
Apa kabar Karin?"
"Kau!" Tubuh Karin bergetar, ia berusaha tenang dengan cepat ia menghidupi mesin motornya dan pergi.
Pria itu menatapnya dari kejauhan dengan tersenyum jahat.
Karin mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, ia takut pria yang membuat dirinya trauma mengikutinya.
Karena terburu-buru, motornya di senggol sebuah mobil mewah. Hal itu membuat Karin terjatuh, beruntung ia tak mengalami luka serius.
Pria pengemudi mobil mewah itu pun turun dan melihat pengendara motor yang terjatuh. "Apa kamu baik-baik saja?"
"Saya baik-baik saja, maaf karena terburu-buru saya tidak melihat mobil anda!" jawab Karin mengaku salah.
Ardan memandangi wanita yang ada didepannya itu.
"Bukankah kamu karyawannya di kantor Pak Yudistira?"
"Dari mana anda tahu?"
"Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar?"
"Maaf, saya harus segera pulang. Putri saya sudah menunggu, sekali lagi saya minta maaf."
"Hmmm... baiklah. Tapi lain waktu kamu harus bisa menemani saya makan," ucap Ardan.
"Saya tidak bisa berjanji, berapa saya harus mengganti biaya kerusakan mobil anda?"
"Kamu tidak perlu mengganti, ini hanya rusak sedikit," jawab Ardan.
"Kalau begitu, terima kasih. Sekali lagi maaf," Karin pun melajukan motornya menuju rumahnya.
Sesampainya di halaman rumahnya, ia menarik nafas dan berusaha tenang. "Aku tidak boleh terlihat panik, Mama dan Papa pasti akan khawatir," ucap Karin dalam hati.
Karin pun memasuki rumahnya, ia berusaha tersenyum. Ia pun menyapa putrinya, "Mama bawa sesuatu untukmu!" Ia memberikan mainan dan baju bergambar kartun anak-anak.
"Maacih, Ma." Kara memeluk Karin dengan tersenyum senang.
"Sama-sama, sayang. Kamu selama Mama tinggal tidak rewel, kan?" tanya Karin.
"Kara anak yang baik, selama kamu kerja dia bermain dengan kami," sahut Roy.
"Baguslah, Mama lega jika harus meninggalkan kamu kerja," ucap Karin. "Mama mau mandi, setelah ini kita makan 'ya!" ucapnya lagi. Karin pun pergi ke kamarnya.
Ponselnya berdering dengan senang ia menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Karin. Bagaimana dengan Kara?"
"Dia baik-baik saja, kamu tak perlu khawatir."
"Bagaimana kabarmu?"
"Aku juga baik, kamu?"
"Aku baik, mungkin seminggu lagi ku ke sana untuk menjemput Kara," jawab Michael.
"Iya, Michael. Kara bersamaku setiap hari juga tidak masalah," ucap Karin.
"Mama pasti akan begitu merindukan Kara," ujar Michael.
"Ya, aku mengerti selama ini Mama Tissa yang mengurusnya. Tapi, kamu tenang selama denganku dia baik-baik saja," ucap Karin.
__ADS_1
"Ya, sudah kalau begitu. Aku merindukanmu, Karin!"
"Kau ini!" ucap Karin membuat Michael tertawa diujung telepon. "Aku mau mandi, bisakah kau menutup teleponnya!"
"Baiklah, sampai jumpa!" Michael pun menutup teleponnya.
...****************...
"Karin, ada yang memberikan kamu bunga," Ria memberi tahu temannya itu.
"Bunga? Dari siapa?"
"Aku tidak tahu," jawab Ria.
Karin pun memandangi bunga tersebut. "Tidak ada pengirimnya," ucapnya lirih.
"Siapa pengirimnya?" tanya Ria penasaran.
"Tidak ada namanya," jawab Karin. "Siapa yang meletakkan bunga ini di meja kerjaku?" tanya Karin balik.
"OB."
Karin pun mencari office boy yang meletakkan bunga di mejanya.
"Kalau saya boleh tahu, siapa yang mengirimkan bunga ini?" tanya Karin pada OB.
"Tadi yang memberikan bunga ini seorang kurir, Bu."
"Oh, begitu ya. Kalau begitu terima kasih," ucap Karin.
"Ya, Bu."
Karin kembali ke meja kerjanya, ia meletakkan bunga tersebut di vas bunga yang ada di mejanya.
"Kau ini, memangnya aku selebritis," sanggah Karin. Ria pun tertawa melihat wajah kesal temannya.
Siang harinya, Karin dan Ria menikmati makan bersama di sebuah warung nasi tak jauh dari kantornya.
"Kemarin sore saat kita pulang kerja, ada seorang pria yang mencarimu," ucap Ria.
"Pria?"
"Iya, tadi ia bertanya pada satpam. Kebetulan aku juga lagi di situ sambil menunggu jemputan," jawab Ria.
"Apa kau tahu ciri-cirinya?"
"Wajahnya cukup tampan, dia sedikit lebih tinggi dari Pak Yudis, dia memakai baju berwarna abu-abu," jelas Ria.
"Kenapa ciri-cirinya persis sama dengan Putra? Apa sebenarnya itu dia?" batin Karin bertanya.
"Karin!"
"Siapa, ya?" Karin pura-pura tidak tahu.
"Apa mungkin pria itu yang mengirimkan kau bunga?"
"Kalau dia yang mengirimkan bunga, aku akan membuangnya," jawab Karin.
"Hei, apa kau mengenal pria itu?"
"Tidak!"
__ADS_1
"Lalu, kenapa dibuang?"
"Karena aku tak mengenalnya, seenaknya saja dia mengirimkan aku bunga. Jika itu, Michael yang memberinya. Aku pasti senang," ungkap Karin tersenyum.
"Apa kalian akan rujuk?"
"Tidak tahu," jawab Karin lemas.
"Kenapa tidak tahu? Mantan suamimu itu masih mencintaimu, kan?" tanya Ria.
"Mantan mertuaku belum sepenuhnya menerima hubungan kami, mereka pikir aku masih seperti yang dulu," jawab Karin.
"Semua orang pernah melakukan kesalahan, kau beruntung segera menyadari kesalahanmu," ucap Ria.
"Iya, aku sungguh menyesal menjadi orang yang jahat." Karin menahan air matanya agar tak menetes.
"Aku yakin padamu, kau bisa menjadi orang baik," ucap Ria.
"Terima kasih," Karin tersenyum.
Selesai makan siang, mereka kembali ke kantor sesuai dengan ucapan Karin di warung nasi. Ia membuang bunga tersebut ke dalam tong sampah.
"Kau benar melakukannya?" Ria tak percaya.
"Untuk apa aku menyimpan sesuatu dari orang yang tak di kenal," jawab Karin.
"Iyalah."
*
*
Malam harinya, Karin menikmati waktu bermain dengan putrinya. Biasanya sebelum ada Kara bersamanya, ia akan menghabiskan waktu bersama teman-temannya yang tiba-tiba menghilang saat dirinya tertimpa musibah dan mengalami trauma.
"Waktunya kita tidur!" Karin menuntun putrinya ke dalam kamar.
Saat menidurkan Kara, sebuah pesan muncul dari nomor tak dikenal. Karin membukanya dan mendelikkan matanya. Ia segera meletakkan ponselnya di atas nakas.
Wajah Karin tiba-tiba pucat dan berkeringat dingin. Ia mengambil air putih dan meminumnya, ia menghela nafasnya. "Dari mana dia tahu nomor telepon ku," gumamnya.
Ia segera membaringkan tubuhnya di samping putrinya dan berusaha memejamkan matanya. "Aku harus bisa melawan dia!" ucapnya lirih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Wajahmu kenapa pucat? Apa kamu sakit, Karin?" tanya Rindu.
"Tidak, Ma. Aku hanya kurang tidur saja," jawab Karin.
"Kalau kau sakit lebih baik mengajukan izin," ucap Roy.
"Benar yang dikatakan Papa kamu, Karin." Ucap Rindu.
"Aku baru sebulan bekerja, tidak mungkin harus izin," tutur Karin.
"Apa kamu mampu bekerja dalam keadaan begitu?" tanya Roy.
"Iya, Pa. Aku baik-baik saja," jawab Karin. "Aku berangkat kerja, ya. Kara main sama Oma dan Opa, besok libur kita jalan-jalan," ucapnya pada putrinya.
"Iya, Mama!" sahut Kara dengan wajah menggemaskan.
Karin pun berangkat kerja dalam hati ia berkata, "Semoga saja aku tak bertemu dengannya."
__ADS_1
Sesampainya di kantor, Karin menerima bunga lagi. Ia pun langsung membuangnya ke dalam tong sampah.