
"Mas, kenapa motornya begini? Tangan kamu luka juga," ucap Yana saat melihat suaminya pulang.
"Tadi tidak sengaja menabrak mobil," jawabnya sambil memegang tangan yang nyeri.
"Kamu tidak minta ganti rugi?"
"Bagaimana mau minta ganti rugi, mobilnya juga tergores."
"Harusnya kamu minta ganti rugi, motor rusak begini."
"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Aku mau mandi," ucap Rudi.
"Memangnya menabrak kamu siapa? Apa dia bapak-bapak tua atau hanya sopir biasa yang tidak sanggup bayar ganti rugi?" cecar Yana mengikuti langkah suaminya masuk ke kamar.
"Dia orang kaya, pasti kau mengenalnya juga."
"Dia siapa?"
"Sabrina."
"Apa? Bagaimana bisa dia jadi orang kaya?" Yana penasaran.
"Ya, bisa sajalah. Dia bersama suaminya dan sopir," jawab Rudi.
"Harusnya kamu maksa dia untuk beri ganti rugi," ucap Yana.
"Aku tidak bisa, Sabrina itu orang baik. Kau tahu dia membelikan aku nasi bungkus dan Clara jajan selain itu dia juga menawarkan pekerjaan di toko bangunan, bahkan mainan Clara juga ia belikan. Kalian saja yang selalu benci padanya," ungkap Rudi.
"Kenapa Mas Rudi jadi membelanya?"
"Memang benar kenyataannya seperti itu," jawabnya ketus. "Asal kau tahu mobilnya yang ia tumpangi, sangat mahal. Bahkan rumah kita ini dijual pun belum tentu bisa membeli mobi seperti itu," Rudi sengaja mengatakan itu biar istrinya semakin cemburu.
"Apa mungkin suaminya, pria yang sama saat aku dan Mama bertemu di jalan?" batinnya bertanya.
*
Arvan dan istrinya baru saja sampai rumah setelah membeli beberapa pakaian yang akan digunakan saat menghadiri resepsi pernikahan Karin.
Mereka terpaksa membeli pakaian ke butik milik temannya Dewi karena toko pakaian miliknya tidak menjual pakaian pengantin atau gaun pesta. Hanya toko yang ada di kota M, menjual pakaian lengkap.
"Kamu sudah siap?" tanya Arvan menghampiri istrinya yang masih memasang anting di telinganya.
"Sebentar lagi, Mas."
"Aku tunggu kamu di bawah," ucap Arvan.
"Iya, Mas."
Tak lama menunggu, Sabrina pun turun.
"Kalian mau ke mana?" tanya Dewi menghentikan langkah sepasang suami istri.
"Mau ke tempat Karin, Bu." Jawab Arvan.
"Karin menikah?" tanya Dewi.
"Iya, Bu." Jawab Sabrina.
"Oh, ya sudah. Hati-hati," ucap Dewi.
*
Sesampainya di gedung acara, mereka saling menautkan jemarinya.
Rindu melihat mantan tunangan putrinya hanya tersenyum sinis. "Arvan, kamu diundang juga sama Karin?"
__ADS_1
Arvan mencoba tersenyum ramah.
"Oh, ini istrimu?" Rindu memandang sinis.
Sabrina pun tersenyum ramah.
"Nikmati makanan di sini, ingat jangan buat malu!" sindir Rindu.
"Sabar, Mas!" bisik Sabrina ditelinga suaminya.
Mereka pun bersalaman dengan kedua pengantin.
"Aku pikir kalian tidak datang," ucap Karin.
"Kami menepati janji," ujar Arvan.
Karin memandangi Sabrina dari ujung kepala hingga kaki, seluruhnya barang mewah termasuk tas yang ada digenggamnya serta anting dan kalung.
"Ternyata, bisa juga kau tampil anggun dan cantik. Itu barang asli atau tidak?" tanya Karin nyinyir.
"Sayang!" Michael berusaha mengingatkan istrinya itu tidak menghina atau menjelek-jelekkan tamunya.
Sabrina hanya tersenyum dan tidak membalasnya.
"Maafkan dia!" ucap Michael pada Arvan dan Sabrina.
"Ya." Arvan menunjukkan wajah dinginnya.
"Terima kasih sudah hadir," ucap Michael.
Arvan dan istrinya pun turun dari panggung pelaminan. Mereka menikmati hidangan sekedarnya.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian mewah menghampiri suami istri itu. "Kamu, Sabrina?" tanyanya.
"Kamu makin cantik saja, ini suamimu?" tanyanya lagi.
"Iya, Tante." Jawab Sabrina.
"Saya, mamanya Michael."
"Oh, Tante Tissa?"
"Ya, kamu masih ingat juga. Terima kasih 'ya sudah hadir, silahkan dinikmati hidangannya!" ucap Tissa ramah.
Arvan dan Sabrina menjawabnya dengan tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aldi, itu cewek yang nembak kau kemarin!" tunjuk Mario ke arah seorang gadis yang berjalan memasuki ruangan kelasnya.
"Sudah, biarin saja!" ucap Aldi.
"Biasanya dia akan menyapamu, kenapa hari ini tidak?" tanya Mario.
"Baguslah," jawab Aldi. "Ayo, masuk!" ajaknya.
Di kelas, Sheila tampak diam dan cuek. Tak seperti biasanya yang selalu ceria, berlari ke sana kemari. Berteriak-teriak memanggil nama Aldi ketika main basket tak peduli teman-temannya yang lain melihatnya tak suka.
Walau terhitung masih anak baru di sekolah ini tapi dia termasuk cepat akrab dengan lingkungan sekitarnya.
"Tumben, diam aja. Malu 'ya cintanya kemarin ditolak?" sindir Indah.
Sheila hanya diam dan membaca buku saja tampak mempedulikan omongan temannya.
Rachel yang menjadi teman sebangku Sheila menatap heran. "Apa kau sehat?"
__ADS_1
"Iya, aku sehat."
"Tapi, kenapa diam saja?"
"Lagi pengen saja," jawabnya.
"Oh," ucap Rachel. "Tugasmu sudah selesai?" tanyanya lagi.
"Sudah."
"Wah, kau hari ini berbeda teman. Tugasmu selesai dan tampak diam." Ujar Rachel.
"Aku jauh-jauh di kirim orang tuaku sekolah, jadi fokus ku sekarang belajar saja," ucap Sheila.
"Nah, itu baru temanku. Aku bangga padamu," puji Rachel menepuk pelan pundak temannya itu.
Bel sekolah berbunyi tanda dimulainya aktivitas belajar mengajar.
"Selamat pagi, anak-anak!" sapa Bu Guru.
"Selamat pagi, Bu!" jawab serempak para siswa.
"Silahkan kumpulkan tugas kalian!" perintah Bu Guru.
Salah satu siswa berdiri dan mengutip satu persatu tugas temannya. Lalu ia meletakkannya di meja sang guru.
"Tugas sudah dikerjakan, Ibu mau kalian menjelaskannya didepan!" ucap Bu Guru.
Semua siswa saling berbisik dan ketakutan.
"Ibu hanya ingin tahu, kalian mengerjakannya sendiri atau orang lain yang membuatnya." Ujar Bu Guru. "Ibu akan memilih salah satu dari kalian untuk menjelaskannya," lanjutnya lagi.
"Sheila!" panggil Bu Guru.
Gadis itu dengan percaya diri tampil didepan kelas.
"Silahkan!"
Sheila pun menjelaskan semua tugas yang dibuatnya walau kemarin ia kesulitan menjawabnya tapi ada Sabrina yang membantunya.
Bu Guru tersenyum melihat Sheilla. Ada perubahan pada sosok siswinya hari ini. "Bagus, Sheila. Kamu silahkan kembali duduk!"
"Siapa lagi akan menjelaskan?" tanya Bu Guru pada seluruh siswanya.
Semua tampak diam.
"Baiklah kalau begitu, tidak ada yang mau menjelaskan. Buka halaman selanjutnya," titah Bu Guru.
*
Di kantin, Sheila membeli makanan dan minuman. Dia hanya melihat dari kejauhan para siswa bermain basket.
Rachel menyenggol lengan Sheila. "Biasanya kau akan berteriak-teriak memanggil namanya," ucapnya.
Sheila membalas ucapan Rachel dengan tersenyum tipis.
Tanpa sengaja, saat ia berdiri tangannya tersenggol siswa yang berjalan terburu-buru. Minuman yang dipegangnya terjatuh, siswa itu sudah tampak ketakutan.
"Sudah, tak apa. Pergilah!" usir Sheila lembut.
Siswa tersebut menatap heran, biasanya gadis itu akan marah jika tanpa sengaja seseorang menjatuhkan makanan atau sesuatu dari genggamannya.
Aldi yang melihat Sheila tampak diam merasakan keanehan pada sosok gadis itu. Matanya terus tertuju padanya hingga ia menghilang memasuki kelasnya.
"Katanya tidak peduli? Tapi dilihatin saja," celetuk Mario.
__ADS_1