
"Ada perlu apa Bapak harus jauh-jauh menemui saya?" Nora membuka percakapan.
"Aku ingin melupakan Sabrina," jawabnya.
"Bapak datang ke kota M hanya untuk mengatakan ingin melupakan mantan istri?" Nora tertawa mengejek. Ia pun geleng-geleng kepala melihat mantan bosnya itu. "Pak, solusinya cuma satu," ucapnya.
"Apa?"
"Cintai istri Bapak!"
"Aku tidak bisa," Yudis menyeruput kopinya.
"Dicoba, Pak. Belajarlah menerima dia," ujar Nora.
"Aku akan mencobanya," ucap Yudis. "Kau sendiri, kenapa belum menikah?"
"Aku mau cari suami yang selalu sayang dan membelaku serta mertua yang baik hati," jawabnya.
"Kau menyindirku," ucap Yudis tersenyum tipis.
"Tidak, Pak."
"Kau bilang mau dijodohkan," ujarnya.
"Dia sudah menikah dengan kekasihnya," jawab Nora.
"Kasihan," Yudis menyebikkan bibirnya.
"Lebih kasihan, Bapak. Masih dibayangi rasa bersalah pada mantan," sindir Nora.
Yudis tersenyum kecut. "Ngomong-ngomong soal perjodohan, apa kau mengenal pria yang kemarin akan dijodohkan untukmu?"
"Kami belum bertemu, dia sudah memutuskan untuk menikahi kekasihnya," jawab Nora.
"Berarti kau sudah ditolak di awal sebelum bertemu?"
"Bisa dikatakan begitu," jawabnya.
Yudis tertawa mendengarnya.
"Pak, tidak ada yang lucu dari cerita saya," protesnya.
Yudis menghela nafas. "Entah, kenapa semesta tidak berpihak pada kita?" tanyanya.
"Sepertinya Bapak aja deh," jawab wanita itu.
"Iya, aku ralat padaku."
"Ya, mana saya tahu," jawab Nora.
"Dari dulu Mama suka sekali memaksa, di sekolah aku dipaksa juara, disuruh mengikuti lomba sampai pekerjaan juga harus maunya dia. Kami berhutang kebaikan pada keluarga istriku karena mereka, jabatanku seperti ini," ungkapnya.
Nora mendengarkannya dengan saksama.
"Tapi Mama selalu saja tidak suka dengan wanita yang dekat denganku, sedangkan kedua saudaraku yang lain. Mereka bebas berteman dan menikah dengan seseorang yang mereka cintai," lanjutnya lagi.
Nora memberikan tisu. "Hapus, Pak. Air matanya!"
Yudis segera menghapus genangan air di pelupuk matanya. "Maaf, saya jadi curhat begini!"
"Tidak apa. Mana tahu bisa mengurangi beban masalah dalam hidup, Pak!"
"Saya jadi malu, nangis begini." Yudis menyesap kembali kopinya untuk menghilangkan rasa grogi.
__ADS_1
"Dari cerita, jangan-jangan Bapak bukan anak kandung," ceplos Nora.
Yudis tersenyum tipis. "Di KK tertera nama kedua orang tuaku," ucapnya.
"Tapi, kenapa perlakuannya berbeda?"
"Aku pun juga tidak tahu, Mama selalu menomorsatukan Kak Yana. Apa yang diminta kakakku itu selalu dituruti, adikku Rio saja kadang dicuekin apalagi diriku," jawab Yudis.
"Apa pekerjaan kedua saudara kandung Bapak dan pasangannya?" cecar Nora, entah kenapa ia begitu ingin tahu dengan kehidupan keluarga mantan atasannya.
"Kak Yana hanya ibu rumah tangga, suaminya kerja di toko bangunan sebelumnya dia pernah buka usaha showroom mobil bekas kecil-kecilan tapi tutup," jawabnya.
"Kalau Rio?"
"Rio bekerja sebagai fotografer, istrinya kasir minimarket," jawabnya lagi. "Hmmm.. tolong jangan panggil 'Bapak' berasa tua saya, panggil nama saja," pintanya.
"Baiklah," ucap Nora. "Kedua saudara anda, pekerjaannya tidak ada yang sehebat dirimu. Pasangan mereka juga sama dari kalangan bawah," lanjut Nora berucap.
"Pekerjaan Papa anda apa?"
"Dulunya bekerja di kantor pemerintahan, sekarang usahanya rumah kontrakan," jawab Yudis.
Nora mengangguk. "Sekarang, bagaimana perasaan anda? Apa sudah lega?" tanyanya.
"Sedikit," jawabnya.
"Sebaiknya anda cari tahu, kenapa perlakuan ibumu berbeda dengan anak-anaknya yang lain," usul Nora.
Aku pernah bertanya, tapi dia selalu menjawab. "Kau anak laki-laki harapan Mama, cuma kamu bisa diandalkan, hanya kamu yang selalu ku banggakan, begitulah pujian yang selalu ia ucapkan."
"Saya, cuma bisa bilang sabar." Ucap Nora.
Yudis tersenyum. "Terima kasih."
Setelah mengobrol hampir sejam, pria itu mengantar Nora ke rumah. Walau ia mengantarnya hanya depan gang rumah.
Yudis menggedor kaca mobil milik pengendara yang menyenggol kendaraannya.
Pengemudi mobil pun turun. "Maaf, Mas!" ucap wanita muda yang duduk di sebelah sopir.
"Bagaimana ini?" Yudis menunjuk bagian belakang mobil yang tergores parah.
"Maaf, Nak!" ucap pengemudi yang sudah paruh baya.
"Bapak kalau tidak sanggup berkendara, jangan mengemudi," protesnya.
"Iya, Mas. Sekali lagi kami minta maaf," ucap wanita muda itu lagi. "Kami akan mengganti kerusakan mobil anda, saya mau menelepon suami dulu," lanjutnya lagi.
Mereka menunggu suami wanita muda itu di sebuah tempat makan yang tidak jauh dari lokasi kejadian.
Sebuah panggilan masuk, ke nomor ponsel milik Yudis. Ia segera menjawabnya.
"Iya, Ma. Besok pagi aku pulang," ia menutup panggilan teleponnya dan meletakkannya di atas meja.
Pria tua melihat foto layar ponsel Yudis. "Mereka orang tua kamu?"
"Iya, Pak."
"Aku seperti mengenalnya," ucapnya lirih.
"Pa," panggil wanita muda yang diketahui adalah putrinya. "Mungkin hanya mirip saja," ucapnya.
Yudis hanya bergeming.
__ADS_1
"Siapa nama Ibumu, Nak?" tanya pria itu lagi.
"Untuk apa anda menanyakan nama ibu saya?" tanyanya ketus.
"Maaf, Mas. Dia mengira ibu anda itu istrinya yang pertama," jawab wanita muda itu.
"Oh, begitu. Mungkin anda salah orang, mama hanya menikah cuma sekali itupun dengan papa saya," tutur Yudis.
"Kalau boleh tahu, siapa namanya?"
Yudis menghembuskan nafasnya. "Linda!"
Pria tua itu memegang dadanya.
"Papa tidak apa-apa?" tanya putrinya khawatir.
Pria tua itu hanya mengangkat telapak tangan kanannya.
"Kenapa Papa kamu begitu syok mendengar nama mama saya?" tanya Yudis pada wanita yang bernama Saskia.
"Mantan istrinya dulu, bernama Linda." Jawabnya.
"Mungkin hanya kebetulan saja," ucapnya.
"Mungkin, Mas."
"Masih lama suamimu?"
"Sebentar lagi sampai," jawabnya.
Yudis pun memilih memainkan ponselnya, ia melihat aktivitas mantan istrinya itu dari dunia sosial media.
Tak ada kegiatan yang diposting Sabrina maupun suaminya, hanya foto pernikahan mereka itupun hanya satu saja.
"Itu dia, Mas." Saskia menunjuk seorang pria yang baru turun dari ojek.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan napas tersengal-sengal.
"Papa menabrak mobil orang, kamu bawa uang untuk mengganti kerusakannya?" tanya Saskia pada suaminya.
"Bawa," jawabnya.
"Kamu minum dulu," Saskia memberikan sebotol air mineral pada suaminya.
Pria itu pun minum lalu dia kembali bicara. "Berapa kerugian yang kami harus bayar?"
"Lima juta," jawab Yudis.
Pria itu pun menyerahkan uang sesuai yang di minta Yudis. "Sepertinya anda bukan warga kota ini?" tanyanya.
"Saya ke sini hanya mengunjungi teman," jawab Yudis sambil menghitung jumlah lembaran uang.
"Anda dari mana?" tanya pria itu lagi.
"Kota B, uangnya sudah cukup saya harus ke bengkel," ucap Yudis pamit.
"Apa saya bisa minta nomor telepon anda?"
"Untuk apa?" Yudis menautkan alisnya.
"Mana tahu kami sekeluarga liburan ke kota B, jadi bisa menghubungi anda. Anggap saja sekarang kita teman," ucap pria itu.
"Baiklah," Yudis memberikan kartu namanya.
__ADS_1
"Oke, terima kasih. Nama saya Radit," ucap suami Saskia.
Yudis tersenyum tipis. "Saya permisi," ucapnya berlalu meninggalkan suami istri dan seorang pria paruh baya.