Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 54


__ADS_3

"Karin, semalam yang mengantar kamu pulang siapa?" tanya Michael di tengah obrolan sarapan pagi mereka.


"Temanku," jawabnya singkat.


"Kalian sepertinya akrab," ucap Michael.


"Mungkin karena kami bekerja di gedung yang sama," jawab Karin santai.


"Sedekat itu?"


"Aku dan dia hanya teman, tidak lebih. Buang rasa cemburu kamu!" ucap Karin.


"Aku bisa menjemput dan mengantarmu kerja tiap hari," ujar Michael.


"Tidak perlu, kau cukup fokus saja membangun perusahaan menjadi besar lagi," ucap Karin santai.


"Jadi kau berubah karena itu?"


"Iya."


"Aku juga lagi berusaha untuk bangkit lagi, tapi tolong jaga sikapmu pada pria yang bukan keluargamu!" Michael sedikit bicara tegas.


"Dia sudah menjemputku," ucap Karin berlalu begitu saja.


Michael geleng-geleng kepala melihat sikap istrinya.


Tak lama Karin pergi, Tissa datang untuk bermain dengan cucunya. "Dia pergi lagi dengan pria itu?" tebaknya. Semenjak anaknya menikah, Tissa dan suaminya lebih sering menghabiskan waktu di kota B.


"Ya," jawabnya lemah.


"Kau, seorang pria harusnya punya harga diri!" ucap Tissa tegas.


"Aku ..."


"Mencintainya, Ma. Itu yang akan kau bilang?" sahut Tissa memotong ucapan putranya.


"Ma.."


"Tinggalkan dia!"


"Ma.."


"Wanita yang tidak bisa menghormati dan menjaga kehormatan dirinya dan suaminya, lebih baik tinggalkan!"


"Ma, Kara masih butuh dia?"


"Tapi dia tak butuh Kara!" jawab Tissa. "Mama capek nasehati kamu terus atau jangan-jangan sikapmu sekarang akibat sumpah dari para mantan kekasihmu yang sering disakiti," tebaknya.


Michael hanya bergeming.


"Nak, dengarkan Mama. Masih banyak wanita diluar sana yang jauh lebih baik dari Karin," ucap Tissa.


Michael mengusap kasar wajahnya.


*


*


"Hei, Dewi. Apa kau sudah mengatakan pada putramu kalau aku menginginkan toko yang ada di kota A," ucap Rindu.


"Jangan mimpi!"


"Kau mau seluruh negeri ini tahu, jika putramu itu penipu!"


"Putrimu itu yang penipu!" Dewi tak mau kalah.


"Arvan dan kamu mengatakan kalau bangkrut, asal kalian tahu toko yang ada di kota A itu aku ikut andil," ucap Rindu.


"Kau tidak salah. Bukankah kau bilang itu utang? Kami sudah membayar sekaligus bunganya, mau bukti perjanjian kita!" Dewi balik mengancam.

__ADS_1


Rindu berdecak kesal.


"Jangan usik kebahagiaan putraku. Aku tidak akan segan, membuatmu lebih menderita!" Dewi memberikan peringatan secara tegas.


"Kau mengancamku?"


"Menurutmu?" balik bertanya. "Aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu. Jadi, pikirkanlah untuk tak melakukan hal bodoh," ucap Dewi berdiri dan meninggalkan mantan temannya itu di lobby hotel.


"Aarrghhhhh..sial!" batinnya.


Rindu menelepon putrinya. "Kemana 'sih dia?" gumamnya.


Panggilan ketiga baru ia menjawabnya. "Ada apa, Ma?" tanya Karin dari kejauhan.


"Mama ingin bicara padamu?"


"Sore nanti kita bertemu, Karin akan ke rumah," jawabnya dari kejauhan.


"Baiklah, Mama tunggu!" Rindu menutup teleponnya.


Sore harinya dikediaman orang tua Karin. Ia datang seorang diri menemui ibunya.


"Mama, ingin bicara apa?"


"Keluarga Arvan menolak memberikan toko di kota A itu?"


"Oh, itu." Jawabnya singkat dan santai.


"Kenapa cuma oh?"


"Ya, jelaslah mereka menolaknya. Walau kita dulu sempat membesarkan toko itu. Semua dihitung utang, keluarga Arvan juga sudah membayar lunas," tutur Karin.


"Tapi, sekarang Arvan tambah kaya. Kau harus menjeratnya lagi?" usul Rindu.


"Tidak, Ma." Tolaknya.


"Apa kau mencintai suamimu?"


"Siapa?"


"Aku bertemu dengannya di kota C."


"Apa usahanya?"


"Dia pemilik perusahaan iklan ternama, salah satu hotel yang ada di kota C itu miliknya," jawab Karin bangga.


"Bagus. Kapan kau akan mencampakkan suamimu yang miskin itu?"


"Michael belum mau melepaskan aku," jawabnya.


"Jangan sampai pria kaya itu lepas dari pelukanmu," ucap Rindu.


"Ibu tenang saja, dia begitu menyukaiku."


"Kau, memang putriku!" Rindu tersenyum bangga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sheila sudah kembali lagi di keluarga Arvan, karena tinggal beberapa bulan lagi ia juga akan tamat sekolah.


"Sheila, Kami dan Kak Arvan akan ke kota A. Sepulang sekolah jangan ke mana-mana. Jaga Kak Sabrina," pinta Dewi.


"Siap, Tante!"


"Kalau kalian ingin keluar rumah, harus dengan sopir dan asisten," ucap Arvan. "Teman kamu jadi datang?" tanyanya pada istrinya.


"Jadi, Mas." Jawab Sabrina lalu menenggak air putih.


"Aku akan mengirimkan permainan anak-anak untuk mereka," ujar Arvan.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas."


"Jangan pernah naik ke lantai atas!" Arvan lagi-lagi memperingatkan istrinya. "Setiap malam, Sheila akan menemani kamu tidur." lanjutnya lagi.


Sabrina pun hanya mengangguk.


"Kalau begitu, kami harus pergi." Izin Arvan.


"Jaga diri kalian, kami tidak akan lama. Paling besok siang kembali," ucap Fandi.


"Iya, Yah." Jawab menantunya itu.


Dua jam setelah keberangkatan Arvan beserta orang tuanya dan Sheila yang pergi ke sekolah. Teman Sabrina datang, mereka adalah Tika dan Meli beserta anak-anaknya.


"Bagaimana kabar kamu, kemarin itu tidak apa-apa 'kan?" tanya Meli.


"Baik, Mas Arvan sampai memindahkan kamar kami ke lantai bawah," jawab Sabrina.


"Pak Arvan sayang banget sama kamu. Sampai toko pun akan dibuatkan lift khusus karyawan hamil," ucap Tika.


"Benarkah?"


"Iya, itu lagi proses pembangunan." Jawab Meli.


"Kenapa aku tidak tahu?"


"Mungkin belum sempat memberitahumu, begitu kamu jatuh dan dilarikan ke rumah sakit. Dia menelepon Pak Andika untuk segera dibuatkan lift," jelas Meli.


"Mas Arvan sesayang itu padaku. Ah, makin cinta saja aku padanya," batinnya.


"Ayo, masuk. Mas Arvan juga sudah menyediakan mainan untuk anak-anak, agar obrolan kita tidak terganggu," ucap Sabrina.


Anak-anak yang mendengar kata-kata mainan begitu senang dan gembira.


Mereka berkumpul di samping rumah yang berhadapan langsung taman. Anak-anak menikmati makanan yang disediakan Sabrina begitu juga dengan para ibu.


"Sabrina, kemarin aku bertemu dengan mantan suamimu," ujar Meli.


Mendengar nama itu, Sabrina hanya bergeming.


"Kau tak suka 'ya, aku menyebut namanya. Maaf!" ucap Meli.


"Tidak apa," ucap Sabrina. "Cuma Mas Arvan tak suka saja," lanjutnya lagi.


"Aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu, mantan suamimu itu pantas mendapatkan apa yang telah ia perbuat," geram Tika.


"Sudahlah, lagian juga dia sudah menikah lagi," ucap Sabrina.


"Pasti dengan wanita yang kamu bilang dijodohkan mamanya," tebak Meli.


"Iya," jawab Sabrina.


"Kemarin itu, Mama dan istrinya itu pernah datang ke toko. Mereka mencarimu 'sih, ku bilang saja. Sekarang kau sudah jadi menantu kesayangan keluarga kaya dan suaminya begitu menyayanginya," tutur Tika. "Kalian mau tahu wajah mantan mama mertua Sabrina, bagaimana?" lanjutnya lagi.


"Iya, bagaimana?" Meli penasaran. Karena kemarin ia tak satu shift dengan Tika.


"Pucat dan kesal," jawab Tika tertawa.


"Aku tidak bisa bayangkan wajah itu," ucap Meli.


Sabrina hanya tersenyum tipis.


"Tapi kami sekarang lega, kau tidak menangis lagi!" ucap Tika. Karena ia dan Meli tahu saat Sabrina mencurahkan isi hatinya pada mereka.


...----------------...


...----------------...


Jangan lupa tinggalkan jejak..

__ADS_1


Kalian boleh kasih aku setangkai bunga mawar dan secangkir kopi.


♥️😊🙏


__ADS_2