
Jam menunjukkan pukul tiga dini hari, Mawar mengerjapkan matanya, ponselnya terus berbunyi, nama Chio terpampang disana.
"Chio, ada apa semalam ini?" hati Mawar mulai tak enak, tidak mungkin Chio menghubunginya semalam ini, jika tidak ada sesuatu yang penting atau mendesak.
Mawar mengangkat tangan Rasya yang melingkar diperutnya dengan hati-hati, dia tak mau mengganggu tidur suaminya, Rasya terlihat begitu lelap
"Ya Chio" jawab Mawar dengan suara berbisik
"Mawar maaf aku mengganggumu, store kita terbakar" ujar suara dari seberang sana, terdengar bergetar karena panik
"Apa?" Mawar menutup mulutnya,
"Maaf aku lalai"
"Ya Ampun, apa ada korban Chio"
"Tidak ada, saat terjadi kita semua sudah pulang"
"Sekarang kamu dimana Chio?"
"Aku ada di toko, sudah ada tiga mobil damkar yang datang, beruntung mereka cepat datang, jadi api belum merembet ke roku sebelah"
"Baiklah Chio, aku segera kesana"
Mawar memutuskan panggilannya, dia memijat pelipisnya, masalah Marvin belum selesai, sudah muncul masalah baru.
Dilihatnya Rasya yang masih terlelap dialam mimpinya, laki-laki itu sama sekali tidak terganggu dengan suaranya, Mawar membelai pipi sang suami, diperhatikannya wajah tampan itu "Aku beruntung memiliki kamu Sya" gumamnya.
Mawar tidak tega untuk membangunkan Rasya, tapi dia harus cepat ke toko, dia tidak bisa membiarkan Marvin mengurus masalah ini sendiri, ditambah lagi dia yang sudah tiga hari tidak mengunjungi toko, karena kesibukannya sebagai nyonya baru di keluarga Mahardika.
Mawar mengecupi bibir merah muda Rasya, bibir yang tidak pernah tersentuh minuman beralkohol, ataupun barang yang mengandung nikotin itu, Mawar terus mengecupi bibir itu, hingga sang pemiliknya terbangun.
"Sayang" Rasya menyelaraskan pandanganya, dia tersenyum, melihat sang istri tepat berada didepan wajahnya. "Kamu kenapa Hem, mau?"
Mawar menggeleng "Sya.... barusan Chio telepon, dia mengabarkan toko kebakaran"
"Apa? sayang kamu tidak salah dengar kan?" Rasya bangkit, memastikan bahwa yang dikatakan Mawar salah.
"Aku harus cepat kesana, aku harus membantu Chio"
"Ayo kita siap-siap, aku harus memberi tahu mama dan papa"
__ADS_1
Mereka pun bergegas mandi, sebelum menuju toko, bagaimana pun mereka harus membersihkan sisa percintaan mereka.
Mawar dan Rasya pergi bersama David, ya mama Rika menyuruh David yang mengendarai mobil, sebab mama tidak yakin, Rasya dan Mawar tidur nyenyak, melihat rambut keduanya yang terlihat basah.
Sesampainya di lokasi, api sudah berhasil dipadamkan, lokasi toko begitu ramai, karena antusias warga yang ingin melihat kejadian itu, secara langsung. Banyak diantara mereka yang menjadi wartawan dadakan, mengabadikan kejadian ini lewat video melalui ponsel mereka.
Disana juga sudah ada petugas keamanan yang datang, mereka memasang garis polisi agar tak ada yang mendekat, untuk tak menghilangkan barang bukti.
Dari jauh Mawar sudah melihat Chio dan teman-temannya, dia menghampiri Chio diikuti Rasya yang melepaskan genggamannya, dan David.
"Chio" panggil Mawar, Chio terlihat begitu sedih.
"Mawar, toko kita" Chio menggelengkan kepala, dia membuka kaca matanya, mengusap air mata yang jatuh.
Mawar dapat menangkap kesedihan pada Chio, rose's mom dapat berdiri sekarang karena tangan dingin Chio dan teman-temannya, pantas Chio begitu sangat terpukul, rose's mom sudah mulai berkembang, semua berkat kerja keras Chio dan team. Sedang dia tak pernah melakukan apa-apa, datang ke tokopun hanya beberapa hari kemarin. Sebelum dia disibukkan dengan status barunya.
"Kemarin dua hari kita semua lembur, kita tidak pulang, kita sedang kebanjiran order, mereka sampai mengeluarkan tabungan mereka untuk menutupi kekurangan dana, mereka sangat bersemangat, kenapa ini semua terjadi" Chio berjongkok, sungguh dia sangat sedih, bahunya bergetar, temannya yang lain ikut berjongkok, menenangkan Chio.
Pengakuan Chio membuat hati Mawar tercubit, padahal selama ini Chio yang selalu ada untuknya, kenapa sekarang dia seolah melupakan temannya ini, Mawar merasa sangat bersalah, dia merasa tidak berguna untuk Chio.
"Tenang Chio, kita bisa melewati ini" ucap salah satu rekan Chio menenangkan.
Melihat istrinya yang menangis, Rasya menarik tubuh istrinya, untuk bersandar di bahunya. "Aku akan membantunya, kamu jangan khawatir"
"Sssttt, kamu tidak salah, jangan menyalakan dirimu"
Polisi datang, menanyakan siapa yang akan menjadi saksi, untuk dimintai keterangan, demi penyelidikan, apakah kebakaran ini terjadi murni atas kelalaian, atau ada yang mensabotasenya.
...****...
Beberapa jam sebelum kejadian.
Marvin berjalan dilorong apartemennya, langkahnya gontai, bayangan pernikahan terus menghantuinya, dia begitu pusing, tak pernah ia bayangkan akan secepat ini menikah, apalagi memiliki anak, dia berharap Putri tidak hamil, walau dia tidak yakin, sebab dia melakukannya tanpa menggunakan pengaman. Namun langkah Marvin terhenti saat melihat mama Vivi ada didepannya.
"Vin, apa kabar, Mama rindu kami" ucap wanita itu dibuat sesedih mungkin, untuk menarik simpati putra satu-satunya ini.
Marvin membuang muka, disisi lain dia juga merindukan mamanya, namun hatinya menolak, mamanya jauh berbeda dengan mama Rika yang baru saja dia temui.
"Untuk apa Mama kesini?"
"Begitu Vin cara kamu menyambut kedatangan Mama?, kembali sama Mama Vin, Papa menceraikan Mama, Mama butuh kamu, untuk memperjuangkan hak kamu Vin"
__ADS_1
Marvin melangkah maju, sungguh dia tidak menyangka, mamanya seperti ini "Apa yang Mama harapkan Ma? Marcel bukan Papa Marvin, Marvin benci Mama, gara-gara Mama Marvin jadi seperti ini"
"Apa maksud kamu Vin, Papa kamu itu Papa Marcel, kamu pikir siapa?"
"Cukup Ma, jangan buat Marvin anak durhaka, Marvin sudah tahu semuanya, Mama berselingkuh dari Papa" Wajah Marvin sampai merah, urat keningnya terlihat, Marvin kecewa, dan marah menjadi satu, mamanya membuat dia seolah menjadi musuh untuknya, padahal jika mamanya mau mengakui kesalahannya, mungkin Marvin akan memaafkannya.
"Apa wanita sialan itu Vin yang membuat kamu jadi seperti ini?" Vivi cukup terkejut, Marvin tahu yang sebenarnya, namun dia harus menutupi itu, sebelum dia mendapatkan yang dia mau.
"Siapa yang Mama maksud? apa Kak Mawar?"
"Dia bukan Kakak mu"
Marvin tersenyum getir, mama mengakuinya
"Apa itu sebuah pengakuan Ma?"
"Bukan itu maksud Mama Vin, Mawar itu anak dari hasil perselingkuhan Papa mu"
Marvin melangkah melewati sang Mama, dia harus istirahat, besok adalah hari pernikahan dadakanya.
"Jangan nikahi wanita itu Vin, dia wanita selingkuhan Rasya, kamu hanya diperalat, kamu dimanfaatkan"
Ucapan Vivi berhasil membuat Marvin menghentikan langkahnya.
"Mama mengikuti Marvin?"
Vivi tersenyum lebar, ucapannya berhasil menghasut Marvin. "Mama tahu apa yang terjadi padamu nak, kembalilah pada Mama, jangan turuti kemauan mereka untuk menikahi wanita itu"
"Mama tidak mengerti Marvin Ma"
"Jika kamu tidak kembali sama Mama, kamu tahu akibatnya Vin"
Marvin begitu terkesiap, apa yang akan dilakukan mamanya.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya buat yang suka sama alurnya,