Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 32


__ADS_3

"Aku antar pulang naik motor, tidak masalah 'kan?" Arvan menjemput Sabrina hari ini menggunakan motor. "Mobilnya lagi di bengkel," lanjutnya menjelaskan.


"Tidak apa-apa," jawab Sabrina singkat. Ia pun duduk di boncengan.


"Kita jalan-jalan, yuk!" ajaknya.


"Boleh," jawab Sabrina.


Mereka pun mengelilingi kota di sore hari, motornya harus mogok membuat Arvan mendorongnya mencari bengkel.


Karin yang kebetulan melintas dengan mobilnya, berhenti dan membuka kaca mobil. "Oh, ternyata kalian pacaran. Cocok juga 'sih!" ucapnya tersenyum mengejek.


Sabrina menarik nafas dan tersenyum begitu juga dengan Arvan.


"Hemm.. cuacanya kelihatan mendung, aku duluan 'ya!" ujar Karin dengan angkuh.


"Ayo, Mas. Cepat cari bengkel, sepertinya akan turun hujan," ucap Sabrina saat mobil Karin melaju.


Lebih kurang 15 menit mereka mencari bengkel akhirnya ketemu dan hujan pun turun cukup deras.


"Maaf, ya. Kita jadi kehujanan begini," ucap Arvan tersenyum nyengir.


Sabrina tersenyum lalu berkata,"Bukan salah, Mas. Tapi memang waktunya aja hujan mau turun."


"Makin cinta aja aku denganmu," batin Arvan.


"Mas!" panggil Sabrina.


"Ya."


"Kenapa melamun?"


"Oh, tidak apa-apa. Nanti kita cari makan," ucap Arvan salah tingkah.


"Ya, Mas!"


Menunggu setengah jam, akhirnya motornya selesai diperbaiki.


"Hujannya sudah berhenti, ayo kita cari makan!" ajaknya pada Sabrina.


Arvan mengelap jok motor yang akan didudukkan Sabrina. Mereka pun menuju warung bakso yang biasanya selalu ramai.


"Kamu sering ke sini, Mas?" tanya Sabrina.


"Dulu, ya. Tapi Karin tidak suka makan di tempat ini," jawab Arvan. "Kamu tidak marah aku bawa ke sini?" baliknya bertanya.


"Aku malah senang, Mas Yudis sering membelikan bakso untukku," ceplos Sabrina.


Mimik wajah Arvan berubah.


"Sorry," ucap Sabrina.


Arvan tersenyum,"Tidak apa!"


Mereka memesan dua mangkuk bakso dan teh manis hangat serta lima tusuk sate kerang.


"Kamu tahu saja makanan enak," ucap Sabrina lalu memakan sate kerang.


"Rekomendasi teman," ujar Arvan.


"Mas Arvan hobi berwisata kuliner?" tanyanya.


"Ya, kamu?"


"Sama."


"Bagaimana kapan-kapan kita keliling menikmati makanan yang enak-enak dan lezat?" ajak Arvan.


"Aku mau, Mas!"


...'ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kemarin aku jumpa dengan Arvan, Ma." Ucap Karin pada Rindu.


"Lalu bagaimana keadaannya dia sekarang?" Rindu penasaran.

__ADS_1


"Dia ternyata dengan wanita yang menjadi karyawan di tokonya dulu, mereka berdua naik motor. Untung saja aku tidak jadi melanjutkan pertunangan dengan dia," tutur Karin.


"Baguslah, kalau tidak bagaimana nasib kamu jika harus menikah dengan pria miskin seperti Arvan," ujar Rindu.


"Iya, Ma. Sekarang aku sudah mendapatkan pria yang lebih kaya dari Arvan," ucapnya membanggakan diri.


"Benarkah, dapat di mana?" tanya Rindu.


"Di tempat biasa aku kumpul dengan temanku, Ma."


"Apa nama perusahaannya?"


"Dia pengusaha di bidang otomotif," jawab Karin.


"Wah.. pasti banyak tuh uangnya," ucap Rindu.


"Tentunya, Ma. Ini aku baru saja dikirimkan tas," Karin menunjukkan tas pemberian dari kekasih barunya.


"Mama, mau dong. Dibelikan satu," pinta Rindu.


"Nanti aku bilang deh," ujar Karin. "Ma, aku harus pergi dia sudah menungguku di tempat biasa," lanjutnya lagi. Selama ini Karin hidup terpisah dengan orang tuanya, ia memilih tinggal di apartemen milik keluarganya.


"Kami tidak sarapan dulu temani Mama," ucap Rindu.


"Memangnya Papa ke mana?"


"Dia lagi di luar kota," jawab Rindu.


"Lain waktu saja, Ma. Aku buru-buru, pesan Mama nanti ku sampaikan," ucapnya mencium pipi kanan dan kiri Rindu.


"Oke, Karin." Wanita paruh baya itu tersenyum. "Semoga saja Karin bisa menikah dengan pria itu," gumamnya.


*


"Hai, sayang!" Karin mencium pipi kekasih barunya.


"Hai juga, sayang."


"Sorry lama menunggu," ucapnya tersenyum.


"Suka banget, sayang. Mama aku mau juga loh," ucap Karin manja.


"Nanti aku belikan, tapi bisa temani ku malam ini."


"Malam ini? Ke mana?" tanya Karin.


"Temanku mengadakan acara party gitu," ucap Michael.


"Wah, pasti meriah. Banyak orang-orang berkelas datang ke sana," kagumnya.


"Iya, kamu dandan yang cantik."


"Pastinya aku akan dandan yang cantik," ucap Karin.


*


*


Malam harinya, Karin tampil cantik dan menor. Dia menggandeng tangan Michael memasuki hotel tempat acara.


Karin melihat Arvan datang bersama dengan teman prianya.


"Arvan, kamu di sini juga?" Karin dengan angkuhnya menatap pria yang menjadi mantan tunangannya.


"Iya, aku di undang juga." Jawab Arvan singkat.


"Sabrina mana?"


"Dia tidak ikut."


"Pesta seperti ini memang tidak cocok untuknya," ucap Karin menyindir.


"Ya, memang dia tak menyukai acara seperti ini," ujar Arvan.


"Dia siapa kamu, sayang?" tanya Michael pada Karin.

__ADS_1


"Dia mantan tunangan ku, sayang." Jawab Karin.


Michael hanya membulatkan bibirnya.


"Ayo, sayang. Kita gabung dengan temanmu yang lainnya," ajak Karin bergelayut manja di lengan kekasihnya.


Selepas Karin pergi, teman Arvan mendekati sahabatnya itu. "Kenapa Karin begitu sombong sekarang? Terus kenapa kalian putus?" tanyanya.


"Aku yang memintanya memutuskan pertunangan ini, dia wanita yang matre begitu juga dengan orang tuanya. Selain itu, ia pernah berselingkuh." Ucap Arvan.


Temannya yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala.


*


"Dia siapa kamu, Michael?" tanya teman bisnisnya.


"Dia kekasihku," jawab Michael.


"Boleh juga, kekasihmu. Apa aku bisa memakainya?" Pria itu menatap genit ke arah Karin yang terlihat seksi.


"Boleh, kalau aku sudah bosan." Bisik Michael di telinga temannya.


Temannya hanya tertawa mendengar bisikan Michael.


"Sayang, aku ke sana 'ya!" pamit Karin.


"Iya, sayang."


"Di mana kau menemuinya?" tanya teman Michael menatap dari jauh Karin.


"Retno yang mengenalkannya," ujar Michael.


"Boleh juga sih Retno cari wanita, aku mau juga seperti kekasihmu itu," ucapnya.


"Temui saja si Retno, stok teman perempuannya banyak."


"Terima kasih, informasinya. Tapi ngomong-ngomong, apa kau sudah mencicipinya?"


Michael menyipitkan matanya tak suka atas ucapan temannya itu.


"Jangan menatapku seperti itu, sangat menakutkan jika begitu," ujarnya.


"Makanya, jangan mengganggu milikku!"


"Oke, aku akan menjauhinya."


"Mending kau fokus mencari wanita yang cocok untukmu," ujar Michael.


"Ya, aku tidak menganggu mainan mu!"


Setelah mengobrol dengan temannya, Michael menghampiri Karin. Pria itu mengalungkan tangannya di pinggang kekasihnya kemudian mencium pipi kirinya.


"Ayo, kita temui yang punya acara!" bisiknya di telinga Karin.


Karin pun mengiyakan. Mereka berdua berjalan menemui pemilik acara.


Sementara dari kejauhan Arvan melihat mantan tunangannya itu bermesraan.


"Lihatlah, apa kau tidak cemburu?" Teman Arvan menunjuk ke arah Karin.


"Tidak, jika Sabrina yang begitu aku cemburu." Ungkap Arvan.


"Siapa lagi itu wanita?" tanyanya penasaran.


"Calon istriku," jawab Arvan percaya diri.


"Sejak kapan dekat dengan dia, kau dan Karin baru saja putus?"


"Aku jatuh cinta dengan wanita itu 3 tahun yang lalu, saat masih bersama Karin." Jelasnya.


"Jadi kau juga berselingkuh?"


"Tidak, aku hanya mengaguminya. Lagian saat itu ia sudah memiliki calon suami," ucap Arvan.


"Jadi dia janda?"

__ADS_1


"Ya."


__ADS_2