
Hari ini Arvan sengaja membawa istrinya itu jalan-jalan ke sebuah mall. Karena selama mereka menikah, jarang sekali mengunjungi tempat itu. Mereka menghabiskan waktu dengan menonton bioskop.
"Kamu lapar?" tanya Arvan pada istrinya sehabis menonton film.
"Iya, Mas. Cari makan, yuk!"
"Kita ke sana saja!" tunjuk Arvan pada restoran seafood.
Baru beberapa langkah menuju restoran, mereka bertemu dengan mantan mertua dan kakak ipar Sabrina.
"Kita jumpa lagi, Sabrina. Apa kabar?" sapa Yana.
"Baik," ucap Sabrina tersenyum.
"Lihatlah, Ma. Perutnya masih rata saja," sindir Yana.
Arvan yang mendengarnya geram. Namun, tangannya dielus istrinya.
"Waktu sama Yudis belum hamil juga sekarang nikah dengan orang lain begitu juga," ucap Linda.
"Ayo, kita pergi dari sini, Mas!" Sabrina menarik tangan suaminya.
Mereka berjalan meninggalkan ibu dan anak begitu saja dan tak menggubris ocehannya.
"Baru jadi orang kaya sudah sombong," ucap Yana menyindir.
"Sayang, kenapa kamu diam saja mereka begitu?" tanya Arvan pada istrinya saat sudah menjauh.
"Berdebat dengan mereka tidak ada habisnya," jawabnya.
*
*
Michael dan Karin juga lagi bahagianya, istrinya itu sedang mengandung. Sifat manja semakin menjadi, lebih sering memerintah.
"Sayang!" teriaknya pada suaminya.
"Ada apa, sayang?"
"Lihatlah, ini baju kesayangan aku. Rusak dibuatnya!" tunjuknya pada seorang pelayan wanita.
"Sayang, nanti kita bisa beli lagi." Ucap Michael menenangkan.
"Beli di mana? Ini aku beli di luar negeri dan harganya mahal," ucapnya marah. "Aku tidak mau potong gaji dia," titahnya pada suaminya.
"Jangan, Bu!" rengek pelayan wanita itu.
"Kau tahu, kerja setahun di sini pun tidak sanggup mengganti bajuku ini!" sentaknya.
"Sudahlah, sayang. Kamu lagi hamil, jangan begitu kasihan calon bayi kita lihat ibunya marah-marah." Ujar Michael.
"Bagaimana tidak marah? Punya pelayan tidak becus bekerja!" protesnya.
"Ayo, kita jalan-jalan saja. Biar pikiranmu tenang," ajak Michael menuntun istrinya ke arah kamar. "Silahkan, lanjutkan pekerjaannya. Lebih berhati-hatilah," imbuhnya.
Pelayan wanita itu menunduk hormat. "Maaf, Pak!"
Michael hanya menjawabnya dengan tersenyum.
"Kamu terus saja membela para pelayan, mereka bisa seenaknya bekerja. Kita bayar mahal tapi kerjaannya begini," protesnya lagi.
"Kamu mau belanja?" tawar Michael.
__ADS_1
"Mau, sayang." Karin menunjuk wajah senang.
"Ganti pakaian, kita belanja apa saja yang kamu mau!" ucapnya.
"Terima kasih, sayang!" Karin mencium pipi suaminya.
Mereka pun pergi belanja, Karin begitu senang. Suaminya itu sangat memanjakannya. Hidupnya enak, tidak menyesal dia dulu meninggalkan Arvan.
Selesai berbelanja, mereka pulang ke rumah. Sopir membawa barang-barang yang dibeli majikannya ke dalam rumah.
"Bibi!" teriak Karin memanggil pelayannya.
"Iya, Bu."
"Buatkan aku jus jeruk, sekarang!" perintahnya."
"Baik, Bu."
"Tidak pakai lama!" ucapnya dengan tegas.
Pelayan wanita tua itu pun berjalan cepat ke dapur membuatkan jus jeruk untuk istri majikannya.
Di dalam kamar, Karin merebahkan diri. Belanjaan yang ia beli dibiarkan menumpuk di atas meja kamar.
"Sayang, pijitkan aku!" perintahnya manja.
Pria itu memijit kaki istrinya sampai tertidur. Ia memperbaiki posisi tidur Karin dan menyelimutinya. Pelayan membawa segala jus jeruk ke dalam kamar. Michael meletakkannya di atas nakas.
"Bi, saya akan pergi sebentar. Tolong, jaga dia!" ucap Michael.
"Baik, Pak!"
*
*
*
"Hah!"
"Aku belum siap, Pak!" ucapnya berbohong.
"Tolonglah, Nora. Menikah denganku, agar aku tidak terus-menerus dipaksa menikah dengan Stella." Ungkap Yudis dengan wajah sedihnya.
"Pak, menikah sekali seumur hidup. Saya tidak mau, hanya Bapak menolak perjodohan jadi maksa begini," ucap Nora.
"Apa kamu tidak memiliki rasa padaku?" tanya Yudis percaya diri.
"Waduh, bagaimana ini? Aku memang suka padanya, tapi jadi ragu apalagi mendengar alasan dia dan istrinya bercerai," batin Nora.
"Nora, bagaimana?"
"Saya akan berpikir lagi, Pak. Ini pernikahan bukan untuk dipermainkan," jawab Nora beranjak pergi keluar ruangan Yudis.
Wanita itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Linda dan Stella jauh-jauh datang ke kota M untuk mengunjungi putranya di kantor.
"Apa anak saya ada di ruangannya?" tanya Linda sinis pada Nora.
"Ada, Bu." Nora mengantarkan mereka ke ruangannya.
"Mama, Stella. Kenapa kalian di sini? Aku lagi kerja," ucap Yudis terkejut dengan kedatangan kedua wanita itu.
__ADS_1
"Kami sengaja ke sini menghampirimu, sekalian Stella penasaran dengan Nora yang kau sebut sebagai calon istrimu," ujar Linda.
"Ma, tolong jangan ganggu Nora!" pinta Yudis.
"Kami tidak akan mengganggunya cuma ingin menjauhkannya dari kamu!" ucap Linda secara tegas.
Setelah keluar dari ruangan Yudis. "Tante, ke parkiran saja, ada yang ingin ku bicarakan pada Nora," ucap Stella.
"Baiklah, Tante menunggu kamu di parkiran."
Stella menghampiri sekretaris Yudis. "Aku perlu bicara padamu!"
"Bicarakan saja di sini," jawab Nora.
"Kamu harus menjauhi Yudis dan batalkan pernikahan kalian!" Stella mulai mengatur dan memerintah.
Nora tersenyum sinis menatap Stella. "Aku pun tidak mau dengan dia, tapi dirinya mengejarku. Ku harus, bagaimana?"
"Jauhi dia atau kau...!"
"Atau apa?"
Stella mengepalkan tangannya dan menatap geram.
"Ambil saja, kalau bisa. Dia bukan seleraku!" ucap Nora.
Stella pun pergi meninggalkan Nora dengan hati kesal.
Nora tersenyum tipis. "Aku pun tidak mau menikah dalam bayangan masa lalu dia, apalagi melihat ketidaksukaan mamanya pada menantunya," batin Nora.
Yudis keluar ruangannya karena melihat Stella menghampiri Nora. "Kau ke ruanganku!" perintahnya.
Nora pun mengikuti perintah atasannya itu.
"Apa yang telah ia lakukan padamu?" tanyanya.
"Sepertinya Bapak harus menikah dengannya!"
"Dia berkata apa?"
"Dia ingin saya menjauhi anda, padahal anda yang menginginkan pernikahannya ini," jawab Nora.
"Lalu kau jawab apa?"
"Saya bilang, ambil saja!"
"Kenapa kau bilang begitu?"
"Karena saya memang tidak ingin menikah dengan anda," jawab Nora.
"Nora, tolong saya." Pinta Yudis.
"Saya tahu anda masih mencintai mantan istri, sepertinya Bapak harus berpikir ulang untuk menikah lagi," ucap Nora.
"Tapi saya tidak mau menerima perjodohan ini," ujar Yudis.
"Menikah dengan saya atau pilihan mama anda sama saja. Karena hati dan jiwa Bapak tertuju pada mantan," jelas Nora. "Satu lagi, Pak. Saya sudah dijodohkan," ucapnya lagi. Beberapa bulan yang lalu kedua orang tuanya ingin menjodohkan dengan anak temannya tapi pria yang akan dijodohkan padanya malah menikah dengan kekasihnya.
Yudis menghela nafasnya. "Silahkan keluar, maaf!"
Nora pun keluar dengan hati lega dan tenang. Atasannya itu tidak memaksanya lagi. "Ribet banget percintaan si Bos," gumamnya.
Yudis terduduk memijit ujung pangkal hidungnya, ia membuka ponselnya dengan mata berkaca-kaca dirinya memandangi foto wanita yang beberapa tahun yang lalu mengisi hatinya hingga sekarang.
__ADS_1
"Sekarang kau benar-benar bahagia dan melupakanku, sampai kapanpun aku masih mencintaimu!" batinnya berkata.