
"Mama mau tahu sebenarnya?" tanya Stella.
Linda mengangguk.
"Yudis yang tidak subur!"
"Tidak mungkin," ucap Linda tak percaya.
Stella menunjukkan selembar kertas menunjukkan kalau ia subur. "Asal Mama tahu Sabrina sudah hamil, aku melihatnya sedang belanja perlengkapan bayi dan perutnya tampak membesar," ucapnya secara lengkap.
Kepala Linda terasa pusing, pandangannya gelap. Ia memegang dadanya dan akhirnya pingsan.
"Mama!" teriak Stella. Ia berusaha memegang tubuh Linda yang lemas.
Hendi yang mendengar berlari menuju asal suara. "Kenapa bisa begini?" Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam kamar. "Ma, bangun!" ia menepuk pipi istrinya.
"Mama Linda, ayo dong bangun!" Stella menggoyangkan tubuh wanita paruh baya itu.
"Telepon Dokter!" titah Hendi.
"I..iya, Pa."
Rio dan Yudis yang baru pulang kerja segera ke kamar saat mendengar suara memanggil nama Linda.
"Kenapa dengan Mama?" tanya Yudis.
"Papa juga tidak tahu, waktu Papa lihat Mama kamu sudah pingsan. Itu pun karena Stella berteriak," tutur Hendi.
Yudis mengarahkan tatapan tajam pada istrinya.
Dokter pun akhirnya datang, kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah keluarga Yudis.
Stella tampak panik dan ketakutan, ia menggigit ujung kukunya dan terlihat mondar-mandir di depan pintu kamar.
"Kak Stella, bisa duduk tidak? Jangan bikin tambah panik," keluh Rio.
Stella mendudukkan dirinya di kursi, suaminya memandang tajam ke arahnya. Ia menundukkan kepalanya.
Selesai memeriksa kondisi Linda, Dokter pun menyampaikan kalau ia baik-baik saja. Dia hanya syok saja.
"Apa yang kamu bicarakan kepada Mama hingga dia menjadi syok?" Yudis mengintrogasi istrinya itu di dalam kamar.
Stella hanya diam, di meremas ujung bajunya dengan kepala menunduk.
"Stella, kau dengar apa yang ku tanya?"
Istrinya hanya bergeming.
"Stella!" panggil Yudis.
"I..iya."
"Kenapa Mama bisa pingsan?"
Stella memberikan selembar kertas hasil pemeriksaan yang beberapa hari ini ia lakukan.
Tangan Yudis gemetaran, tubuhnya lemas, ia terduduk di ujung ranjang dengan wajah pucat.
"Jadi aku?" Yudis bertanya pada dirinya.
__ADS_1
"Iya, harusnya kamu juga tes kesuburan!" ucap Stella hati-hati. "Mantan istrimu kini mengandung," lanjutnya lagi.
Yudis mengusap wajah dengan kasar. "Jadi ini yang membuat Mama syok?"
"Iya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini adalah hasil keputusan sidang perceraian antara Michael dan Karin. Pria itu menggunakan mobil keluaran terbaru, ia sengaja menunjukkan pada mantan istrinya.
Tak ada rasa sedih dan penyesalan berpisah dengan Karin. Wanita yang dulu begitu ia cintai memilih meninggalkan dirinya dan putrinya. Istri yang tak pernah ada disaat suaminya lagi kesulitan.
Michael tersenyum ramah menyapa mantan istrinya yang didampingi oleh kedua orang tuanya, sedangkan dirinya hanya ditemani oleh pengacaranya.
Hari ini mereka resmi berpisah, hak asuh anak jatuh pada Michael karena Karin menolak mengurusnya. Entah di mana hati nuraninya sebagai seorang ibu yang tega meninggalkan putrinya yang masih balita.
Tak ada obrolan yang terjadi diantara keduanya, setelah keputusan Michael memilih menghindar dan meninggalkan gedung pengadilan agama.
"Michael punya mobil baru," ucap Rindu.
"Sudahlah, Ma. Aku bisa mendapatkan begitu dari Darwin," ujarnya.
"Yakin kalau pria yang sering kamu sebut itu orang kaya?" tanya Rindu.
"Aku yakin, Ma. Tas dan jam tangan bermerek itu semua pemberiannya," jawab Karin bangga.
"Semoga saja, Mama harap kau tidak menyesal dengan keputusanmu," ucap Rindu.
"Aku begini juga demi kalian, apa Mama dan Papa mau jadi miskin?" tanya Karin.
"Ya, tidak mau."
*
*
"Apa boleh Papa masuk?" Hendi meminta izin pada putranya.
"Boleh, Pa." Yudis mempersilakan Hendi masuk ke dalam kamarnya. "Ada apa, Pa?" tanyanya.
"Kamu yakin dengan keputusanmu berpisah dengan Stella?"
"Ini keputusan kami bersama," jawab Yudis.
"Papa tahu Stella begitu menyukaimu," tutur Hendi.
"Tapi aku begitu mencintai Sabrina, Pa."
"Jadi itu alasan kalian memutuskan berpisah?" tanya Hendi.
"Bukan itu saja, Pa."
"Apa saja?"
"Aku tidak subur, Pa."
Hendi yang mendengarnya terkejut, ia berusaha tetap tenang. "Apa kalian sudah memeriksanya?"
"Stella sudah dinyatakan subur dan Sabrina kini hamil," jawabnya.
__ADS_1
"Tapi kamu bisa berobat, Yudis."
"Bisa, Pa. Tapi percuma memaksakan pernikahan ini yang ada Stella semakin stress. Dia pantas bahagia," ucap Yudis.
"Tapi kamu harus ingat, Sabrina sudah menikah dan akan segera memiliki anak. Jangan ganggu hidupnya lagi. Bangkit dan lupakan dia!" Hendi memberi nasehat. "Perpisahanmu dan Sabrina juga karena hal bodoh yang kamu perbuat," ucapnya lagi.
"Tapi, Pa."
"Lupakan dia, kau hanya dibayangi rasa bersalah. Jalani hidup kalian masing-masing," ucap Hendi tegas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sidang perceraian antara Yudis dan Stella dilaksanakan, walau hakim sudah mengumpulkan mediasi tapi kedua belah pihak tetap ingin berpisah.
Linda juga hadir bersama suaminya mendampingi putranya, kali kedua Yudis harus mengalami gugatan perceraian. Mamanya berharap dia bisa bersama lagi tapi Stella tetap ingin berpisah.
Stella didampingi kedua orang tuanya dan Gunawan, pria yang selalu dihubunginya untuk mencurahkan isi hatinya.
Stella tetap menginginkan perpisahan bukan karena mereka tak memiliki keturunan. Tetapi karena perjanjian yang ia buat kepada Yudis. Selain itu, pria yang ia cintai itu tak membukakan pintu hatinya.
"Stella, Mama harap kamu bisa kembali lagi dengan Yudis." Wanita paruh baya itu memeluk mantan menantunya dengan linangan air mata, ia tak kuasa harus melihat putranya bercerai dan kenyataan yang sebenarnya kalau anaknya itu sulit mendapatkan keturunan.
Stella tersenyum tipis, matanya yang sembab lelah menangis harus ia tutupi dengan kacamata hitam. "Mungkin kami tidak berjodoh, sekeras apapun aku mempertahankan Yudis. Hatinya tetap untuk orang lain," ucapnya.
Yudis melihat mamanya berbicara dengan mantan istrinya, ia pun menghampirinya. "Ma, aku ingin berbicara berdua dengan Stella."
"Ya, baiklah. Mama akan pergi," ucap Linda tersenyum.
"Ada apa?" tanya Stella setelah mantan mertuanya itu menjauh.
"Aku mau minta maaf, semoga setelah ini kamu bisa menemukan kebahagiaanmu," jawab Yudis.
"Oh, tentunya aku akan mencari kebahagiaaku. Percuma mempertahankan sesuatu yang tidak bisa menjadi milikku. Lebih baik hidup bersama dengan orang mencintai kita," ucap Stella.
"Sekali lagi aku minta maaf," ujar Yudis.
"Ya, ku harap kau bisa keluar dari bayangan masa lalu.
Karena bayanganmu itu juga sudah bahagia," ucap Stella lagi. "Hemm, tidak ada lagi yang dibicarakan?" tanyanya.
"Tidak," jawab Yudis.
"Aku harus pergi. Selamat tinggal," ucap Stella menahan air matanya agar tidak terjatuh lagi.
Yudis memandangi punggung mantan istrinya itu dari jauh. Seorang pria menyambut Stella dengan wajah bahagia dan tersenyum.
"Kamu mau langsung pulang atau jalan-jalan?" tanya Gunawan.
"Jalan-jalan."
"Aku akan menemani kamu seharian ini," tawar Gunawan.
"Terima kasih," ucap Stella.
"Bagaimana kalau kita ke pantai? Ajak juga orang tuamu."
"Boleh," Stella mengangguk.
"Semoga dengan kita berlibur, hatimu tidak gundah lagi," ucap Gunawan.
__ADS_1
"Sekali lagi, terima kasih."