
"Ma, aku menolak melamar Nora!" Michael mengucapkan saat duduk santai dengan kedua orang tuanya.
"Apa kau tidak salah? Lamaran tinggal beberapa hari lagi," ucap Tissa.
"Kan, belum menikah Ma!" ujar Michael.
"Ini sama saja membuat malu kami," ungkap Tissa.
"Ma, lamaran belum dilaksanakan. Tidak ada yang dipermalukan," ucap Michael.
"Apa alasanmu membatalkan lamaran ini?" tanya Arya.
"Aku tidak mencintai Nora," jawabnya.
"Kara sudah cocok dengan Nora," sahut Tissa.
"Selain itu?"
"Aku ingin kembali rujuk dengan Karin," jawabnya.
"Apa!" Arya dan Tissa terkejut.
"Apa kami tidak salah dengar?" tanya Arya.
"Tidak, Pa."
"Apa kau yakin kembali padanya? Setelah apa yang ia lakukan padamu?" Tissa tak suka putranya kembali pada mantan istrinya.
"Karin sudah berubah, Ma." Tutur Michael.
"Lalu kau percaya padanya?" tanya Arya.
"Iya, Pa. Aku mengirim orang lain untuk mengawasi gerak-geriknya." Jawabnya.
"Mama tidak setuju, kau kembali padanya!" Tissa menolak tegas.
"Ma, aku tidak bisa melupakan dia!" ucap Michael.
Arya menghela nafasnya. Dia memijit pelipisnya.
"Pa, bagaimana ini?" tanya Tissa.
"Papa tidak bisa berbuat apa-apa lagi," jawab Arya. "Jika dilanjutkan yang ada Nora tersakiti," ucapnya lagi.
"Terima kasih, Pa." Michael memeluk Arya.
"Papa ingin memastikan lagi kalau Karin, benar-benar berubah," ucap Arya.
"Aku bisa pastikan kalau Karin sudah berubah," ucap Michael menyakinkan.
"Papa, kenapa malah mendukung?" protes Tissa.
"Biarkanlah, Ma. Michael juga sudah dewasa," ujar Arya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bukankah acara lamaran tinggal beberapa hari lagi?" Tanya Nisa saat kedua orang tua Michael datang ke rumahnya.
"Maafkan, kami!" ucap Tissa lesu.
Nora dan Nisa mengernyitkan keningnya.
"Kami tidak melanjutkan hubungan ini," lanjut Tissa.
"Kenapa?" tanya Nisa berusaha setenang mungkin.
"Michael menolak perjodohan ini dan ia berniat rujuk dengan mantan istrinya," jawab Tissa ragu.
Nisa menatap putrinya. Ada raut wajahnya yang kecewa.
"Tidak apa, Tante. Mungkin itu yang terbaik untuk Michael," ujar Nora.
"Kalian tidak marah, kan?" tanya Tissa.
"Kami tidak marah, bukankah pernikahan harus dijalankan oleh dua orang yang saling mencintai dan menyayangi?" ungkap Nora.
"Terima kasih banyak, Nak. Semoga kau menemukan seseorang terbaik lebih dari putra kami," ujar Arya.
"Terima kasih, Om." Nora mencoba tersenyum.
"Sekali lagi. Maafkan, kami!" ucap Arya.
__ADS_1
"Tidak apa, Nora juga sudah ikhlas atas pembatalan lamaran ini," ujar Nisa.
"Kalau begitu, kami permisi pulang. Jika kau ingin bertemu dan bermain dengan Kara. Pintu kami terbuka untukmu, Nak!" ucap Tissa
Nora membalasnya dengan tersenyum.
*
*
*
Nora menyeka air matanya yang perlahan jatuh, ia lagi memenangkan diri menikmati es kopi di sebuah kafe tak jauh dari rumahnya. Lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan gagal menikah.
Sambil menikmati alunan musik yang disediakan pemilik kafe, membuat ia menarik sudut bibirnya kala mendengar lagu yang menyindir hatinya.
"Apa aku boleh duduk di sini?" Seorang pria tersenyum hangat menyapanya.
"Pak Theo?"
"Hei, jangan panggil aku Bapak!" tolaknya.
"Jadi, saya harus panggil apa?"
"Theo saja boleh, biar kita akrab," jawabnya tersenyum.
"Ada keperluan apa Bapak eh kamu ke sini?"
"Ada urusan keluarga," jawabnya. "Kau sendirian?" tanyanya.
"Seperti yang kamu lihat," ucap Nora.
"Kau sering ketemu Yudis?" lanjutnya bertanya.
"Beberapa bulan yang lalu, kami sempat bertemu. Setelah itu tak pernah komunikasi lagi," tutur Nora.
"Dia juga sudah tidak bekerja lagi," ungkap Theo.
"Kenapa?"
"Dia sekarang adalah pemimpin Arman Jaya Grup," jelas Theo.
"Loh, kok bisa?" Nora tak percaya.
"Jadi, dia anak angkat?"
"Bukan, dia anak tiri Om Hendi."
"Wah, ternyata Pak Yudis orang kaya juga. Makin senang dong Tante Linda," ucap Nora.
"Tidak juga," ujar Theo.
"Loh, bukankah Tante Linda ingin cari menantu yang kaya. Sekarang malah anak kandungnya yang jadi orang kaya raya benaran," tutur Nora.
"Tante Linda semakin tertutup dan banyak diam," ujar Theo.
"Mungkin dia menyesal, membuat Pak Yudis menderita selama ini."
"Mungkin saja," tebak Theo asal. "Ngomong-ngomong, kenapa kau cuma sendiri dari tadi ku lihat melamun," ucapnya.
"Cuma ingin sendiri saja," Nora berusaha menutupi kesedihannya.
"Berarti aku tidak boleh menemanimu?"
"Boleh, kok."
"Apa kamu punya masalah?"
"Tiap orang pasti punya masalah," jawab Nora.
"Cobalah cerita mana tahu aku bisa bantu," Theo menawarkan dirinya.
Nora mencoba tersenyum. Namun, air matanya kembali menetes.
"Hei, kenapa menangis? Malu dilihat orang," Theo melihat ke kanan kirinya.
Nora mengambil tisu dengan cepat menghapus air matanya.
"Ceritakan jika ada masalah!"
"Kamu pernah tidak di tolak seseorang sebanyak dua kali?"
__ADS_1
"Pernah nembak seseorang tapi ia menolaknya, itu cuma sekali 'sih," tutur Theo. Ia pernah naksir teman kerjanya dan mengutarakan perasaannya eh wanita itu malah menyukai sahabatnya sendiri.
"Sakit tapi tak berdarah, dua kali gagal menikah dengan orang yang sama," ungkap Nora berusaha tersenyum.
"Kau menyukainya?"
Nora menggelengkan kepalanya. "Kami dijodohkan."
"Jadi, pria itu yang menolak perjodohan ini?"
"Iya."
"Uh, kasihan. Apa kau perlu bahu untuk bersandar?" Theo memegang bahu dirinya.
"Aku boleh mukul kamu?"
Theo memegang wajahnya. "Jangan dong!"
"Biar rasa kesal dan marahku hilang," ucap Nora.
Theo tergelak. "Ternyata kau sangat mengerikan jika lagi kecewa," ujarnya.
Nora kembali menangis. Theo menyodorkan tisu lagi.
"Ayo, ikut aku!"
"Ke mana?"
"Ke tempat kau bisa meluapkan amarahmu!"
Nora pun mengiyakan ajakan Theo. mereka berkunjung ke sebuah wahana permainan di sebuah mall.
"Ngapain kita ke sini?"
"Aku akan mentraktirmu, bermainlah dengan sepuasnya!"
"Kamu juga ikut main?"
"Iya, aku akan menemanimu!"
Mereka berdua menikmati wahana permainan, tampak Nora begitu senang. Sedikit rasa kecewa dan kesalnya hilang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mbak, aku mau cincin yang itu dong!" tunjuk seorang pria pada Karin.
Karin mengambilnya dan menunjukkannya. "Ini, Pak!"
"Ini harganya berapa?"
"Oh, ini dua puluh juta."
"Pinjam jari tanganmu!"
Karin tampak ragu.
"Ukuran jari kekasih saya seperti kamu!"
Karin pun mengulurkan tangannya, pria itu memasukkan cincin itu ke jemarinya.
"Cantik!"
"Memang cincinnya cantik, Pak!" Karin tersenyum
"Kamu juga!" membuat wanita yang ada didepannya mengendurkan senyumnya.
"Pasti kekasih Bapak senang dengan cincin ini," Karin berusaha mengatasi kegugupannya.
"Pasti, kamu juga cantik menggunakan itu!"
Karin membuka cincin yang tersemat di lingkar jemarinya.
"Siapa yang menyuruh buka?" tanya pria itu.
"Bapak jadi beli yang ini, kan?"
"Iya, saya jadi beli tapi untuk kamu!"
"Pak, maaf saya tidak bisa menerimanya." Karin membuka cincin itu dan meletakkannya kembali di etalase toko.
"Semua wanita pasti menyukai perhiasan," ucap pria itu lagi.
__ADS_1
"Tapi saya tidak bisa menerimanya, karena kita tidak saling kenal," tuturnya.
"Kalau begitu, mari kita kenalan!" pria itu mengulurkan tangannya.