Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 69


__ADS_3

"Apa kamu kemarin pergi bertemu dengan Keluarga Saskia?" Linda bertanya saat Yudis baru saja keluar kamar.


"Iya, Ma!"


"Mama sudah memperingatkan kamu, jangan ke sana!"


"Kenapa Ma?" Yudis menatap curiga. "Oh, jangan-jangan Mama mengenal mereka dan punya masa lalu!" tuduhnya.


Wajah Linda mendadak pucat.


"Kenapa diam, Ma?"


Linda berdecak kesal dan memilih pergi tanpa menjawab pertanyaan.


"Mama aneh!" batinnya.


Seluruh keluarga sudah berkumpul di meja makan. Linda hanya diam biasanya dia akan mengoceh tak jelas, ada saja yang akan dimarahinya.


"Mama, kok tumben tidak mengomel hari ini?" Rio selalu saja mencari cara agar mamanya itu ngerocos.


Linda hanya diam dan terlihat ketus.


"Oh, Mama sakit gigi 'ya," celetuknya.


"Rio!" tangannya disenggol sang istri.


"Aku sudah kenyang," Yudis pun beranjak dari kursi, ia berangkat kerja tak lupa berpamitan pada kedua orang tuanya.


"Kak Yudis juga, ada apa 'sih dengan mereka pagi ini?" gumam Rio.


Hendi juga memperhatikan tingkah istri dan anaknya itu dengan heran. Sejak perceraiannya dengan Sabrina, putranya itu tampak menjadi sosok yang dingin dan ketus, jarang tersenyum. Tapi hari ini ia melihat istrinya berbeda, cenderung lebih diam. "Harusnya aku bersyukur dia bisa diam juga," batinnya.


*


*


"Pa, ada waktu?" Yudis bertanya pada Hendi ketika sore hari sepulang kerja.


"Ada," Hendi menjawabnya.


"Kita ngobrol di luar saja!" Yudis membuka pintu mobil. "Ayo, Pa!" ajaknya.


Hendi pun mengikuti langkah sang anak masuk ke dalam mobil.


"Mau ke mana mereka?" Linda sedari tadi melihat dari kejauhan percakapan keduanya.


*


"Mau bicara apa sampai kita harus ke sini?" tanya Hendi.


"Kalian menikah tahun berapa?"


"Eh, hmm. Kenapa bertanya seperti itu?"


"Papa tinggal jawab saja."


"Ya, kami menikah sebelum kakakmu lahir," jawab Hendi berbohong.


"Apa Papa tahu masa lalu Mama?"


"Hah!"


"Papa pasti tahu."


"Ehmm, Nak. Untuk apa 'sih kamu bertanya masa lalu Mama?"


"Seseorang mengetahui masa lalu Mama," ia sengaja asal bicara.


"Siapa dia orangnya?"


"Papa yakin tidak kenal?"


Hendi menghembuskan nafasnya. "Sebaiknya kita pulang saja, mungkin mereka iri pada kehidupan Mama kamu."Ia berusaha menutupi sesuatu.

__ADS_1


"Pa, sikap Mama padaku berbeda. Ku tidak yakin kalau aku ini bukan anak kandungnya," Yudis berbicara tanpa menatap Hendi.


"Kau anak kandungnya dan aku papamu, sudahlah kita jalani hidup ini tanpa melihat ke belakang," Hendi mengelus bahu putranya.


Yudis pun akhirnya pulang, kali ini ia gagal mendapatkan informasi tentang masa lalu Linda.


"Aku jadi kepikiran ucapan Pak Arman tentang masa lalu Mama?" batinnya.


*


*


*


"Tadi sore, kalian ke mana?" Linda penasaran apa yang diobrolkan keduanya.


"Kami pergi ke danau pinggir kota," jawabnya.


"Tumben. Yudis bertanya apa pada Papa?"


"Kenapa kamu begitu penasaran tentang obrolan kami?" Hendi menatap curiga.


"Pa, Yudis tadi bicara apa?" Linda menunjukkan wajah memohon.


"Dia bertanya tentang masa lalu kamu!"


"Pasti pria brengsek itu yang membuat anakku penasaran!" batin Linda geram.


"Ma, apa kita katakan saja sejujurnya?"


"Jangan, Pa!"


"Ma, Yudis berhak tahu. Dia juga sudah dewasa," tutur Hendi.


"Aku tidak mau, Yudis menjauhiku!"


"Papa yakin Yudis tidak seperti itu!"


"Pria itu nanti akan mengambilnya!" ucap Linda tanpa sadar.


"Belum, Pa. Cuma 'ya aku takut saja!" Linda terbata.


"Kamu tidak perlu takut, Yudis pasti tahu. Siapa diantara kalian yang salah," ucap Hendi.


Linda memeluk tubuh suaminya dan menangis. "Entah kenapa dia datang lagi?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini penyambutan bayi Arion, seluruh keluarga begitu antusias menunggunya di rumah karena belum sempat menjenguk di rumah sakit.


Keluarga besar Sabrina dan Arvan berkumpul, kecuali Aldi yang tak bisa hadir karena harus melanjutkan pendidikannya dan ia tak ingin terlalu banyak libur.


"Mas, aku bahagia banget!" Sabrina menghapus sudut matanya dengan jemarinya. "Mereka semua menyayangiku," ia mendekap tubuh suaminya.


"Ini pantas kamu dapatkan," Arvan mengecup keningnya.


Seluruh keluarga berebut untuk menggendong bayi Arion. Namun, karena ia menangis akhirnya mereka harus mengalah.


Arion hanya tenang ketika sang ibu mendekapnya dan menyusuinya.


"Dia hanya mau denganmu!" ucap salah satu keluarga yang kecewa bayi Arion menangis digendongnya.


Semua tertawa mendengar keluhan salah satu diantara mereka. "Arion, pemilih. Jadi ia tak mau sembarang orang menggendongnya," celetuk yang lain.


*


*


"Michael!"


"Ada apa?" tanyanya ketus.


"Aku ingin mengajak Kara jalan-jalan," jawabnya.

__ADS_1


"Kau minta izinlah pada Mama Tissa."


"Kenapa harus dengan Tante Tissa?"


"Karena selama ini dia yang mengurus Kara."


"Tapi kau papanya?"


"Semua urusan Kara aku serahkan pada Mama Tissa."


Akhirnya Karin memberanikan diri untuk menemui Tissa untuk meminta izin mengajak Kara keluar.


"Tante, apa boleh aku membawa putriku jalan-jalan?" pintanya.


"Boleh, tapi selama bersamamu. Kara harus dengan pengasuhnya dan sopir keluarga kami," Tissa takut cucunya dibawa kabur mantan menantunya.


"Kalau bersama Michael, boleh?" Karin sengaja agar ia dekat kembali dengan mantan suaminya itu.


"Aku tidak sempat," Michael menjawabnya dengan cepat.


"Bagaimana Karin?" tanya Tissa.


"Tidak apa-apa, Karin ikutin syarat dari Tante berikan!"


*


Terpaksa kali ini Karin mengajak jalan-jalan putrinya tanpa Michael.


"Bu, mau ke mana?" pengasuh melangkah dengan cepat karena Karin menggendong Kara berjalan terburu-buru sambil melirik ke kanan dan ke kiri.


"Mau ngajak anakku main," jawabnya ketus.


"Tapi kenapa Ibu berjalan seperti tergesa-gesa?"


"Oh, itu. Aku lagi mencari toilet," Karin berkelit.


"Toilet sudah kita lewati."


"Oh, ya. Aku tidak nampak, ya sudah ku ke sana!" Karin memberikan Kara pada pengasuhnya dan berpura-pura ke toilet.


"Huh!"


Pengasuh Kara masih berdiri di depan toilet, tak lama Karin keluar. "Saya mau ke toilet juga. Bu Karin jangan ke mana-mana?"


"Iya."


Pengasuh Kara masuk ke dalam toilet. Karin melirik sopir keluarga Michael, pria itu sedang mengangkat telepon seseorang.


Karin berjalan pelan-pelan sesekali melirik pria itu, setelah menjauh. Ia melangkah dengan cepat, menghindari pengasuh dan sopir.


Ia menyetop taksi dan berlari membawa putrinya. Karin sengaja tidak membawa mobil, agar nanti ia bisa diantar Michael pulang. Ternyata kenyataannya berbeda mantan suaminya menolak pergi bersamanya akhirnya ia merubah taktiknya.


Pengasuh Kara keluar dari toilet dan mencari-cari ibu dan anak itu. "Ke mana mereka?" wajahnya tampak ketakutan dan panik.


"Mana Bu Karin?" tanya sopir.


"Aku juga mau tanya sama kamu!"


"Gawat, kita bakal dimarahi Bu Tissa!" ungkap sopir.


"Cepat kita cari sebelum mereka jauh!" pengasuh Kara menuruni tangga, menunjukkan foto ibu dan anak itu pada pengunjung mall. Ia sengaja mengambil keduanya saat asyik bermain mandi bola, itu untuk menjaga-jaga ternyata hal yang tak diinginkannya terjadi.


*


"Bagaimana ketemu?" Sopir bertanya saat mereka bertemu diparkiran mobil.


"Tidak, aku rasa dia sudah membawa kabur Nona kecil!"


"Aku akan menelepon Pak Michael.


Michael yang sedang rapat harus menghentikan sementara percakapannya. Karena ponselnya berdering berkali-kali.


Michael mengeraskan rahangnya, saat sopir mengatakan kalau Kara dibawa kabur oleh Karin.

__ADS_1


"Kalian pulanglah, biar aku yang menemuinya!" titah Michael.


Michael kembali bergabung dengan beberapa staf kantornya. "Maaf semuanya, rapat untuk sementara kita tunda!" ia keluar ruangan dan melangkah terburu-buru.


__ADS_2