
"Ngapain mereka di sini?" tanya Dewi saat memasuki rumah melihat ada Karin beserta orang tuanya. Karena saat ditelepon Arvan tidak menjelaskan nama pelakunya.
"Mana pelakunya, Arvan?" tanya Tania yang mulai kesal.
"Tenanglah, duduklah!" titah Fandi pada semuanya.
Mereka pun duduk di ruangan sama.
"Tante, silahkan bicara!" ucap Arvan pada Rindu.
"Saya ingin minta maaf!" ucap Rindu terbata.
"Jadi, Kak Rindu yang sudah membuat putriku celaka!" Tania sudah berdiri dari kursinya.
"Ma, tenanglah!" Pratama menarik tangan istrinya untuk duduk kembali.
"Saya salah, saat itu benar-benar gugup. Tolong, maafkan!" Rindu mencium tangan Tania.
Tania bergeming, raut wajahnya tampak tersirat kemarahan.
"Tidak semudah itu meminta maaf, Rindu!" ucap Dewi. "Kalian tahu bukan hanya menantu kami yang menjadi korban, melainkan ada keponakanku dan sopir pribadi yang membuat keluarganya bersedih," jelasnya.
"Apapun akan kami lakukan asal kalian tidak melaporkan Mama saya ke pihak berwajib," ucap Karin.
"Benar kalian akan melakukan apapun itu?" tanya Tania.
"Iya," jawab Rindu dengan cepat.
"Baiklah, kami butuh biaya untuk rumah sakit putriku dan sopir pribadi Sabrina." Ucap Tania.
"Kami siap menanggung biaya rumah sakit," ucap Roy.
"Bukan itu saja, kalian juga wajib memberikan biaya makan untuk keluarga sopir pribadi Sabrina," ujar Tania.
"Biaya itu juga?" tanya Rindu.
"Iya, Alan punya anak dan istri. Sedangkan, dia untuk sementara tidak bisa bekerja lagi jadi siapa yang bertanggung jawab pada kebutuhan anak dan istrinya," tutur Dewi.
"Tapi..." Rindu tampak berpikir.
"Kami harus mencari sopir baru lagi untuk Sabrina, jadi tidak mungkin aku menggaji dua orang pekerja, kan?" Ujar Dewi lagi.
"Baiklah, kami akan membiayai kebutuhan keluarga sopir kalian!" ucap Roy.
"Berapa yang harus kami keluarkan untuk semuanya?" tanya Karin.
"Biaya rumah sakit untuk putriku dan sopir, empat ratus juta," jawab Tania.
Fandi, Pratama dan Roy hanya diam. Mereka membiarkan para wanita yang berbicara untuk menghadapi keluarga Karin.
"Sebanyak itu?" tanya Rindu.
"Itu tidak sebanding penderitaan mereka sebagai korban," jawab Tania.
"Lalu biaya kebutuhan keluarga sopir pribadi kalian, berapa?" tanya Karin.
"Kami memberikan 4 juta itu hanya gaji pokok saja, kalian harus membiayai keluarganya sampai Alan benar-benar sehat dan bisa bekerja lagi," jawab Dewi.
"Bisa miskin aku begini," batin Rindu.
"Bagaimana?" tanya Dewi pada Rindu.
"Baiklah, kami setuju." Jawab Roy.
"Oke, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Om Roy bisa segera mentransfer biaya rumah sakit. Untuk biaya kebutuhan keluarga sopir kami, kalian akan saya pertemukan dengan mereka," ucap Arvan.
__ADS_1
"Baik, Om akan segera mentransfernya. Tapi kami butuh saksi dan tanda tangan bukti bahwa kalian tidak akan membawa kasus ini ke jalur hukum," tutur Roy.
"Baiklah, nanti sore kita jumpa lagi. Kami akan menghubungi pengacara keluarga," ucap Fandi.
"Baik, nanti sore kami akan datang lagi di sini!" ucap Roy. Mereka pun pamit meninggalkan rumah Arvan.
Setelah, keluarga Karin pergi. Fandi mendekati istri dan adik iparnya. "Kalian yakin, kalau mereka akan mengeluarkan biaya rumah sakit?"
"Kalau mereka tidak mau, harus siap dihukum," jawab Dewi.
"Ibu dan Bibi kalian hebat," ucap Arvan.
"Itu tidak sebanding dengan kesedihan kita beberapa hari ini, lagian mereka juga suka memeras kalian. Sekarang gantian," ujar Tania.
"Papa dari mana kita mendapatkan uang sebanyak itu, uang segitu banyak," protes Rindu.
"Mama mau ditahan?" tanya Roy.
"Tidak," jawabnya.
"Ini semua juga salah kamu yang tidak hati-hati," ucap Roy ketus.
"Berapa lagi uang tabungan kita?" tanya Rindu.
"Tinggal lima ratus juta di dua bank, tersisa harta kita mobil dan rumah ini," jawab Roy.
"Jadi miskin dong kita," ucap Karin.
"Kau bisa minta uang sama pacarmu yang kaya itu," ucap Rindu pada putrinya.
"Dia menipuku, Ma." Jawabnya malas.
"Menipu, bagaimana?" cecar Rindu.
"Dia sudah memiliki istri, yang kaya wanita itu!"
"Papa 'kan sudah mengingatkan kamu untuk bertahan dengan Michael. Sekarang begini rasanya, kalian berdua sama saja!" gerutu Roy, ia pun memilih meninggalkan ibu dan anak itu.
"Bagaimana? Apa kalian sudah menyiapkan uangnya?" tanya Fandi.
"Ini ada uang kontan lima puluh juta. Sisanya akan kami transfer," jawab Roy.
"Ya, sudah. Silahkan dilihat dulu perjanjian kita dan tanda tangan," ucap Fandi.
Mereka pun membaca isi surat pernyataan untuk bertanggung jawab membiayai perobatan para korban dan bersiap memberi uang bulanan kepada Alan selama proses penyembuhan.
Roy dan Rindu menandatangani surat itu disaksikan oleh dua orang pengacara dari masing-masing keluarga.
Roy juga sudah mentransfer uangnya ke rekening Pratama. Urusan keluarga Alan akan dibicarakan lain waktu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku harus kembali ke Kota Y," ucap Aldi saat menjenguk Sheila di rumah sakit.
"Kapan kau kembali lagi ke sini?"
"Mungkin setelah aku lulus," jawabnya.
Sheila merenggut.
"Hei, kenapa wajahmu murung begitu?"
Sheila segera membuang wajahnya.
"Aku berangkat sekarang, takut ketinggalan kereta. Cepat sehat dan jaga dirimu, sampai jumpa lagi," ucapnya pamit.
__ADS_1
Sheila tetap tidak bergerak atau merespon ucapan Aldi.
Lelaki itu pun pergi meninggalkan rumah sakit karena sudah terlalu lama ia libur.
Sheila kembali meneteskan air matanya. "Baru saja kemarin, kau begitu manis tapi hari ini ia mematahkan semuanya," batinnya bersedih.
Sesampainya di Kota Y, Aldi mengabari kepada Mama Nadia. Dia juga menghubungi Sheila tapi gadis itu tidak menjawabnya. "Mungkin saja dia lagi istirahat," gumamnya.
"Siapa yang lagi istirahat?" tanya Alena yang tiba-tiba saja sudah muncul di kos-kosan Aldi.
"Sejak kapan kau di sini?"
"Sejak kamu menelepon seseorang yang tidak menjawab panggilan teleponmu."
"Oh, ini Sheila. Aku menghubunginya untuk mengatakan kalau aku sudah sampai," tutur lelaki yang kini berusia 18 tahun.
"Kalian akrab, ya?"
"Mungkin karena kami pernah satu sekolah dan dia adik ipar kakakku," jawab Aldi.
"Oh, begitu."
"Kau tidak bekerja hari ini?"
"Hari ini aku sengaja libur untuk menyambut kedatangan kamu."
"Kau tidak perlu melakukan itu, Alena."
"Aku kangen sama kamu, lagian juga sudah lama tidak libur," tutur Alena.
Aldi hanya tersenyum. "Hei, apa kau tidak lapar? Aku sangat lapar sekali."
"Kalau kau memang lapar. Ayo, kita makan!"
"Kita makan tempat biasa saja, ya."
"Boleh."
"Dari tadi siang, aku belum makan nasi hanya makan roti saja."
"Kau kebiasaan, selalu begitu." Gerutu Alena.
Akhirnya mereka berdua menikmati makan ditempat biasa, di mana dijual aneka makanan rumahan.
"Aldi!"
"Hem!"
"Setelah lulus kuliah. Apa kau akan melamarku?"
Mendengar pertanyaan Alena membuat Aldi tersedak makanan, ia buru-buru mengambil air putih dan meminumnya.
"Apa salah dengan pertanyaanku?" tanya Alena.
"Tidak salah, apa kau akan setia menungguku?" balik bertanya.
"Kalau hubungan kita baik-baik saja. Mungkin aku bisa menunggu," jawab Alena.
"Semoga saja kita berjodoh," ucap Aldi tak mau memberikan harapan.
...----------------...
Jangan lupa like dan komen.
Sehat selalu untuk kalian.
__ADS_1
Selamat membaca😊