Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 25


__ADS_3

"Nak, kamu bilang punya teman. Siapa dia?" tanya Dewi pada Karin.


"Teman yang mana, Tante?"


"Teman yang kamu bilang pernah merebut kekasihmu dulu," jawab Dewi.


"Oh, itu. Kenapa Tante menanyakan itu?"


"Tante tidak mau kamu disakiti juga oleh Arvan," ujar Dewi.


"Aku tidak sanggup menceritakannya, Tante."


"Kenapa?"


"Waktu itu kami bersahabat tapi dia merebut kekasihku," ucap Karin sendu.


"Apa kamu sudah menanyakan alasan dia merebut kekasihmu?"


"Katanya kekasihku sudah bosan denganku dan aku terlalu sibuk dengan karir," jawab Karin. "Padahal aku ingin mengejar cita-citaku sebagai seorang manajer di perusahaan tempatku bekerja," lanjutnya lagi.


"Jadi sekarang temanmu itu di mana?"


"Tante, kenapa bertanya tentang dia?"


"Hmm..itu karena Tante ingin menanyakan langsung kepadanya yang sebenarnya," jawab Dewi.


"Tante, tidak percaya aku!" ucap Karin mulai kesal.


"Tante, percaya kamu. Apa salahnya membuktikan kalau kamu tidak bersalah? Arvan juga menuduh kamu, tapi kami tidak begitu mempercayainya." Jelas Dewi.


"Jadi, Arvan menuduhku selingkuh begitu?" tanya Karin.


"Kenapa kamu bisa menebak itu? Padahal Tante belum ada cerita," ucap Dewi.


"Karena Arvan yang bicara itu kepadaku," ujar Karin.


"Oh begitu, jadi Tante bisa bicara dengan wanita itu. Bagaimana kalau kita bertemu dengannya?"


"Hmm..kalau kita bertemu bertiga mungkin dia takkan mau. Bagaimana jika Tante saja yang bicara?"


"Baiklah, Tante akan bicara. Kamu beri alamatnya," pinta Dewi.


Karin pun memberikan alamat temannya itu, melalui tulisan kertas.


"Tante akan menemuinya saat pulang nanti," ujar Dewi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Pak, kita ke alamat ini!" Dewi menyodorkan secarik kertas pada sopirnya.


Laju kendaraannya pun menuju alamat rumah yang diberikan Karin.


"Aku harap Karin tidak berbohong," ucapnya membatin.


Sesampainya di rumah tersebut, Dewi mengetuk pintu.


"Cari siapa, Bu?" tanya wanita paruh baya.


"Cari Ranti," jawabnya.


"Ada apa dengan anak saya, kemarin seseorang juga mencari dia," ucap wanita itu.


Dewi membuka kacamata hitamnya lalu bertanya lagi. "Seseorang, maksudnya Ibu siapa? Apa dia seorang wanita muda?"


"Iya, sebaya dengan anak saya." Ujarnya.


"Apa saya bisa bertemu dengannya?" tanya Dewi.


"Bisa, Bu. Sebentar saya akan panggilkan dia!"


Tak lama Ranti pun keluar dengan wajah bingung.


"Maaf, anda siapa?"


"Perkenalkan saya Dewi, calon mertua Karin." Jawabnya sambil mengulurkan tangannya.


Ranti membalas uluran tangan wanita paruh baya itu. "Mau apa lagi wanita itu? Tak cukup dia dulu pernah menghancurkan saya," ujarnya.

__ADS_1


"Menghancurkan, bagaimana?"


"Dia yang merebut calon suami saya, kemarin dia mengancam, sekarang dia mengirimkan Tante ke sini!"


"Calon suami bukankah kamu yang merebutnya?"


Ranti tersenyum sinis,"Pintar juga dia membalikkan fakta."


"Apa kalian bersahabat?"


"Tidak, Tante!"


"Katanya kalian berteman?"


"Sejak kapan? Kami hanya bertemu beberapa kali, dia itu temannya mantan calon suami saya."


"Lalu, calon suami kamu bagaimana?"


"Mantan, Tante!"


"Oh iya, maaf."


"Saya tidak tahu, terakhir dia bekerja di toko ponsel yang ada di depan jalan Bunga," ujar Ranti.


"Apa kamu bisa mengantar saya ke sana?"


"Bisa, Tante!"


Ranti pun mengantarkan Dewi bertemu dengan mantan calon suaminya.


"Kenapa Tante ingin mengetahui masa lalu Karin?" tanya Ranti.


"Saya tidak ingin anak kami menikah dengan orang yang salah," jawab Dewi.


Sesampainya di sana, Dewi menemui seorang pria yang ditaksir sebaya dengan Karin.


"Ranti, kamu ke sini?"sapanya dengan wajah senang.


"Aku ke sini untuk mengantar Tante Dewi menemui kamu," jawabnya ketus.


"Kalau perlu ada apa, Tante?" tanya Dedi.


"Oh, wanita licik itu," ucapnya.


"Licik?" Dewi mengernyitkan keningnya.


"Iya, dia meninggalkan aku saat bangkrut. Wanita itu yang membuat hubungan aku dan Ranti berantakan," jelasnya.


"Apa kamu dan Karin berteman?"


"Iya, awalnya kami berteman baik. Saya sukses menjadi pengusaha kafe tapi ketika usaha harus tutup dia meninggalkanku."


Ranti hanya menyunggingkan senyumnya dan menatap sinis mantannya itu.


"Jadi, Tante ingin menikahkan anak anda pada wanita itu!"


"Iya, tapi saya harus berpikir ulang!" ujar Dewi.


"Sepertinya harus, Tante!" ucap Dedi.


"Terima kasih infonya," ujar Dewi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sabrina pun kembali ke kota, tempat ia mencari pekerjaan. Ia pun memasuki toko seperti biasanya.


"Bu Suci!" panggil salah satu karyawan.


Sabrina pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah karyawan yang memanggilnya.


"Ibu dipanggil pemilik toko yang baru," ucapnya.


"Pak Arvan ke mana?"


"Beliau tidak di sini dan dia bukan pemilik toko ini," jelasnya.


"Apa!" batin Sabrina terkejut.

__ADS_1


Sabrina pun melangkah ke ruangan khusus tempatnya ia bekerja.


"Selamat pagi, Suci!" sapa pemilik toko yang baru, dia seorang wanita muda.


"Selamat pagi juga, Bu!"


"Perkenalkan nama saya Wita, pemilik toko yang baru."


"Bagaimana bisa?"


"Pak Arvan sudah menjualnya kepada saya," jawab Wita.


"Dijual? Penjualan di toko ini cukup memuaskan. Bagaimana mungkin?"


"Saya tidak tahu alasan Pak Arvan menjualnya. Kamu bisa tanyakan langsung kepadanya," ucap Wita.


Sabrina hanya diam dan tersenyum tipis.


"Saya mohon kerjasamanya, bekerjalah seperti saat bersama Pak Arvan. Gaji kamu tetap sama," jelas Wita.


"Baik, Bu. Terima kasih!" ujar Sabrina.


*


"Sayang, kapan kita menikah?" Karin bergelayut manja di bahu Arvan yang sedang bermain ponsel.


"Nanti aku bicarakan, apa kamu siap jika kita tidak memiliki apa-apa?" tanya Arvan pada Karin dengan lembut.


"Maksud kamu apa?" tanya Karin balik bertanya.


Ponsel Arvan berdering tertera nama Sabrina.


Karin berdecak kesal ketika wanita itu menelepon Arvan. "Dia lagi!" ucapnya jengkel.


"Aku angkat dulu," ucap Arvan.


"Ya," jawab Karin ketus.


"Halo, Sabrina!" ucap Arvan.


"Halo, Mas. Apa benar kamu bukan pemilik toko di kota ini?" tanyanya.


"Iya, aku sudah menjualnya untuk menutupi utang. Kami tak sanggup harus membayar bunga bank dan cicilan rumah orang tuaku," jawab Arvan.


"Astaga, Mas. Aku turut prihatin, bagaimana dengan toko yang lainnya?"


"Hanya toko yang ada di kota ini dan kota A saja yang masih milikku," jelas Arvan lagi.


"Mas, terima kasih walau tidak menjadi pemilik toko tapi tetap memberikan aku kesempatan bekerja di sini. Semoga suatu hari kamu bisa melebarkan usaha ini lagi," ucap Sabrina.


"Terima kasih. Oh ya, nanti jika aku menikah kamu harus datang."


"Iya, Mas!" ucap Sabrina lalu menutup teleponnya.


Karin yang mendengar kata-kata utang dan toko di tutup mulai bingung.


"Arvan, kamu bilang kita akan menikah pada Sabrina." Ucap Karin.


"Iya, bukankah kamu ingin kita menikah?"


"Tapi, kamu bilang kalau toko di sana sudah dijual?" tanya Karin.


"Iya, Karin. Aku harus menjual 8 toko," jawab Arvan.


"Kenapa?" tanya Karin mulai panik.


"Aku harus membayar bunga bank dan membayar cicilan rumah orang tua ku."


"Jadi, selama ini rumah yang ditempati Tante Dewi dan Om Fandi belum lunas?"


"Belum Karin, kamu mau 'kan kita menikah dengan cara sederhana. Aku tidak sanggup memberikan kamu mahar yang besar," ucap Arvan dengan wajah sedih.


Karin menggaruk tengkuknya. "Hmm, bagaimana ya? Kamu tanyakan saja pada orang tuaku," ucapnya.


"Kapan aku bisa bertemu dengan mereka?"


"Oh ya, Arvan. Bagaimana kalau kamu pinjam uang kepada papaku saja?"

__ADS_1


"Aku tidak bisa, ku tak mau terutang budi. Lagian juga baru dua bulan lalu kami melunasinya, jika berutang lagi takut dua toko yang lain tutup juga," Arvan berusaha memberikan alasannya walau harus berbohong.


"Nanti aku bicarakan pada Papa dan Mama," ucap Karin ragu.


__ADS_2