
Sabrina naik ke atas ranjang dan mendekati suaminya. Ia meletakkan kepalanya di pundak Arvan yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Mas, jelaskan yang tadi siang?" tanya Sabrina dengan lembut.
"Bentar, ya!" jawabnya.
Sabrina memperhatikan ponsel suaminya yang sibuk membalas pesan dari rekan bisnisnya. Beberapa menit kemudian, ia menonaktifkannya.
"Kenapa dimatikan ponselnya?" tanya Sabrina.
"Agar tidak ada yang menggangu kita," jawabnya menatap wajah istrinya.
"Kalau ada yang penting, bagaimana?"
"Kita selesai, aku akan mengaktifkannya." Arvan mulai membelai wajah istrinya.
"Mas, jelaskan dulu yang itu!" Sabrina menyingkirkan jemari suaminya.
"Tentang mana?"
"Sopir pribadiku."
"Oh, itu. Aku memang sengaja berpura-pura menjadi sopir biar semakin dekat dan menjagamu," jelas Arvan.
"Jadi, kamu bekerja sama dengan Pak Andi?"
"Iya, delapan toko yang ku bilang dijual itu juga bohong."
"Buat apa kamu melakukan itu?"
"Agar aku bisa berpisah dari Karin dan mendekati kamu," jawabnya.
"Terus kenapa kamu juga membohongiku?"
"Aku ingin melihat, kamu tulus mencintaiku atau tidak. Ternyata, perasaanku selama tiga tahun ini tidak salah."
"Kamu sudah menyukaiku, tiga tahun yang lalu?"
"Iya, saat pertama kali bertemu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama," jawab Arvan tersenyum.
"Bukankah kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih kaya dan cantik dari aku?"
"Tapi, aku tidak bisa. Kamu sangat berbeda," jawab Arvan.
"Kenapa tidak bisa?"
"Aku juga tidak tahu, namanya juga cinta."
"Jadi, kamu dan Bu Misye itu saudara?"
"Ya, dia keponakan sepupu Ibu."
"Oh, terus Bu Wita?"
"Dia temanku yang juga membantuku berpura-pura."
"Mas, sebegitunya kamu melakukan ini untuk mengetes hatiku," ucap Sabrina.
"Kamu menerimaku apa adanya, tanpa melihat siapa diriku," ujar Arvan mulai mencium kening, pipi dan bibir. Tangannya bergerak membuka kancing piyama istrinya.
Took...
Took...
"Arvan!" panggil Dewi.
Sabrina segera menepis tangan suaminya dan mengancing kembali piyamanya. "Ibu, Mas!"
Arvan berdecak kesal dan turun dari ranjang. Ia berjalan malas membuka pintu. "Ada apa, Bu?"
"Paman Pratama datang, kamu temui dia dulu. Ajak juga Sabrina, mereka ingin menemui kalian!" ujar Dewi kemudian melangkah turun ke bawah.
Sabrina pun mendekati suaminya. "Kenapa, Mas?"
__ADS_1
"Paman dan keluarganya datang. Ayo, kita menemuinya," ajak Arvan.
Sabrina mengambil dan memakai cardigan lengan panjang menutupi piyamanya, ia mengikuti Arvan turun bertemu saudaranya.
Arvan menyalim tangan paman dan bibinya begitu juga dengan istrinya.
"Hai, Kakak ipar!" sapa Sheila, gadis berusia 15 tahun. Ia memeluk tubuh Sabrina.
"Maaf, kami baru bisa datang hari ini," ucap Bibi Tania.
"Tidak apa," jawab Arvan.
"Ternyata, kakak sepupuku ini menikah," ceplos Sheila.
Arvan menatap tajam sepupunya itu, Sheila hanya tersenyum nyengir.
"Arvan, mulai besok Sheila akan tinggal bersama kita." Ujar Dewi.
"Apa?" Arvan terkejut.
"Hei, Kakak biasa saja. Aku bisa menemani kakak ipar di rumah ini, jika kalian pergi ke luar kota," ucap Sheila.
"Bu, dia hanya bikin repot saja di sini." Ucap Arvan bercanda.
Sabrina menyenggol lengan suaminya dengan lengannya. "Jangan begitu, Mas!" bisiknya.
Pratama dan Tania tersenyum mendengar suara samar istri Arvan. "Mereka biasa begitu," ucap Mamanya Sheila.
"Kakak tenang saja. Jika Kak Arvan menyakiti hati Kak Sabrina, aku dan Tante Dewi akan membantumu membalas rasa sakitmu," ucap Sheila bangga.
"Tahu apa anak kecil soal sakit hati?" sindir Arvan.
"Sudah, berhenti berdebat. Waktunya tidur," ucap Fandi menyuruh adik dan keluarganya itu beristirahat.
Mereka semua pun membubarkan diri, sepasang pengantin itu kembali ke kamar dan melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua minggu berlalu...
"Siang, Bu Sabrina!" sapa Meli dan Tika tersenyum.
"Kalian meledekku atau bagaimana?" tanya Sabrina.
"Kami harus manggil Ibu, 'kan sudah istrinya Pak Arvan," jawab Meli.
"Tapi, aku tak suka." Sabrina mulai protes.
"Nanti kami dimarahi Pak Arvan, kalau manggil nama saja," celetuk Tika.
Sabrina tertawa kecil. "Ah, ya sudah terserah kalian. Tapi, aku senang dipanggil nama saja."
"Ngomong-ngomong sekarang Nyonya besar sudah bawa bekal aja, nih." Meli melirik pegangan tangan sahabatnya itu.
"Ini untuk Mas Arvan, apa dia ada?" tanya Sabrina.
"Ada." Jawab Tika.
"Aku ke ruangan Mas Arvan, ya." Ucapnya pamit pada kedua temannya.
Sabrina menaiki tangga dan membuka pintu. "Siang, Mas!" sapanya.
"Pantas saja dihubungi tidak bisa, ternyata kamu ke sini," ucap Arvan.
"Baterai ponselku mati, Mas."
"Oh."
"Mas, sibuk?"
"Tidak."
"Makan, yuk. Aku bawakan makan siang," ucap Sabrina meletakkan wadah makanan di atas meja dan membukanya.
__ADS_1
Arvan menutup laptopnya lalu menikmati makan siang bersama dengan istrinya.
"Mas, aku bosan di rumah. Semua orang melakukan aktivitasnya," keluh Sabrina.
"Sheila 'kan ada," ucap Arvan.
"Dia sekolah, baru pulang sekitar jam 3 siang." Ujarnya.
"Kamu mau aku temani?" tanya Arvan.
"Kamu harus kerja, Mas."
"Bagaimana jika kamu temani aku kerja saja tiap hari di sini?" tawar Arvan.
"Segan dilihat para karyawan," ucap Sabrina.
"Biarkan saja, kamu 'kan istriku."
"Aku kerja saja lagi di sini, Mas." Pinta Sabrina pada suaminya.
"Kamu tidak boleh bekerja."
"Kenapa, Mas? Pekerjaannya juga tidak terlalu berat," ucap Sabrina mengiba.
"Kamu hanya bekerja melayaniku," ucap Arvan.
Sabrina mengerucutkan bibirnya.
"Kamu di rumah saja. Ajak anak itu bermain, cerita atau apalah. Agar ia berguna sedikit di sana!" ucap Arvan.
"Mas!" rengeknya.
"Kamu boleh bermain ke rumah ibu atau ayahmu," Arvan memberikan izin.
"Kalau aku menginap, apa boleh?"
"Boleh, asal bersamaku!"ucap Arvan. "Kamu tidak makan?" lanjutnya bertanya.
"Belum lapar."
"Sini biar aku suapin," Arvan mengangkat sendok dan mengarahkannya ke mulut istrinya. "Buka mulutnya!" perintahnya dengan lembut.
Istrinya itu pun membuka mulutnya dan mengunyahnya. Baru beberapa suapan, pintu ruangan diketuk.
"Silahkan masuk!" ucap Arvan.
Karyawan yang mengetuk pun membuka pintu. "Nona Karin ingin bertemu, Pak."
"Suruh dia masuk," titah Arvan.
Beberapa detik kemudian, Karin masuk menemui Arvan dan posisi Sabrina duduk sudah pindah di sofa tamu.
Karin melihat Arvan dan Sabrina. "Aku pikir toko ini juga dijual ternyata tidak," ucapnya membuka obrolan.
"Kau ke sini hanya untuk bertanya hal itu?" tanya Arvan dingin.
"Tidak juga," jawabnya.
"Jadi, ada perlu apa?"
"Aku cuma mau mengantar undangan khusus untuk kalian berdua," ucapnya meletakkannya di atas meja kerja Arvan. "Ini undangan pernikahan aku dan Michael, jadi kalian harus datang!"
"Kami akan datang," jawab Arvan.
Karin menoleh ke arah Sabrina. "Kamu sudah tidak memiliki perasaan lagi 'kan dengan Michael?"
Entah kenapa Karin bertanya seperti itu. "Dia masa lalu ketika sekolah dan itu cukup lama. Sekarang aku bahagia bersama Mas Arvan." Jawab Sabrina.
"Oh, baguslah. Biar aku tenang menjalankan pernikahan dengan suamiku," ucap Karin.
"Kamu ke sini cuma mengantar ini saja, kan?" tanya Arvan pada Karin.
"Iya."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau tidak ada keperluan lagi. Silahkan keluar!" ucap Arvan menunjuk pintu.
"Baiklah, Arvan. Aku akan pergi, jangan lupa datang!" ucapnya dari arah pintu.