Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 19


__ADS_3

"Ada yang bisa saya bantu, Pak!"


Yudis menoleh ke belakang dan terkejut melihat sosok yang menyapanya.


"Sabrina!" gumamnya.


"Mas Yudis," ucap Sabrina gugup dan gemetar.


"Ka..kamu bekerja di sini?" tanya Yudis terbata.


"Iya, Mas. Hemm..aku minta karyawan ku membantumu untuk memilih," ucap Sabrina.


"Aku mau kamu yang pilihkan," ucap Yudis.


"Baiklah," Sabrina pun membantu mantan suaminya memilih pakaian.


Yudis memandangi mantan istrinya itu dari kepala hingga ujung kaki. "Dia sekarang berbeda," batinnya.


"Mas, kamu mau cari apa?" tanya Sabrina.


Yudis hanya diam dan bengong.


"Mas!" panggilnya lagi.


"Eh..iya, aku mau cari kaos untuk hari-hari." Ujar Yudis.


"Kamu sekarang tinggal di kota ini, Mas?"


"Iya."


"Menetap?"


"Paling cepat sebulan," jawab Yudis.


"Kamu tumben mau dipindahkan ke kota lain?" tanya Sabrina.


"Karena kamu tak ada," jawabnya.


Sabrina terdiam sejenak menatap mantan suaminya.


"Aku masih mencintaimu, Sabrina!" ucapnya.


"Mas, aku di sini kerja!" ucap Sabrina tak suka.


"Maaf!"


"Sekarang kamu mau pilih yang mana?" tanya Sabrina.


"Pak, saya pilih yang ini saja!" Mita tiba-tiba muncul dengan membawa rok pilihannya.


Kedua temannya pun menghampiri Yudis.


"Apa kau sudah memilih pakaiannya?" tanya Miko.


"Sabrina!" gumam Theo.


Wanita yang di sapa itu pun tersenyum.


"Hm..maaf di tinggal biar karyawan saya yang melayani kalian," ucap Sabrina undur diri.


"Dia itu mantan istrimu, kan?" ucap Theo pada Yudis setelah ditinggal Sabrina.


"Iya."


"Makin cantik aja dia," puji Theo.


Yudis menyipitkan matanya tanda tak suka.


"Maaf, dia sudah mantan. Jadi bisalah ku dekati," celetuk Theo.


"Kau harus bersaing denganku!" ucapnya cemburu.


Theo dan Miko tertawa melihat temannya itu cemburu.


"Wanita itu siapa, Pak?" tanya Mita pada Miko.


"Dia mantan istri Pak Yudis," jawabnya.


"Cantik!" puji Mita.


Sementara itu, Sabrina memegang dadanya. Degup jantungnya berdetak tak menentu. Ada rasa bahagia dan senang berjumpa dengan mantan suaminya itu. Tapi jika diingat ucapan mantan mertuanya membuat ia sakit hati.

__ADS_1


"Kenapa kamu muncul lagi, Mas? Aku berusaha pindah ke kota ini untuk melupakanmu," ucapnya lirih tak terasa air matanya menetes.


Ponsel Sabrina berdering, ia melihatnya. "Mas Arvan!" gumamnya.


Ia pun mengangkat panggilan telepon dari atasannya itu.


"Halo, Mas!" ucapnya.


"Sabrina suara kamu kenapa?" tanya Arvan curiga.


"Tidak apa-apa, Mas."


"Kamu sakit atau habis menangis?" cecar Arvan.


"Aku lagi flu saja, Mas!" ucap Sabrina berbohong.


"Kamu tidak berbohong?"


"Mas, kenapa tidak percaya dengan aku?" Sabrina mulai kesal.


"Mas, percaya kamu. Maaf, ya!" ucap Arvan melembut.


"Ada apa, Mas menelepon ku?"


"Bagaimana toko?"


"Lumayan ramai, Mas."


"Alhamdulillah."


"Kapan balik ke sini lagi, Mas?"


"Apa kamu sudah rindu denganku?"


"Ih, Mas. Percaya diri banget," celetuk Sabrina.


"Mana tahu kamu merindukan ku," ucap Arvan.


"Aku butuh kamu di sini, Mas."


"Kamu butuh aku?"


"Oh, begitu. Kemungkinan lima hari lagi aku ke sana," ujar Arvan.


"Ya sudah," ucap Sabrina.


"Jangan lupa makan malam dan jaga kesehatan kata ibu," ucap Arvan.


"Iya, Mas. Kamu juga!" ujar Sabrina menutup teleponnya.


*


Sedangkan Yudis senyum-senyum seorang diri di atas kasur.


"Kamu makin cantik saja Sabrina," gumamnya.


Dia membuka ponselnya, masih tersimpan di galeri foto pernikahannya. Ia mengusap wajah mantan istrinya yang tersenyum bahagia.


Pintu kamar terbuka dan kedua temannya masuk ke dalam kamar, Yudis segera meletakkan ponselnya di sampingnya.


"Kalian bisa tidak kalau masuk di ketuk atau manggil nama, ini main nyelonong aja!" keluh Yudis.


"Sorry," ucap Miko.


"Ada apa kalian ke kamarku?" tanya Yudis.


"Besok libur, bagaimana kalau kita olahraga ke taman kota?" usul Miko.


"Aku maunya ke toko pakaian saja," sahut Theo melirik temannya yang duda.


Yudis segera melemparkan temannya itu dengan bantal. "Mau ngapain kau ke sana?"


"Mau jumpai Sabrina," jawab Theo santai.


"Tidak boleh," ucap Yudis.


"Kenapa kau yang sewot? Dia itu sudah jadi mantan, jadi bebas dong aku dengan dia," ujar Theo.


"I..iya, tapi tetap tidak boleh." Ucap Yudis tegas.


"Jangan bilang kau mau rujuk dengannya," sindir Miko.

__ADS_1


"Iya, aku berencana ingin rujuk dengannya." Jawab Yudis.


"Kau yakin?" tanya Theo.


"Aku tidak tahu, apa Sabrina masih menginginkanku lagi atau tidak." Ucap Yudis lirih.


"Sudahlah, kalau masih jodoh pasti kembali lagi." Celetuk Miko.


"Benar tuh," sahut Theo.


"Bagaimana apa kau setuju, besok kita ke taman kota?" tanya Miko pada Yudis.


"Bolehlah," jawabnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini Sabrina bersiap akan pergi bekerja, seperti biasa mobil yang menjemputnya menunggu di pagar kos-kosan. Ia akan duduk dibelakang sopir.


"Pak, ayo jalan!" perintah Sabrina yang sedang sibuk bermain ponsel.


"Kita mau ke mana, Nona?" tanyanya menoleh ke arah Sabrina.


"Kita ke..." ucapannya terputus. "Mas Arvan!" teriaknya gemes.


Pria itu tersenyum lalu berkata,"Apa kau mau di situ saja dan menganggap aku sopir?"


"Oh,maaf." Sabrina segera turun dan pindah ke kursi samping sopir. "Kata Mas Arvan pulang beberapa hari lagi, sekarang sudah muncul aja!" ucapnya.


"Aku ingin beri kamu kejutan," jawab Arvan tersenyum.


"Kamu benar Mas, kedatangan tiba-tiba cukup mengejutkanku apalagi pakai menyamar sebagai sopir." Ungkap Sabrina.


"Aku sengaja melakukan itu," ucap Arvan.


"Ya sudah, Mas. Ayo,berangkat. Kita sudah terlambat," ucap Sabrina.


"Hari ini kamu libur saja," ujar Arvan.


"Loh, kok libur. Aku bekerja belum sampai sebulan, tidak enak dengan karyawan yang lain, Mas." Tolak Sabrina.


"Tidak apa-apa, kamu sudah bekerja keras beberapa hari ini dan harus lembur jadi butuh refreshing," tutur Arvan.


"Kalau begitu, ayo kita jalan!" titahnya.


"Siap, Nona!"


*


Arvan menggenggam jemari tangan Sabrina saat akan menyebrang, sepasang mata tampak cemburu. Ketika melihat dua anak manusia berbeda jenis saling tersenyum.


"Jadi selama ini bukan hanya Mama, alasan dia pisah denganku," batinnya.


"Woi, melamun aja!" panggilan Miko membuat Yudis tersadar.


"Aku seperti melihat seseorang yang ku kenal," ucap Yudis berkelit.


"Siapa?" tanya Miko.


"Mungkin Sabrina," sahut Theo asal.


"Kau ini mikirin itu saja, sudahlah lupakan sejenak. Nikmati liburan kerja kita hari ini," ucap Miko berlari kecil, Yudis dan Theo ikut menyusulnya.


*


"Kamu sering ke sini?" tanya Sabrina.


"Tidak juga," jawabnya.


"Lalu kenapa Mas Arvan mengajakku ke sini?"


"Di sini tempatnya para warga kota ini, semua berkumpul menghabiskan waktu liburannya, ada yang sekedar jalan-jalan saja serta ada yang berolahraga," jelas Arvan.


"Kapan-kapan ke sini lagi, kita lari pagi bersama." Ajak Sabrina.


"Boleh, kalau kamu mau!"


"Pasti mau, Mas!"


"Sebentar aku belikan minuman untukmu," ujar Arvan kemudian dibalas dengan anggukan Sabrina. Pria itu pun pergi membelikan minuman.


"Apa dia alasan kamu yang membuat kita berpisah?"

__ADS_1


__ADS_2