
Setelah pengumuman nama anak Rasya dan Mawar, doa pun dipanjatkan yang dipimpin oleh pemuka agama setempat. Dengan khusyuk Mawar mendengarkan doa yang diperuntukkan untuk anaknya juga rumah tangganya, suara aamiin yang serempak dari para anak yatim menggetarkan hati Mawar, ia menitikkan air matanya, berharap semua kebaikan dan kebahagiaan selalu menghampiri di kehidupan anaknya kelak.
Dan tiba saatnya mereka makan bersama, Mawar merasa sangat bahagia, kehadiran anak-anak yatim-piatu tersebut membuatnya merasa sangat bersyukur, selama ini ia hidup masih dikelilingi keluarga, walau hubungan itu kurang harmonis. Ia juga bersyukur memiliki mertua yang sangat menyayanginya.
Setelahnya, acara pembagian hadiah untuk anak-anak itu, senyum merekah dari wajah polos mereka begitu terpancar. Mawar merasa begitu banyak mendapat kejutan dari mama Rika, semua acara syukuran anaknya diluar dari dugaannya, semua ini tak ada sedikitpun didalam benaknya.
Ia pikir mama Rika akan mengundang teman-teman sosialitanya, atau hanya akan mengundang rekan-rekan bisnis keluarga mereka, nyatanya wanita setengah abad namun masih terlihat muda dan cantik itu, memberikan hadiah sederhana namun begitu terkesan dan bermanfaat untuk cucunya. Tak terlihat wajah lelah dari wanita itu, ia malah nampak begitu bahagia dan semangatnya.
"Sayang" tegur Rasya pada Mawar yang sedari tadi memperhatikan Mama Rika "Kamu baik-baik saja?"
"Iya" jawab Mawar, ia menatap wajah suaminya penuh haru "Mama bekerja keras untuk acara ini hubby, sedang aku sama sekali tidak membantu Mama"
"Ini semua karena dia sayang sama cucunya, kamu pernah dengar istilah bahwa seorang nenek, lebih sayang dari pada anaknya"
Mawar menitikkan air matanya "Jika ibuku ada, pasti dia akan melakukan hal yang sama hubby"
Rasya menghapus air mata Mawar "Jangan bersedih, nanti kita akan mengunjungi mama kamu, jika anak kita sudah bisa dibawa kesana, kita bawa Marsha mengunjungi neneknya"
Mawar tersenyum penuh haru, Rasya selalu bisa menenangkan dirinya disaat seperti ini, sedari tadi saja, dia tak diperbolehkan Rasya menggendong Marsha, sebab tak mau Mawar kelelahan, karena istrinya itu masih dalam pemulihan pasca melahirkan.
Aku tidak salah memilih mu, walau dulu kau tidak begitu menginginkan aku, tapi sekarang kau mampu membuktikan kau bisa berubah, terima kasih, telah hadir dalam hidupku, terima kasih Tuhan, kau maha membolak-balikkan hati manusia.
Mawar langsung memeluk Rasya dari samping, membuat Rasya terheran-heran.
"Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan saat ini sayang, tapi kamu harus tahu, aku begitu menyayangi kalian"
"Jangan ucapkan apa-apa lagi hubby, kamu membuat aku semakin mellow" Mawar mencium pipi Rasya, tanpa menyadari mereka menjadi tontonan disana, lalu mengecup pipi anaknya.
"Kamu menodai mata anak-anak sayang" tunjuk Rasya didepan mereka dengan dagunya, anak-anak yang sedang melihat mereka. Mawar begitu malu, dia sekarang suka lepas kendali.
"Ayo kita menghampiri keluarga kita" digenggamnya tangan Mawar menuruni panggung, dengan tangan yang satunya masih kuat menggendong putri cantiknya, yang begitu anteng, tak terganggu dengan keramaian, walau cuaca sudah mulai terik.
Ucapan silih berganti dari keluarga mereka, Marcel, Marvin, Putri, David dan juga Chio. Mereka memberikan hadiah begitu banyak untuk baby Marsha
"Kak, aku sudah menukar perabotan bayi, dan sudah mengirim kerumah mu" ucap Marvin disela obrolan mereka
"Kalian menyusahkan diri sendiri, kenapa tidak USG saja sih, jika ketahuan kan bisa beli kebutuhan bayi sesuai jenis kelamin anak kalian, benar-benar menyusahkan hidup"
__ADS_1
"Itu namanya, ada yang susah, mengapa harus milih yang muda" celetuk David, ia begitu tak setuju dengan ide kedua bocah konyol ini
"Kak, kamu membawa siapa?" tanya Mawar yang baru menyadari David membawa wanita bule.
"Eh iya" sambung Rasya yang juga baru menyadari ada orang asing disisi David.
"Perkenalkan, dia calon ibu dari anak-anakku" David dengan pede mengenalkan wanita bule itu pada keluarganya.
Wanita bule itu menyalami Mawar dan Rasya
"Hai, i'm Ainsley"
"Hai Ainsley, nice to meet you, hope you guys get up the aisle soon"(hai Ainsley, senang bertemu dengan mu, semoga kalian cepat naik pelaminan"
Ucap Mawar, yang di Amin kan semua orang.
"Eh, kemana Abdi, kenapa dia nggak datang?" tanya Rasya yang belum melihat batang hidung sahabatnya itu.
*Tiinn
Tiinn*
Abdi melepaskan kaca mata hitamnya, ia berdiri tepat didepan Mawar.
"Apa kalian nunggu kedatangan ku?" ucap Abdi dengan penuh percaya diri, ia mengalihkan pandangannya pada yang lain
"Lihat aku bawa kado spesial untuk keponakan ku yang cantik" ia membalikkan badannya, menunjukkan kado untuk baby Marsha
Terlihat para pekerja menurunkan berbagai hadiah yang dibawa Abdi, ada perosotan, rumah balon anak, jungkat-jungkit, kolam renang balon yang sudah dipompa, dan lebih membuat terkejut lagi, Abdi membawa odong-odong kereta.
"Kau gila Abdi, kau pikir aku mau buka pasar malam?" Rasya begitu geram dengan kegilaan Abdi
"Hei Man! aku mengeluarkan banyak duit buat beli hadiah ini, sebagai rasa sayangku pada anak kalian"
"Aku suka Abdi, apa itu muat dihalaman kita hubby?" tanya Mawar yang antusias pada hadiah yang dibawa Abdi
"Kenapa kamu nggak bawa kerumah saja Abdi, kau merepotkan, aku harus membawa kembali semua"
__ADS_1
"Aku suka melihatmu menderita kawan" Abdi terkekeh, ia menepuk-nepuk pundak Rasya "Kamu harus berterima kasih padaku, ini mainan awet yang tidak basi, dan nanti bisa membuat video untuk anak kalian, dan bisa menghasilkan uang banyak" tanpa Abdi sadari, semua mata melotot kearahnya
...****...
Putri mengeluh sedih, seharusnya HPL nya sama dengan Mawar, namun Mawar sudah melahirkan seminggu lebih maju dari perkiraan HPL nya, sedang dia, kini sudah lebih dari dua hari perkiraan dari tanggal yang diperkirakan oleh dokter.
Kini mereka dalam perjalanan pulang ke rumah, Marvin menyadari kegelisahan Putri. Ia terus menggenggam erat tangan istrinya. Walau sudah dapat nasihat dari Mama Rika, namun tetap saja hatinya merasa gelisah.
"Apa kita akan periksa lagi sekarang?" tawar Marvin.
Putri hanya menggeleng lemah "Kita kemarin sudah periksa"
"Baiklah, kita lakukan lagi saran dari orang-orang"
"Apa?" tanya Putri, ia melihat kearah Marvin yang fokus kedepan
"Apalagi, bukankah aku harus sering menjenguknya?" Marvin tersenyum kearah Putri, membuat Putri tersipu malu
Setelah sampai dirumah, baru saja Putri membuka pintu, Marvin langsung menggendong Putri ketempat tidur, mereka masih begitu kaku, namun mereka juga harus melakukannya, dengan hati-hati Marvin melepaskan pakaiannya dan juga Putri. Walau sudah beberapa kali mereka melakukan ini, namun Putri masih merasa malu, ia memalingkan wajahnya yang memerah merona.
"Lihat aku Putri" tarik Marvin dagu Putri lalu memagut bibir itu, sekarang ia tak bisa menahan jik sudah melihat bibir Putri, seakan itu candu untuknya sekarang. Lama-kelamaan ciuman itu semakin menuntut, dan dengan penuh kehati-hatian, Marvin memasuki tubuh Putri.
Hentakan-hentakan kecil Marvin lakukan, hingga saat dirasa ia akan sampai pada puncaknya, Marvin lupa, jika Putri sedang hamil, ia terlalu menikmati ini hingga teguran Putri layangkan pada Marvin karena perutnya terasa kram
"Vin.... kamu menyakiti anak kita"
"Hah!? sebentar lagi saa-ya-nggg" desah Marvin yang tak mengindahkan ucapan Putri.
"Viiin" panggil Putri lagi, yang merasa Marvin malah menghentaknya lebih kuat
Namun panggilan Putri dianggap Marvin istrinya menikmati itu, hingga akhirnya ia menumpahkan cairan larva itu didalam sana.
.
.
.
__ADS_1
.
Nambah satu chapter lagi boleh ya... belum abis ternyata