Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 75- Warisan


__ADS_3

Hai semua, yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini. Aku ucapkan terima kasih banyak atas dukungannya baik berupa like dan komen.


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini seluruh keluarga Hendi pergi ke Kota M, semua ikut tanpa terkecuali. Karena Arman yang mengundang mereka, Linda sebenarnya malas untuk bertemu kembali dengan mantan suaminya itu.


Arman menyambut menyambut mereka dengan suka cita begitu juga dengan Siska dan suaminya. Seluruh keluarga telah berkumpul. Termasuk kedua kakak Arman.


"Besar juga rumah ayah kandung Kak Yudis," bisik Rio di telinga Yana.


"Iya," jawabnya pelan.


"Cepat katakan, untuk apa kamu mengumpulkan kami di sini? Apalagi ada dia di tengah keluarga kita," ucap Kakak perempuan tertua Arman menyindir Linda.


"Baiklah, saya sengaja kumpul kalian di sini untuk memberi tahu semuanya. Bahwa anak yang selama ini saya cari tengah berada di antara kita," ungkap Arman.


"Tidak mungkin Arman, bukankah dia sudah membuang anak itu!" tunjuk Kakak perempuan kedua Arman.


"Tidak Kak, kami sudah bertemu," ucap Arman. "Sini, Nak!" ia memanggil Yudis untuk duduk disebelahnya.


"Aku tidak yakin kalau dia putra yang selama ini kau cari," sahut kakak kedua Arman.


"Aku yakin kalau dia, putra yang selama ini ku cari," Arman melihat mata dan hidungnya putranya mirip dengannya ditambah pengakuan dari Linda dan Hendi.


"Ya, sudah kalau tidak percaya. Anakku juga tak butuh pengakuan dari kalian," sahut Linda ketus.


"Kamu mengumpulkan kami ke sini hanya untuk menunjukkan anak yang selama ini dicari," ujar kakak tertua Arman.


"Selain memperkenalkan pada kalian, saya juga ingin menyampaikan bahwa Yudistira akan menjadi pewaris dan penerus perusahaan yang saat ini saya kelola," ucap Arman.


"Hah!"


"Wah, Yudis bakal jadi orang kaya raya," gumam Yana tersenyum.


"Tidak bisa, Arman!" protes kakak tertuanya.


"Kenapa, Kak?" tanya Arman.


"Kalian tidak menikah secara hukum negara," jawabnya.


"Walaupun dia tidak tercatat di hukum negara sebagai anakku, tapi ikatan batin tidak berbohong," ucap Arman.


"Kakak tidak mau mengakuinya sebagai keponakan ku," protesnya lagi.


"Aku juga tidak berharap kalian mengakuinya dan ku juga tidak menginginkan sepeser pun dari harta Arman," ucap Linda tegas.


"Oh, ya. Bukankah tujuan kamu mengejar adikku hanya karena harta," sindir kakak kedua Arman.


"Kakak!" hardik Arman.


"Ayo, Pa, Yudis kita pulang!" Linda beranjak berdiri.


"Linda, tunggu!" Arman menahan agar mantan istrinya itu tidak pergi.


"Kamu sengaja mengumpulkan kami ke sini hanya untuk mendengar hinaan dari saudaramu!" ucap Linda kesal.


"Ma, duduklah!" Hendi berusaha menenangkan istrinya.


"Ma, sabar!" Yana juga berusaha menenangkannya.


Linda pun akhirnya duduk kembali.


"Keputusanku sudah bulat, bahwa Yudistira yang akan menggantikan posisiku di perusahaan," ucap Arman.


"Kakak kecewa padamu!" ucap kakak tertuanya. "Ayo, kita pulang!" ajaknya pada suaminya.

__ADS_1


Kakak Arman pun pulang dengan hati kecewa, mereka tidak bisa menikmati lagi harta adiknya itu karena anak kandungnya yang akan mengambil alih perusahaan.


"Yah, anakmu bukan aku saja. Ada Saskia juga," ucap Yudis menatap Arman.


"Saskia sudah mendapatkan jatahnya, dia setuju jika kamu yang memimpin perusahaan Ayah," ucap Arman.


"Tidak ada lagi yang dibicarakan, apa sekarang kami boleh pulang?" tanya Linda ketus.


"Kalian boleh tinggal sementara di sini!" usul Arman.


"Benarkah, Paman?" Rio antusias menerima tawarannya.


"Ma, kita tinggal di sini saja!" ucap Yana.


"Kalau kalian di sini, Mama akan langsung pulang ke Kota B," ancam Linda.


"Ma, jangan begitu dong!" protes Rio.


"Ma, besok kita cari penginapan!" janji Yudis. "Papa setuju, kan?" Ia menatap Hendi.


"Papa tergantung Mama kamu," jawab Hendi.


"Mama tidak mau," tolak Linda.


"Hmmm, begini saja. Tante Linda dan Om Hendi, bagaimana kalau kalian berdua menginap di hotel milik keluarga suami saya," tawar Saskia.


"Boleh juga," jawab Linda dengan cepat.


"Ya, sudah biar saya dan suami antar," ucap Saskia.


Linda dan suaminya memilih tidur di hotel milik keluarga Radit. Sedangkan anak dan menantunya menginap di rumah Arman.


"Aku tak menyangka, kalau ayah kandung Kak Yudis itu kaya raya," ucap Marissa saat di kamar.


"Ah, senangnya aku punya saudara kaya," ucap Rio menatap langit-langit kamar.


...----------------...


"Ada apa Papa mengumpulkan kami mendadak begini?" tanya Yana.


"Papa sengaja mengumpulkan kalian, ada hal yang penting yang ingin kami sampaikan," jawab Hendi.


"Mama sakit?" tanya Yana pada Linda yang wajahnya pucat.


Linda menggeleng kepalanya pelan.


"Mama habis menangis?" tanyanya lagi.


"Yana, cukup bertanyanya. Papa ingin menyampaikan sesuatu," ucap Hendi.


Tampak hadir Rio dan istrinya, Yana dan suaminya beserta Clara dan juga Yudis.


"Papa, mau bicara apa?" Rio jadi penasaran.


Hendi menarik nafasnya perlahan. "Sebenarnya Yudistira bukan anak kandung Papa," ucapnya.


"Apa!"


"Kenapa Papa baru bicara sekarang?" protes Yana.


"Pasti Papa bohong," tuduh Rio.


"Papa kalian tidak berbohong," sahut Linda.


"Kami menikah saat Yudis berusia 3 bulan," ucap Hendi.


"Jadi aku bukan putri kandung Mama?" tanya Yana.

__ADS_1


"Walau bukan terlahir dari rahim Mama, kamu tetap anakku," jawab Linda.


Yana langsung memeluk tubuh Linda.


"Jadi cuma aku anak kandung Mama dan Papa?" tanya Rio.


Hendi mengangguk.


"Tapi, kalian tetap menganggap aku sebagai adik 'kan?" tanya Rio.


Yudis menoyor kepala Rio. "Kau tetap adikku yang paling nakal!"


"Kau tidak akan meninggalkanku?" tanya Rio memeluk Yudis.


"Hei, memangnya aku mau ke mana?" tanya Yudis melepaskan pelukan adiknya.


"Mana tahu, kau akan kembali pada ayah kandungmu!" celetuk Rio.


"Aku tetap di sini bersama kalian," ujar Yudis.


"Jadi, siapa ayah kandung Yudis?" tanya Yana.


"Pak Arman," jawab Hendi.


"Apa!" ucap kedua saudara Yudis dan kedua iparnya.


"Kenapa Mama tidak pernah cerita kalau Pak Arman, ayah kandung Yudis?" tanya Yana.


"Mama tidak bisa menceritakannya pada kalian," jawab Linda.


"Pak Arman itu orang kaya, jadi Kak Yudis bakalan jadi kaya juga," ucap Rio tersenyum bangga.


"Rio!" tegur Marissa. "Kenapa kau yang bahagia sekali mendengar ayah kandung Kak Yudis orang kaya?" bisiknya.


"Biar kita kecipratan uangnya," bisiknya lagi di telinga sang istri.


"Lusa kita akan pergi ke Kota M, Pak Arman mengundang kita semua," ucap Hendi


"Benarkah?" Rio bersemangat.


"Iya, ya sudah. Kalian boleh pulang, besok Papa akan memberi tahu jadwal keberangkatan kita," ucap Hendi.


Anak dan menantunya membubarkan diri.


"Pa, Mama tidak mau ikut ke Kota M." Ucap Linda pada suaminya.


"Ma, kamu harus ikut!" ujar Hendi lembut.


"Mama tidak mau terpancing emosi, jika berjumpa dengannya," ucap Linda.


"Genggam tangan Papa, kamu pasti bisa menahan amarah. Aku tahu ini cukup berat untukmu, luka itu kembali terbuka. Tapi yakinlah Arman hanya ingin tahu anak kandungnya saja," ujar Hendi.


Linda mengangguk. "Terima kasih, Pa. Kamu selalu ada di saat Mama terpuruk!" Membuat Hendi tersenyum.


"Tidurlah! Tenangkan pikiranmu!" Hendi mencium kening istrinya.


.


.


...----------------...


Adakah di sini yang ingin Yudistira menderita setelah tahu yang sebenarnya?


SELAMAT MEMBACA


SEHAT SELALU

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE ☺️


__ADS_2