Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 37


__ADS_3

Hari ini acara lamaran, Sabrina tampak begitu cantik dan selalu tersenyum. Walau ini adalah momen kedua dalam hidupnya, ia begitu semangat menyambutnya. Karena keluarga besar dari calon suaminya begitu menyayanginya dan menerima dirinya apa adanya.


Toni beserta istrinya juga datang begitu juga dengan anaknya. Dua keluarga besar telah berkumpul, seorang pria membuka acara. Prosesi lamaran berlangsung lancar dan diputuskan pernikahan akan dilaksanakan bulan depan.


Wajah sumringah tampak terpancar dari kedua calon pengantin. Acara pun selesai, semua tamu yang hadir menikmati hidangan dan berpamitan pulang.


"Selama menuju hari pernikahan, kalian dilarang bertemu," ucap Dewi pada Arvan di depan Sabrina. Sebelum mereka membubarkan diri.


"Kenapa begitu, Bu? Aku sopir pribadinya Sabrina pasti tiap hari bertemu?" protes Arvan.


"Ibu akan menggantinya,"jawab Dewi.


"Tunggu, Bu. Menggantinya maksudnya?" Sabrina mulai bingung dengan arah pembicaraan.


"Arvan hanya pura-pura menjadi sopir agar dekat dengan kamu," ujar Dewi.


"Pura-pura?" Sabrina balik bertanya.


"Kamu saja yang jelaskan," ucap Dewi pada putranya lalu ia pergi menghampiri tamu yang masih belum pulang.


"Maksudnya, Ibu kamu?" Sabrina menatap wajah Arvan.


Arvan menarik nafasnya lalu tersenyum. "Setelah kita menikah aku akan menjelaskannya," ucapnya.


"Aku akan menagihnya nanti," ujar Sabrina.


"Iya, Nona!" Arvan menoel hidung calon istrinya dan tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mama tidak setuju kamu menikahi Karin," ucap Tissa.


"Ma, aku mencintai Karin," ujar Michael.


"Kamu akan dijodohkan dengan anak teman Mama," Tissa berusaha tegas dengan putranya.


"Aku tidak mau, kami belum saling kenal." Ujar Michael. "Mengapa Mama tidak menyukai Karin?" tanyanya.


"Kamu mau tahu, alasan Mama tidak menyukainya?"


"Iya, Ma."


"Mama belum mengenal keluarganya dan satu lagi wanita itu tak ada sopannya, berpakaian seksi begitu kayak tidak ada pakaian layak aja," gerutu Tissa. Beberapa minggu yang lalu, Michael membawa Karin ke kota M untuk diperkenalkan. Wanita paruh baya itu terpaksa menemui putranya ke kota B hanya sekedar memberikan nasehat padanya.


"Michael tetap akan menikahi Karin," ucapnya bersikeras.


"Baiklah, silahkan kamu meninggalkan rumah ini dan tinggallah di apartemen saja," usir Tissa.


"Ma, jangan begitu. Karin tidak mau tinggal di apartemen," ucap Michael.


"Berarti wanita itu tidak tulus mencintaimu," sahut Tissa.


"Ma!" rengek Michael.


"Kamu mau dengar Mama atau bersama wanita itu," ucap Tissa memberikan pilihan.


"Aku memilih Karin," jawabnya.


"Mama menerima keputusan kamu, tapi jangan harap kami akan membantumu jika butuh sesuatu," ujar Tissa meninggalkan putranya yang masih berpikir. Beberapa langkah ia membalikkan badannya. "Kamu tinggalkan rumah ini, sekarang!" lanjutnya memberikan peringatan.


Michael hanya diam, ia berlari mengejar Tissa.


"Mama mau ke mana?" tanya Michael.


"Pulang," jawabnya ketus.


"Baru saja sampai, sudah mau pulang." Ucap Michael.


"Ngapain Mama di sini? Untuk melihat kamu bermesraan dengan kekasihmu itu!" sindir Tissa.

__ADS_1


"Tinggallah di sini sehari," pinta Michael.


"Lebih baik, Mama tidur di hotel saja." Ujar Tissa menaiki mobil mewahnya.


Tak lama Tissa pergi, Karin datang seperti biasa ia akan meminta uang pada kekasihnya itu.


"Sayang, kamu ngapain ke sini?" tanya Michael gugup.


"Biasanya aku 'kan ke sini, memangnya kenapa?" tanya Karin balik.


"Ada Mama di sini," jawabnya.


"Apa? Calon mertuaku di sini, mana dia?" Karin mencari-cari sosok yang dimaksud.


"Dia tidur di hotel," jawab Michael.


"Kenapa tidur di hotel?"


"Aku harus meninggalkan rumah ini," ucap Michael lirih.


"Apa?" Karin terkejut. "Memangnya kenapa?" ia penasaran.


"Rumah ini akan dijual," Michael terpaksa berbohong.


Karin menelan saliva. "Kenapa seperti ini?" batinnya bertanya.


"Tapi, aku masih punya apartemen," ucap Michael.


"Perusahaan kamu?" tanya Karin.


"Perusahaan masih milikku," jawabnya.


"Oh, baguslah. Setidaknya dia tidak miskin banget," batin Karin.


"Kamu masih mau menikah denganku, kan?" tanya Michael.


"Menikah, ya?"


"Aku mau," jawab Karin semangat.


Michael tersenyum bahagia. "Terima kasih," ucapnya mengenggam dan mencium kedua tangan Karin.


*


*


"Mas, kamu menjemputku bukankah Tante melarang kita bertemu?" tanya Sabrina saat pria itu menunggunya di luar toko.


"Aku rindu kamu," jawabnya.


Sabrina tertawa. "Sebulan lagi kita menikah, pasti tiap hari bertemu."


"Masih terlalu lama," ujarnya.


"Bicaranya sekarang begitu, setelah menikah apakah tetap sama?" tanya Sabrina menyebikkan bibirnya.


"Cintaku padamu takkan berubah," gombal Arvan.


"Ciih, sudah pandai saja merayu." Ujar Sabrina memainkan bibirnya.


Arvan tergelak melihat ekspresi wajah Sabrina.


"Ada hal apa Mas sampai harus menjemputku?" tanya Sabrina serius.


"Kita ke butik khusus gaun pengantin," jawab Arvan.


*


Sesampainya di butik, Sabrina menggunakan gaun yang akan dikenakannya di acara sakral. Tampak Dewi juga hadir untuk membantu calon menantunya memilih gaunnya.

__ADS_1


"Bagaimana, Tante?" Sabrina menggunakan gaun berwarna biru muda.


"Cantik," jawab Dewi tersenyum. "Menurutmu, bagaimana?" ia bertanya pada Arvan tanpa menatapnya.


"Cantik banget," puji Arvan tak berkedip.


"Matanya biasa aja," Dewi mengusap mata putranya.


Arvan memegang tengkuknya karena malu, wajah Sabrina bersemu merah dipuji calon suaminya.


"Bagaimana Sabrina apa kamu mau yang warna ini?" tanya Dewi.


"Sabrina mengikuti mau Tante saja," jawabnya.


"Kamu yang mau menikah kok malah ikutin maunya Tante," ujar Dewi.


"Apa yang menurut Tante baik, Sabrina menerimanya." Ujarnya.


"Tapi kamu memang menyukai warnanya, kan?" tanya Dewi sekali lagi.


"Iya, Sabrina suka." jawabnya.


"Ya, sudah. Kami mau yang ini," ucap Dewi menunjuk gaun yang dicoba Sabrina dan Arvan pada pemilik butik.


Setelah melakukan pembayaran dan pengemasan, mereka pulang bersama. Arvan mengantar Sabrina ke rumahnya terlebih dahulu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa hari kemudian...


Yudis yang kebetulan sedang berada di kota B, mendapatkan undangan pernikahan dari mantan istrinya.


"Undangan dari siapa?" tanya Linda penasaran.


"Sabrina."


"Jadi nikah juga dia?" tanya Linda sinis. "Kamu kapan?"


Yudis hanya menatap Linda dan tak menjawabnya.


"Siapa tadi yang mengantarnya?"


"Kurir, Ma."


"Apa kamu datang?" tanya Linda.


"Iya, Ma."


"Dengan siapa?"


"Entahlah, Ma."


"Sama Stella saja," usul Linda.


"Tidak, Ma. Aku akan pergi bersama Nora." Ucapnya.


"Wanita itu jauh-jauh datang kemari hanya untuk menemanimu undangan," ucap Linda tak suka.


"Dia kekasihku, Ma."


"Wanita miskin begitu, kamu mau saja." Ucap Linda nyinyir. "Apa kamu tidak bisa cari wanita kaya raya?" tanyanya.


"Mama selalu saja memandang wanita yang dekat dengan aku dari statusnya," ujar Yudis mulai kesal.


"Itu semua agar hidupmu dan orang tua kamu ini terjamin," ucap Linda.


"Ma, aku capek. Malas berdebat sama Mama," ujar Yudis memilih masuk ke dalam kamar.


"Huh, kamu dan mantan istrimu sama saja. Tapi Sabrina cocok juga dapat pria itu sama-sama susah!" gumamnya.

__ADS_1


Linda melihat undangan yang terletak di meja tamu dan membacanya. "Ini 'kan hotel mewah, banyak juga uang calon suaminya Sabrina. Ah, paling dikasih pinjam doang," ucapnya menyebikkan bibirnya.


__ADS_2