
Rasya mengikuti mama dan papanya duduk diruang tengah, serta David. Rasya terus melihat mama dan papanya, menuntut penjelasan.
"Maaf Bu, tadi pagi saya diperintahkan Mawar untuk mengantar barang kerumah Putri_" David menjeda kalimatnya, melirik Rasya yang menatapnya tajam. "Saya tidak mengira jika Mawar akan mengambil keputusan itu" David meletakkan ponselnya, menyalakan rekaman pertengkaran antara Vivi dan Marcel.
Mereka mendengarkan kembali rekaman itu, semua sama, dengan yang Rasya dengar. Setelah rekaman berakhir, David mengambil kembali ponselnya, dan meletakkan kembali kesaku jaket hitam yang dia kenakan.
"Kamu berkhianat David?." Tanya Rasya seakan menuduh.
"Jaga ucapan kamu Rasya." Sentak papa Reyhan, kesal Rasya yang masih tak berubah.
"Terus apa Pa jika bukan berkhianat? bukanya dia orang kepercayaan keluarga Mawar?" Liriknya tajam pada David
"Mama dan Papa yang mengirim David pada keluarga mereka, untuk memantau, apa saja yang dilakukan mereka terhadap Mawar" Ujar mama menjelaskan, "Kamu harus tau Sya, jika David adalah anak dari Bi Nur" lanjutnya.
"Apa?" Rasya begitu terkejutnya, banyak hal yang dia tak tahu, mama dan papanya menyembunyikan semua padanya, ini sungguh tidak lucu.
Rasya mendengus kesal, bagaimana bisa kedua orang tuanya melakukan hal sepenting ini, namun tidak melibatkan dia sama sekali.
"MAMA TAU MA? Kenapa Rasya sampai setua ini tidak mau mengenal perempuan? MAMA TAU MA? Rasya berjanji pada Bi Nur, dia meminta Rasya untuk menemukan seorang perempuan yang begitu berharga buat dia, dia merasa jika Bi Nur mempunyai keponakan cantik. Rasya berjanji padanya MAA!" Nafas Rasya memburu begitu emosinya dia.
"Jika mama jujur dari awal, mungkin Rasya akan menerima Mawar, tidak akan kejadian seperti ini. Karena Rasya merasa bersalah pada Bi Nur, Bi Nur meninggal karena mengejar Rasya, dan terjatuh dari tangga, KALIAN TEGA, KALIAN SEMUA KEJAM!, kalian yang membuat Rasya berperilaku seperti itu pada Mawar" Rasya begitu meledak-ledaknya, dia tidak terima, mamanya malah lebih mempercayakan orang lain untuk mengungkap semua. Rasya bangkit dan pergi menuju kamarnya.
"Rasya dengarkan Mama dulu." Rasya tak mengindahkan lagi, dia benar-benar kecewa, rasa bersalahnya pada Mawar, hari ini dia yang gagal menikah, ditambah mamanya menyembunyikan banyak hal padanya, semua terungkap dalam satu hari. Rasya begitu kecewa.
Rasa kecewa, marah, kesal menjadi satu, dia yang juga merasa bersalah pada Mawar, sekaligus merindukan wanita itu. Kepalanya terasa ingin meledak saat ini juga.
Rasya mengunci kamarnya, kepalanya begitu pusing, banyak hal yang terjadi dalam satu hari ini "Mawar.... dimana kamu?" Rasya menjambak rambutnya kasar, suara mamanya yang terus berteriak dan terus mengetuk dari luar pun tak diindahkannya.
Sedangkan diruang tengah, papa Reyhan yang terus meminta maaf pada David, dia tak mengetahui jika kematian ibu David karena kesalahan Rasya. Karena kejadian itu Rasya masih terlalu kecil, jika ditanya pun Rasya hanya diam. Hingga menyebabkan Rasya trauma jika melihat darah.
__ADS_1
David yang sudah dapat berpikir dewasa pun tak mempermasalahkan itu, dia juga sadar, jika keluarga Rasya telah banyak membantunya.
"Terima kasih David, sudah mau mengerti keadaan kami, sekali lagi Om sungguh minta maaf." Ucap papa Reyhan tulus.
"Tidak apa-apa Om, itu semua kecelakaan, saya yakin, Rasya juga tidak sengaja, kebaikan keluarga Om, tidak sebanding dengan yang saya lakukan sekarang."
Keduanya mengangguk, Papa Reyhan menepuk-nepuk bahu David, kagum atas pikiran dewasanya. Mereka sekarang membahas bagaimana agar papa Marcel jujur tentang Warda, dan mencari keberadaan Mawar sekarang.
...********...
Dua hari berlalu.
Kini Mawar dan Marvin berpindah pada apartemen yang ditempati Chio, mereka sedang membereskan kamar masing-masing. Karena apartemen Chio hanya memiliki dua kamar, satu kamar ditempati Mawar, dan satu kamar lagi ditempati Chio dan Marvin.
"Ah beres juga akhirnya...." Mawar merenggangkan ototnya, merasa sangat lelah, setelah selesai mengurus semua kepulangan Marvin dari rumah sakit, kini harus berpindah ke apartemen Chio. Memang dia tidak membawa banyak barang, hanya membereskan kamar yang tidak pernah ditempati, lumayan menguras tenaga.
Dikamar Chio dan Marvin, kedua lelaki jomblo ini belum selesai membereskan kamar mereka, Marvin yang memang belum sembuh total paska kecelakaan, tidak banyak membantu, cuma sedikit merepotkan Chio.
Chio yang sedang memasang seprei pun sangat kesal, dari tadi Marvin hanya merengek ini itu, Chiii minum, Chiiii punggungku gatal. Padahal tangannya hanya satu yang diperban, tapi seperti orang tak punya tangan sama sekali.
"Jepit aja ujung celana mu, terus lepas sendiri." Teriak Chio kesal.
Marvin yang memang mendengar itu menuruti Chio, dia menjepit ujung celananya, tapi bukanya bener, dia malah terjelembab. Chio yang tahu itu, malah tertawa terpingkal-pingkal. "Dasar ganteng doang, otak didengkul, padahal bisa buka pake tangan satunya, ada cara yang gampang kok cari yang ribet."
Chio sama sekali tidak menghiraukan Marvin, dia terus membereskan kamarnya, perutnya sudah tidak bisa sabar, terus mendemonya minta diisi. Harum masakan mi instan masuk menyeruak, seperti terus memanggilnya untuk minta disantap.
Mawar sudah menghidangkan tiga piring mi goreng instan diatas meja, dengan telor mata sapi, dan potongan cabai rawit hijau, dia tau, Marvin suka makan mi instan dengan cabai.
Tak lama Chio keluar dari kamar, dan diikuti Marvin.
__ADS_1
"Vin, kening kamu kenapa?" Lihat Mawar, kening Marvin yang sedikit benjol menimbulkan warna merah kebiru-biruan.
"Karena temen Kakak ini, mending Kakak pecat aja dia jadi temen, nggak bisa jagain Marvin." Tunjuk Marvin Chio dengan bibirnya yang dimanyunkan.
"Ehh.... eh.... uta ridi ay, pangnum aja jakngelun." (Ehh.... eh.... tau diri ya, numpang aja ngelunjak). Jawab Chio dengan bahasanya yang dibalik.
"Ngomong apa sih ni orang, biasa temenan Ama Tarzan kali ya?" Marvin bingung, yang tidak mengerti bahasa Chio.
Mawar yang mendengar keributan keduanya hanya geleng kepala. "Udah-udah, makan mumpung masih panas, jangan ribut terus." Titah Mawar, dia berasa seperti punya dua adik kembar tak seiras, yang satu bertubuh gempal, yang satu bertubuh atletis.
Ditengah-tengah mereka makan Marvin berucap. "Dulu waktu kita berstatus kakak adik, kita nggak pernah makan seperti ini ya kak, sekarang setelah kita tahu, kita bukan kakak adik, kita malah sedekat ini." Suara Marvin serak, menahan bulir yang akan berdesakan keluar. Ia menunduk, menyembunyikan wajah sedihnya, masih terus mengunyah mi didalam mulutnya.
Mendengar itu, Mawar berkaca-kaca, benar kata Marvin, kenapa kehidupan mereka jadi serumit ini. "Semua tetap sama Vin, kita tetap saudara, tidak ada yang bisa merubah itu sampai kapanpun." Mawar tidak ingin, yang kini terjadi, membuat mereka terpisah. Biarkanlah yang terjadi, dia ingin memperbaiki kekacauan ini, walau dia juga membutuhkan waktu.
Chio yang mendengar itupun ikut terharu, sedang Marvin tetap menunduk, dia menangis, sejujurnya dia merindukan mamanya.
Digedung yang sama, dilantai yang sama namun dikamar yang berbeda, seorang lelaki tampan baru saja bangun, dia menggeliat, menyelaraskan mata dari sinar matahari yang menerpa wajahnya, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, sudah dua hari ini dia menginap di apartemen temannya, sebab marah, dan mencoba menenangkan diri.
Dilihatnya ponsel, muncul gambar wanita cantik dilayar wallpapernya, foto disaat pertunangan mereka, hal yang dia lakukan beberapa hari ini, pemandangan pertama yang harus dilihatnya setiap bangun dan akan tidur.
Dia tersenyum, "Seharusnya sekarang kamu nyata, bukan hanya foto, aku bisa menciummu, memelukmu, bukan guling atau batangan yang menemani tidurku, Mawar *Miss you baby."
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung*