Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 28


__ADS_3

"Meli!" panggil Sabrina.


"Sabrina, kau di sini? Katanya di kota M?" tanya Meli.


"Aku di pindahkan oleh Bu Wita, pemilik toko di kota M." Jawab Sabrina. "Eh, apa benar kalau pemilik toko ini bukan Mas Arvan?" tanyanya kembali.


"Benar, pemiliknya sudah ganti," jawab Meli.


"Aku ingin bertemu dengan Pak Andi, pemilik toko ini." Ujar Sabrina.


"Ya sudah, sana. Kebetulan juga ada Pak Arvan," ucap Meli.


"Mas Arvan? Mau apa di sini?" tanya Sabrina.


"Aku tidak tahu," jawab Meli.


Sabrina menaiki tangga menuju ruangan di mana pemilik baru toko AR Fashion.


"Selamat pagi, Pak!"


"Pagi juga, Sabrina. Silahkan duduk!"


"Saya kemari karena ditugaskan oleh Bu Wita," ucap Sabrina.


"Saya sudah tahu, tugas kamu tetap sama. Pihak toko akan memberikan kamu mobil sebagai sarana transportasi kerja," ujar Pak Andi.


"Mobil? Apa ini tidak berlebihan, Pak?" tanyanya sesekali melirik Arvan yang duduk di sofa sudut ruangan.


"Tidak, fasilitas yang kami berikan untuk manajer di toko ini," jawab Pak Andi.


"Tapi, Pak. Saya tidak bisa menyetir, bagaimana mengendarainya?" tanya Sabrina lagi.


"Pilihannya cuma dua, kamu bisa belajar menyetir atau memakai sopir pribadi." Jawabnya.


"Tapi siapa yang akan menjadi sopir atau mengajari saya?" tanya Sabrina.


"Itu bukan urusan saya. Bagaimana kalau kamu minta Arvan yang mengajarimu atau menjadi sopir?" usul Pak Andi.


"Pak Arvan? Kenapa harus dia?" tanya Sabrina.


Arvan melihat ke arah Sabrina lalu membuang wajahnya saat kedua mata mereka saling bertatapan.


"Karena dia butuh pekerjaan," ucap Pak Andi.


"Tapi, Pak. Apa tidak ada orang lain?"


"Saya kasihan dengan Arvan, dia belum mendapatkan pekerjaan. Apa salahnya saya memberikan ia kerja?"


"Ya juga 'sih, Pak."


"Kapan saya mulai bekerja?" tanya Sabrina.


"Besok saja, hari kamu belajar menyetir dengan Arvan."


"Baik, Pak!" ucap Sabrina malas.


"Ya sudah, mobilnya ada di parkiran dan ini kuncinya kamu bisa melihatnya dulu," ujar Pak Andi. "Silahkan keluar, saya ingin bicara dengan Arvan." Ucapnya lagi.


Sabrina mengambil kunci mobil dengan ragu. Lalu ia keluar ruangan dengan hati yang masih bimbang.


"Apa harus menggunakan mobil? Padahal naik motor atau taksi sama saja," batin Sabrina.


Melihat Sabrina keluar, Arvan lantas mendekati Pak Andi. "Bagus sekali aktingmu!"


"Bagaimana, Pak? Bu Sabrina percayakan?"


"Sekali lagi terima kasih, untuk sementara kau begini saja."


"Baik, Pak. Saya hanya akan mengikuti perintah selanjutnya dari Bapak!"


"Kalau begitu, saya harus menyusul dia di parkiran!"


Arvan menyusul Sabrina di parkiran.

__ADS_1


"Ribet banget jadi Pak Arvan. Apa salahnya jujur Bu Sabrina? Bukankah semua wanita menyukai pria kaya," gumam Andi.


*


"Mas, aku takut untuk menyetir." Ujar Sabrina.


"Kenapa?"


"Kakekku pernah kecelakaan saat menyetir saat itu aku berusia 10 tahun," jawab Sabrina.


"Lalu, kamu mau aku menjadi sopir?"


"Tidak, Mas."


"Apa salahnya?"


"Apa kata karyawan sini kalau mantan bos mereka jadi sopir pribadi aku?"


"Kamu tak perlu mendengarkan omongan mereka."


"Aku bisa naik ojek atau mengendarai motor sendiri." Ucap Sabrina.


"Jangan! Kalau kamu naik motor atau ojek. Aku bakalan tidak ada pekerjaan," jelas Arvan dengan mimik wajah sedih.


"Aku akan bicara pada Pak Andi, agar kamu bekerja di toko saja menjadi manajer menggantikan ku," ujar Sabrina.


"Eh, jangan! Kalau aku jadi manajer, kamu?"


"Aku akan membantu Ibu jualan kue dan roti secara online lagi," jawab Sabrina.


"Tidak Sabrina, kamu tak boleh berhenti. Harus tetap di sini," ujar Arvan. "Ayo, masuk!" Arvan membukakan pintu penumpang. Lalu ia membuka pintu pengemudi untuk dirinya.


Sabrina tampak diam dan berpikir.


"Hei, Sabrina!" panggil Arvan.


Sabrina pun menoleh ke arah Arvan.


"Kamu melamun?"


"Loh, kenapa tiba-tiba minta resign?"


"Agar kamu bisa menjadi manajer," jawab Sabrina.


"Tidak, kamu tak boleh resign. Apa karena kamu tidak ingin dekat denganku?"


Deg ...


Sabrina menelan saliva dengan kasar. "Kenapa dia tahu?" batinnya bertanya.


"Apa benar yang aku katakan?"


"Mas, aku tidak mau Karin salah paham melihat kita begitu juga dengan Mas Yudis," jawab Sabrina.


"Aku dan Karin tidak memiliki hubungan apa-apa begitu juga dengan kamu dan Yudis," tutur Arvan.


"Tapi, Mas. Bagaimana dengan orang tua kamu?"


"Orang tuaku setuju saja aku mau dekat dengan siapapun," jawab Arvan.


"Itu menurut kamu," sahut Sabrina.


"Apa kamu punya masalah dengan mantan mertua?" tanya Arvan.


"Tidak ada, Mas."


"Bicara jujur padaku, Sabrina. Aku sudah tahu semuanya," ucap Arvan.


"Maksudnya Mas Arvan tahu semuanya?" Sabrina menatap wajah pria yang sedang menyetir itu.


"Aku tahu penyebab kamu berpisah dengan Yudis," jawabnya.


"Pasti Meli sudah menceritakan banyak tentang aku," ujar Sabrina mulai terlihat kesal.

__ADS_1


Arvan meminggirkan mobilnya dan berhenti. Lalu ia menatap dan mengambil kedua tangan Sabrina. Wanita itu tampak gugup.


"Aku mencintaimu, Sabrina. Sejak pertama kali bertemu," ucap Arvan.


Sabrina menarik tangannya lalu membuang wajahnya.


"Aku janda, Mas. Belum tentu orang tua kamu setuju," ujarnya.


"Mereka sudah mengetahui tentang kamu," ucap Arvan.


"Aku belum bisa, Mas."


"Apa kamu belum bisa melupakan mantan suami?"


"Bukan itu, Mas. Aku masih trauma untuk memulai hubungan lagi dengan seseorang," jawab Sabrina.


Tampak wajah Arvan terlihat kecewa, wanita belum mau membuka hatinya. Ia harus bersabar dan berjuang untuk meluluhkan hati Sabrina.


"Aku tidak akan memaksamu," ucap Arvan lembut. Ia kembali melajukan mobilnya, kali ini mereka ke toko.


"Sabrina!" panggil Arvan saat wanita itu hendak membuka pintu mobil. "Jangan berhenti bekerja, jika kamu ingin aku menjauh, ku siap menjauhimu!"


Sabrina pun turun tanpa menoleh melihat Arvan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua hari kemudian, Sabrina mengajak sahabatnya mengunjungi sebuah kafe.


"Apa kau yang memberi tahu Mas Arvan penyebab perpisahan aku dengan Mas Yudis?" tanya Sabrina.


"Maafkan aku, Sabrina. Pak Arvan butuh informasi itu, sepertinya dia benar-benar menyukaimu!" jawab Meli.


"Dia sudah mengatakannya," ujar Sabrina.


"Katakan cinta," sahut Meli.


Sabrina mengangguk.


"Buruan, apa lagi yang ditunggu?" tanya Meli semangat.


"Aku belum siap," jawabnya sendu.


"Hei, Sabrina. Kau sudah berpisah hampir setahun, lupakan dia!" ucap Meli.


"Aku belum bisa," Sabrina menutup wajahnya.


"Apa kau masih mencintai mantan suami?"


Sabrina menggelengkan kepalanya.


"Lalu, kenapa tidak bisa move on?"


"Aku takut kalau mencoba membuka hati dan menikah ku takut gagal lagi," ucapnya lirih.


"Sabrina, kegagalan itu biasa. Anggap saja yang kemarin sebagai pelajaran buat kamu agar lebih berhati-hati memilih pasangan hidup," nasehat Meli.


"Aku takut mendapatkan mertua seperti yang kemarin," ucap Sabrina.


"Kamu jelaskan pada Pak Arvan yang menjadi kendala, katakan sejujurnya kalau pernikahan sebelumnya dirimu mempunyai hubungan tidak baik dengan mantan mertua," ujar Meli


"Aku tak bisa, Meli."


"Apa perlu aku bicara pada Pak Arvan?"


"Tidak, perlu." Tolak Sabrina.


"Kau harus segera bicara pada Pak Arvan sebelum dia diambil wanita lain," ucap Meli.


"Itu artinya tidak jodoh," jawab Sabrina santai.


"Masa 'sih kamu tidak memiliki rasa pada Pak Arvan?"


"Ih, kau ini. Mau tahu saja perasaan hati orang lain," jawab Sabrina malu-malu.

__ADS_1


"Sudah ku tebak, kau menyukai Pak Arvan." Celetuk Meli.


__ADS_2