
Malam ini keluarga Arvan bertemu dengan keluarga Sabrina. Tampak ayah kandung Sabrina dan ibu sambungnya juga hadir.
Ayah Arvan mengungkapkan maksud kehadiran mereka, perbicangan malam ini menentukan tanggal lamaran.
Hampir sejam mereka berbincang, akhirnya diputuskan lamaran akan diadakan seminggu lagi. Arvan tampak tersenyum begitu juga dengan Sabrina.
"Untuk masalah tempat lamaran kami mengusulkan akan diadakan di hotel milik keluarga besar Arvan," ucap Dewi. "Bagaimana apa kalian setuju?" tanyanya.
"Kalau kami terserah anda dan keluarga saja," ucap Toni, ayah kandung Sabrina.
Dewi, nenek dan Sabrina juga menyetujuinya.
Sebelum pulang, orang tuanya Arvan beserta ayah kandung Sabrina dan istrinya menikmati makan malam bersama.
*
*
Nora terpaksa keluar dari rumah karena ia harus segera mencari penjual pulsa token listrik. Toko yang biasanya menjual dan berada di depan rumahnya tutup.
Ia melajukan motornya dengan pelan, namun karena kurang konsentrasi dia menabrak sebuah mobil. Nora pun turun, ia menggigit jarinya kebingungan.
Sang pemilik mobil keluar saat mendengar benturan dari arah mobilnya dan melihat apa yang terjadi.
"Maaf, saya tidak sengaja!" ucap Nora menundukkan kepalanya.
"Tidak apa, ini hanya tergores sedikit." Ujarnya.
"Sayang, kamu harus minta ganti rugi sama dia!" ucap seorang wanita dengan sombongnya.
"Tidak apa, dia juga tidak sengaja." Ucap pria itu lagi.
"Tapi dia harus bertanggung jawab," wanita itu tetap bersikeras.
Nora hanya tertunduk tak berani menatap.
"Hei, angkat wajahmu!" sentak wanita itu.
Nora pun mengangkat wajahnya. "Berapa uang yang harus saya keluarkan untuk biaya perbaikan mobil anda?" tanyanya dengan gugup.
"Lima juta," jawab wanita itu.
"Hah!" Nora terkejut.
"Sayang, sudahlah. Kita harus ke rumah orang tuaku lagi," ucap pria itu.
"Maaf, saya tidak memiliki uang sebanyak itu," ucap Nora tertunduk lemas.
"Jadi berapa uang yang kamu punya?" tanya wanita itu dengan angkuh.
Nora mengeluarkan uang dari dompetnya lima lembar seratus, dua lembar lima puluhan dan tiga lembar uang seribuan. "Cuma ini yang saya punya," ucapnya.
Wanita itu merampasnya. "Ini belum cukup, tapi tidak masalah," ia menghitung uang tersebut dan tersenyum sinis.
"Kak, tolong jangan diambil semua. Saya harus mengisi token listrik lagi," mohon Nora.
"Ini masih kurang!" bentaknya.
"Sayang, sudah kasihkan saja!" ucap pria itu lagi merampas uang yang ada di tangan kekasihnya lalu diberikannya lagi pada Nora. "Ambil dan pergilah!"
"Sayang, kenapa diberikannya lagi?" protes wanita itu.
"Terima kasih," ucap Nora pada pria itu yang tersenyum tipis padanya. Ia pun segera menghidupkan mesin motornya dan pergi.
Pria itu kembali masuk ke dalam restoran dan meninggalkan kekasihnya yang masih kesal karena ketidaksengajaan Nora.
"Huh, untung saja pria itu baik hati," gumam Nora sambil mengendarai motornya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Aku harus minta izin pada Pak Andi," ujar Arvan sesampainya ia mengantar Sabrina ke toko.
"Kamu mau ke mana, Mas?"
"Aku harus ke kota A, toko yang di sana lagi ada masalah," jawab Arvan.
"Kota itu cukup jauh, berapa lama kamu di sana?"
"Paling lama lima hari," jawabnya.
"Mas, lamaran kita tujuh hari lagi. Kamu jangan terlalu lama pergi jauh," ucap Sabrina.
"Kamu mengkhawatirkan aku?"
"Iya, Mas."
"Kamu tenang saja, sesampainya di sana aku akan sering menghubungimu," janji Arvan.
Sabrina mengangguk. "Kapan kamu akan pergi?"
"Sekarang!"
"Kenapa semalam tidak memberi tahu aku?"
"Tiba-tiba tadi pagi aku mendapatkan kabar," jawabnya.
"Harus 'ya kamu ke sana?" tanya Sabrina lirih.
"Toko yang ku miliki hanya itu, itu semua juga untuk kamu," ucap Arvan menyakinkan.
Sabrina tersenyum tipis. Ia mengangkat wajahnya. "Ponsel kamu harus tetap aktif!"
"Iya, aku janji sering memberi kabar. Ayo, turun!" ajak Arvan. "Nanti sore kamu dijemput sopir," ucapnya lagi.
"Bukankah sopir pribadiku, kamu?"
"Untuk apa, Mas? Aku bisa naik ojek atau bawa motor," ucap Sabrina.
"Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu," ujarnya.
"Mas, berlebihan. Kamu harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar sopir," ucap Sabrina. "Belum lagi mengeluarkan biaya transportasi ke kota A," lanjutnya lagi.
"Sopir, temanku yang gratiskan. Ke kota A dibiayai oleh ayah," ujar Arvan berbohong.
"Ya, sudah kalau begitu. Ingat, Mas! Harus hemat, sebentar lagi kita akan menikah dan ku tak mau aja kamu berutang untuk memenuhi keinginan dan kebutuhanku yang sebenarnya tidak terlalu mendesak," nasehat Sabrina.
"Baik, calon istriku!" ucap Arvan tersenyum.
*
*
Malam harinya, Arvan mengabarinya. Padahal sebelum keberangkatannya, ia mengirimkan pesan pada Sabrina kemungkinan akan sampai sore hari.
"Halo, Mas!"
"Halo, Sabrina. Sinyal di sini sangat sulit, apalagi ada pemadaman listrik. Jadi kemungkinan kita sulit berkomunikasi," ucap Arvan.
"Ponselmu harus tetap aktif," Sabrina mengingatkannya lagi.
"Iya, aku tutup teleponnya. Nanti ku kabari lagi," Arvan pun menutup teleponnya.
Baru saja akan menutup mata, teleponnya kembali berdering. Ia pun mengangkat tanpa melihat nama si penelepon.
"Halo, Mas. Kamu bilang nanti mengabariku," ucapnya.
"Halo, Sabrina. Ini aku!"
Sabrina mendelikkan matanya dan bangkit duduk, ia melihat nomor penelepon tapi tidak tertera namanya.
__ADS_1
"Mas Yudis," ucapnya lirih.
"Kamu masih mengingat suaraku," ucap Yudis tersenyum.
"Ada apa menelepon ku?" tanya Sabrina ketus. Setahun lebih berpisah baru kali ini mantan suaminya menghubunginya.
"Ternyata, nomor telepon kamu masih sama seperti yang dulu," ujar Yudis.
"Tak perlu berbasa-basi, ada perlu apa?"
"Apa benar kamu akan menikah?" tanya Yudis.
"Menikah atau tidaknya bukan urusan kamu, Mas!"
"Jika kabar itu tidak benar. Ada harapanku kembali padamu!" ucap Yudis.
"Tidak ada kata kembali, aku tak mau menikah tanpa restu orang tua," ujar Sabrina.
"Seandainya Mama merestui kita?"
"Tetap tidak mau," jawab Sabrina singkat.
"Apa kamu tidak mencintaiku lagi?" tanya Yudis.
"Entahlah, Mas. Sekarang aku sudah bahagia tanpamu. Jadi, tolong jangan ganggu hidupku lagi!" ucap Sabrina tegas.
"Sabrina, tolong beri aku kesempatan lagi!" pinta Yudis.
"Tidak, Mas. Aku akan segera dilamar, kamu tunggu saja undangan dariku," Sabrina menutup teleponnya dengan ekspresi wajah kesal dan geram.
"Merusak ketenangan hidupku saja!" batinnya menggerutu.
*
Yudis menjambak rambutnya karena kesal mendengar ucapan mantan istrinya itu.
"Kenapa aku belum bisa melupakannya?" gumamnya.
"Sabrina, aku masih mencintaimu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya sebelum pergi bekerja, Sabrina menyempatkan diri untuk sarapan.
"Kapan kamu akan libur, Nak?" tanya Mila pada putrinya.
"Sehari sebelum acara, Bu."
"Oh, Arvan ke mana? Biasanya jam segini dia sudah muncul," ucap nenek.
"Di ke kota A," jawab Sabrina.
"Oh, pantes." Ujar nenek.
"Kamu jangan terlalu capek, Nak. Minum vitaminnya," ucap Mila mengingatkan putrinya yang terkadang abai menjaga kesehatannya.
"Iya, Bu.
"Kamu pergi kerja naik apa?"
"Dijemput sopir temannya Mas Arvan," jawab Sabrina.
"Oh, begitu. Ya, sudah Ibu mau mencuci piring dulu," ucap Mila.
Nenek pun juga meninggalkan meja makan dan keluar mengurus tanamannya.
Sabrina kembali ke kamar mengambil tas dan ponselnya.
"Ibu, Nenek!" teriak Sabrina memanggil.
__ADS_1