
"Jangan sentuh aku!" ia berteriak saat tangan Michael meraup tubuhnya.
"Tenanglah, Nak! Dia Michael," ucap Roy.
Dokter yang dipanggil menyuntikkan obat penenang, karena dari sadar Karin terus berteriak dan menangis.
"Pasien mengalami trauma," ucap Dokter.
"Apa masih bisa disembuhkan, Dok?"
"Bisa, pasien butuh penanganan khusus," jawab Dokter.
Rindu kembali menangis melihat kondisi putrinya. "Bagaimana, Pa?"
Michael menjambak rambutnya melihat kondisi Karin.
*
Michael mengabarkan pada Mama Tissa kalau Karin sudah sadar. Ada rasa lega di hatinya saat mendengar kabar itu, namun senyumnya kembali memudar saat putranya mengatakan jika mantan menantunya mengalami trauma.
"Jadi apa yang akan kau lakukan?" tanya Tissa.
"Aku akan mengirimkannya jauh dari kota ini, untuk menangani traumanya," jawab Michael.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini tepat setahun Arion, keluarga besar Arvan akan melakukan perjalanan jauh mengunjungi Sheila yang sedang menuntut ilmu di negeri orang.
Sesampainya di sana, mereka disambut Paman Dani dan keluarganya. Sheila tampak begitu senang berjumpa dengan Sabrina dan putranya.
"Aku rindu kalian!" Sheila mencium pipi Arion berkali-kali.
"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Sabrina.
"Lancar, Kak."
"Betah juga di negeri orang," sahut Arvan.
"Harus betah, biar jadi orang sukses."
"Bagus," Arvan mengacungkan jempol tangannya. "Kau semakin dewasa saja," lanjutnya.
Mereka jalan-jalan menikmati suasana sore hari sekitar rumah Paman Dani.
Sheila selalu menggendong Arion, tak mau lepas dari bocah laki-laki itu.
"Aldi baru saja mengirimkan pesan padaku, dia titip salam untukmu," ucap Sabrina.
__ADS_1
"Cie... dapat salam nih," celetuk Arvan.
"Ih, apaan 'sih Kak!" Wajah Sheila bersemu merah.
"Dia malu," Arvan terus meledeki sepupunya itu.
"Aldi pun jarang pulang, sejak kamu pergi melanjutkan pendidikan ke luar negeri," tutur Sabrina.
"Ya, iyalah. Seseorang yang ia sukai, ke luar negeri. Jadi, malas mau bolak balik pulang," ceplos Arvan.
"Aku ke dalam dulu," pamitnya berlari menuju rumah Paman Dani.
Di dalam rumah, Sheila membuka ponselnya dan melihat sosial media milik Sabrina bahwa ia sudah mengunggahnya dua jam yang lalu.
"Pantas saja dia mengirimkan pesan pada Kak Sabrina," ia melihat foto dirinya, istri sepupunya dan putranya.
Selama ini, dia memblokir seluruh sosial media milik Aldi begitu juga dengan nomor teleponnya. Dia beralasan agar berkonsentrasi dalam belajar. Ia tak mau terganggu karena postingan pria itu dengan kekasihnya. Cemburu, pastinya.
Ia kembali bergabung dengan keluarga yang lainnya dan menyapa Arion yang sudah berjalan.
"Sudah?" tanya Arvan
"Sudah apa, Kak?"
"Sudah melihat postingan Kak Sabrina?"
"Kamu sudah memblokir seluruh media sosial miliknya, kan?"
"Dari mana Kak Arvan tahu?" batinnya bertanya.
"Benar, kan?"
"Enggak , Kak."
"Terus kenapa Aldi bilang, dia tak bisa mengirimkan pesan atau menelepon dirimu?"
Sheila semakin terpojok dengan pertanyaan itu, ia malah meninggalkan Arvan yang masih menunggu jawabannya.
"Sheila.. Sheila," ucap Arvan tersenyum.
"Mas, kasihan Sheila terus kamu tanya," ujar Sabrina yang sedari tadi melihat suaminya dan gadis itu bicara.
"Kamu tidak kasihan dengan suamimu ini, adik iparnya selalu bertanya tentang Sheila," ucap Arvan mencubit pipi istrinya.
"Sakit, Mas!" Ia menurunkan tangan suaminya.
"Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka," usul Arvan.
__ADS_1
"Aku setuju saja, tapi apa mereka mau?"
"Sheila pasti mau, ku lihat dia sepertinya menyukai Aldi," jawabnya.
"Aku ikut kamu saja, Mas!"
*
*
"Apa kalian belum menemui Putra?" tanya Michael pada orang suruhannya.
"Sepertinya dia tidak di Kota ini lagi, Pak!"
"Sial!"
"Maafkan kami, Pak!"
"Kalian pergilah!"
"Di mana dia?"
Roy dan istrinya menolak melaporkan kejadian ini, karena kondisi Karin yang tidak memungkinkan mengorek informasi darinya.
Karin tiba-tiba sering menangis dan menjerit, terkadang dia terduduk sambil memeluk lutut di sudut kamar.
Rambutnya berantakan dan badannya kurus, wajahnya pucat. Terkadang ia melempari barang-barang yang ada didekatnya,ketika ada orang lain terutama pria selain orang tuanya ia selalu berteriak ketakutan.
Dokter spesialis juga didatangkan untuk menangani kasus Karin seluruh biaya perobatan ditanggung Michael karena ia berjanji akan selalu ada untuk wanita itu.
...----------------...
SELESAI
...****************...
Terima kasih atas dukungan kalian. Baik berupa like, komen, poin dan vote.
Kisah Karin, Michael, Putra dan pria misterius akan ku buatkan di judul yang baru.
Tak lupa juga kisah cinta segitiga Aldi, Sheila dan Alena.
Tentunya Stella, Gunawan, Nora dan Theo.
Sosok Yudistira, Sabrina dan Arvan juga akan muncul.
Sekali lagi terima kasih ☺️
__ADS_1