
"Tante, itu kan Sabrina!" tunjuk Stella ke arah wanita yang baru saja keluar dari apotik.
"Iya, kamu benar. Untuk apa lagi di kota ini?" tanya Linda.
"Sebaiknya kita hampiri saja," usul Stella.
"Ayo!" ajak Linda.
Mereka berdua pun mempercepat langkahnya, menghampiri Sabrina yang berjalan.
"Sabrina!" panggil Stella.
Wanita itu membalikkan tubuhnya dan menatap bosan pada kedua wanita yang ada dihadapannya.
"Kau di kota ini lagi?" tanya Linda.
"Kenapa Tante? Ini kota kelahiran dan keluarga besar saya juga di sini," jawab Sabrina.
"Tante harap kamu tidak menganggu Yudis lagi," ucap Linda.
Sabrina tersenyum tipis lalu berkata,"Harusnya Tante bilang pada Yudis untuk tidak mengejar saya lagi!"
"Tidak mungkin Mas Yudis mengejar kamu, kalau tidak digoda," sahut Stella.
"Apa saya tampak menjadi wanita penggoda? Bukankah itu cocok ditujukan kepada anda?" Sabrina balik menyindir.
"Kurang ajar ini dia," ucap Stella ingin menampar Sabrina.
"Cukup, Stella!" larang Linda.
"Begini kelakuan calon istri dari Mas Yudis, sangat memalukan." Ucap Sabrina dengan senyuman sinis.
"Sabrina, Tante tidak menginginkan kau kembali lagi dengan Yudis," ujarnya.
"Oh, ya. Saya pun tidak tertarik kembali lagi pada putra anda!" sahut Sabrina. "Saya sudah memiliki calon suami," ucapnya terpaksa berbohong.
"Sabrina, kamu di sini. Dari tadi aku menunggu di mobil," ucap Arvan yang tiba-tiba saja muncul.
"Jadi dia calon suami kamu?" tanya Linda pada Sabrina.
"Iya, Tante!" jawab Sabrina.
Arvan menoleh ke arah Sabrina dan terkejut mendengar ucapannya..
"Sebentar lagi kita akan menikah 'kan, Mas?" tanya Sabrina dengan lembut pada Arvan.
"Iya," jawab Arvan terbata.
"Bukankah kamu mantan bosnya dia?" tunjuk Linda pada Sabrina.
"Iya, Tante." Jawab Sabrina.
"Ternyata selama ini kau berselingkuh dengan dia," tuduh Linda.
Sabrina tertawa kecil lalu berkata,"Tuduhan anda cocoknya ditujukan kepada dia!" Jari telunjuknya ke arah Stella.
"Kenapa menunjuk aku?" tanya Stella.
"Karena kau yang membuat rumah tanggaku hancur, tapi terima kasih jika bukan dirimu yang memisahkan aku mungkin kami tidak akan bertemu lagi," ujar Sabrina tersenyum pada Arvan.
"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bahagia, Sabrina!" sumpah Linda.
Sabrina menarik sudut bibirnya. "Ayo, Mas. Kita pergi dari sini!" ajaknya.
Sabrina pun mengenggam tangan Arvan menuju mobilnya.
"Tante, kenapa mobil pria itu lebih mewah daripada punya Yudis?" tanya Stella.
"Kau mencintai anakku karena cinta atau hartanya?" selidik Linda.
"Karena cinta dong, Tante!" ucap Stella tersenyum.
"Aku pastikan kau tidak bahagia, Sabrina!" batin Linda.
*
__ADS_1
"Apa benar yang kau katakan tadi?" tanya Arvan.
"Yang mana, Mas?"
"Calon suami," jawab Arvan.
"Eh, itu. Maaf, aku benar-benar tidak tahu melawan mereka jadi 'ya gitu keceplosan," ujar Sabrina.
"Jika benar pun tidak masalah bagiku."
"Mas, maaf. Aku belum siap," ucapnya lirih.
"Sudah jangan dipikirkan," ujar Arvan.
"Mas, terima kasih selalu ada untukku." Ucap Sabrina.
"Iya, sama-sama. Kita mau pulang atau ke mana dulu, Nona?"
"Mas, kenapa panggil aku Nona?"
"Aku sekarang sopir kamu, jadi manggilnya Nona."
"Mas, panggil Sabrina saja."
Arvan menjawabnya dengan tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Suntuk kali, Pak!" ucap Nora, sekretaris kantor Yudis.
"Aku ingin balik ke kotaku lagi," ujarnya.
"Baru juga, beberapa minggu di sini. Sudah mau balik saja," ucap Nora. "Hem, aku buatkan teh atau kopi mau?" tawarnya.
"Teh saja," jawab Yudis.
Nora pergi ke pantry membuatkan teh untuk atasannya itu. Ia pun kembali ke ruangan kerja Yudis dan membawakan secangkir teh hangat dengan gula sedikit.
"Pak, ini tehnya!"
"Kalau begitu saya permisi, Pak!" pamit Nora.
"Apa kamu pernah balikan lagi dengan mantan?" tanya Yudis membuat langkah kaki Nora terhenti.
Nora pun membalikkan badannya. "Apa Bapak bertanya pada saya?"
"Di ruangan ini, memangnya ada orang lain?"
"Tidak ada, Pak."
"Tolong, jawab pertanyaan saya," pinta Yudis.
Nora pun duduk berhadapan dengan atasannya itu.
"Bapak mau balikan lagi dengan mantan pacar?" tanya Nora.
"Tidak."
"Jadi, mau balikan sama siapa?"
"Mantan istri."
"Bapak kalau masih cinta dengan istri. Kenapa bercerai?"
"Dia yang menggugat," jawab Yudis sedih.
"Apa dia punya pria idaman lain?"
"Tidak juga," jawabnya.
"Lalu masalah kalian bercerai apa?"
"Mama saya."
"Apa? Kenapa bisa?"
__ADS_1
"Mama tidak menyukainya karena dia tak sepadan dengan saya," tutur Yudis.
"Tapi Bapak cinta dengan mantan istri?"
"Saya sangat mencintainya," jawab Yudis.
"Kenapa Bapak tidak mempertahankannya?"
"Itu salahnya diriku, aku tak bisa menjaga dan membelanya."
"Jadi langkah Bapak maunya apa?"
"Saya ingin balikkan dengan dia."
"Apa mantan istri Bapak mau? Apa lagi punya ibu mertua yang membencinya," ucap Nora.
"Dia menolaknya."
"Apa lagi saya, jangan sampai deh punya mertua seperti Mama anda." Ucap Nora sinis yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Yudis. "Eh, maaf!" ucapnya lagi.
"Jadi saya harus bagaimana?"
"Bapak kalau menikah beberapa kali pun tapi Mama anda tidak menyukai menantunya sampai kapan pun kehidupan pernikahan kalian 'ya begitu. Berantakan!" tutur Nora.
"Kamu bicara begitu kayak sudah menikah saja!" celetuk Yudis.
"Pak, Bibi saya pernah menjadi korban dari ibu mertua yang zalim. Mantan suaminya sampai beberapa kali menikah," ungkap Nora.
"Jadi, sekarang mantan suami bibi kamu bagaimana?"
"Pernikahan yang ke lima baru awet sampai sekarang, itu karena ibunya meninggal. Bapak, bayangkan dalam dua tahun sudah tiga kali menikah," ucap Nora menjelaskan.
"Sudah, cukup. Tidak mungkin tunggu Mama saya meninggal baru bisa kembali dengan mantan istri saya," ucap Yudis.
"Pak, kalau masih jodoh dengan mantan istri. Mau badai atau apalah, pasti kalian bersatu lagi." Nora memberikan nasehat.
"Kamu benar!"
Nora tersenyum bangga.
"Usia kamu berapa?" tanya Yudis.
"Usia saya 24 tahun."
"Sudah pantas untuk menikah," ujar Yudis.
"Iya, Pak. Tapi calon saja belum ada," ucapnya tersenyum nyengir.
"Di cari dong?"
"Bapak pikir cari jodoh seperti cari barang di online shop," jawab Nora.
Yudis tertawa mendengar jawaban Nora.
"Begitu dong, Pak. Tersenyum tampak lebih ganteng," puji Nora.
"Kau bisa saja, saya memang ganteng dan tampan."
"Tapi sayang kisah cintanya tak setampan wajahnya," sindir Nora.
"Kau mau dipotong gajinya?" ancam Yudis
"Jangan, Pak. Cicilan motor masih beberapa bulan lagi," ucap Nora.
"Ya, sudah kembalilah bekerja. Terima kasih telah menghibur saya," ucap Yudis.
"Sama-sama, Pak. Jangan melamun lagi, nanti kesurupan." Ucap Nora tersenyum.
"Sudah sana, lanjutkan pekerjaanmu!"
"Baik, Pak!" Nora berjalan keluar dari ruangan atasannya itu.
Yudis memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh Nora.
"Apa benar Mama tidak menyukai Sabrina karena tak kaya? Atau Mama menyimpan sesuatu hingga ia sangat membencinya," batin Yudis.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus selidiki kenapa Mama begitu membenci Sabrina?" gumamnya.