Mawar Tak Berduri

Mawar Tak Berduri
Chapter 26


__ADS_3

Didalam mobil, Mawar termenung, pandangannya kosong menghadap jalanan didepannya. Membayangkan sekarang Rasya sudah sah menjadi suami Putri, gadis yang diinginkannya. Semoga kalian bahagia. Dia Mawar dalam hati.


Mawar harus menguatkan hatinya, entah apa yang dirasakannya, begitu sesak, jika harus mengingat perlakuan Rasya selama ini. Mawar berharap keputusan yang diambilnya, adalah keputusan yang tepat.


Dia harus menenangkan diri, tak ingin berjumpa dengan papa Marcel untuk saat ini. Walau dalam benak ingin sekali dia bertanya, dimana ibunya, wanita yang telah melahirkannya.


Mawar ingin memberi ruang untuk kedua orang tuanya menyelesaikan permasalahan mereka.


"Yah.... macet lagi."


Suara Chio membuyarkan lamunannya, Mawar melihat jalanan didepan begitu padat.


"Kayaknya ada kecelakaan." Dilihatnya ada mobil polisi didepan.


"Kayaknya, biar aku lihat ya." Chio turun dari mobil. Mawar mengikuti arah jalan Chio, nampak orang-orang menyingkir, Chio yang punya rasa kekepoan tinggi, memaksa menerobos kerumunan.


Mawar terbelalak, dia seperti mengenali motor tersebut, "Marvin." seketika Mawar ikut turun, memastikan bahwa yang dilihatnya salah, dan berharap dia salah.


"Astaghfirullah, Marvin" Mawar langsung terduduk, melihat Marvin tergeletak tak sadarkan diri, bersimbah darah.


"Cepat Chio, bawa Marvin kemobil, akan lama jika menunggu ambulans." Teriak Mawar, dia begitu khawatir, takut terjadi apa-apa, pada adiknya.


Dengan dibantu para polisi, dan orang-orang yang ada disana, akhirnya Marvin dibawa kerumah sakit, menggunakan mobil Chio.


Mawar duduk disamping brankar, tempat Marvin dirawat, beruntung tidak terjadi luka parah. Kini tinggal menunggu Marvin sadar setelah mendapat perawatan.


Dilihatnya Marvin lamat-lamat, memang tak ada kemiripan sama sekali dengan papanya, Marvin, dia bukan adikku, kenapa nasib kita seperti ini Vin? semoga kamu tidak pernah mengetahui apa yang terjadi Marvin, kakak tidak ingin kamu kecewa. Mawar menatap sendu Marvin yang masih tertidur pulas.


Karena kelelahan, tak lama Mawar tertidur disamping Marvin, dengan berbantalkan tangannya.


Marvin yang terjaga, mengangkat tangannya, memegang kepalanya yang terasa pusing, Mawar yang menyadari itu seketika terbangun.


"Marvin kamu sudah sadar?." Dipencetnya tombol untuk memanggil dokter.


Tak lama, dokter datang bersama seorang perawat, memeriksa Marvin.


"Alhamdulillah, adik mba tidak apa-apa, hanya tinggal menunggu pemulihan." Ucap sang dokter ramah


"Alhamdulillah, terima kasih Dok"


"Sama-sama, semoga adik anda cepat sembuh, jika tidak ada halangan, mungkin besok bisa pulang, mengingat tidak ada luka yang cukup serius."


Mawar mengangguk, dan menerima resep dari dokter, obat yang harus ditebusnya.


"Kenapa kamu ada disini?." Uacap Marvin setelah dokter Pergi


"Marvin...." Mawar hendak memegang tangannya, langsung ditepis oleh Marvin.


"Nggak usah sok perhatian, kamu bukan kakakku." Mawar begitu terkejut, Marvin juga mengetahuinya, badannya bergetar.

__ADS_1


"Vin....." Ujar Mawar


"Kamu seharusnya menikah kan, kenapa kamu disini? Kenapa kamu menolongku?" Marvin berteriak begitu frustasinya. Dia hendak melepas selang infus yang tertancap ditangannya.


"Marvin hentikan, kamu harus tenang."


"Jangan pedulikan aku, kita bukan siapa-siapa?". Marvin menghempas-hempaskan tangannya. Dia begitu kacau, Mawar berhambur memeluk Marvin, menenangkannya.


"Tolong Marvin, jangan seperti ini, tolong_" Mawar terisak, ia begitu sedih melihat Marvin yang begitu hancur, walau mereka tak begitu dekat, bahkan tidak pernah bertegur sapa, namun melihat Marvin seperti ini, Mawar tak tega. Hatinya begitu sakit, mengetahui kenyataan, bahwa mereka bukan saudara sedarah daging.


Keduanya terisak, kesedihan tak dapat mereka sembunyikan, kenyataan ini begitu menyakitkan, didalam hati mereka sejujurnya saling menyayangi.


Lama mereka seperti ini, menenangkan hati masing-masing. Mawar melepaskan pelukannya, melihat Marvin yang masih menangis, dihapusnya air mata yang masih mengalir "Apapun yang terjadi, kamu tetap adik kakak Vin, jangan seperti ini, kakak tetap menjadi kakak untukmu."


Marvin tak menjawab, ia bingung harus seperti apa?, disaat dia begitu menyayangi Mawar, dan mencoba mencari tahu yang selama ini menjadi ganjalan dihatinya, mama Vivi yang begitu sulit dikorek untuk membuka semuanya, nyatanya semesta membongkar rahasia besar itu dengan sendirinya.


Dia yang curiga atas ketidak adilan atas sikap mamanya yang begitu kentara membedakan keduanya, Mawar yang dia sangka bukan anak mamanya, nyatanya dia juga bukan anak dari papa Marcel. Kenyataan apa ini?.


Sakit saat mengetahui bahwa papanya berselingkuh, namun kenyataan lain, mengungkapkan siapa dia yang sebenarnya.


Bak jatuh tertimpa tangga, Marvin begitu frustasinya mengetahui semuanya, hingga dia pergi ke klub malam, menginap dirumah temannya, nyatanya semua tak bisa menghilangkan beban dihatinya, pulang dalam keadaan mabuk, membutnya mengalami kecelakaan, beruntung tidak memakan korban.


"Jangan memberi tahu mama kak."


"Tidak, kakak tidak akan memberi tahu siapa-siapa" Mawar tersenyum, Marvin sudah sedikit tenang.


"Kakak tidak jadi menikah?."


"Kenapa kakak tidak marah kak?, selama ini kakak tidak mendapatkan perlakuan adil dari mama."


"Ibu tidak salah Vin, hanya keadaan yang memaksa ibu seperti itu"


"Didunia ini, tidak ada orang tua yang sempurna Vin, setiap yang mereka lakukan pasti ada sebab akibatnya, kakak cukup mengerti, mungkin ibu melakukan itu, karena rasa sakit hati ibu selama ini, kita tidak bisa menuntut apa-apa, kita cukup memahami keadaan mereka, tanpa menambah bebannya, kita beri waktu untuk mereka menjelaskan semuanya nanti." Lanjut Mawar, ia tidak mau memperkeruh keadaan, semua akan membuatnya semakin pusing.


"Kenapa kakak menolong Marvin?"


"Karena kakak tahu, kamu selama ini diam-diam perhatian kan?" Mawar tertawa, mengingat Marvin yang diam-diam suka memberinya kue ulang tahun, memberinya kado saat dia berulang tahun, dan mambawakan oleh-oleh setiap dari keluar kota atau negri.


"Maafkan Marvin kak."Keduanya kembali berpelukan, bertukar sedih, berharap mereka akan kuat menghadapi semua kedepannya.


...********...


Ditempat lain, Rasya berkali-kali mendapatkan tamparan dari papanya, papa Reyhan begitu kecewa atas tindakan kekanakan Rasya. Ia ingin anaknya dapat belajar banyak dari kesalahannya.


Rasya menerima itu, ia tidak melawan atau membantah, semua ini memang salahnya.


Mama Rika juga tak membelanya, berharap Rasya akan mengerti.


"Ma.... maafkan Rasya." Kini Rasya duduk ditepi ranjangnya, mengusak rambutnya, penuh penyesalan.

__ADS_1


"Iya, mama sudah memaafkanmu" Mama Rika ikut duduk disampingnya, mengusap punggung anaknya.


"Rasya berjanji akan menemukan Mawar"


"Iya, Mama percaya."


"Mama tahu semua tentang Mawar Ma?"


Mama menarik nafas, "Mama rasa Mawar anak yang selama ini Mama cari"


"Anak?"


"Kamu masih ingat Bi Nur, pengasuhmu dari kecil dulu?"


Rasya mengangguk, ia begitu ingat, wanita tua yang begitu sabar mengurusnya, Rasya yang dulu banyak maunya, semua yang diinginkanya harus dituruti.


"Dia punya adik seorang perempuan, bernama Warda, Warda sempat tinggal disini selama seminggu, setelah itu dia ikut kerja dirumah pak Marcel, papanya Mawar, entah apa yang terjadi, selama enam bulan Warda disana, tak terdengar lagi keberadaan Warda, bi Nur mencarinya, Mama merasa bertanggung jawab atas dia, pak Marcel dan Bu Vivi bilang, Warda pergi dari rumah mereka tanpa pamit, bahkan mereka menunjukkan CCTVnya, Warda keluar dari rumah mereka jam dua malam."


"Terus apa yang terjadi Ma?." Rasya penasaran, ingin tahu cerita selanjutnya.


"Kami terus mencarinya, sampai pak Marcel pun lapor polisi, namun nihil, kami tak dapat kabar apapun, polisi juga tidak bisa menemukan Warda." Mama Rika menarik nafas.


"Tak lama, terdengar kabar, bahwa keluarga mereka mendapatkan anak perempuan, Bu Vivi melahirkan Mawar diluar negeri, namun mereka tidak pernah menunjukkan dan mengumumkan kelahiran bayi mereka, padahal seharusnya itu menjadi kabar gembira, mengingat Mawar anak pertama, dan mereka lama menunggu untuk mendapat keturunan. Berbeda dengan kelahiran Marvin, mereka membuat syukuran secara besar-besaran." Mama Rika mengingat kejadian dimalam itu, dimana untuk pertama kalinya dia melihat Mawar, wajah Mawar begitu mirip dengan Warda, bukan Vivi, dan mama Rika seketika saja, menjodohkan Rasya dengan Mawar, karena ingin tahu yang sebenarnya.


"Ya.... Mawar bukan anak Bu Vivi Ma." Rasya menundukkan kepalanya, membayangkan nasib Mawar selama ini.


"Kamu sudah tahu?" Rasya mengangguk, namun dia terkesiap, mamanya juga tahu itu.


"Mama juga tahu Ma?" Mama Rika juga mengangguk.


"Apa yang Mama tidak tahu, Mama tahu semua tentang kamu dan Mawar, juga Putri."


Rasya semakin terperangah, "Mama tahu dari mana Ma?"


"Ini Mama sayang, kamu belum cukup ilmu untuk mengetahui semuanya, egomu masih terlalu tinggi." Mama Rika bangkit meninggalkan Rasya yang masih ingin tahu semuanya.


Rasya mengejar mamanya yang sudah menuruni tangga, "Ma.... siapa orang suruhan Mama?" Ia terus mengikuti langkah mamanya.


Namun mama Rika hanya tersenyum, melihat Rasya masih begitu ingin tahunya. Belum juga mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Rasya diberikan kejutan yang tak kalah mengejutkan untuknya, David, pengawal sekaligus supir Mawar kini berada dirumahnya, bercengkrama dengan sangat akrab dengan kedua orang tuanya.


Ada hubungan apa mereka?


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2