
"Aku yang pesen." Suara itu membuat Mawar mematung, kakinya terasa lemas, dia tahu betul suara itu milik siapa.
Setelah kurir pergi, Mawar masih terpaku, dia seakan tak bisa bernafas, laki-laki itu muncul dihadapannya, laki-laki yang sangat dia hindari. "Rasya." Lirihnya, namun masih dapat didengar.
"Boleh aku masuk?" Namun tanpa menunggu persetujuan dari Mawar, Rasya sudah menerobos masuk, dia menelisik setiap sudut apartemen yang ditempati Mawar.
Apartemen dengan lantai motif kayu, dengan cat warna putih yang lebih mendominasi, Rasya mendudukkan dirinya pada sofa panjang yang ada diruang tamu. Lumayan besar dibandingkan milik Abdi, pikirnya. Ada rasa kelegaan, saat dia menyadari jika ada dua kamar disana.
Rasya melihat Mawar yang masih berdiri didepan pintu, tangannya masih memegang handle pintu. Rasya tersenyum, seperti orang yang kebelet, sangat lega rasanya bisa mengeluarkan isinya, itulah yang Rasya rasakan saat ini.
"Masih mau berdiri?" Tanyanya dengan dengan bibir yang terus menyunggingkan senyum. "Kamu pernah dengar Mawar?, jika pintu dibuka lebar malam-malam, nanti ada makhluk tak kasat mata yang masuk."
Mawar menatap jengah pada Rasya yang berduduk santai, "Jangan membuang waktu, mau apa kamu kesini Sya?, keluarlah nanti ada yang mencarimu." Usir Mawar, dia yang memang tak tahu, jika Rasya tak menikah dengan Putri, seperti yang dia bayangkan.
"Aku lapar, bawa kesini pizza-nya" Ujar Rasya, tak mengindahkan ucapan Mawar.
"Ambillah dan bawa pulang, makan bersama istrimu" Mawar menyerahkan kotak makanan itu, namun tetap berdiri dipintu.
"Istriku sedang tidur, dia terlalu kelelahan, aku belum memberinya istirahat dari kemarin." Ucapnya bohong, Rasya mengulum senyum, Mawar pasti berpikir, jika dia memang, menikah dengan Putri, sesuai isi suratnya.
Degh
Hati Mawar bak dihantam batu besar, rasanya sakit sekali, saat Rasya mengatakan hal yang dianggap pribadi, namun diungkapkan frontal didepannya.
"Aku tahu, lebih baik kamu pulang Sya, mungkin dia sudah bangun, dan nanti mencarimu" Mawar mencoba menutupi rasa sakitnya, dia harus berbesar hati, ini semua sudah menjadi keputusannya.
Rasya tak mengindahkan itu, dia malah menatap Mawar, terus tersenyum, dia terlalu senang, melihat Mawar yang malah terlihat sedang cemburu.
"Cantik" Rasya malah mengatakan itu.
"Ha....?" Mawar terkesiap, kenapa Rasya malah menambah luka hatinya, memuji Putri cantik.
__ADS_1
"Mawar kamu tidak merasa merinding, ini udah malam loh, kalo kamu terus membuka pintu, aku yakin, mahkluk tak kasat mata itu makin banyak yang masuk." Rasya mencoba menakuti Mawar, sekaligus memancing, siapa yang bersama Mawar diapartemen ini.
"Aku nggak takut, cepat kamu keluar dan bawa makanan kamu, aku lelah ingin istirahat." Usirnya lagi, Rasya yang masih betah duduk disofa itu.
"Sama siapa kamu disini?" Tanyanya mengalihkan, Rasya tak bisa menahan rasa penasarannya, siapa laki-laki yang bersama Mawar, seperti yang diungkapkan Abdi.
"Bukan urusan kamu, cepatlah keluar" Mawar benar-benar lelah menghadapi Rasya.
"Aku nggak mau."
"Sya.... please, bukanya aku sudah menuruti mau kamu, tolong, jangan membuat aku semakin susah, jangan ganggu aku lagi."
"Aku cuma mau makan Mawar, ayo sini, aku semakin lapar kalo berdebat." Rasya malah terkekeh, menggoda Mawar jadi hal yang sangat menyenangkan untuknya.
Rasya berdiri, mengambil kotak makanan, lalu kembali lagi duduk disofa, membuka kotak makanan itu, lalu mengambil sepotong makanan dengan topping potongan daging ,dan keju mozzarella itu.
Rasya terbatuk-batuk, dia tersedak, Mawar yang melihat itu sigap mengambilkan air putih dan memberikan pada Rasya, raut khawatir nampak jelas pada wajahnya.
Mawar yang tersadar dengan tatapan Rasya, langsung menjauhkan dirinya, namun saat akan beranjak, Rasya justru menariknya, membuat Mawar terjatuh di sofa, Rasya langsung menguncinya menggunakan lengannya yang dia lingkarkan dilehernya.
"Temenin aku makan," ucapnya dengan wajah yang memohon.
Mawar sadar jika posisi mereka yang tak seharusnya "Jangan seperti ini Sya, nanti orang salah paham"
"Siapa yang salah paham, pacar kamu?"
Rasya mengambil lagi potongan pizza, lalu menyuapkannya pada Mawar, Mawar seakan terhipnotis, dia malah justru menerima suapan itu, dan membuka mulutnya.
Rasya terus memperhatikan mulut Mawar yang mengunyah, bibir tipis berwarna merah muda alami, begitu menggodanya. Andai saja Mawar tidak kabur pasti aku sudah bisa merasakannya lagi, ah bukan, andai saja aku tidak meminta Mawar yang melakukan itu, mungkin kita sudah.... ahhh, Mawar kenapa kita harus seperti ini? Rasya berperang pada dirinya sendiri.
Mawar mengalihkan wajahnya, sadar Rasya yang terus memperhatikannya.
__ADS_1
"Habiskan". Ucap Rasya tepat dibelakang telinga Mawar, membuat Mawar bergidik ngeri.
"Aku sudah kenyang" Jawab Mawar dengan wajah masih membelakangi Rasya.
Rasya menarik dagu Mawar, agar mau menghadapnya, "Satu suapan lagi."
"Aku kenyang Sya." Jawab Mawar sebal.
Rasya tak mengindahkan, dia tetap menyuapkan pada Mawar.
"Janji ya, satu kali lagi."
Rasya mengangguk, dia tersenyum senang, Mawar yang mau menurutinya.
Mawar membuka mulutnya, menghabiskan sisa potongan bekas gigitannya tadi, namun Rasya justru membuka mulutnya paksa, dan mengambil pizza itu dari mulut Mawar, menggunakan mulutnya.
Mawar sungguh terkejut dibuatnya, dia termangu dengan matanya yang membola.
Sedang Rasya santai, menikmati pizza hasil rampasannya dari mulut Mawar.
"Rasanya beda, lebih nikmat" Ujarnya dengan senyuman menyebalkan, "Aku tidak menikah dengan siapa-siapa." Akunya lagi, seraya menggenggam tangan Mawar yang terasa dingin.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Udah segini aja... Aku nggak bisa bikin yang uwwu uwwu, mau berguru dulu sama ahlinya. ðŸ¤ðŸ˜‚😂