
Michael berlari mencari kamar yang ditempati pasien bernama Karin Larasati, ia menatap lemas saat melihat mantan istrinya itu terbaring dan tak berdaya di atas ranjang dengan luka lebam di wajah dan tubuhnya.
Dua jam yang lalu, ia mendapatkan kabar dari pihak berwajib jika Karin merupakan korban perampokan dan diselamatkan warga saat ia berusaha menyelamatkan tas miliknya. Namun, saat aksi tarik menarik itu salah satu pelaku menusuk perutnya dan mendorong kuat tubuh Karin hingga ia terhempas ke jalanan yang penuh bebatuan. Hingga ia tak sadarkan diri.
Orang tua Karin masih dalam perjalanan menuju ke Kota E. Karena setelah mendapatkan kabar dari pihak berwajib, Michael segera menghubungi mantan mertuanya.
"Pak, ini tas milik Bu Karin!" Pihak berwajib memberikan tas berwarna ungu yang dibawa mantan istrinya itu saat mengantar Kara.
"Terima kasih, Pak!" Michael masih lemah menjawabnya.
"Kami hanya menemukan kartu nama Bapak di tas milik Bu Karin dan sejumlah uang sebesar lima juta," ucap pihak berwajib.
Michael ingat saat melihat Karin mengambil kartu nama yang ada di mobilnya dan memasukkan ke dalam tasnya. Ia juga bertanya untuk apa menyimpan kartu namanya, wanita itu menjawabnya buat kenang-kenangan saja.
"Uang sebanyak itu?"
"Iya, Pak. Tapi kami tidak menemukan dompet atau ponsel miliknya," jawabnya. "Kami belum bisa menggali informasi lebih lanjut karena korban belum sadarkan diri, dari pengakuan beberapa warga ia baru saja keluar dari toko emas dan diselidiki dia baru saja menjual antingnya," lanjutnya menjelaskan.
"Kenapa Karin bisa sampai di kota ini? Dan untuk apa dia menjual antingnya?" batin Michael bertanya.
*
"Semua ini gara-gara kamu!" Rindu menunjuk diri Michael dengan wajah marah dan mata sembab yang ditunjuk hanya diam.
"Sudahlah, Ma. Ini bukan salah Michael, anak kita yang bersalah," ucap Roy mendekap tubuh istrinya.
"Tante, Om, ini tas milik Karin. Di dalamnya ada uang lima juta tapi polisi bilang mereka tidak menemui dompet dan ponselnya," ujar Michael menyerahkan tas itu.
"Jadi dari mana polisi tahu nomor kamu?"
"Dari kartu nama milikku yang tidak ia letakkan di dalam dompet," jawab Michael.
"Keluarga pasien atas nama Karin Larasati," panggil perawat.
Roy dan Rindu menjawab panggilan tersebut dan masuk ke dalam ruang rawat inap. "Karin, kenapa bisa sampai seperti ini?" tangis Rindu meledak memeluk putrinya.
"Ma, Pa!" Suara berat dan lirih terdengar dari mulutnya.
"Jangan berbicara dulu, tenanglah!" ucap Roy mengelus lengan putrinya.
"Mama, sudah melarangmu ikut tapi tetap saja maksa," omel Rindu. Sebelum Karin dan Michael berangkat ke Kota M, ia sudah melarangnya untuk ikut.
"Ma!" mengulurkan tangannya.
"Jangan banyak bergerak, lukamu belum sepenuhnya kering," Roy menahan diri Karin untuk duduk.
Karin meringis kesakitan memegang lukanya.
"Jika kamu sudah pulih, jangan pernah naik bus seorang diri dan pergi ke kota itu lagi," Rindu mengingatkan.
"Ma," dengan suara parau. "Bagaimana kalian bisa tahu aku di sini?" tanyanya lirih masih menahan sakit.
"Michael yang memberi tahu kami," jawab Roy.
"Mana dia?"
"Dia..."
"Sudah pulang!" Rindu memotong ucapan Roy.
Tampak raut kecewa terpancar di wajah Karin.
"Mama, kenapa bicara begitu?" protes Roy.
__ADS_1
"Biarkan saja, Michael pun tak mau lagi kembali padanya tapi masih saja di kejar-kejar," Rindu terus menggerutu.
Michael dibalik pintu hanya mendengar percakapan kedua orang tua dan putrinya itu.
"Ma, aku tidak akan kembali lagi padanya. Ku janji!" ucap Karin pelan.
"Baguslah!" ucap Rindu sinis.
"Ma, biarkan Karin istirahat kita keluar saja!" Roy membawa istrinya itu keluar ruangan.
Michael sudah tidak tampak di area rumah sakit.
"Lihatkan, Pa! Dia sudah tidak di sini lagi, pria seperti itu juga masih diharap," lagi-lagi Rindu menggerutu.
"Ayo, kita bayar biaya perobatan Karin!" Roy mengajak istrinya itu ke bagian administrasi rumah sakit.
"Berapa biaya untuk pasien bernama Karin Larasati?" tanya Roy sesampainya di bagian pembayaran.
"Sebentar, Pak!" ucapnya mencari data pasien. "Pasien atas nama Karin Larasati yang masuk pukul 2 siang, hari ini sudah di bayar lunas," lanjutnya lagi.
"Siapa yang bayar?" tanya Roy.
"Michael Aryaja."
"Terima kasih," ucap Roy.
"Sama-sama, Pak."
Roy dan Rindu kembali lagi ke ruangan rawat inap.
"Kalian dari mana?"
"Kami dari bagian pembayaran," jawab Roy.
"Iya, cukup mahal. Tapi, mantan suamimu sudah membayarnya," ucap Rindu ketus.
Karin menarik sudut bibirnya. "Ternyata dia masih peduli," batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pagi, Bu Karin!" sapa perawat tersenyum
"Pagi juga, Sus!" balasnya.
"Bagaimana kondisinya?"
"Sedikit mulai membaik, Sus."
"Ini obatnya, jangan lupa sarapan. Jika butuh sesuatu panggil kami," ucapnya.
"Iya, Sus."
"Suster, kapan putri kami bisa pulang?"
"Tunggu Dokter, ya. Kalau tidak ada keluhan dengan lukanya kemungkinan besok juga sudah diperbolehkan pulang," jawabnya.
"Terima kasih, Sus." Ucap Roy.
"Sama-sama, permisi!" pamitnya keluar ruangan.
Rindu menyuapkan bubur ke mulut Karin.
Took..
__ADS_1
Took..
"Permisi, Pak, Bu!" sapa seorang perawat wanita.
"Iya, Sus!"
"Saya mau memberikan titipan ini untuk Bu Karin," Ia menyodorkan keranjang kecil buah-buahan dan satu buket bunga mawar.
"Dari siapa, Sus?" tanya Karin.
"Dari seorang pria tapi ia tak mau menyebutkan namanya."
"Ciri-cirinya?"
"Putih, tinggi. Sepertinya pria itu kemarin juga di sini," jelasnya.
"Terima kasih, Sus!" ucap Karin.
"Iya, sama-sama." Perawat pun keluar
"Dari Michael?" tebak Rindu.
"Sepertinya iya," jawab Karin tersenyum.
"Jangan terlalu banyak berharap, ntar hatimu sakit," Roy mengingatkannya.
"Iya, Pa." Ia mengendurkan senyumnya.
*
*
"Bagaimana kondisi Karin?" tanya Tissa.
"Dia mulai membaik," jawab Michael.
"Syukurlah. Bagaimana kejadiannya hingga ia mengalami begitu?"
"Karin salah jurusan, ia ketiduran dalam bus hingga terbangun dan mendapati tasnya kosong. Dompet dan ponselnya hilang, karena bingung ia akhirnya menjual antingnya saat perjalanan menuju terminal di tengah jalan ia di rampok," jelas Michael. "Ia berusaha mempertahankan tasnya agar bisa kembali ke Kota B, salah satu perampok menusuk perutnya dan mendorongnya hingga ia pingsan. Beruntung, pihak berwajib menemukan kartu nama milikku," lanjutnya menjelaskan lagi. Kemarin sore polisi sempat menanyakan kronologi kejadian pada Karin, lalu mereka menjelaskan hasil wawancara dengan korban padanya.
Tissa menutup mulutnya tak percaya, ada rasa kasihan dan iba dalam dirinya pada mantan menantunya.
"Jadi pelakunya sudah tertangkap?"
"Sudah, Bu."
"Pasti Karin trauma."
"Karin sepertinya tidak akan pernah ke kota ini lagi," ungkap Michael.
"Baguslah, dia tidak akan menganggu hidupmu dan Kara lagi," ucap Tissa. "Apa kau yakin dengan ucapannya?" tanyanya lagi.
"Tante Rindu dan Om Roy melarangnya, ia juga berjanji takkan mengusikku lagi," ia berkata sesuai apa yang di dengar.
"Itu kabar yang bagus, kau bisa menikahi Nora," Tissa tersenyum puas.
"Aku belum kepikiran menikah lagi, Bu."
"Apa kamu sekarang merasa iba dan kasihan pada Karin?"
"Bu, aku capek. Jangan bahas pernikahan lagi," jawab Michael.
"Karin lagi, dia lagi..!"
__ADS_1