Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 23


__ADS_3

"Sabrina!" teriaknya.


Arvan pun berlari mendekati Sabrina yang terlihat lemas tertutup selimut tebal dengan wajah pucat. "Badanmu panas sekali!" ia memegang dahi wanita itu.


"Bawa saja ke rumah sakit, Mas!" usul bapak tua penjaga keamanan.


"Tolong bantu saya, Pak!" ucap Arvan. Ia mengendong Sabrina dan membawanya ke mobil.


Bapak tua tersebut mengunci kamar dan membukakan pintu mobil.


Arvan pun melajukan mobilnya ke arah rumah sakit terdekat.


Sesampainya di sana, Dokter mulai memeriksa kondisi tubuh Sabrina.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Arvan.


"Dia hanya demam dan kelelahan saja. Cukup istirahat dan perbanyak minum air putih," jelas Dokter. "Ini resep obatnya," ia menyodorkan selembar kertas putih berisi tulisan.


Arvan menerima resep dokter tersebut lalu ia membawanya ke bagian penjualan obat yang ada di rumah sakit itu.


Selesai mengurus biaya pengobatan, ia menghampiri Sabrina yang mulai sedikit membaik dengan menenteng kantong plastik berisi obat-obatan.


"Mas, terima kasih sudah membawaku kemari," ucap Sabrina dengan suara lemas.


"Kenapa kamu tidak memberi tahu aku jika memang lagi sakit?" protes Arvan.


"Maaf, Mas. Aku tadi tidak kuat mengangkat ponsel untuk menghubungi siapapun," jelas Sabrina.


"Apa kamu kemarin pingsan?"


"Mas, tahu dari mana?"


"Karyawan toko yang memberitahunya," jawab Arvan.


"Mas, antar aku pulang. Biar di rumah saja istirahatnya," ucap Sabrina.


"Kamu yakin, jika terjadi sesuatu padamu. Bagaimana?"


Sabrina berusaha tersenyum,"Aku punya tetangga, mereka pasti menolongku."


"Ya, sudah. Aku antar pulang," ucap Arvan.


Sesampainya di kos-kosan, Sabrina berjalan sendiri ke kamarnya ia tak mau Arvan menuntunnya.


"Aku akan membelikan makanan," Arvan melangkah pergi mencari makanan yang ada di sekitaran kos-kosan.


Ia menenteng kantong plastik berisi makanan.


"Setelah makan, jangan lupa minum obatnya," Arvan mengingatkan kembali Sabrina.


"Iya, Mas. Terima kasih masih perhatian denganku," ucap Sabrina.


"Ini ku lakukan karena kamu masih karyawan aku," jelas Arvan.


Sabrina pun hanya tersenyum tipis .


"Jaga kesehatan dan jangan merepotkan orang lagi," ucap Arvan ketus tanpa melihat wajah Sabrina.


"Aku merepotkan, ya?"


"Ya."


Sabrina pun menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, ia tak mau banyak bertanya atau bicara pada pria yang telah menolongnya.


"Aku harus kembali ke toko, jangan lupa diminum obatnya," ucap Arvan.

__ADS_1


Sabrina hanya mengangguk.


Arvan pun meninggalkan kamar kos-kosan Sabrina dan kembali ke toko.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tepat dua bulan, Sabrina bekerja di toko milik Arvan. Ia berencana akan berhenti dari pekerjaannya ini. Namun, ia bingung mencari alasan untuk resign.


Sedangkan, Yudis sudah tidak berada di kota ini karena tugas dinas dari kantor sudah berakhir. Pria itu selalu menanyakan kabar Sabrina dari penjaga keamanan dan selalu melihatnya dari kejauhan.


Hari ini pula, Arvan membawa seorang wanita ke tokonya dan memperkenalkannya pada Sabrina.


"Sabrina, ini tunangan aku. Namanya Karin," ucap Arvan.


"Hai, Sabrina. Dia selalu menceritakan dirimu kepadaku. Terima kasih sudah membuat toko ini menjadi ramai," ujar Karin.


"Apa? Jadi selama ini dia sudah memiliki tunangan dan toko ini milik siapa sebenarnya?" batin Sabrina terus bertanya.


"Sabrina!" panggil Arvan.


"Eh..iya, Pak!" ucap Sabrina tersenyum. "Senang berjumpa dengan anda Bu Karin," ucapnya lagi.


"Sabrina, tolong kamu temani Karin memilih pakaian!" perintah Arvan.


"Baik, Pak. Mari Bu, saya temani." Ucap Sabrina.


Mereka pun berjalan keliling memilih pakaian yang ada di toko.


"Kamu sudah lama kerja di toko milik Arvan?" tanya Karin.


"Di toko yang ada di kota B. Saya sudah bekerja 7 tahun," jelas Sabrina.


"Tapi, kenapa saya tidak pernah bertemu kamu?" tanya Karin.


"Saya pun tidak tahu, Bu." Jawabnya.


"Kenapa malas pulang?"


"Saya sudah terlanjur enak di sana," jawabnya.


"Tapi kenapa sekarang mau pulang?"


"Karena Arvan sekarang sudah menunjukkan menjadi orang sukses," jawab Karin. "Arvan itu sangat mencintaiku, dia akan melakukan apapun untuk membahagiakan aku," lanjutnya lagi.


"Anda beruntung sekali," ucap Sabrina.


"Ya, saya sangat beruntung. Kalau kamu?"


"Saya?" tunjuk Sabrina pada dirinya.


"Iya, kamu. Apa sudah menikah?"


"Saya sudah bercerai 6 bulan yang lalu," jawab Sabrina.


"Apa? Bercerai? Saya harus berhati-hati padamu, takutnya Arvan naksir sama kamu," ucap Karin bercanda.


Sabrina tersenyum tipis mendengar tuduhan itu walau hanya candaan tapi menyakitkan.


Usai memilih pakaian, Karin menghampiri Arvan. "Sayang, aku sudah selesai memilih. Kita makan, yuk!" ajaknya pada pria itu.


Arvan pun menyetujui ucapan Karin.


"Sayang, bagaimana kalau kita ajak Sabrina juga?" usul Karin yang bergelayut manja di lengan Arvan.


"Emm... tidak usah Bu, saya masih kenyang!" tolak Sabrina halus.

__ADS_1


Arvan memandangi wajah Sabrina, ada rasa bersalah dihatinya.


"Kalau begitu nanti kami bawakan untuk kamu," ucap Karin.


"Tidak, Bu. Terima kasih," ujar Sabrina.


"Sayang, ayo pergi. Sabrina menolak ajakan kita!" ucap Arvan.


"Kalau begitu kami pergi dulu," ujar Karin.


Sabrina pun menjawabnya dengan senyuman.


"Kasihan Bu Suci ternyata Pak Arvan sudah punya tunangan."


"Jadi selama ini mereka dekat atau Pak Arvan selingkuh dari pacarnya."


Suara-suara nyinyir dan sumbang terdengar di telinganya.


Sabrina kembali ke ruangan kerjanya, ia menghela nafasnya.


"Jika dia sudah punya tunangan. Kenapa dia begitu perhatian padaku?" gumamnya.


"Oh, tidak. Aku tak boleh menganggap ini lebih. Dia tak mungkin memiliki rasa untukku," ucapnya lirih.


"Ayo, Sabrina! Jangan pakai hati. Kau berhak bahagia, kau berhak mendapatkan pria yang tulus dan cinta sejati!" ia tanamkan dalam dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sabrina memasuki ruangan kerja yang biasa ia gunakan. Tanpa mengetuk pintu ia masuk.


"Oh, maaf. Saya tidak tahu jika ada orang," ucapnya.


Karin yang duduk di atas meja dan berhadapan dengan Arvan menoleh ke arah Sabrina.


"Pak Arvan, saya ingin mengajukan cuti." Ujarnya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Arvan.


"Aku mau pulang, Pak. Ibu sakit," jawab Sabrina.


"Aku antar kamu ke terminal," tawar Arvan dan bersiap berdiri.


Tangan Karin menarik lengannya dan menahan langkahnya,"Biarkan saja dia diantar sopir, Arvan. Kamu tetap di sini saja."


"Biar saya naik ojek aja, Pak!" ucap Sabrina.


"Berapa hari kamu mau cuti?" tanya Arvan.


"Seminggu, Pak!" jawab Sabrina.


"Oh, ya sudah. Kalau sampai kabarin aku," ucap Arvan.


"Iya, Pak. Saya permisi, Bu." Ucapnya pada Karin dan Arvan.


Sabrina pun meninggalkan ruangan itu dan menaiki ojek online yang dipesan menuju terminal.


"Kamu perhatian sekali dengan wanita itu?" tanya Karin.


"Dia karyawan lama di toko pusat," jawab Arvan.


"Apa kau melakukan itu kepada semua karyawan?" tanya Karin lagi.


"Karin, kenapa pertanyaanmu seperti itu?"


"Arvan, kita melakukan hubungan jarak jauh bertahun-tahun. Tidak mungkin hatimu masih ada aku," ujar Karin menyindir.

__ADS_1


"Harusnya aku yang menanyakan itu!"


__ADS_2