Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 52


__ADS_3

"Sayang, jalan-jalan yuk!" Sabrina bergelayut manja di lengan suaminya.


"Ke mana saja, bebas."


"Sejak hamil kamu sering minta jalan-jalan, biasanya paling malas," ucap Arvan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Mungkin bawaan calon bayi kita," ujarnya.


"Kita ke mall saja, mau?"


"Boleh," jawabnya.


Mereka pun pergi ke mall berdua tanpa ditemani sopir.


Sesampainya di sana, Sabrina menunjuk sebuah restoran. Akhirnya, Arvan menyetujui permintaan istrinya itu.


Baru beberapa langkah, seseorang manggil nama Sabrina ia pun menoleh ke arah suara.


"Marissa, Rio!" ucapnya.


"Hai, Kak!" sapa keduanya.


"Hai, Kak Arvan!" sapa Rio pada suaminya Sabrina.


"Hai juga," jawab Arvan.


"Terima kasih, ya. Kado yang kalian berikan, kami sangat suka," ucap Rio semangat.


"Ya, sama-sama!" ucap Arvan tersenyum.


"Kalian di sini lagi belanja, ya?" tanya Sabrina.


"Ini Marissa, lagi cari sepatu." Jawab Rio.


"Sudah dapat yang kalian cari?" tanyanya lagi.


"Sudah, Kak." Jawab Marissa menunjuk kantong plastik.


"Kami mau makan, kalian mau ikut?" tanya Arvan.


Rio dan istrinya saling pandang.


"Ayo, ikut!" ajak Sabrina.


"Bolehlah, Kak." Sahut Rio senang.


Mereka berempat menikmati makan siang bersama dan saling mengobrol tak lupa, foto bersama.


"Kak Sabrina, hamil?" tanya Marissa.


"Iya, baru jalan empat bulan." Jawabnya tersenyum.


"Wah, selamat ya, Kak!" ucap Marissa senang.


"Terima kasih," balasnya tersenyum.


Hampir dua jam pertemuan mereka, akhirnya Rio dan Marissa izin pamit pulang. Tak lupa keduanya mengucapkan terima kasih.


"Kamu mau pulang atau kita jalan-jalan lagi?" Arvan bertanya pada istrinya.


"Pulang saja, Mas. Aku capek dan ngantuk," jawabnya.


*


"Kalian dari mana saja? Katanya mau beli sepatu tapi lama sekali pulangnya," Linda langsung mengomel pada Rio dan Marissa.


"Memangnya kenapa kalau kami pulang lama 'sih, Ma?" tanya Rio.


"Itu cucian piring menumpuk di belakang," jawab Linda.


"Kak Yana dan Kak Stella ada, kenapa menyuruh istriku?" protes Rio.


"Karena dia menantu paling muda," Linda memberikan alasan.


"Jadi begitu kalau ada menantu perempuan paling muda di keluarga sering disuruh-suruh?" protes Rio.

__ADS_1


"Tidak apa," Marissa mengelus tangan suaminya.


"Bik Ratih ke mana?" tanya Rio.


"Dia sudah pulang, lagian tugasnya di sini hanya mencuci pakaian dan memasak makan siang saja," jawab Linda.


"Aku ganti pakaian dulu, nanti ku cuci piringnya." Ujar Marissa ia pun berganti baju lalu ke dapur, suaminya sudah bersiap membantunya.


Selesai mencuci piring, sepasang suami istri berkumpul dengan keluarga lainnya di ruang santai.


"Kalian tidak makan?" tanya Linda.


"Tidak, Ma. Kami sudah makan di mall," jawab Rio.


"Banyak uang, makan di mall." Ucap Linda.


"Kami di traktir makan di restoran seafood," tutur Marissa.


"Siapa yang mentraktir kalian?" tanya Yana.


"Kak Sabrina dan suaminya," jawab Marissa.


Yudis yang lagi minum hampir tersedak mendengar adik iparnya menyebutkan nama mantan istrinya.


"Pasti kalian bohong?" tanya Linda.


"Kalau tidak percaya lihat ini!" Rio menunjukkan foto kebersamaan mereka saat makan siang di restoran tersebut pada Linda.


Yana dan Stella juga ikutan melihatnya.


"Ini 'kan restoran mahal," ucap Stella.


"Memang iya, makanan di sana enak-enak." Puji Marissa.


"Kenapa dia baik sekali sama kalian?" tanya Yana.


"Karena kami tak pernah menyakitinya," jawab Rio.


Hendi juga melihat foto mantan menantunya begitu juga dengan Rudi dan Clara.


"Jadi yang Mas Rudi bawa itu dari mereka?" tanya Yana


"Iya, toko bangunan tempat ku bekerja milik temannya mertua Sabrina. Itu 'kan mie ayam depan toko pakaian milik mereka, kebetulan aku mengantar bahan bangunan ke tokonya," jawab Rudi.


"Kenapa Mas Rudi tak bilang dari mereka?" tanya istri Rudi lagi.


"Kamu tak bertanya," jawabnya santai.


"Aku kira kamu yang beli," ucap Yana.


"Mana ada uangku, gaji semua untukmu. Kau hanya memberikan aku seratus ribu seminggu," ujar Rudi.


"Kakak tidak mau lihat mantan istri yang sekarang bahagia lahir batin," Rio mengarahkan ponselnya ke hadapan Yudis.


Yudis pun melihat foto Sabrina sekilas, lalu ia beranjak berdiri menuju kamarnya.


Di dalam foto tidak tampak Sabrina lagi berbadan dua, karena saat pengambilan gambar yang diambil oleh Rio tubuhnya separuh tertutup meja.


Sebelum sampai ke rumah, Rio dan Marissa merahasiakan kehamilan mantan kakak iparnya. Mereka takut, Mama Linda akan kena serangan jantung jika tahu menantu yang sempat ia hina lagi hamil.


Yudis memilih masuk ke kamar menenangkan diri. Ia melihat senyuman mantan istrinya begitu manis dan penuh bahagia.


Stella ikut masuk, tertawa kecil menyindir. "Kau cemburu?"


"Kenapa kau di sini?"


"Ini kamarku juga," jawabnya.


"Aku ingin sendiri, kau temani saja mereka."


"Aku ingin menemani kamu. Sampai kapan kau begini?"


"Stella, jangan paksa aku untuk menerima pernikahan ini!" ucap Yudis


"Ya, aku tahu. Waktu pernikahan kita tinggal sebulan lagi," ujar Stella.

__ADS_1


"Ya, aku ingat."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mas, sepi banget di rumah ini," ucap Sabrina.


"Jadi kamu mau ikut aku ke toko?"


"Boleh," jawab Sabrina.


"Kamu tidak akan muntah-muntah 'kan nanti di sana?"


"Tidak tahu juga."


"Ya, sudah."


"Sheila lama sekali pun kembali ke sini," ucap Sabrina.


"Bagaimana dia mau kembali ke sini, lihatlah dia lagi liburan ke kota Y. Ini 'kan Aldi," Arvan menunjukkan foto di sosial media milik sepupunya pada istrinya.


"Oh, pantas saja."


"Ayo, kita berangkat sekarang. Nanti keburu macet," ucap Arvan.


Selama perjalanan, Arvan mengingatkan istrinya untuk tidak berjalan-jalan selama di toko karena sebagian gedung toko lagi tahap direnovasi.


Sesampainya di sana, ia mengikuti suaminya. Tampak Misye menyambut mereka begitu juga dengan beberapa teman Sabrina yang masih setia bekerja di toko milik Arvan.


"Mas, aku mau bertemu dengan temanku," izinnya.


Arvan pun mengangguk mengiyakan.


"Hei, bumil. Makin cantik saja!" sapa Meli saat melihat Sabrina menghampirinya.


"Kau mengejekku saja. Berat badanku nambah malah dibilang cantik," gerutunya.


"Ibu hamil itu beda auranya. Buktinya Pak Arvan makin bucin aja denganmu," ucap Meli.


"Iya, aku beruntung menikah dengannya," ujar Sabrina tersenyum.


"Aku turut senang, kau menemukan kebahagiaannya." Meli memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Terima kasih, ya."


"Sehat selalu, semoga bayimu nanti lahir dengan selamat," ucap Meli mendoakan.


"Sekali lagi, terima kasih doanya."


"Iya, sahabatku."


"Aku ke ruangan suamiku, ya."


"Aku bantu kamu naik ke atas?" tawar Meli.


"Tidak usah, kamu lanjut saja bekerja."


Sabrina berjalan menaiki lantai menggunakan tangga. Karena kurang hati-hati, ia terpeleset dan terduduk.


"Auww!" jeritnya sambil memegang perutnya.


"Sabrina!" teriak Meli.


Para karyawan pun ikut berteriak dan berkerumun. Arvan yang mendengar teriakan karyawannya memanggil nama istrinya bergegas keluar ruangan dan mencari asal suara.


Ia mendekati istrinya yang merintih kesakitan.


"Mas, perutku sakit!"


...----------------...


...----------------...


Hari ini cuma dua bab saja...


Mohon sabar menunggu 😊 bab selanjutnya...

__ADS_1


Terima kasih..♥️


__ADS_2