
"Jadi tadi sore saat mau pulang, aku sengaja ingin mampir ke rumah seorang teman. Namun, ia tidak lagi di rumah. Nah, temanku wanita si Lidya meneleponku dia menawarkan produk terbarunya, jadi kami bertemu," ucap Arvan.
"Terus kalian cuma berjumpa berdua?"
"Tidak, dia dan suaminya." Jawab Arvan. "Aku juga mencoba parfumnya, aroma yang kamu cium ini," lanjutnya menjelaskan.
"Lalu bunga dan hadiah ini?"
"Aku sudah membelinya sebelum bertemu dengan Lidya dan hadiah parfum ini diberikannya untuk kamu," jelas Arvan.
"Kamu tidak bohong 'kan, Mas?"
"Sayang, kamu kenapa tambah cemburuan begini 'sih?" Arvan menoel hidung istrinya.
"Aku baca cerita, ciri-ciri suami selingkuh sering berpenampilan menarik, memakai minyak wangi, diam-diam ketika mengangkat telepon, dan tiba-tiba bersikap romantis. Beberapa diantaranya ada di kamu, Mas!" Sabrina panjang lebar menjelaskan.
Arvan tertawa mendengar penjelasan istrinya.
"Kenapa tertawa?"
"Kamu itu 'ya, suamimu ini 'kan memang romantis, tiap hari aku selalu memakai wangi dan penampilanku seperti ini," Arvan berdiri mengerakkan kedua tangannya dari atas sampai ke perut seakan menunjukkan inilah aku.
Sabrina masih cemberut.
"Jangan begitu dong, kasihan bayi kita. Mamanya tidak happy," bujuk Arvan.
Sabrina pun mengukirkan senyumnya.
"Aku mencintaimu, istriku!" Arvan memeluk dan mencium kening Sabrina.
"Kamu mandi sana, Mas!" ia mendorong tubuh suaminya.
"Iya, aku mandi." Arvan mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
*
*
Stella memeluk tubuh suaminya dari belakang, ia meletakkan kepalanya di pundak Yudis.
"Cobalah membuka hati untukku," ucapnya lirih.
Yudis membalikkan badannya dan mendorongnya pelan. "Aku tidak bisa," ujarnya.
"Sampai kapan kamu begini?"
"Entahlah, Stella. Harusnya kau tidak perlu melakukan ini, yakinlah pasti ada pria yang tulus mencintaimu," jawab Yudis.
"Aku mencintaimu, Yudis. Berikan kesempatan itu, buka hatimu."
"Tidak ada kesempatan," ucap Yudis.
"Mari kita lakukan, jika dalam 3 bulan ini aku tidak hamil kau boleh meninggalkanku. Seandainya, ku mengandung anakmu biarkan aku pergi bersama anak kita, setelah ia lahir," janjinya.
"Kau tidak menjadikan anak sebagai pengikat kita, kan?"
"Tidak."
"Baiklah, aku setuju. Ini semua karena permintaan Mama," ucap Yudis.
Stella tersenyum, tangannya membelai wajah suaminya. Mengalungkan tangannya di leher sang suami, perlahan bibir mereka saling bertaut.
Pergumulan panas itu terjadi karena terpaksa, tidak ada cinta di hati Yudis. Ia melakukan hubungan ini seperti membayar seorang wanita untuk memuaskan hasratnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Karin, kenapa bawa tas besar?" Michael melihat istrinya sudah memegang koper di dekat pintu masuk rumah.
"Aku mau ke luar kota, ada urusan pekerjaan mendadak."
"Karin, kau sudah kelewatan. Aku memberikan kamu kebebasan bekerja, tapi tidak seperti ini." Protes Michael.
__ADS_1
"Aku harus pergi, Michael. Perusahaan menjanjikan bonus besar jika ku mau ambil proyek di kota C," ujar Karin.
"Kota C ?"
"Iya."
"Kenapa kau tidak mengatakannya sebelumnya kepadaku?"
"Ini mendadak, baru dapat kabar kemarin sore. Kamu tidak di rumah. Bagaimana aku bisa mengabarimu?"
"Berapa lama kamu di sana?"
"Sebulan."
"Selama itu, apa kau tidak rindu dan merasa kasihan dengan Kara?"
"Kamu dan orang tuamu juga di sini, baby sitter juga ada. Kalian pasti bisa menjaganya," jawab Karin.
"Tapi Kara membutuhkanmu, kau ibunya!" Michael mengeluarkan suara keras.
"Tapi kau sebagai ayahnya tidak mampu membahagiakan ibunya," ucap Karin. "Aku sudah terlambat," ia menggeret koper dan menyuruh sopir taksi mengangkatnya.
Michael menghela nafasnya. Ia tak bisa mencegah kepergian istrinya.
*
"Ke mana istrimu, Michael?" tanya Tissa menggendong cucunya.
"Dia lagi ke luar kota," jawabnya.
"Sejak kapan?"
"Tadi pagi."
"Kenapa kamu memberikan izin?"
"Dia ingin mengejar karirnya, Ma."
"Aku yang salah, Ma. Belum mampu membahagiakannya," ucap Michael.
"Harusnya dia bisa bersabar, lagian kamu juga masih mampu memberikan nafkahnya. Karin saja yang gaya hidupnya terlalu tinggi," ucap Tissa terus mengomel.
Michael hanya diam.
"Berapa lama dia di sana?"
"Sebulan."
"Sebulan? Apa kamu tidak takut kalau dia bermain hati dengan pria lain yang lebih kaya," ucap Tissa.
"Karin tidak mungkin seperti itu, Ma."
"Semoga saja," sahut Tissa. " Kara untuk sementara tinggal dengan Mama saja, ya?"
"Jangan, Ma."
"Biar dia sama Mama saja," ucap Tissa memaksa. "Kamu harus kerja, baby sitter Mama bawa juga. Terpenting, Kara ada yang mengawasi," lanjutnya lagi.
Michael pun pasrah.
*
"Mas, aku ingin makan es krim!" rengeknya bergelayut manja di lengan suaminya.
Arvan melihat arlojinya. "Sepertinya tokonya sebentar lagi akan tutup, besok saja kita ke sana."
"Aku maunya sekarang, Mas!"
"Sayang, kalau kita ke sana yang ada tokonya tutup."
"Aku tetap maunya sekarang!" rengeknya.
__ADS_1
"Baiklah, kita ke sana!"
Sabrina tersenyum senang.
Arvan mengendarai mobil dengan sangat hati-hati dan kecepatan sedang, sesampainya di sana bangku-bangku sudah tersusun di atas meja. Tidak ada lagi satu pun pengunjung. Para karyawan lagi berberes. Ia pun turun sedangkan istrinya menunggu di dalam mobil.
"Apa es krimnya masih ada?" tanya Arvan.
"Kami sudah tutup, Pak." Jawab kasir toko.
"Apa tidak ada yang tersisa?"
"Hmm.. bagaimana, ya?"
"Tolonglah, istri lagi ngidam. Saya sudah mengatakan untuk beli esok hari tapi dia menolaknya," mohon Arvan.
"Sudah jual saja," bisik salah satu karyawan.
"Baiklah, Pak. Tapi cuma ada satu rasa yaitu durian, bagaimana mau?" tanya kasir.
"Sudah tidak apa," jawabnya dengan cepat.
Kasir pun menyodorkan semangkok es krim rasa durian.
Dengan cepat Arvan berjalan ke arah mobil yang terparkir menghampiri istrinya.
"Sayang yang ada rasa durian, kamu mau?" Arvan pun menunjukkan semangkok es krim.
Tanpa menjawab pertanyaan Arvan, ia segera mengambil mangkok berisi es krim. Dia memakannya dengan lahap. Suaminya yang melihatnya, hanya menatap ngilu Sabrina mampu makan es tersebut tanpa jeda.
"Ayo, kita pulang!" ajak Sabrina.
"Kamu tidak mau apa-apa lagi? Mumpung kita masih di luar rumah."
Sabrina menggeleng.
Arvan menghidupkan mesin kendaraannya dan berjalan mengarah ke jalan menuju rumah. Tinggal beberapa meter sampai. Sabrina meminta berhenti.
"Ada apa?" Arvan menghentikan mobilnya.
"Aku ingin makan mie ayam," jawabnya.
"Ya, sudah kita cari."
"Aku mau yang ada di depan toko pakaian kamu," ucapnya.
"Warung mie ayam yang selalu ramai itu?"
Sabrina mengangguk.
"Aku harus mengantri dong," ucap Arvan.
"Iya, Mas. Namanya juga pingin," ujar Sabrina.
"Baiklah, kita ke sana!"
Arvan memutar balik arah menuju jalan ke tokonya. Sesampainya di sana, antrian tidak terlalu panjang. Hingga mereka tak terlalu lama menunggu. Sabrina pun mulai menyantap mie ayamnya.
Baru beberapa suapan, dia berhenti. Arvan yang juga ikut menikmati mie ayam menatap sang istri. "Kenapa tidak dimakan lagi?" tanyanya.
"Aku sudah kenyang, Mas." Jawabnya memegang perut.
"Masih ada setengah lagi? Arvan melihat isi mangkok.
"Aku tidak mau lagi," jawabnya.
"Apa mau dibungkus?" tanya Arvan.
"Tidak usah, Mas."
Arvan menghela nafasnya, tak biasanya istrinya itu seperti itu. Dalam keadaan tidak hamil bisa menghabiskan semangkok mie ayam padahal sejam yang lalu baru makan nasi.
__ADS_1