
"Apa kau menyukai dia?" tanya Karin.
"Jika aku katakan 'ya. Kamu mau apa?" Arvan kembali bertanya.
"Arvan kita sudah lama bertunangan, kamu ingin memutuskan hubungan ini?"
"Aku tidak tahu, Karin. Sejak kau meninggalkanku tiga tahun lalu semua hilang," jawab Arvan.
Karin tersenyum sinis,"Ingat Arvan pertunangan kita ini untuk mempererat hubungan dua keluarga dan kau harus ingat dirimu bukan siapa-siapa tanpa aku!"
"Kau mengancamku!" ucap Arvan dingin.
Karina tertawa sinis,"Aku tidak mengancam kamu, hanya mengingatkan kembali."
"Aku dulu sempat jatuh hati padamu, tapi dengan mata kepalaku kamu bermesraan dengan pria lain. Jadi pertanyaan yang kau pertanyakan itu harusnya ditujukan kepada dirimu!" ucap Arvan tegas.
"Jangan macam-macam kepadaku, Arvano Mahesa!" ancam Karin lalu meninggalkan ruangan kekasihnya itu.
"Aarrghhhhh...!"
"Sial harusnya dulu aku tidak menerima pertunangan ini!" batinnya Arvan.
*
"Sabrina, kenapa tidak mengabarkan pada Ibu kalau kamu pulang?" tanya Mila sesampainya putrinya itu di rumah.
"Maafkan aku, Bu. Setelah mendapatkan kabar Ibu sakit langsung minta izin pada Mas Arvan," jawab Sabrina.
"Oh, begitu. Kamu di sana baik-baik saja, kan?"
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja."
" Kalau Arvan, bagaimana kabarnya?"
"Ibu kenapa nanyain Mas Arvan?"
"Arvan anak yang baik, sepertinya ia pria yang bertanggung jawab," ujar Mila.
"Bu, kenapa jadi bahas Mas Arvan?" tanya Sabrina curiga.
Mila tersenyum lalu berkata lembut sambil mengelus kepala putrinya yang tidur di pangkuannya. "Bukalah pintu hatimu untuk pria lain!"
Sabrina mengangkat kepalanya dan duduk tegak menghadap ibunya. "Mas Arvan cerita apa saja hingga Ibu begitu memujinya."
"Tidak ada, dia hanya ingin serius dengan kamu!"
"Bu, aku tak bisa. Mas Arvan sudah memiliki tunangan," jelas Sabrina.
"Mereka belum menikah jadi kamu masih punya kesempatan mendapatkannya," ucap Mila.
"Tidak, Bu, Aku tak mau menjadi perusak hubungan orang lain. Mereka sudah bertunangan empat tahun yang lalu," ungkap Sabrina.
"Ibu akan bicara pada Arvan untuk meninggalkan tunangannya itu!" ucap Mila santai.
"Bu, jangan aneh deh!" Sabrina tidak suka ibunya ikut campur urusan pribadinya.
"Ibu ingin mengendong cucu," ujar Mila.
Sabrina menghela nafasnya. "Bu, aku mau tidur!" Ia pergi meninggalkan kamar ibunya dan memilih beristirahat di kamarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arvan berkali-kali melihat ponselnya, ia berharap mendapatkan pesan atau telepon dari Sabrina.
"Kenapa dia tak menghubungiku?" gumamnya. "Apa sebaiknya aku menelepon saja?" ucapnya lagi.
Arvan memandangi pemandangan kota dari jendela ruangan kerja miliknya. "Ibu!"
Ia segera berlari menghampiri ibu dan ayahnya. "Kalian ke sini menyusul ku?"
"Kami ke sini di telepon Karin." Ucap Dewi, ibunya Arvan.
__ADS_1
"Karin?" Arvan mengernyitkan keningnya.
"Apa benar yang dikatakan Karin, kamu punya wanita lain?" tanya Dewi.
"Ibu, Ayah, kita bicara di ruangan Arvan saja," ucapnya.
Mereka bertiga ke ruangan kerja yang ada di toko milik Arvan. Pria itu pun menyediakan minuman kemasan botol untuk kedua orang tuanya.
"Arvan, kamu tahu Karin anak teman Ibu. Jadi, tolong jangan khianati dia!" ucap Dewi.
"Bu, dengarkan aku. Karin tak sebaik yang kalian pikirkan, dia yang pertama kali mengkhianati Arvan." Jelasnya.
"Kamu ada buktinya, Nak?" tanya Fandi, ayah Arvan.
"Arvan belum bisa memberikan bukti," jawabnya.
"Jika tidak memiliki bukti, kamu tak bisa memutuskan hubungan ini," ucap Fandi
"Arvan bingung Yah," ucapnya lirih.
"Ayah bisa bantu kamu," tawar Fandi.
"Ayah!" protes Dewi.
"Kenapa, Bu?" Fandi menoleh ke arah istrinya.
"Ayah ingin Arvan memutuskan pertunangan dengan Karin?" tanya Dewi.
"Bu, jika Arvan tak bahagia kenapa kita harus melanjutkan hubungan ini," ujar Fandi.
"Ini sama saja membuat malu keluarga kita," ucap Dewi tak senang
"Ibu, mau Arvan tidak bisa mencintai Karin sepenuhnya?" tanya Fandi.
"Cinta itu bisa muncul jika sering bersama," jawab Dewi.
"Bu, dia yang menjalani hubungan ini bukan kita." Tutur Fandi.
"Arvan mohon maaf kali ini tidak bisa menuruti maunya Ibu," ucapnya lirih mengenggam tangan Dewi.
"Aku mencintai wanita lain, Bu." Jawab Arvan.
"Apa? Jadi kau.."
"Bu, ku begini karena Karin yang pertama kali berulah. Tapi wanita itu hadir di saat aku benar-benar tidak percaya lagi dengan namanya cinta," ungkap Arvan.
"Siapa wanita itu?" tanya Dewi.
"Dia karyawan aku, Bu."
Fandi dan Dewi saling memandang.
"Sejak kapan kau menyukainya?" tanya Dewi.
"Dua tahun lalu," jawabnya.
"Apa dia tahu?" tanya Dewi.
"Tidak, Bu."
"Bagaimana kamu bisa menyukai seseorang tapi dia tidak tahu?" tanya Fandi.
"Karena dulu dia mencintai pria lain," jawab Arvan.
"Tunggu, kamu bilang dulu dia mencintai pria lain. Maksudnya bagaimana?" tanya Dewi lagi
"Dulu saat Arvan kenal, wanita itu memiliki calon suami tapi sekarang dia sudah berpisah," jelas Arvan.
"Jadi wanita itu janda?" tanya Dewi.
"Iya, Bu."
__ADS_1
"Astaga, apa tidak ada wanita lain?" protes Dewi.
"Bu, apa salahnya?" tanya Fandi pada istrinya.
"Nanti apa kata orang kalau anak kita hanya mendapatkan janda," ujar Dewi.
"Bu, tidak ada wanita yang ingin menjadi janda. Pasti dia punya alasan berpisah dengan suaminya," jelas Fandi.
"Kamu tahu alasan dia berpisah dengan suaminya?" tanya Dewi.
"Arvan belum tahu, Bu."
"Tapi dia berpisah bukan karena kamu, kan?" tanya Dewi.
"Bu, aku tidak mungkin menganggu istri orang lain." Jawab Arvan.
"Memang Ibu tak mau kamu begitu," ucap Dewi.
"Jadi kapan kamu mengenalkan dia kepada kami?" tanya Fandi.
"Arvan belum tahu, Yah." Jawabnya sambil tersenyum nyengir.
"Kenapa belum tahu?" tanya Fandi.
"Dia belum tahu kalau Arvan menyukainya," jawabnya.
"Bagaimana kalau diambil orang lagi?" tanya Dewi.
"Jangan begitu dong, Bu."
"Abisnya kamu kelamaan 'sih." Celetuk Dewi.
"Arvan tak bisa jika masih ada Karin. Jadi Ayah dan Ibu harus bantu, ya!" pintanya.
"Ibu akan bantu dan dukung kamu jika itu yang terbaik untukmu!" ucap Dewi.
"Terima kasih, Bu!"
"Apa dia juga bekerja di sini?" tanya Fandi.
"Iya, Yah. Tapi dia sedang libur," jawab Arvan.
"Ibu lapar, dari tadi kita ngobrol saja. Ayo, cari restoran!" ajak Dewi.
"Ayah juga," sahut Fandi.
"Ayo Yah, Bu. Di sini ada makanan enak," ungkap Arvan.
"Pasti kamu sering bawa wanita itu ke sana?" cecar Dewi.
"Ibu kenapa tahu?"
"Ibu hanya menebak saja," jawab Dewi tersenyum.
Arvan tersenyum senang, ibunya mau mendengarkan dan menerima ceritanya.
Baru melangkah turun, Karin sudah berada di bawah tangga.
"Tante!" sapa Karin. "Apa kabar?" tanyanya.
"Baik, kamu?"
"Baik juga, kalian mau ke mana?" tanya Karin.
"Kami mau makan siang," jawab Fandi.
"Aku boleh ikut," ucap Karin.
"Bolehlah, kamu 'kan calon menantu kami." Ujar Dewi.
"Terima kasih, Tante!" ucap Karin.
__ADS_1
"Ayah!" bisik Arvan di dekat Fandi.
"Ikutin saja permainan ibumu!" ucap Fandi pelan.