Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 22


__ADS_3

"Sabrina, kamu bekerja di sini?" tanya Hendi lembut.


"Iya, Pa."


"Berarti sama dong dengan Yudis, dia juga bekerja di kota ini," ujar Hendi.


"Papa, kenapa di kasih tahu kalau anak kita bekerja di sini," protes Linda.


"Nanti mereka bertemu lagi, Pa." Sahut Yana.


"Hmm..maaf mengganggu kamu yang sedang bekerja," ucap Papa Hendi.


Sabrina hanya menjawabnya dengan tersenyum tipis.


"Ayo, kita pulang. Maafkan Mama dan Yana yang membuat kerusuhan di sini," ucap Hendi.


"Pa, Mama tidak membuat kerusuhan," protes Linda.


"Sudah, Ma. Ayo, kita pulang!" Hendi menarik tangan istrinya.


"Kami pamit, kakak yang sabar." Ucap Rio pun ikut menyusul kedua orang tuanya.


Sabrina melihat ke kanan dan kiri, beberapa karyawan membubarkan diri saat wanita itu membalikkan tubuhnya.


Dia berjalan ke lantai atas dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang memang tersedia di ruangan itu.


Ia menghela nafasnya,"Kenapa sih harus bertemu dengan wanita itu lagi?" geramnya.


"Di mana-mana selalu bertemu dengan mereka, bagaimana bisa aku melupakan dia!" batinnya.


*


"Paman, tadi aku ketemu Tante Sabrina," ucap Clara saat bertemu dengan Yudis disebuah restoran yang tak jauh dari kantor cabang.


Yudis mengernyitkan dahinya.


"Sayang, sini!" panggil Yana.


"Kalian tadi ke AR Fashion?" tanya Yudis.


"Kamu kenapa tahu?" tanya Linda curiga.


"Aku sudah bertemu dengan dia," jawab Yudis.


"Jadi dia sengaja ke kota ini?" tuduh Linda.


"Tidak, Ma. Sabrina yang pernah pertama kali ke kota ini sebelum aku," jelas Yudis.


"Tapi sekarang Kak Sabrina makin cantik sepertinya jabatan dia di toko itu cukup bagus kemungkinan gajinya besar," ucap Rio dilebih-lebihkan.


"Sama saja, mungkin dia pakai pelet untuk menggaet pria kaya," tuduh Linda lagi.


"Sudahlah, Ma. Dia bukan menantu kita lagi masih saja kamu menjelekkannya," ucap Hendi.


"Papa terus saja membelanya," ujar Linda.

__ADS_1


"Jangan berdebat lagi, mari kita makan!" ucap Rio mengambil nasi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah dua jam Sabrina menunggu pesan balasan dari Arvan. Tadi pagi dia mengirimkan pesan untuk meminta izin tidak masuk kerja, dia juga mencoba menelepon tapi ponsel pria itu juga tidak aktif.


"Dia ke mana sih?" gumam.


Hari semakin siang, Sabrina pun berangkat ke toko menaiki taksi online. Karena selama Arvan di kota ini dia yang akan menjadi sopir pribadi wanita itu.


Sesampainya di toko, ia disambut oleh beberapa karyawannya.


"Selamat pagi, Bu!" sapa mereka.


"Pagi juga," ucap Sabrina tersenyum.


Ia berjalan menjinjing tas kecil ke lantai atas. Sesampainya di ruangan khusus manajer, ia merasa kepalanya pusing. Dia terus memijit bagian kepalanya berulang kali. Dia menelepon salah satu karyawannya untuk membeli obat sakit kepala.


Karyawan yang disuruh pun membelikannya obat. Setelah dari apotik, dia melangkah ke ruangan khusus atasan. Dia terus mengetuk dan memanggil nama Sabrina, namun tidak ada jawaban.


Penasaran ia membuka pintu yang tidak terkunci. Karyawan wanita tersebut menjerit.


"Bu Suci!" teriaknya panik, ia memanggil beberapa temannya untuk membantu membaringkan Sabrina di sofa.


Ia menemukan Sabrina dalam posisi duduk dengan kepala di meja sebelah tangan kanannya lurus berjajar di kepalanya sedangkan tangan sebelah kiri digunakan sebagai penopang wajahnya.


"Bu, bangun!" panggil salah satu karyawan wanitanya dengan lembut.


Sabrina tersadar ketika aroma minyak kayu putih menusuk hidungnya, ia mengerjapkan matanya dan memijit pelipisnya. Ia pun bangun dan terlihat bingung.


Dia berusaha mengingat sebelum pingsan. "Apa kamu sudah membelikan obat saya?"


"Sudah, Bu." Ia mengambil bungkusan plastik di atas meja dan memberikannya kepada Sabrina.


"Terima kasih," ucapnya.


"Sama-sama, Bu."


Sabrina pun meminum obatnya sesaat karyawannya itu pamit melanjutkan pekerjaannya.


Ia membuka kembali ponselnya, tak ada balasan pesan juga. Ia menghubungi nomor Arvan lagi, kali ini tersambung tapi tidak diangkat.


"Apa dia pergi?" tanyanya dalam hati.


*


"Pa, Mama kenapa takut jika Yudis dan Sabrina kembali lagi," ucapnya pada suaminya.


"Berarti mereka berjodoh," ujar Hendi asal.


"Papa ini, kenapa jawabnya seperti itu!" protesnya.


"Kalau takut Kak Yudis kembali lagi dengan mantan istrinya, Mama ikutin saja dia ke mana saja," sahut Rio yang lagi menyetir.


"Kamu ini, nyambung aja obrolan orang tua." Gerutu Linda.

__ADS_1


"Habisnya, Mama benci sekali dengan Sabrina." Ucap Hendi. "Kasihan itu anak, padahal sudah berusaha menjadi menantu yang baik tetap saja salah," lanjutnya lagi.


"Itulah, Pa. Aku takut Mama tidak menyukai calon istriku," sahut Rio.


"Makanya kalau cari calon istri harus jelas keturunannya, jabatannya dan kekayaannya," ungkap Linda melirik Yana sekalian menyindirnya.


"Mama nyindir aku?" tanya Yana.


"Tidak tuh, perasaan kamu saja!" jawab Linda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiba-tiba seluruh tubuh Sabrina menggigil, badannya terasa panas dan ia mulai terlihat lemas. Ia kembali berbaring di atas ranjangnya. Ia tak sanggup untuk sekedar mengangkat ponselnya untuk menghubungi seseorang. Ia akhirnya memilih tidur lagi.


Sementara itu, Arvan datang ke toko seorang diri. Ia berjanji tidak akan mencampuri urusan Sabrina dan mendekatinya. Hubungan mereka cukup antara atasan dan bawahan.


Pria itu melihat arlojinya menunjukkan pukul sebelas siang, namun tanda-tanda Sabrina masuk tidak ada. Ada rasa khawatir dalam dirinya. Ia pun menghubungi wanita itu, ponselnya aktif tapi tidak ada jawaban.


Ia pun bertanya pada salah satu karyawannya. "Apa kemarin Bu Suci masuk kerja?"


"Masuk, Pak. Tapi dia sempat pingsan di ruangannya."


"Pingsan?"


"Iya, Pak. Dia mengeluh sakit kepala dan meminta saya untuk membeli obat."


"Begitu, ya. Terima kasih, kamu silahkan kembali kerja!" ucap Arvan.


Karyawan tersebut kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Apa jangan-jangan?" batin Arvan bertanya.


Ia mengambil kunci mobil dan mengendarai mobilnya ke arah kos-kosan Sabrina. Sesampainya di sana, ia mempercepat langkahnya. Berkali-kali ia memanggil nama wanita itu. Ia juga menghubunginya namun tidak diangkat. Arvan mendengar suara ponsel dari dalam kamar.


"Maaf, apa wanita yang berada di kamar ini tadi pagi sudah keluar?" tanya Arvan pada tetangga kamar Sabrina.


"Sepertinya belum, biasanya dia akan keluar kamar sekitar jam 7 pagi. Tapi ini belum ada jumpa dengan dia," jelasnya.


"Saya mencoba menghubunginya tapi tidak ada jawaban dan suara ponselnya terdengar dari dalam kamar," ucap Arvan.


"Lebih baik, Mas. Minta kunci cadangan pada penjaga kos ini," usul wanita yang menjadi tetangga kamar Sabrina.


Arvan pun berlari menemui penjaga keamanan kos-kosan Sabrina.


"Pak, apa saya bisa minta tolong bukakan pintu kamar nomor lima? Saya khawatir terjadi sesuatu dengannya," ucap Arvan.


"Sebentar, Mas." Pria berusia 50 tahun itu pun berjalan menuju kamar Sabrina dan membuka pintunya.


Arvan terlihat gelisah, cukup lama pria paruh baya itu membuka pintunya


"Bagaimana, Pak?"


"Silahkan di buka, Mas." Pria itu mempersilakan Arvan membuka pintu.


"Sabrina!" teriaknya.

__ADS_1


__ADS_2