
"Ngapain kamu ke sini lagi?" tanya Karin pelan.
"Aku ingin membeli perhiasan," jawab Putra tersenyum.
Karin menghela nafas, ia pun meninggalkan Putra. "Aku ingin kamu yang melayaniku," ucapan pria itu menghentikannya.
"Aku tidak punya waktu," ujar Karin.
"Kau mau aku beri tahu pada atasanmu!" ancamnya.
Karin pun kembali mendekatinya. "Baiklah!" ucapnya ketus.
Putra sesekali melirik sambil tersenyum. "Kalung ini jika kau yang memakainya terlihat lebih menarik."
Karin membuang wajahnya.
"Kau mau ini?" tawarnya.
"Terima kasih, beri saja pada kekasihmu!"
"Aku mau kamu yang menjadi kekasihku," ucapnya.
"Aku tidak banyak waktu untuk melayani kau!"
"Ya sudah, bungkus saja ini. Biar aku kirimkan ke rumahmu!"
"Cukup, Putra. Jangan mengirimkan apapun ke rumahku!" Karin memelankan suaranya
Putra kembali tersenyum.
*
"Apa kau butuh tumpangan?" Putra menawarkan diri saat melintas jalan yang dilalui Karin.
Wanita itu hanya diam, ia segera menyetop ojek dan menyuruh pengendara motor itu cepat berlalu.
Putra mengikuti Karin dari belakang, membuat dirinya semakin ketakutan.
"Mas, bisa lebih cepat!" pintanya pada pengemudi ojek.
"Iya, Mbak!" Motor pun melaju dengan cepat.
Sesampainya di rumah, Karin segera turun dan membayar ongkos. Ia berlari masuk ke rumahnya dan menutup pintunya.
"Ma, Pa!" panggilnya. "Ke mana mereka?" Karin mencari keberadaan kedua orang tuanya di kamar dan di dapur.
Took..
Took..
Karin terdiam, jantungnya seketika berhenti. Ia berjalan pelan membuka pintu. "Mama, Papa!" ucapnya lega.
"Kenapa wajahmu pucat begitu?" tanya Rindu.
"Tidak apa-apa, Ma!"
"Kamu baik-baik saja, kan?" Roy juga bertanya.
"Iya, Pa. Karin baik-baik saja," jawabnya.
Karin menatap jalanan depan rumahnya sambil melihat mobil Putra masih ada atau tidak. Ia mengelus dadanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Nak, sampai kapan kamu harus bolak balik ke luar kota?"
"Aku juga tidak tahu, Ma. Ini pekerjaan baru bagiku, jadi Mama harus maklum ku sering ke luar kota," jawab Yudis.
"Apa kau tidak ingin menikah lagi?"
"Jika sikap Mama masih sama, Yudis memilih sendiri," jawabnya.
"Nak, maafkan Mama!"
"Mama harus janji tidak akan mencampuri urusan pribadi Yudis termasuk mencari pasangan," ucapnya.
"Mama janji, Nak!"
"Ayah ternyata menjalin kerja sama dengan suaminya Sabrina, pria yang mengambil wanita yang Yudis sayangi itu begitu sangat menyayangi dan mencintainya. Tak ada harapan lagi bisa bersamanya," jelasnya. "Jadi, Mama harus tahu betapa sulitnya aku melupakannya. Jika suatu saat aku menemukan penggantinya, ku berharap jangan sakiti istri Yudis lagi," lanjutnya. Ia pun berlalu meninggalkan sang ibu.
Linda meneteskan air matanya mendengar ucapan putranya. Ia sangat menyesal melakukan itu semua, hanya pernah merasakan sakit hati ia melampiaskannya pada anak dan menantunya.
*
*
*
"Mama yakin ingin bertemu dengannya?" tanya Hendi.
"Iya, Pa."
"Jangan sampai kau pingsan karena kehabisan air mata," ceplos Hendi.
"Tidak akan, Pa." Linda memukul lengan tangan suaminya.
Mereka berjalan menuju restoran yang sengaja sudah dipesan khusus untuk mereka berempat. Linda memegang erat tangan suaminya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Lama sekali, mereka!"
"Sabar, Ma." Hendi menenangkan istrinya.
Lima menit yang di tunggu pun datang. Detak jantung Linda semakin berdebar.
"Kami tidak memiliki waktu lama," ucapnya mengenggam erat tangan istrinya.
"Istri saya ingin meminta maaf," ucap Hendi.
"Sebenarnya saya sudah melupakan kejadian itu, tapi karena permintaan Pak Arman jadi kami menyetujui bertemu dengan kalian!"
"Maafkan, Tante!" Linda menangis mengenggam tangan wanita yang pernah ia sakiti.
Ia hanya diam.
"Selama ini Tante sudah menyakiti dan menghinamu," ucapnya. "Sekarang, balasan itu sudah Tante terima putra kami menolak menikah lagi," lanjutnya lagi.
"Aku cuma ingin menyampaikan terima kasih pada Tante dan Mas Yudis karena kalianlah ku memiliki suami dan keluarga besar yang sangat mencintai dan menyayangiku," jelasnya tanpa menatap Linda.
"Kau sudah memaafkan Tante?" Linda memandangi mantan menantunya yang semakin cantik.
"Jauh sebelum aku menikah dengan Mas Arvan, pintu maaf sudah terbuka lebar," jawabnya.
"Terima kasih, Sabrina." Linda tersenyum, akhirnya ia lega sudah meminta maaf pada wanita itu.
"Sudah, kan? Apa kami boleh pergi?" tanya Arvan.
"Oh, ya. Silahkan," jawab Hendi.
__ADS_1
"Kalau begitu kami permisi, Om, Tante!" Sabrina berjalan mengenggam erat jemari suaminya.
*
*
*
"Karin, malam ini kamu sendirian tidak apa 'kan," ucap Rindu yang bersiap akan pergi.
"Mama, Papa mau ke mana?"
"Kami ingin ke rumah Paman Sam, ia ingin membicarakan persiapan pernikahan putrinya," jawab Roy.
"Besok pagi kalian pulang, kan?"
"Iya, besok pagi kami pulang." Jawab Rindu.
Karin menutup pintunya setelah kedua orang tuanya pergi, ia mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video dengan Michael dan putrinya.
Kara begitu senang menyapa Karin yang tersenyum padanya, kata mama terucap dari mulut mungilnya. Bukan hanya Kara yang bahagia, Michael juga.
Suara ketukan pintu terdengar, membuat Karin harus menghentikan panggilan teleponnya. "Nanti aku hubungi lagi, sampai jumpa!" ia menutup obrolannya.
"Mereka baru saja pergi, belum sampai sepuluh menit tidak mungkin kembali lagi," Karin mencoba menerka-nerka.
Ia pun membuka pintu dan terkejut melihat sosok yang berdiri di depannya dengan sigap Karin berusaha menutup pintunya. Tangan dan kaki pria itu mendorong pintu dengan kuat sehingga Karin melepaskan pegangannya dan terjatuh.
Pria itu masuk, menutup pintu dan menguncinya. Ia tersenyum jahat, perlahan mendekati Karin.
Karin berdiri dan memundurkan langkahnya. "Mau apa kau?"
"Kamu!"
"Jangan macam-macam!" Karin mengambil sapu dan mengarahkannya pada pria itu.
"Ayolah, jangan takut begitu!"
"Pergi dari sini!"
"Aku bisa memberikan yang kau mau," ucapnya.
"Aku tak butuh apa-apa darimu!"
"Ayolah, Karin. Kita nikmati malam ini berdua."
Karin melayangkan sapu itu di tubuh pria itu namun tangannya menepisnya hingga jatuh. Ia tampak kebingungan, ia mencoba mengambil pisau buah yang terletak di atas meja. Belum sempat menggapainya, rambutnya ditarik dengan kasar.
Kini tubuh Karin berada dalam dekapannya, pria itu menyusuri lekuk wajah Karin dengan bringas.
Karin mendorong kuat tubuh itu, ia menjerit meminta tolong. Lagi-lagi mulutnya dibekap pria itu, ia merobek pakaian Karin yang sudah menangis.
Pria itu menepuk pelan pipi Karin. "Jangan menangis!"
Wajahnya tampak memucat dan ketakutan. Namun, ia berusaha melawan dengan menendang alat vital pria itu dengan lututnya membuat pria itu menahan kesakitan. Karin berusaha memegang dinding dan berjalan menuju pintu, rambutnya kembali ditarik dengan kasar dan menampar pipinya hingga wajahnya memerah.
"Tolong, lepaskan aku!" ucap Karin lemah.
"Aku menginginkanmu sejak lama, Karin!" pria itu tersenyum jahat. Ia mencoba mencium bibir wanita itu.
Karin menutup mulutnya dan kembali mendorong tubuh itu. Karena tak cukup tenaga, malah tubuhnya dihempaskan secara kasar ke tembok hingga membuatnya lemas dan terjatuh. Cairan merah keluar dari mulut dan hidungnya. Akhirnya, ia memejamkan matanya.
Pria itu ketakutan, mencoba mengerakkan tubuh Karin yang pingsan. Karena panik, ia pun meninggalkan wanita itu dalam keadaan tak berdaya.
__ADS_1