
Rasya mengerjapkan matanya, perlahan ia buka, menyeimbangi cahaya lampu yang menyilaukan matanya, terlihat samar cengiran menyebalkan seorang laki-laki yang dia hapal betul siapa itu.
"Hai bos, sudah bangun?" Abdi tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya.
"Taddaaaa" tangannya merentangkan, menunjuk makanan yang dia beli, ada buah-buahan, serta bubur ayam pesanan sahabatnya yang sedang sakit itu.
Rasya menatap malas sahabatnya itu, ia mencari-cari keberadaan Mawar. Sedang Abdi memajukan bibirnya, usahanya ingin memberi surprise pada Rasya gagal, temannya itu sama sekali tak memperdulikan usahanya.
"Mana Mawar?" Tanyanya pada Abdi.
"Nggak tau." Jawab Abdi ketus.
"Ehh udah berani bentak bos ya"
"Lagian bos, ini saya udah usaha beliin, buah-buahan dan bubur pesenan bos, tapi nggak di gubris, bilang makasih kek bos"
"Ogah" Jawab Rasya cuek. "Panggilin Mawar kesini, aku cuma mau makan disuapin dia" Perintahnya lagi.
"Kan situ bisa makan sendiri, manja amat, lagian kan yang sakit badannya, bukan tangannya, ini juga udah jam tujuh malam bos, biarkan Mawar istirahat, kasihan dia, dari pagi jagain kamu" Abdi menunjuk tangan Rasya.
"Bawel ya, cepet panggilin Mawar, kalo nggak, perjanjian pelunasan apartemen ini batal" Lagi-lagi mode mengancamnya keluar.
"Mawar sepertinya sedang ada masalah"
"Masalah apa?"
Abdi mengendikkan bahunya " Mana saya tahu." Rasya yang kesal, langsung turun dari tempat tidur, menuju unit yang ditempati Mawar.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
Suara ketukan Rasya begitu kencangnya, namun belum juga dibukakan. Rasya tak sabar, diketuknya lagi pintu yang masih tertutup itu. "MAWARRR BUKA CEPAT." Teriaknya, muka Rasya sampai memerah menahan kesal.
Klikk
Terdengar suara pintu itu yang dibuka, menampilkan wajah Marvin "Kak...." Marvin belum menyelesaikan ucapannya, Rasya menerobos masuk, menabrak Marvin yang masih berada diambang pintu.
"MAWAR!!" Rasya berteriak, dilihatnya Mawar yang sedang duduk disofa bersama Chio, menghadap laptop didepan mereka.
"Kamu tidak dengar?, dari tadi aku memanggilmu." Wajah Rasya terlihat tidak bersahabat.
Mawar berdiri "Ada apa Sya?" Mawar bingung Rasya yang tiba-tiba marah.
"Kamu tanya ada apa? kamu tidak lihat aku masih sakit, kamu ninggalin aku Mawar, kamu tinggalin aku sendiri."
Mawar memutar matanya malas, "Aku nggak ninggalin kamu sendiri, ada Abdi yang menemani kamu."
"Aku belum makan, kamu temani aku makan." Suara Rasya melembut, matanya memohon pada Mawar agar mau menemaninya.
"Pekerjaan apa yang lebih penting dari aku"
Mawar mengehembuskan nafasnya, Rasya benar-benar mengujinya. "Aku minta kamu mengerti untuk sekarang, aku sedang banyak masalah."
Rasya tak mengindahkan ucapan Mawar, dia menarik tangan Mawar kasar, membawa Mawar menuju unitnya. Marvin dan Chio hanya bengong melihat keduanya, mereka tak ingin ikut campur, kecuali Rasya sudah diambang batas.
Rasya membawa Mawar masuk ke kamarnya, sebelumnya dia mengatakan pada Abdi untuk dibelikan makanan yang baru. Dikuncinya pintu kamar, mendorong Mawar dibalik pintu.
Rasya langsung membungkam mulut gadis itu, menahannya sebentar sebelum menyesap mulut manis Mawar, menggigiti kecil mulut manis dan tipis milik Mawar. Mawar yang tadi membelalakkan matanya, akibat serangan mendadak, kini memejam, menikmati sapuan bibir Rasya yang semakin dalam.
Tangan Mawar kini memeluk punggung Rasya untuknya bertahan, agar dapat menyeimbangi tubuhnya, tangan Rasya turun menyusuri leher jenjang milik Mawar, agar mereka dapat menikmati ciuman itu.
Rasya melepaskan ciumannya, memberi waktu untuknya dan Mawar bernapas, "Nafas Mawar" Ucapnya, dilihatnya Mawar yang masih memejam, menetralkan jantungnya. Rasya tersenyum. Deru nafas keduanya memburu.
Rasya mengelap bibir Mawar yang basah akibat ulahnya, "Ini pertama kali untukku, aku harap ini juga yang pertama untukmu." Rasya menyatukan kening mereka. Detak jantung keduanya bersahutan, Rasya membelai pipi Mawar lembut, menggunakan ibu jarinya. Ditatapnya mata bening Mawar, wajah gadis itu memerah.
__ADS_1
Rasya kembali menunduk, ingin merasakan lagi manisnya bibir wanita didepannya ini. Namun Mawar menghindar, bibir Rasya membentur pintu, karena dia yang tak siap.
"Kenapa?" Tanyanya, mengalihkan rasa malu yang tak dapat menjangkau bibir yang kembali ingin dia rasakan.
"Kamu masih sakit, sebaiknya kamu istirahat." Ucap Mawar, dia yang masih merasakan bibir Rasya yang hangat, juga tubuh laki-laki itu yang masih hangat.
"Kan ada kamu obatnya."
Wajah Mawar semakin memerah, gadis itu menahan malu, dia juga belum bisa menetralkan detak jantungnya. Entah apa yang dirasakan Mawar saat ini, ada desiran aneh yang dia rasakan, sebenarnya Mawar ingin menikmatinya lagi, namun kewarasannya mengingatkan, jangan, dia tak mau mengulang kesalahan yang sama seperti ibunya.
"Sya...."
"Hemmm" Suara Rasya terdengar parau, wajah laki-laki itu masih berada tepat didepannya, tangannya mengungkung tubuh mungil Mawar, bahkan Mawar bisa merasakan rasa mint dari nafas Rasya.
"Jangan lakukan lagi."
"Kenapa?" Rasya merapikan selur rambut Mawar, menyelipkannya ditelinganya.
Mawar menggigit bibir bawahnya, "Jangan digigit sayang" Larang Rasya, ia kembali menyatukan benda kenyal itu, menyesapnya lagi, Rasya mencoba menggigit bibir Mawar agar mulut gadis itu terbuka, untuknya bisa masuk menjelajahi rongga mulut Mawar.
Mawar mendorong tubuh Rasya, baru saja dia mengatakan agar Rasya tak melakukannya lagi, laki-laki itu malah menyerangnya.
.
.
.
.
*Bersambung...
Udah cukup, aku belum ahli bikin cerita yang membuat badan panas dingin... Aku ini masih suci, harus banyak berguru duluðŸ¤ðŸ¤ðŸ˜‚*
__ADS_1