
"Nora, cepat!" teriak Nisa memanggil putrinya.
"Iya, Bu!" sahutnya. Tiga menit ia sudah berada didepan ibunya. "Ayo, Bu. Kita pergi sekarang!" Nora berjalan menuju teras rumah, ia menyalakan mesin motor. Ibunya kini duduk di kursi penumpang.
Perjalanan kali ini mereka ke sebuah perumahan yang cukup besar dan mewah. Nisa ingin mengunjungi sahabatnya, karena berkali-kali ia disuruh untuk datang.
"Bu, yakin ini rumahnya?" tanya Nora.
"Iya. Ayo, kita masuk!"
Mereka pun masuk, setelah penjaga keamanan memberikan izin.
"Apa kabar, Nisa?" Seorang wanita sebaya dengan dirinya memeluknya hangat.
"Baik. Kamu?" tanya Nisa balik.
"Aku baik. Ini putri kamu?" Tissa menatap Nora yang tersenyum ramah.
"Iya, dia Nora."
Tissa pun memeluk Nora begitu hangat.
"Mana cucumu?" tanya Nisa.
"Dia lagi main dengan pengasuhnya," jawab Tissa. "Ayo, aku ajak menemuinya!"
Nora dan ibunya di ajak untuk menemui balita yang bernama Kara.
"Itu dia!" tunjuknya pada balita yang ditaksir 7-8 bulan yang sedang asyik bermain dengan mainannya.
Tissa berjalan mendekatinya dan menggendongnya. Ia membawa balita itu menghampiri sahabatnya dan putrinya.
"Hei, cantik. Nama kamu siapa?" Nora menoel pipinya yang mungil.
"Namanya Kara, Tante!" ucap Tissa menirukan suara anak kecil.
"Hei, Kara. Ayo, main denganku. Kamu mau 'kan?" Nora mengambil alih gendongan. Tissa pun memberikannya.
Nora mengajak balita tersebut menjauh neneknya. Mereka berdua asyik bermain bersama.
"Ibunya Kara di mana?" tanya Nisa yang tidak tahu jika kedua orang tuanya telah berpisah.
"Mereka berpisah." Jawab Tissa.
"Jadi sekarang Michael masih di kota itu?" tanya Nisa lagi.
"Tidak. Rumahnya yang di sana dijual. Keseringan dia pulang pergi dari kota ini ke kota itu," jelas Tissa. "Kami masih memiliki apartemen di kota itu jadi selama di sana ia tinggal di situ," lanjutnya lagi.
"Oh, begitu. Kasihan Kara," ucap Nisa.
"Nisa, bagaimana kalau kita jodohkan saja Michael dengan Nora? Kemarin kita belum sempat menjodohkan mereka," usul Tissa.
"Aku terserah Nora saja, karena dia yang menjalankan rumah tangga."
"Tolonglah, kamu sampaikan padanya!" pinta Tissa.
"Michael mau tidak dijodohkan?" tanya Nisa.
"Pasti dia mau, kemarin pilihan dia sendiri gagal. Istrinya itu matre, baru saja di uji salah satu usaha Michael bangkrut sudah menyerah," jawab Tissa.
"Ya, ampun. Aku 'sih tergantung mereka berdua," ucap Nisa.
"Bagaimana jika mereka kita pertemukan dulu?" usul Tissa lagi.
"Aku ikut kamu saja," ujar Nisa.
__ADS_1
Kara tampak begitu tenang bersama dengan Nora. Walau awal dia memandang keheranan karena belum pernah bertemu.
Nora tertawa melihat tingkah lucu Kara yang tersenyum menunjukkan giginya yang belum lengkap.
"Hei, cantik. Kau lucu sekali!" geram Nora, berkali-kali mencium wajah Kara walau bayi itu meronta tak suka.
*
*
"Michael, hari Minggu kamu di kota ini 'kan?" tanya Tissa pada putranya saat makan malam.
"Iya, Ma. Karena baru Seninnya aku ke sana," jawab Michael. "Memangnya ada apa?"
"Tidak ada, tapi usahakan malamnya kamu makan bersama dengan kami 'ya?"
"Mama, mau mengenalkan seseorang pada Michael?" tebaknya.
"Kenapa kamu tahu 'sih?" protes Tissa.
"Michael hanya menebak saja," ucapnya.
"Tapi, kamu mau 'kan?" tanya Tissa.
"Jika itu membuat kalian senang, aku ikutin saja." Jawab Michael.
"Bagus, begitu dong." Ucap Tissa melirik suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pak, apa saya bisa bertemu dengan pemiliknya?" tanya Karin pada penjaga keamanan rumah.
"Maaf, Ibu cari siapa?" tanyanya.
"Pak Michael."
"Oh, jadi sekarang pemiliknya berbeda."
"Iya, Bu. Rumah ini sudah dijual dua bulan yang lalu," ucapnya lagi.
"Dua bulan yang lalu sidang keputusan perceraian kami," batin Karin.
"Kalau begitu, terima kasih!" ucap Karin berlalu memasuki mobilnya. "Di mana aku mencari kalian!" gumamnya.
Karin menyusuri apartemen yang pernah ditempati mantan suaminya, sesampainya di sana ia tak menemuinya.
"Apa sekarang Michael sudah pergi dari kota ini? Tapi dipersidangan dia menggunakan mobil keluaran terbaru atau jangan-jangan selama ini dia cuma mengetes aku? Tidak mungkin, dia begitu mencintaiku," berbagai pertanyaan keluar dari bibirnya.
Karin merasa bingung, ia ingin minta maaf pada mantan suaminya dan berharap mereka kembali lagi.
*
*
*
Makan malam di rumah keluarga Michael. Khusus untuk Nora dan ibunya, Tissa mengirimkan sopir menjemputnya.
"Ma, apa masih lama lagi mereka?"
"Sabar, Nak. Kau penasaran 'ya dengan putrinya," goda Tissa.
Nora dan ibunya tiba, disambut Tissa dengan wajah sumringah. "Ayo, masuk!" ajaknya.
Michael dan Arya telah lebih dahulu ada di meja makan.
__ADS_1
Pandangan mata Nora saling beradu dengan Michael. "Aku seperti mengenalnya," batin keduanya.
"Eheem..."
Suara Tissa membuat Nora dan Michael saling membuang wajahnya.
"Silahkan duduk," ucap Arya.
"Michael, ini namanya Nora!" Tissa memperkenalkan putri sahabatnya.
"Oh, ya." Sahut Michael ketus. Tak lupa ia menyalami ibunya Nora juga begitu juga dengan putrinya.
Mereka pun menikmati makan bersama, sesekali Michael mencuri pandang kepada Nora ia berusaha mengingat di mana mereka bertemu.
Mereka saling mengobrol, Michael dan Nora hanya menjawab ketika ditanya saja.
Tampak Kara juga hadir dipertengahan makan malam mereka, wajah balita tersenyum riang saat melihat Nora. Ia mengarahkan tangannya kepada wanita yang sebaya dengan ibu kandungnya.
Nora pun sigap menggendongnya, walau pengasuhnya melarang balita itu karena tamu majikannya lagi menikmati makan malam.
"Tidak apa, biar sama saya saja!" ucap Nora. Ia mendudukkan di pangkuannya. "Kamu mau makan juga?" tanyanya pada balita mungil itu.
Kara mengarahkan tangannya mengambil sesuatu di piring yang ada didepannya.
"Kamu belum bisa makan itu," ucap Nora lembut.
Michael sedari tadi melihat kedekatan keduanya.
"Ayo, kita keluar saja!" Nora mengajak Kara. "Semuanya, aku bawa Kara ke sana 'ya!" pamitnya.
Semuanya tersenyum kecuali Michael yang hanya bergeming.
"Kara dengan Nora cepat akrab 'ya," ucap Arya.
"Iya, padahal baru kemarin jumpa langsung lengket saja," puji Tissa.
"Nora memang suka anak kecil," ujar Nisa.
"Oh, pantes." Ucap Arya.
"Mungkin karena dia tidak memiliki adik," ucap Nisa.
Kara akhirnya tertidur di gendongan Nora. Wanita mencium dan mengelus balita itu penuh kasih sayang.
Ia pun menghampiri pengasuh Kara yang mengawasinya dari kejauhan.
"Dia tertidur," ucap Nora.
"Bawa ke kamar saja, Bu." Pengasuh menuntun Nora ke arah kamar.
Nora pun membawa balita itu ke kamarnya dan meletakkannya di keranjang bayi ukuran besar, ia juga menyelimutinya.
"Selamat tidur, cantik. Mimpi yang indah," Nora mengecup kening Kara.
Setelah menidurkan Kara, ia kembali ke meja makan.
"Mana Kara?" tanya Tissa.
"Dia sudah tidur," jawab Nora.
"Dia nyaman bersama kamu, makanya dia langsung tertidur di gendongan," ucap Tissa.
Nora tersenyum lalu ia melirik ayah dari balita tersebut yang tak menunjukkan respon apapun.
...----------------...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote...