Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 60


__ADS_3

Setelah mendapat kabar dari pak Aryo, Rasya langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit yang dikatakan pak Aryo. Rasya begitu cemas mendengar bahwa Mawar jatuh pingsan.


"Apa yang terjadi padamu Mawar? kenapa kamu bisa pingsan?"


Tak butuh waktu lama, Rasya sampai pada rumah sakit itu. Ia berlari, mencari ruangan tempat Mawar dirawat. Dari kejauhan Rasya melihat teh Sumi dan mang Dadang, juga pak Aryo.


Teh Sumi tak berhenti menangis, dia begitu mengkhawatirkan keadaan Mawar, takut terjadi apa-apa, dan Rasya akan marah padanya.


"Dimana Mawar?" tanyanya pada ketiga orang yang sedang berada didepan ruangan tersebut


Teh Sumi yang sedang menunduk mendongakkan kepalanya, "Den Rasya, den sudah pulang?" tanyanya sambil terisak, ia langsung berdiri.


"Non Mawar sedang diperiksa dokter didalam Pak" jelas pak Aryo.


Tak lama pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter perempuan keluar beserta perawatnya.


"Dengan keluarga Bu Mawar?" tanya dokter tersebut


"Saya suaminya Dok, apa yang terjadi pada istri saya Dok?"


Dokter tersebut mengulas senyum, melihat raut khawatir Rasya.


"Tidak apa-apa, itu hal yang wajar dialami oleh ibu hamil, mungkin_"


"Istri saya hamil Dok?" potong Rasya ucapan dokter tersebut


Sedang ketiga asisten rumah tangganya yang mendengar itu mengucap Alhamdulillah


"Iya, segerakan untuk melakukan pemeriksaan pada dokter kandungan langsung, untuk mengetahui usia kandungannya, dan kesehatan bayinya, karena sepertinya ibunya sedang stres berat, saya juga telah memberi inpus sebagai vitamin agar ibunya tidak sampai dan dehidrasi" jelas dokter itu lagi


"B-baik Dok" jawab Rasya terbata, ia masih begitu speechless dengan kabar kehamilan Mawar, sekaligus merasa sangat bersalah, karena telah mengabaikan istrinya.


Rasya masuk ke ruangan Mawar dirawat. Dilihatnya Mawar yang masih terpejam, wajahnya yang pucat, dengan badan yang sedikit kurus, tangan kanan yang tertanam jarum infus. Rasya menarik kursi yang ada di sana, ia duduk, terus memperhatikan wajah cantik istrinya. Rasya membelai pipi Mawar, digenggamnya tangan yang kini semakin kecil itu, lalu ia kecup.


"Kamu hamil sayang, kenapa tidak memberi tahu aku? padahal aku yang ingin memberi kejutan untuk mu, tapi malah aku yang mendapat kejutan"


Rasya mengingat-ingat selama ini tingkah Mawar yang sedikit aneh, makan nasi Padang setiap hari, dan minta diberikan rujak


"Astaga apa itu tanda-tandanya, jadi selama ini aku mengabaikan mu, kau stress karena aku sayang" Rasya tersadar akan kesalahannya.


"Maafkan aku, sungguh aku sudah memaafkan mu sejak lama, bangunlah, aku merindukanmu" bulir bening Rasya keluar begitu saja, apa selama ini Mawar juga sangat merindukannya?


"Teh Sumi" panggilnya pada asisten rumah tangganya.


Dengan cepat teh Sumi masuk "Iya den"


"Selama saya pergi, apa Mawar ada minta sesuatu?" tanya Rasya tanpa mengalihkan pandangannya pada Mawar

__ADS_1


"Maksudnya den" tanya Teh Sumi yang tidak mengerti pertanyaan Rasya


"Hmmm maksud saya, Mawar ada minta makanan yang aneh-aneh gitu" ia melihat kearah Teh Sumi


"Selama den Rasya pergi, non Mawar hanya minta dibikinin pempek, saya bikinin, dan non Mawar makan setiap hari"


Rasya mengangguk


"Tapi den, dua hari ini non Mawar tidak keluar kamar sama sekali, dan juga tidak makan" aku teh Sumi.


"Apa? tidak makan, kenapa tidak mengabari saya Teh?"


"Non Mawar melarang saya, dan juga_" teh Sumi menggantungkan ucapannya


"Apa teh?" tanya Rasya tak sabar


"Non Mawar menangis setiap hari"


Mendengar cerita teh Sumi Rasya menunduk, sungguh bukan ini yang dia mau, bukan maksud hatinya membuat istrinya terluka.


"Yasudah, teh Sumi dan yang lainnya boleh pulang, istirahatlah, terima kasih telah menjaga Mawar selama saya pergi, dan maaf telah merepotkan teh Sumi"


"Nggak pa-pa den, memang sudah tugas saya menjaga non Mawar, kalau begitu kami permisi pulang dulu" pamit teh Sumi


Rasya hanya mengangguk sebagai jawaban.


Sebelum Rasya pergi keluar kota, dia sebenarnya sudah memaafkan Mawar, setelah mendapat ucapan Abdi, namun saat itu ia mengingat tanggal kelahiran Mawar, minggu depan adalah hari lahir istrinya. Rasya mendapat ide, ingin mengerjai istrinya. Sengaja Rasya mengabaikan segala pesan yang masuk dari Mawar, ia juga menghubungi keluarga yang lainnya, untuk tak menghubungi Mawar terlebih dahulu dan meminta tolong untuk menyiapkan acara disuatu villa milik keluarganya.


Jauh dari yang ia harapkan, ternyata Mawar berpikir yang lain, tapi dia juga tak bisa menyalakan istrinya, ini salahnya, membuat rencana pada momen yang kurang tepat, "Heh memang seharusnya aku tidak melakukan ini, aku tidak ada bakat untuk membuat kejutan, malah aku yang diberi kejutan" Rasya mentertawakan kebodohannya sendiri.


Mawar mengerjapkan matanya, perlahan mata itu terbuka, dengan pelan ia membuka matanya, menyesuaikan dengan cahaya diruangan tersebut. Dia hendak bangkit, namun kepalanya terasa berputar.


"Sayang, kamu sudah bangun" antusias Rasya melihat Mawar yang sudah tersadar.


Mawar masih mencerna suara itu, apa dia sedang bermimpi, tapi ini seperti nyata, itu suara Rasya, suaminya.


Mawar memaksakan membuka matanya, dan saat mata itu terbuka Rasya telah berada tepat didepannya


"Sayang...."


Rasya menitikkan air matanya, dia begitu mengharu dapat melihat netra coklat indah itu lagi, dia benar-benar merindukan istrinya, Rasya langsung membekap tubuh ringkih itu dan memeluknya erat


"Maafkan aku, maaf...." ucapnya tulus


"Sya kamu disini?" Mawar masih merasa tak percaya, seingatnya Rasya sedang jauh diluar kota, kenapa Rasya tiba-tiba bisa ada dihadapannya,


"Aku disini sayang, maaf membuatmu menunggu lama" dikecupnya seluruh wajah Mawar, dan terakhir ia berlabuh pada bibir manis yang telah menjadi candu untuknya, bibir yang lama tidak ia rasai itu.

__ADS_1


Lama Rasya membungkam bibir istrinya, sehingga membuat Mawar tersengal, sebab Mawar yang tak siap.


Rasya terkekeh melihat wajah Mawar yang sepertinya masih belum percaya akan kehadiran dirinya, bagaimana tidak, dia yang tak memberi kabar sama sekali, mengabaikannya, dan masih bersikap dingin saat pergi, kini ada dihadapannya, bersikap hangat seperti tak ada masalah apapun diantara mereka.


"Jangan seperti ini sayang, aku semakin gemas jika muka kamu seperti ini, aku takut khilaf"


Mawar tersenyum mendapati ucapan itu, ini benar Rasya, ini benar suaminya, Rasyanya yang dulu telah kembali. Mawar langsung memeluk tubuh tegap itu, ia menangis terisak didalam dada suaminya


"Kamu jahat Sya, kamu jahat, aku benci kamu" Pukul Mawar dada suaminya


Rasya masih tertawa, ini yang ia rindukan, momen seperti ini yang sangat ia rindukan, dapat memeluk tubuh istrinya, menghirup aroma manis Mawar,


"Ia aku jahat, maaf...." Rasya mengecupi rambut Mawar, membelai punggung istrinya


Mawar menjarakkan tubuhnya, melihat wajah suaminya "Kenapa kamu ada disini?"


"Kenapa?" ulang Rasya pertanyaan Mawar "Aku disini sebab istriku pingsan saat suaminya tidak ada dirumah, baru ditinggal seminggu kamu sudah pingsan, apalagi ditinggal lama"


"Jadi kamu ada rencana mau ninggalin aku lama?" Mawar kesal atas ucapan Rasya


"Nggak, nggak akan lagi, aku kapok, belut ku merindukan sarangnya"


"RASYAAA, kamu menyebalkan" Mawar mengerucutkan bibirnya


Hahaha Rasya tak dapat lagi menahan tawanya, sudah lama dia tak mendengar ocehan Mawar jika sedang seperti ini.


Perlahan Rasya mendekatkan wajahnya, menyatukan bibir mereka, lama ia menghisapi, menggigit, dan menyesap bibir yang selalu terasa manis itu, sama halnya dengan Mawar, dia menyambut belitan bibir Rasya, tanpa sadar Rasya telah naik keatas brankar, mengungkung tubuh mungil istrinya, hanya dengan sekali tarikan, ia telah melucuti pakaiannya dan juga istrinya, yang hanya diangkat keatas, telah lama mereka tak melakukannya, membuat keduanya terhanyut dalam rasa rindu yang seakan sudah tak terbendung lagi. Tiba saatnya Rasya akan memasuki inti tubuh Mawar


"Sya, tangan aku" ingatkan Mawar akan tangannya yang masih ada jarum infusnya


"ASTAGA sayang, aku lupa, kamu hamil"


"APA"


Akhirnya kegiatan yang sudah separuh jalan itu mereka urungkan, demi buah hati yang saat ini telah tumbuh dalam rahim sang istri. Dan berakhir Rasya yang menyelesaikannya dikamar mandi.


Dan tanpa mereka sadari, Mama Rika telah tertidur diluar, sebab saat dia akan masuk, ternyata adegan live itu kembali ia lihat.


.


.


.


.


Makasih semua atas dukungannya, maaf belum bisa balas satu-satu komen kalian, tapi nanti aku sempetin, tapi dah aku like love you all ❤️😘😍

__ADS_1


__ADS_2