
Mawar duduk di depan meja riasnya, hari ini adalah hari sakral dia dan Rasya. Mawar terus memegangi cincin pertunangan mereka yang masih melingkar indah dijari manisnya, di putar-putarnya cincin itu dengan pandangan kosong. Ini yang Mawar tak suka pada dirinya, tidak bisa menangis disaat seperti ini, disaat dia ingin mengeluarkan semua beban pikirannya. Bukan hal yang mudah bagi seorang Mawar, melawan diri sendiri. Tak pernah mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kecil, membuatnya kadang ingin melampiaskannya pada apapun itu. Hal yang wajar bukan?, jika kita dalam masalah besar, kita kadang membutuhkan sesuatu untuk meluapkannya?.
Ketukan pintu membuatnya tersadar "Masuk." Ujarnya dengan suara yang ia keraskan, agar terdengar dari luar.
Papa Marcel masuk dengan tersenyum, mendekat pada putrinya yang juga tersenyum melihat kedatangannya "Kok anak Papa belum siap?" Papa melihat pada arlojinya "Dua jam lagi acaranya dimulai loh".
"Masih nunggu tukang riasnya Pa"
"Sudah dihubungi?." Papa membelai rambut putrinya.
Mawar mengangguk "Lagi dijalan katanya Pa."
Papa Marcel merendahkan tubuhnya, menggenggam kedua tangan putri kesayangannya. Menipiskan bibir agar tak menitikkan air mata saat mengutarakan isi hatinya. " Sekali lagi Papa minta maaf , mungkin seluruh isi dunia ini, tak akan bisa menebus kesalahan Papa selama ini, Mawar, nak_ mulai detik ini, jadikan Papa orang pertama yang engkau cari jika kamu sedang ada masalah, kamu adalah harta berharga untuk Papa, maafkan Papa sayang." Papa Marcel mencium tangan yang ada dalam genggamannya. Tak dapat lagi membendung air mata yang memaksa keluar. Tubuhnya bergetar, menyesali semua kesalahannya. Kata-kata yang telah disusunnya sedemikian rupa hilang begitu saja.
Mawar hanya diam menahan air matanya, entahlah, hatinya terlalu beku, mengetahui rahasia terbesar yang tidak sama sekali ingin dia ketahui. Namun dia mendengar sendiri, ibu Vivi mengatakan jika dirinya adalah anak dari selingkuhan Papanya, dan dirinya adalah anak haram. Mawar tak mendengar saat papanya mengatakan jika mereka telah menikah. Kecewa, itulah yang dia rasakan. Namun dia harus berpura-pura tak tahu tentang permasalahan ini, biarlah papanya yang akan mengatakan sendiri.
Ditempat lain.
Rasya sudah siap dan rapi dengan tuxedo hitam miliknya, lengkap dengan dasi kupu-kupu berwarna senada. Laki-laki itu semakin terlihat gagah dan tampan. Rasya begitu gugupnya, ia tak sabar ingin segera bertemu Mawar, setelah mendengar keributan beberapa hari lalu, Mawar sama sekali tak bisa dihubungi. Padahal ia sangat ingin bertemu, dan melamarnya sendiri secara langsung. Rasya begitu menyesali sikapnya terhadap Mawar selama ini, ia salah menilai. Ternyata Mawar adalah wanita kuat dan hebat, bukan wanita manja yang selalu ia tuduhkan. Pertemuan terakhirnya dengan Mawar setelah makan malam, membuatnya rindu setengah mati.
Ahh.. padahal selama ini, ia begitu ketus dan angkuhnya jika bertemu Mawar, tapi mengapa ia sangat ingin menemui wanita itu. "Mawar i'm coming, aku akan membuat mu bahagia, aku berjanji." Ujarnya, Rasya mengibaskan kedua tangannya pada tuxedo hitam ang dia kenakan. Merapikan sekali lagi setelan tuxedo berwarna hitam itu.
Tok tok tok
"Sya... Mama boleh masuk?." Tanya mama Rika yang sudah membuka setengah pintu kamar Rasya, dan langsung masuk.
"Ck... Mama kan udah masuk, ngapain nanya." Mama Rika tersenyum mendengar ucapan putranya.
"Anak Mama ganteng banget sih." Tangan mama langsung merapikan tuxedo yang dikenakan Rasya "Kamu kelihatan bahagia banget sayang"
__ADS_1
"Iyalah Ma, masa mau nikah kelihatan sedih sih." Rasya melihat sang Mama yang juga begitu bahagia "Mama juga kelihatan bahagia banget kayaknya"
"Jadi kamu sudah mau menerima Mawar?"
"Nggak ada salahnya kan Ma, Rasya pikir bener kata Mama, jika Mawar gadis yang tepat untuk Rasya, dan Rasya akan mencoba mengenal Mawar lebih dekat lagi setelah menikah."
"Terima kasih sayang, jangan pernah sakiti dia ya."
Rasya terhenyak, apakah mamanya mengetahui semua tentang Mawar?. Apa yang selama ini disembunyikan mama darinya, yang ia tidak ketahui "Ma... apa yang Mama ketahui tentang Mawar Ma?"
"Nanti juga kamu tahu sayang, yang terpenting saat ini, kamu mau menerima Mawar apa adanya, bukan karena rasa kasihan, atau terpaksa, Mama ingin kamu menerima Mawar karena tulus, karena kamu mencintainya."
Rasya menatap lirih wanita yang telah melahirkannya itu "Ma... apa yang Rasya baru tahu, Mama juga sudah mengetahuinya Ma?."
Mama Rika mendongak, terkejut apa yang dimaksud anaknya itu? Ya Tuhan... apa Rasya dengar dan ada disana?, mengingat kemarin dia menyuruhnya mengantarkan kebaya milik Mawar. "Apa yang kamu tahu hem? sudahlah kita sudah terlambat, nggak usah bahas yang nggak penting, kamu harus mempersiapkan diri kamu, jangan sampai salah ya." Mama mencolek hidung mancung milik anaknya.
Rasya tahu mamanya hanya menghindar. Dia akan mencari tahu sendiri, apa yang terjadi pada Mawar, Rasya berharap, Mawar tidak mengikuti keinginannya, untuk kabur dari pernikahan ini.
David sedang dalam perjalanan menuju kerumah Putri, Mawar memerintahkanya untuk menjemput Putri, ujarnya ia ingin Putri mengetahui yang sebenarnya, bahwa Rasya bukanlah sepupunya, melainkan calon suaminya.
"Loh pak David, kok kesini sendiri, nggak sama mba Mawar?." Putri melongok kebelakang David, mencari keberadaan Mawar yang mungkin masih berada di mobil.
"Maaf saya diperintahkan nona Mawar untuk menjemput nona, dan nona diminta untuk memakai ini" David memberikan dua kotak berwarna pink, dengan pita yang terikat diatasnya.
Putripun menerima kotak pemberian David tersebut, dan membukanya "Apa ini pak?." Tanyanya heran.
"Maaf sebaiknya nona cepat bersiap, datang dan lihat sendiri, saya hanya menjalankan perintah" Ujar David dingin, dia malas berbasa-basi dengan orang lain.
"Ih.. kaku banget sih, jangan panggil saya nona ya Pak" Tapi menurut Putri David sangat tidak cocok dipanggil pak, dimanyunkanya bibirnya "Aku kan bukan mba Mawar, yaudah tunggu disini." Putri menutup pintu, tanpa menawarkan David untuk masuk.
__ADS_1
Dibukanya kotak pemberian David tadi, kotak pertama berisi kebaya berwarna pink, dengan sebuah kotak beludru berwarna merah, mata Putri terbelalak, kotak itu berisi cincin emas putih, "Kayaknya pernah liat, punya siapa ya?." Dibawahnya ada secarik kertas.
Putri ini aku Mawar, maaf jika tidak menghubungimu secara langsung, datang ya, dan pakai kebaya ini, dan cincin ini untukmu.
Putri memasukkan cincin itu pada jari manisnya, "Pas" ucapnya. "Mba Mawar ada apa ya?." Ah lebih baik dia cepat bergegas, agar David tak lama menunggunya, dan ingin tahu, apa yang Mawar siapkan untuknya.
Kemudian ia membuka kotak satunya, berisi sepatu selop berwarna senada dengan kebaya tadi.
Tak butuh waktu lama, Putri sudah siap dengan penampilannya, rambut yang ia Cepol, menyesuaikan kebaya yang ia gunakan, dan make up tipis, sehingga mempercantik penampilannya.
"Pak ini kita dirumah siapa?." Tanya Putri pada David, mereka kini telah sampai dikediaman Mawar
"Rumah non Mawar." Jawab David singkat.
Putri menyeret langkahnya, mengikuti David memasuki halaman besar rumah itu, matanya terus menatap penuh kekaguman, namun ia heran, ada acara apa sebenarnya?.
Dilihatnya ada mobil Rasya juga telah terparkir disana. Setelah memasuki rumah itu, matanya menangkap sosok pria yang ia kenal betul, pria yang belakangan ini, membuat hatinya berdebar, pria yang ia rindukan, karena sudah dua hari tak menemuinya.
"Mas Rasya." Ucapnya lirih, kamu mau menikah mas, sama siapa? Apa cincin ini kejutan darimu melalui mba Mawar ?
.
.
.
.
*Hayo ada yang bisa tebak nggak? nanti jadinya Rasya nikahnya sama siapa?
__ADS_1
Enjoy reading, jangan lupa tap lopenya, sama kasih bunga buat Mawar, biar othor semangat up-nya*