemarilah, gendonglah cucu ayah"
Seno tersentak atas panggilan Putri, dengan langkah gemetar dan rasa haru bahagia dia mendekat, ia memandang Marvin sebagai persetujuan,
"Gendonglah Yah, dia cucumu, darah dagingmu" Marvin memberikan anaknya pada Seno.
Mendengar Marvin kembali memenggilnya ayah, membuat darah Seno berdesir, seumur hidupnya, ini yang dia impikan, dipanggil ayah, terlebih dari anak kandungnya sendiri, impiannya ingin bertemu Marvin telah terwujud, dan Marvin ingin manggilnya dengan panggilan ayah merupakan bonus untuknya.
Diluar sana, Mawar datang beserta rombongannya, setelah mendapat kabar Putri telah melahirkan seorang putra, ia langsung bergegas kerumah sakit.
Marvin langsung bersujud melihat kedatangan Vivi, kini ia merasakan menjadi orang tua, dia tahu perasaan mamanya.
"Selamat Vin, kamu sekarang telah menjadi orang tua, banyak lah belajar menjadi orang tua yang baik, jadikan Mama cerminan orang tua yang gagal" peluk Vivi Marvin, dia bangga, Marvin tidak mengikuti jejaknya.
Suasana begitu haru, semua kepedihan hidup telah berakhir, dan kini berganti kebahagiaan.
Sejatinya tidak ada orang tua yang sempurna, anak merupakan musuh terbesar orang tua disaat mereka tumbuh dewasa, namun itu tidak akan terjadi, jika keduanya saling mengerti dan memahami juga mau saling memaafkan.
'Mawar Tak Berduri'
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
See you next cerita ya... aku akan kasih bonchap, tetap di favorit untuk tau pengumuman cerita selanjutnya....