
Arvan melajukan kendaraannya dengan cepat, agar sampai ke rumah sakit. Begitu mendapatkan kabar istrinya kecelakaan ia membatalkan rapat dengan klien.
Sesampainya di rumah sakit, ia berlari menyusuri lorong rumah. Tampak kedua orang tuanya, orang tua Sheila dan keluarga sopir menunggu di depan ruangan Instalasi Gawat Darurat.
"Bu, bagaimana dengan Sabrina?" tanya Arvan dengan wajah panik.
"Dokter belum keluar dari ruangannya," jawab Dewi.
Tampak pintu terbuka, beberapa perawat mendorong brankar. Arvan dan kedua orang tuanya mengikuti petugas medis yang membawa Sabrina.
Istrinya akan dipindahkan ke ruang rawat inap, karena kondisinya tidak terlalu parah. Sabrina hanya mengalami beberapa luka ringan di wajah dan tangan.
Namun, ia masih dalam kondisi tertidur.
Arvan merasa lega karena istrinya baik-baik saja. Pikirannya kembali terusik karena sopir dan adik sepupunya belum sadar, mereka mengalami benturan di bagian kepala.
Orang tua Sheila terus menangis. Mila dan Nenek juga datang, mereka juga tak kalah khawatir dan panik. Ayah Sabrina dan istrinya turut datang.
"Bagaimana kondisi Sabrina?" tanya Toni
"Dia hanya mengalami luka ringan, janinnya tidak masalah, sekarang dia sedang tertidur. Namun, Sheila dan sopir pribadi Sabrina belum juga sadar," jawabnya.
Nadia menutup mulutnya tak percaya, air matanya kembali menetes.
Ia mengambil ponselnya, sedikit menjauh dari para keluarga. Nadia menghubungi putranya yang ada di kota Y.
"Halo, Nak!"
"Halo, Ma! Kenapa menangis? Ada apa?" cecar Aldi yang mendengar suara Nadia seperti terisak.
"Sheila dan Kak Sabrina," ucapannya terjeda. Ia menarik nafasnya perlahan.
"Kenapa dengan mereka?" Aldi mulai tak sabar.
"Mereka berdua kecelakaan, Sheila sampai sekarang belum sadar." Jawab Nadia menjelaskan.
"Apa?" Aldi tidak percaya, ia menjatuhkan tubuhnya di kursi dan mengusap air matanya yang mulai menetes. "Bagaimana dengan Kak Sabrina?" tanyanya lagi.
"Dia hanya mengalami luka ringan," jawab Nadia.
"Aldi, akan pulang sekarang!" ucapnya. Ia pun menutup teleponnya.
*
*
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Aldi tetap memaksa ke rumah sakit untuk melihat Sheila. Ia melakukan perjalanan menggunakan kereta api dari Kota Y ke Kota B.
"Kak Arvan," sapanya.
"Aldi?"
"Bagaimana dengan Kak Sabrina?"
"Dia baik-baik saja, di dalam ada Ibunya Sabrina dan Mama kamu," jawab Arvan.
"Bagaimana dengan Sheila?"
Arvan menundukkan wajahnya. "Dia belum juga sadar."
Ia mengajak Aldi melihat Sheila. Tampak tubuh gadis itu dipenuhi dan dipasang alat-alat medis.
Arvan meninggalkan adik iparnya bersama dengan kedua orang tua Sheila.
Tak terasa air matanya menetes, ia mengingat saat gadis itu selalu mengirimkan pesan kepadanya walau Aldi jarang sekali membalasnya.
__ADS_1
Flashback....
"Al, apa kau akan menetap di sini?" tanya Sheila saat ia mengunjungi Aldi di Kota Y.
"Iya, kalau aku menemukan wanita yang tepat dan menikahinya." Jawab Aldi.
"Jadi, kau tidak akan kembali ke Kota B?"
"Kembali, tapi untuk bertemu dengan keluargaku."
"Kau tidak ingin bertemu aku lagi?"
"Untuk apa menemui kamu? Gadis manja, urakan dan tidak ada cantiknya," jawab Aldi.
"Hei, kau menyakitiku. Aku akan selalu mengirimkan pesan untukmu," ucap Sheila.
"Untuk apa lagi kau mengirimkan pesan? Aku tidak akan membalasnya," ujar Aldi.
"Agar kau selalu ingat aku," celetuk Sheila.
"Oh, ya. Sepertinya aku tidak akan mengingatmu," canda Aldi.
"Sesuatu saat kau akan menyesal, seorang Aldi Antoni akan menangisi aku," ucap Sheila.
"Hahaha, memangnya kau mau ke mana?" tanya Aldi.
"Tidak tahu," jawab Sheila polos.
"Sudahlah, jangan banyak bicara. Habiskan makanannya setelah itu aku akan mengajakmu ke pantai," ucap Aldi.
"Benarkah?"
"Ya, gadis manja."
-Flash on-
"Mama!"
"Kau tidak pulang?"
"Aku mau di sini, Ma."
"Nak, kau belum ada istirahat dari tadi. Pulanglah, besok pagi kita datang lagi," ucap Nadia.
"Tidak, Ma. Aku akan menunggu Sheila sadar," ujarnya.
"Nak, lebih baik kamu pulang dulu. Di sini ada Arvan dan Papamu juga," ucap Pratama, papa Sheila.
Aldi pun mengangguk mengiyakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa kalian sudah mengetahui siapa pelakunya?" tanya Arvan.
"Belum Pak, saat kejadian kemarin ia langsung melarikan diri," jawab salah satu karyawan Arvan.
Arvan menghela nafas dan memijit pangkal hidungnya.
"Ya, sudah. Terima kasih. Kabarin secepatnya jika ada informasi dari pihak berwajib," ucap Arvan.
"Iya, Pak. Saya permisi," pamitnya.
Arvan kembali masuk ke dalam kamar. "Mas, bagaimana kondisi Sheila?"
Arvan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ini semua salahku, Mas. Coba aku tidak memaksa Sheila ikut menemaniku datang ke acara itu, tentunya ia akan baik-baik saja," ucap Sabrina menangis. Saat sadar kemarin malam, ia juga mengungkapkan rasa penyesalannya.
"Sayang, cukup menyalahi diri sendiri. Ini semua sudah takdir. Mari kita berdoa untuk kesembuhan Sheila dan Alan," ucap Arvan.
Sabrina mengangguk.
*
Meli, sahabat Sabrina datang menjenguk. Dia baru mendapatkan kabar Sabrina kecelakaan jam 8 malam.
"Sabrina," Ia memeluk tubuh sahabatnya. "Aku minta maaf, baru datang menjenguk." ucapnya.
"Tidak apa."
"Bagaimana kondisi sopir dan sepupu Pak Arvan?"
"Sopir mulai sadar tapi Sheila belum," jawabnya sedih.
"Sudah, jangan sedih. Pasti Sheila akan baik-baik saja," tutur Meli.
"Aku jadi merasa bersalah," ucap Sabrina.
"Jika kau berkata begitu, aku juga merasa bersalah pada kalian. Seharusnya aku tidak mengundangmu datang ke acara resepsi pernikahan adikku,"tutur Meli.
"Nak, kamu sudah sarapan?" tanya Mila yang baru juga datang.
"Ibu dengan siapa?"
"Aldi."
"Di mana dia?"
"Lagi melihat Sheila," jawabnya.
"Mama, aku lagi malas makan," ucap Sabrina.
"Jangan begitu, kasihan bayi yang ada dalam kandunganmu. Kamu harus makan agar bisa minum obat," Mila mengangkat piring berisi nasi dan menyuapkannya ke dalam mulut putrinya.
Arvan masuk dengan tergopoh-gopoh dan tersenyum menghampiri istrinya.
"Apa yang terjadi, Mas?"
"Sheila mulai sadar," jawabnya.
"Alhamdulillah," ucap ketiganya dengan serempak.
"Aku ingin bertemu dengannya,"ujar Sabrina sudah menurunkan kakinya ke lantai.
"Tidak, sayang. Nanti saja."
"Kenapa Mas?" tanya Sabrina.
"Dokter lagi melakukan pemeriksaan," ucap Arvan.
"Sabar, Sabrina. Semua akan baik-baik saja, tunggu Sheila benar-benar pulih." Meli berusaha menenangkan sahabatnya itu agar tidak terlalu panik.
"Betul, Nak. kau harus banyak beristirahat. Apalagi luka di tanganmu belum kering," ucap Mila.
"Dengarkan sayang, aku harus kembali ke sana melihat kondisi Sheila. Ibu, Meli, tolong jaga dia," ucap Arvan segera berlari keluar.
Meli dan Mila mengiyakannya dengan tersenyum.
Sementara itu Aldi yang sedang menunggu kesembuhan Sheila tersenyum senang.
Walau belum bisa berbicara, namun respon dari tatapannya membuat orang tuanya Sheila menangis. Gadis itu melihat dari tempat ia harus menjadi pasien, buliran air menganak di matanya.
__ADS_1
Aldi melambaikan tangan dan tersenyum, dari balik kaca jendela. Ia segera menghapus sisa air matanya, ia takut Sheila akan mengejeknya.