
"Karin!"
"Bukankah kamu, mobilnya tidak sengaja saya tabrak?" tanya Karin.
"Iya, bagaimana kabarmu?"
"Baik, sedang apa anda di sini?" tanya Karin lagi.
"Ada urusan pekerjaan dengan Pak Yudis," jawab Ardan.
"Jadi, anda perwakilan dari perusahaan-perusahaan yang ada di kota M?"
"Iya."
"Ya, ampun. Saya tidak tahu," ucap Karin.
"Tidak masalah," ujar Ardan.
"Tapi, dari mana anda tahu nama saya?"
"Kemarin aku bertanya pada Pak Yudis," jawab Ardan.
"Oh, begitu. Maaf, Pak Ardan saya harus melanjutkan pekerjaan," ucap Karin.
"Oh, ya. Silahkan!"
Ardan memandangi punggung Karin dengan tersenyum, ia pun menuju ruangan Yudis.
Sepulang kerja, motor yang dikendarai Karin mogok. Ia pun menuntun motornya mencari bengkel terdekat.
Akhirnya ia pun dapat menemukan bengkel, sambil memperhatikan jalanan ia melihat Sabrina dan Arvan yang baru saja turun dari mobil mewahnya. Arvan menggendong putranya dan mengenggam erat tangan istrinya. Karin tersenyum melihat pasangan itu.
"Mbak, motornya sudah selesai!" ucap montir bengkel membuyarkan lamunannya.
"Oh, ya. Berapa semua, Mas?"
"Dua ratus ribu, Mbak."
Karin menyerahkan dua lembar uang seratus ribu. "Terima kasih, Mas!"
"Sama-sama, Mbak!"
Karin pun mengendarai motornya menuju rumahnya. Sesampainya, Michael menyambutnya.
"Kapan sampai?" tanya Karin senang.
"Baru saja," jawab Karin.
"Kenapa lama?"
"Tadi motorku mogok," jawab Karin.
"Oh, begitu. Apa kamu sudah ke bengkel?"
"Sudah," jawabnya. "Kara mana?" tanya Karin.
"Lagi makan dengan Mama Rindu."
"Kamu sudah makan?"
"Belum."
"Sehabis aku mandi, kita makan!" ajak Karin.
__ADS_1
"Siap!" ucap Michael.
Selesai mandi Karin menghampiri mantan suaminya di meja makan, mereka makan malam bersama. "Bagaimana kabar orang tuamu?"
"Mereka baik-baik saja," jawab Michael.
"Oh, ya Michael. Apa kau mengenal Ardan Mayaja?"
"Ardan?"
"Iya, dia dari perusahaan Ayaka di Kota M. Bukankah itu perusahaan milik Papa kamu?"
Michael tampak berpikir. "Dari mana kamu mengenalnya?"
"Perusahaan tempatku bekerja menjalin kerja sama dengan perusahaan itu," jawab Karin.
"Kenapa Papa tidak pernah bilang, ya?"
"Mungkin Om Arya tidak tahu kalau aku bekerja di sini," jawab Karin. "Oh, ya. Ardan itu karyawan atau keluarga?" tanya Karin.
"Ardan itu anak temannya papa," jawab Michael.
"Oh."
"Jika dia mendekati kamu, lebih baik menjauh," ucap Michael.
"Memangnya kenapa?"
"Aku tidak suka aja, kamu dekat dengan dia!"
"Kau cemburu, ya!" goda Karin.
"Iya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Kara harus kembali bersama papanya di kota Oma dan Opanya.
"Mama pasti merindukanmu, sayang!" Karin mencium pipi Kara.
"Aku juga rindu denganmu!" ucap Michael pelan dan tersenyum.
Michael membawa putrinya ke dalam mobil, mereka melambaikan tangan ke arah Karin dan kedua orang tuanya.
"Sampai jumpa, Kara!" ucap Rindu sedikit keras.
Setelah kepergian Kara dan Michael, Karin kembali masuk ke dalam rumah dan menyelesaikan tugas membersihkan rumah.
-
-
"Yudis, apa benar Karin bekerja di kantor kamu?" tanya Linda.
"Iya, Ma."
"Kenapa kamu mempekerjakan dia?"
"Memangnya kenapa, Ma?"
"Kamu tahu, dia wanita jahat dan licik. Pasti ingin menjeratmu, saat ia bekerja di toko perhiasan Mama sudah tidak menyukainya," jawab Linda.
"Karin tidak seperti itu, sekarang dia sudah berubah," jelas Yudis.
__ADS_1
"Awas saja, kamu dekat dengan dia," ancam Linda.
"Karin akan kembali dengan mantan suaminya," ungkap Yudis.
"Semoga saja dia benaran balikan, agar Mama tak repot mengawasi kamu!"
-
-
Kediaman Arvan
"Kapan Sheila akan kembali, Mas?" tanya Sabrina saat menyajikan teh pada suaminya di taman rumah.
"Kemungkinan dua bulan lagi," jawab Arvan.
" Masih lama, ya."
"Memangnya kenapa?"
"Aldi selalu menanyakannya," jawab Sabrina.
"Apa mereka masih bermusuhan?"
"Entahlah, Mas!"
"Biarkan saja mereka, lagian juga sudah pada dewasa. Sheila mungkin hanya pulang sebentar saja setelah itu dia akan kembali lagi ke sana," tutur Arvan.
"Nanti aku beri tahu Aldi," ucap Sabrina.
"Tidak usah, biarkan saja. Kalau Sheila sudah pulang baru kita beri tahu!" usul Arvan.
"Baiklah, Mas!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Karin berangkat bekerja seperti biasanya, menggunakan motor. Begitu sampai salah satu temannya segera menemuinya.
"Karin, ada yang mencarimu!"
"Siapa?"
"Seorang pria," jawabnya.
"Aku akan menemuinya, terima kasih!"
Karin pun berjalan menemui seseorang yang mencarinya. "Maaf, ada apa mencari saya?" tanyanya.
Pria itu membalikkan tubuhnya dan tersenyum, membuat Karin terkejut.
"Kau!" Karin mendelikkan matanya.
"Kita jumpa lagi," ucapnya tersenyum.
"Untuk apa kau ke sini?" Karin mulai emosi.
"Ingin bertemu kamu!"
"Aku tidak ingin bertemu dengan pria yang membuatku trauma," ucap Karin.
"Karin, aku mau minta maaf!" Ia membuka kaca matanya.
"Lebih baik sekarang kau pergi dari sini, aku mau kerja," Karin memilih meninggalkan Putra.
__ADS_1