Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 40


__ADS_3

"Michael? Kalian saling kenal?" tanya Arvan pada istrinya.


"Iya, Mas. Dia, kakak kelasku."


"Kenapa kamu tidak pernah bercerita?"


"Untuk apa, Mas." Sabrina berdiri dari duduknya mendekati suaminya. "Dia masa lalu dan cinta monyet, bagiku sekarang kamu yang ada di hatiku," ia menggunakan jemarinya menelusuri dada Arvan.


"Kamu memancingku?" bisiknya.


Sabrina tersenyum manis.


"Ayo, pulang!" ajaknya.


"Di rumah ada Sheila," ucap Sabrina.


"Bocah itu menganggu saja," gerutu Arvan. Kemarin malam saja, gadis itu menggedor pintu kamarnya dan merusak kemesraannya dengan sang istri. Hanya karena lampu kamarnya padam.


"Jadi, bagaimana dong?" tanya Sabrina manja.


"Kita ke hotel saja," jawab Arvan.


Sabrina tersenyum genit dan mengangguk.


*


*


"Kakak, kalian ke mana saja?" tanya Sheila.


"Kami dari jalan-jalan," jawab Arvan.


"Kalian ke tempat pemandian, ya?" tanya Sheila.


"Hah!"


"Itu rambut Kak Sabrina basah," ucap Sheila.


"I..iya, kami ke tempat pemandian. Benarkan, Mas?" tanya Sabrina terbata melihat wajah suaminya.


"Ya, benar. Anak kecil mau tahu saja urusan orang dewasa," celetuk Arvan. Ia menarik tangan istrinya naik ke lantai atas.


"Kenapa kalian tidak ajak aku?" protes Sheila.


Arvan tidak menggubrisnya.


"Huh, Tante Dewi dan Paman Fandi ke mana lagi?" tanya Sheila dalam hati.


"Kenapa 'sih kamu, tidak ada baiknya dengan Sheila?" tanya Sabrina ketika di dalam kamar.


"Itu anak susah diatur, makanya dia dikirim orang tuanya ke sini," jawab Arvan.


"Mungkin dia ada alasan begitu?" tanya Sabrina.


"Sudahlah, sayang. Tidak usah memikirkan dia, lebih baik berdoa saja semoga itu anak tidak menggangu tidur kita lagi," ucap Arvan.


*


Sabrina turun membuatkan teh untuk suaminya, Sheila datang menghampirinya. "Kakak, tahu ke mana Tante dan Paman?"


"Oh, mereka lagi ke luar kota," jawab Sabrina.


"Aku tidak punya teman bicara dong," ucap Sheila murung.


"Kamu mau bicara apa? Biar Kakak dengar," ucapnya lembut.


"Benarkah?"


"Iya." Sabrina tersenyum. "Kamu tunggu di sini, Kakak mau antar teh ini pada Mas Arvan," ucapnya lagi.


"Aku tunggu di ruang keluarga, Kak." Ujar Sheila.


Sabrina mengantarkan teh hangat ke balkon kamar. "Mas, aku tinggal sebentar. Boleh?"


"Mau ke mana?"

__ADS_1


"Sheila minta ditemani ngobrol," jawabnya.


"Ya, sudah."


Sabrina pun menemui Sheila. "Kamu mau bicara apa?"


"Kak, kira-kira aku cantik atau tidak?" tanyanya pada istri sepupunya.


Sabrina tertawa kecil. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Di sekolah ada seorang cowok buat aku kesal," Sheila bercerita.


"Kenapa kesal?" tanya Sabrina.


"Dia mengatakan aku tidak cantik di depan semua anak-anak," jawabnya.


"Mengapa dia mengatakan itu?"


"Aku tidak sengaja menggodanya, ku bilang dia keren. Dia jawab, kau tidak cantik. Buatku malu saja," ujarnya.


"Jadi apa yang akan kau lakukan padanya?"


"Aku juga tidak tahu," jawabnya.


"Sheila kamu itu cantik, tunjukkan pada pria kalau dirimu istimewa. Jaga harga diri dan tingkah laku, bersikap cuek dan jual mahal," nasehat Sabrina.


"Jual mahal?"


"Ya, kalau kamu suka dengan seorang cowok. Jangan ditunjukkan, biarkan saja dia yang mengejarmu." Jawab Sabrina.


"Bagaimana dia tahu kalau kita suka dengannya?"


"Seberapa kuat dan dalam kita menyimpan perasaan pada seseorang kalau tidak jodoh, mau dibilang apa." Ucap Sabrina. "Yakinlah, kalau cowok yang kamu suka memang jodohmu pasti akan dipersatukan," jelas lagi.


"Jadi, aku tidak boleh menggodanya lagi?" tanya Sheila.


"Orang tuamu mengirimkan kamu ke sini untuk apa?" tanya Sabrina.


"Untuk sekolah."


"Tapi mereka tidak pernah ada waktu untukku, papa dan mama selalu sibuk. Aku sendirian di rumah bersama para ART," ujar Sheila dengan mata-mata berkaca.


Sabrina menarik tubuh gadis itu dan memeluknya. "Sekarang ada Kakak, Mas Arvan, Tante Dewi dan Om Fandi di sini. Kamu tidak akan kesepian," ucapnya.


"Terima kasih, Kak." Ucap Sheila tersenyum.


"Sama-sama. Apa kamu tidak ada tugas dari sekolah?" tanya Sabrina.


"Ada, Kak.


"Sudah sana kerjakan, mumpung masih sore." Titah Sabrina.


"Baik, Kakakku." Gadis itu pun pergi ke kamarnya dan mengerjakan tugas yang diberikan gurunya.


Sabrina pun beranjak pergi kembali ke kamar menghampiri suaminya.


"Apa sudah selesai dia bicara?" tanya Arvan menyeruput tehnya.


"Sudah, Mas."


"Dia bicara apa saja?"


"Tentang sekolahnya dan dirinya," jawab Sabrina.


"Apa dia buat ulah lagi?"


"Tidak, Mas. Dia hanya kesal pada cowok yang mengatakannya tidak cantik."


Arvan tergelak mendengarnya, ia memegang perutnya.


"Memangnya ada yang lucu, Mas?"


"Hanya karena itu, dia jadi kesal dan mencari teman ngobrol," ujar Arvan.


"Kasihan dia?"

__ADS_1


"Anak itu tak perlu dikasihani," jawabnya.


"Mas, dia kesepian. Orang tuanya tak pernah ada waktu untuknya. Aku takut anak-anakku mengalami hal yang sama, papanya tidak ada waktu untuknya." Ucap Sabrina sendu.


Arvan memindahkan posisi duduknya, berdekatan dengan istrinya. "Aku akan meluangkan waktuku untuk kalian."


Sabrina memeluk tubuh suaminya. "Aku tidak ingin anak-anakku kehilangan kasih sayang ayahnya seperti yang pernah ku alami."


"Dengar, kita akan sama-sama merawat dan mendidik anak-anak." Arvan menciumi kening istrinya.


Suara gedoran pintu terdengar membuat sepasang suami istri saling memandang.


"Pasti anak itu lagi," Arvan berdecak kesal, ia beranjak dari tempat duduknya dan membukakan pintu. "Apa lagi?" tanyanya malas.


"Kak Sabrina ada?" tanya Sheila.


Sabrina yang mendengar namanya disebut melangkah menghampiri. "Ada apa Sheila?"


"Ajari aku, Kak." Pintanya memohon.


Sabrina menatap suaminya meminta izin. Arvan pun menyetujuinya.


"Nanti malam, jangan menggedor pintu kamar kami lagi," Arvan memberikan peringatan.


"Iya, aku tidak akan ganggu." Janji Sheila pada Arvan.


"Bagus. Jika butuh sesuatu kau bisa memintanya pada para pelayan," ucap Arvan.


Sheila mengangguk tanda setuju.


Sabrina pun menemani Sheila belajar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mas, bukankah hari ini resepsi pernikahan Karin?" tanya Sabrina yang masih memeluk tubuh suaminya.


"Iya, kamu mau kita ke sana?"


"Mau," jawab Sabrina.


"Kamu mandi dan kita ke butik," ucap Arvan.


"Ngapain ke butik?"


"Kamu harus cantik, aku tidak mau Karin mencela bahkan menghinamu," jawab Arvan.


"Memangnya aku tidak cantik?" Sabrina menundukkan kepalanya.


"Kamu sangat cantik," pujinya.


"Bohong!"


"Aku tidak bohong, kamu wanita yang paling cantik yang pernah ku temui," ucap Arvan menggombal.


"Baiklah, aku akan mandi."


Selesai mandi dan sarapan, mereka pun pergi menuju butik. Di tengah perjalanan mobil yang ditumpangi keduanya tanpa sengaja menyenggol seorang pengendara motor.


Sopir dan pengendara motor itu sempat bersitegang hingga akhirnya Arvan turun. Perdebatan masih berlanjut, Sabrina pun ikutan berbicara.


"Sabrina!" sapanya, ia membuka helm dan penutup mulut.


"Mas Rudi!"


"Kalian kenal?" tanya Arvan pada istrinya.


"Dia kakak ipar, Mas Yudis." Jawab Sabrina.


"Oh," ucap Arvan singkat.


"Jadi ini suami kamu Sabrina?"


"Iya, Mas. Maaf, sopir tadi tidak sengaja." Ujar Sabrina.


"Saya juga minta maaf," ucap Rudi. "Kalian bisa melanjutkan perjalanan, saya permisi." Pamitnya pergi.

__ADS_1


Sabrina pun kembali masuk ke dalam mobil begitu juga dengan suaminya dan sopir.


__ADS_2