
Dua bulan sudah Yudis dan Stella berpisah, tapi tidak membuat Mama Linda berputus asa mencari pendamping untuk putranya.
Ia akan mencari wanita dari kalangan orang kaya, agar ia bisa menguras kekayaan menantunya dan anaknya. Baginya, Yudis adalah harta karun. Putranya selalu menuruti apa yang dia minta, namun tidak dengan pendamping.
Karena dihatinya Yudis hanya ada nama Sabrina. Hal itu yang membuat ia kesal.
Sabrina, wanita yang dapat membuat Yudis patuh dan tunduk. Makanya, Linda melakukan berbagai cara agar pernikahan mereka berantakan dan ternyata keinginan dia terwujud sempurna.
"Mama, ingin memperkenalkan kamu dengan seorang wanita," ucapnya pada Yudis.
"Sudahlah, Ma. Apa tidak bosan selalu memperkenalkan aku dengan anak teman-teman Mama?"
"Kau harus menikah," jawab Linda.
"Aku belum kepikiran menikah lagi," ujarnya.
"Kau mau menduda selamanya?"
"Ma, aku masih mencintai Sabrina. Jadi, tolong jangan paksa diriku untuk membuka hati menerima wanita lain," jawab Yudis.
"Dengarkan, Mama!" hardik Linda. "Mantan istrimu itu sedang berbahagia, sebentar lagi dia akan memiliki anak," tuturnya lagi.
"Tapi, aku tidak bisa memiliki keturunan. Untuk apa menikah?" tanyanya lagi.
"Kau bisa berobat, percayalah pasti bisa memiliki keturunan," jelas Linda menyakinkan.
"Baiklah, aku menerima tawaran Mama. Jika wanita itu menolakku, jangan salahkan diriku!"
"Asal kau diam dan tak mengatakan sebenarnya pasti semua baik-baik saja," ujar Linda.
"Ma, aku harus berkata jujur. Ku tak mau wanita itu kecewa," tutur Yudis.
"Kali ini ikutin kata Mama," ucapnya.
Yudis menghela nafas pasrah.
*
*
"Mana putra, Tante?" tanya seorang wanita berusia 27 tahun yang datang seorang diri, dia pengusaha toko ponsel.
"Dia lagi diparkiran," jawab Linda tersenyum.
Yudis pun muncul dan bergabung dengan dua wanita itu, ia tampak memaksa tersenyum.
"Nah, ini dia. Namanya Yudis," ucap Linda.
Mereka berdua pun saling berkenalan dan mengobrol tentang pekerjaan serta hobi
"Kalau saya boleh tahu penyebab perceraian anda, apa?" tanya wanita itu menyelidik, karena ia tahu apakah pria yang akan dikenalkan dengannya kasar atau tidak. "Saya dengar juga, anda sudah dua kali menikah," ucapnya lagi.
Yudis menoleh wajah Linda kemudian menatap wanita yang ada didepannya. "Karena saya tidak bisa memiliki keturunan," ujarnya.
Linda mendelikkan matanya. "Bodoh, kenapa harus berkata jujur?" batinnya.
Wanita itu cukup terkejut. "Maksud anda? Maaf 'ya, tidak subur?" tanyanya pada Yudis
"Ya."
Wanita itu menelan saliva. "Sepertinya kita tidak perlu melakukan perkenalan lebih lanjut, orang tua saya menginginkan cucu," ucapnya.
"Dia bisa berobat dan kalian bisa memiliki anak," bujuk rayu Linda.
Yudis hanya diam tak mau berbicara lagi.
"Maaf, saya tak bisa." Wanita itu beranjak dari kursi, pergi meninggalkan ibu dan anak.
__ADS_1
"Kenapa kau berkata begitu Yudis?" Linda mulai geram.
"Aku tidak mau, dia kecewa diakhir. Itu hanya membuatku berpisah untuk ketiga kalinya," jawab Yudis dan ia berjalan menuju parkiran.
Diparkiran ia bertemu dengan Karin bersama ibunya.
"Mama, tunggu di dalam saja!" ucapnya pada Linda agar menunggu dirinya di mobil.
Ia mempercepat langkahnya mengejar wanita itu. "Karin!" panggilnya.
Karin menoleh dan menatap malas pria yang memanggilnya.
"Siapa dia?" bisik Rindu.
"Mama duluan saja, aku mau bicara dengan dia!" titah Karin.
Rindu mengiyakan.
"Ada apa?" tanyanya malas.
"Hei, kita jumpa di sini!" jawab Yudis tersenyum.
"Kalau kau ingin aku bekerja sama untuk menghancurkan rumah tangga mantan istrimu, ku menolaknya!" ucap Karin tegas.
"Karin, kau bisa kembali pada Arvan." Bujuknya.
"Aku bilang tidak!" Karin memilih meninggalkan pria itu.
Yudistira kembali ke mobilnya dan meninggalkan kafe.
"Kenapa wajahmu begitu murung?" tanya Linda.
"Tak penting bagi Mama aku sedih atau bahagia," jawabnya ketus.
"Sial, dia mulai membangkang!" batin Linda.
*
"Ada teman yang ingin bertemu denganku," jawabnya.
"Teman yang mana?"
"Dia dari Kota M, mereka sekeluarga ke sini," jawabnya lagi.
"Oh, mereka yang menabrak mobilmu?"
"Ya."
"Ya sudah sana, cepat temui!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hai!" sapa Michael saat menjemput Nora di kantor tempatnya bekerja.
"Kamu? Ada urusan apa ke sini?"
"Mau menjemputmu pulang," jawab Michael.
"Hei, kenapa kau tahu kalau aku tidak bawa motor?"
"Mamaku yang menyuruhku menjemputmu," jawabnya.
"Oh, jadi kamu terpaksa begitu."
"Tidak juga," ujarnya.
"Aku tahu pasti Ibu yang memberi tahu Tante Tissa kalau ku bekerja tidak bawa motor," tebak Nora.
__ADS_1
"Bisa, karena tadi pagi mereka teleponan," ucap Michael. "Kau mau pulang atau tetap berdiri di sini?"
"Ya, pulanglah!" Nora masuk ke dalam mobil Michael. "Bagaimana kabar Kara?" tanyanya karena sudah tiga hari ia tak mengunjungi bayi mungil itu.
"Apa kau merindukannya?" tanya Michael.
"Iya, aku rindu dengannya."
"Kita ke rumah, yuk!"
"Rumah siapa?"
"Rumah orang tuaku, kau mau pulang ke rumah siapa?"
Michael menoleh ke arah Nora.
"Oh, tidak ada." Wanita itu dengan cepat membuang wajahnya.
Mobil berjalan menuju kediaman orang tua Michael. Raut wajah senang terpancar dari diri Kara. Ia melompat kegirangan saat melihat Nora.
Begitu juga dengan Nora, ia tertawa melihat tingkah lucu balita perempuan itu. Ia segera menggendongnya dan mendekapnya. "Ih, aku kangen banget samamu!"
Michael sedikit menjauh dari orang tuanya, Nora dan putrinya. Karena ia harus menjawab panggilan telepon dari seseorang.
"Mainan kamu banyak 'ya!" ucap Nora berbicara pada Kara.
"Itu dari Karin, ibunya Kara!" sahut Tissa.
"Oh," jawabnya singkat.
Kara mencoba mengambil sesuatu dari salah satu mainan, namun tangannya tak sampai. Akhirnya Nora membantunya.
"Mama kamu baik 'ya, dia beli mainan untuk Kara. Senang 'kan?" tanyanya pada Kara.
Bocah itu mengangguk dengan wajah imutnya.
"Telepon dari siapa?" tanya Tissa pada Michael saat ia kembali bergabung dan berkumpul bersama keluarganya.
"Karin!"
"Mau apa lagi dia?" Tissa tak suka mantan menantunya itu hadir di kehidupan putranya.
"Dia mengajak makan siang bersama," jawab Michael.
"Kau harus membawa Nora juga," usul Tissa.
"Kenapa harus bersamanya?" Michael mengecilkan suaranya.
"Kalau kalian berdua yang ada dia akan menggodamu!"
"Ma, aku sudah tidak punya perasaan lagi dengan Karin."
"Mulutmu sekarang bicara begitu, tapi kalau sudah bertemu lain cerita," gerutu Tissa.
"Baiklah, aku akan membawanya!" ucap Michael.
"Nah, begitu dong!" Tissa tersenyum puas. "Kau lihat 'kan, Kara sangat senang dengan Nora. Cepat nikahi dia sebelum pria lain mendekatinya," bisik Tissa.
"Ma, belum setahun juga aku dan Karin berpisah. Nanti apa kata orang," ujarnya.
"Kan, dia yang meninggalkanmu."
"Belum tentu Nora mau denganku," Michael mencari alasan.
"Mama dan ibunya akan paksa dia untuk menerimamu!" jawabnya santai.
"Huh, terserah Mama deh!" ujar Michael malas berdebat lagi.
__ADS_1