Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 38


__ADS_3

Hari bahagia yang ditunggu pun tiba, di hotel mewah menjadi tempat saksi penyatuan cinta dua anak manusia. Senyum indah terpancar dari bibir sepasang pengantin yang duduk di pelaminan. Walau, beberapa jam yang lalu terasa gugup dan grogi. Arvan mampu mengucapkan janji suci pernikahan di depan sang ayah mertua.


"Akhirnya, aku duduk di sini juga bersamamu!" seulas senyum terbit dari bibir Arvan kepada Sabrina.


Wanita itu membalas senyumannya dan berkata," Terima kasih!"


"Untuk apa?"


"Karena masih setia menunggu dan menerimaku," jawabnya.


Arvan tersenyum dan mengecup punggung tangan istrinya.


Para tamu undangan mulai berdatangan dari teman hingga rekan bisnis dan tidak lupa barisan para mantan.


Arvan juga mengundang Karin, wanita itu datang bersama Michael. Pria yang sempat menjadi mantan kekasih istrinya ketika sekolah.


"Selamat 'ya, tapi ini terlalu mewah tempatnya. Pasti ini semua milik keluarga besar kamu," ucap Karin pongah pada Arvan.


"Ya, kami hanya meminjamnya." Arvan berkata bohong dan tetap tersenyum.


"Selamat, ya!" Michael memberikan ucapan kepada kedua pengantin dan dibalas dengan ucapan terima kasih.


"Nanti kami menikah, jangan lupa datang!" ucap Karin.


"Ya, kami akan datang!" jawab Arvan.


*


"Pak, tunggu dong. Jangan buru-buru, riasan wajah saya masih berantakan," Nora menunjuk wajahnya yang belum sempurna riasannya.


"Cepatan, lama banget. Beda sekali dengan Sabrina," gerutu Yudis.


Nora tertawa mendengar keluhan atasannya itu. "Makanya, Pak. Kemarin dipertahankan, sekarang menyesalkan ditinggal nikah," celetuknya.


"Sudah buruan!" perintah Yudis.


Nora pun memperbaiki riasannya karena tak sempat melakukannya karena perjalanan dia cukup jauh, dari kota M ke kota B hanya untuk menemani atasannya kondangan mantan istri.


Akhirnya selesai, mereka pun turun dari mobil. Yudis menggenggam tangan kiri Nora. "Berpura-puralah kita seperti sepasang kekasih," bisiknya.


Nora mengacungkan jempol kanan tanda setuju.


"Wah, mewahnya. Beruntung sekali mantan istri Bapak mendapatkan suami baru, pasti dia orang kaya raya," puji Nora memuji dekorasi pelaminan.


Yudis berdecak kesal mendengar pujian Nora.


"Bapak cemburu, ya?" ledek Nora.


"Ya, saya cemburu dia memilih pria lain," jawabnya ketus.


Nora terkekeh geli. "Kita mau makan dulu atau menemui pengantinnya?"


"Temui mereka," jawabnya.


"Tunggu, Pak!"


"Ada apa lagi?" Tanya Yudis kesal.


"Bapak sudah siap?"


"Siap apa?" Yudis mengerutkan keningnya.


"Siapkan hati dan jiwa, nanti takutnya Bapak marah-marah dan ngamuk," ucap Nora terkekeh.


"Kau ini!" menatap geram sekretarisnya itu.

__ADS_1


"Iya, maaf!" Nora tersenyum semanis mungkin.


Mereka pun berjalan menghampiri kedua pengantin.


"Selamat untuk kalian berdua," ucap Yudis pada keduanya.


"Terima kasih, Mas." Sabrina tersenyum, diikuti oleh Arvan yang juga mengungkapkan sama.


"Bahagiakan dan sayangi dia, jika kau tak sanggup aku akan merebutnya kembali," ucap Yudis.


"Hah!" Nora menatap heran atasannya.


"Aku akan selalu membahagiakan dia dan ku pastikan kau tak bisa mengambilnya lagi," ujar Arvan tersenyum menatap istrinya lalu melihat wajah Yudis.


Nora yang berada disampingnya Yudis hanya tersenyum. Dia juga mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.


*


"Pak, kita makan dulu. Saya lapar," ucap Nora menarik lengan Yudis.


"Ya sudah, kamu makan sana!"


"Tapi, jangan tinggalkan aku sendirian!" mohonnya.


"Saya nunggu di sana!" Yudis menunjuk meja khusus tamu.


Yudis sesekali menatap wajah mantan istrinya dari kejauhan, rasa penyesalan mengusik hatinya. Bodohnya dirinya tidak mampu menyakinkan istrinya itu dan tak bisa bersikap tegas pada mama dan kakaknya.


Nora masih sibuk memilah makanan, karena terlalu banyak hidangan yang tersedia sampai bingung memilihnya.


Tanpa sengaja lengannya disenggol seorang pria. Nora melihat sosok yang tak sengaja menyenggolnya.


"Maaf!" ucap pria itu.


"Hei, bukankah kamu wanita yang menabrak mobilku?" tanyanya.


Nora berusaha mengingat. "Oh, ya. Saya ingat, di kota M."


"Iya, kamu di sini juga. Apa salah satu dari mereka keluargamu?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Saya ke sini untuk menemani bos," jawabnya.


"Jauh-jauh ke sini?" Michael menatap heran.


"Pengantin wanita itu, mantan istrinya." Jawab Nora.


"Oh, begitu."


"Kalau kamu sendiri, kekasihnya mana?" Nora melihat ke kanan dan kiri Michael.


"Lagi diujung sana," tunjuknya. "Ke sini pun menemani kekasih saya, kebetulan juga pengantin pria mantan pacar Karin dan yang wanita itu mantan pacarku."


"Wah, kenapa semua kebetulan sekali?" Nora menggaruk pelipisnya walau tak gatal.


"Entahlah." Michael menaikkan kedua bahunya.


"Hmm.. sepertinya saya harus pergi, takut kekasih anda marah-marah. Permisi!" pamit Nora meninggalkan Michael. Pria itu menatap punggungnya dari kejauhan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arvan masih tidur dengan posisi memeluk tubuh istrinya dari belakang, tangannya enggan beranjak. Pertempuran panas yang mereka lakukan membuat pria itu kelelahan ditambah lagi seharian kemarin harus berdiri dan menyapa tamu undangan.

__ADS_1


Sabrina mengerjapkan matanya mendengar bunyi ponselnya di atas nakas. Ia meraihnya dan membukanya. Tertera beberapa panggilan telepon dari ibunya dan membaca pesan darinya. Ia menyingkirkan tangan suaminya dari atas tubuhnya.


Sabrina memiringkan posisi tubuhnya menghadap wajah suaminya. "Mas, bangun! Ibuku menyuruh kita untuk turun," ucapnya lembut.


"Bilang pada mereka, sarapan duluan saja. Kita nanti menyusul," ucap Arvan tampak membuka matanya.


"Mas, aku segan bilangnya." Ujar Sabrina.


"Kamu kirimkan saja pesan," Arvan malah menarik tubuh istrinya dan memeluknya erat.


"Mas, kita bisa lanjutkan lagi nanti di rumah!" bisiknya genit.


Arvan membuka matanya lalu mencium pipi istrinya. "Aku tagih janjimu nanti," ucapnya.


Sabrina tersenyum, ia pun turun dan membersihkan diri. Selesai ia mandi menyusul suaminya.


Mereka pun turun menghampiri keluarga dan kerabat yang telah menunggu.


Sabrina tersipu malu saat mendapatkan godaan dari para kerabat wanita suaminya.


Mereka pun menikmati sarapan bersama dengan keluarga besar suaminya beserta kedua orang tua kandung, nenek dan ibu sambungnya Sabrina.


Siang harinya mereka kembali ke rumah karena semalam mereka menginap di hotel.


Arvan mendekap tubuh istrinya dari belakang dan meletakkan dagunya di ceruk leher wanita yang ia nikahi kemarin.


"Kapan kita memulainya lagi?" bisiknya ditelinga istrinya.


"Mulai apa?" Sabrina masih sibuk dengan ponselnya.


"Yang kamu bilang tadi pagi," ucap Arvan.


"Ini masih siang, sabarlah dikit." Ia masih senyum-senyum membalas pesan dari para sahabat dan teman-temannya.


"Kamu balas pesan siapa sampai senyum tak jelas begitu?" Arvan berusaha melihat isi pesan yang ada di ponsel istrinya.


"Dari teman aku, Mas." Jawabnya.


"Itu nanti saja, layani aku dulu." Arvan menciumi leher istrinya.


Sabrina meletakkan ponselnya dan membalikkan tubuhnya. "Apa kamu tidak lapar?" tanyanya mengalihkan permintaan suaminya.


"Ya, aku lapar."


"Kita makan, yuk!" ajaknya. "Ini waktunya jam makan siang," ucapnya.


"Tapi, aku mau makan kamu!" Arvan mengecup bibir dan masih mengalungkan tangannya ke pinggang istrinya.


"Nanti malam saja," ucapnya.


"Kelamaan," ujar Arvan.


"Mas!" Sabrina menyipitkan matanya.


"Baiklah, kita makan!" Arvan melepaskan pelukannya.


"Aku masih menunggu penjelasan yang kamu janjikan sebulan yang lalu," bisik Sabrina mengingatkan suaminya.


"Nanti ku ceritakan. Ayo, makan!" Arvan menarik tangan istrinya turun ke lantai bawah untuk makan siang.


Kedua mertuanya sudah menunggunya, mereka tersenyum menyambut anggota baru di rumahnya.


Sabrina pun membalas senyuman orang tua suaminya.


Dia bahagia keluarga suaminya yang sekarang menerimanya tanpa melihat harta, jabatan dan tentunya statusnya sebagai seorang janda.

__ADS_1


__ADS_2