Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 36


__ADS_3

"Ada apa, Sabrina?" tanya Mila dengan nafas terengah-engah. Wanita paruh baya itu berlari saat mendengar putrinya berteriak.


Nenek pun dengan langkah terburu-buru menghampiri cucunya. "Ada apa? Kenapa berteriak?"


"Mas Arvan," ucap Sabrina lirih, tubuhnya terduduk lemas di sudut ranjang.


"Kenapa dengan Arvan?" tanya Mila khawatir.


"Dia mengalami kecelakaan," ucap Sabrina menangis memeluk ibunya.


"Siapa yang mengabarimu?" tanya Mila.


"Ayahnya," ucap Sabrina terisak.


Nenek yang duduk di samping cucunya, ikut menenangkan.


"Kamu mau ke kota itu?" tanya Mila.


Sabrina menggelengkan kepalanya pelan. "Ayahnya melarang," ucapnya.


"Jadi yang ke sana, siapa?" tanya Nenek.


"Orang tuanya dan beberapa keluarga lainnya," ucap Sabrina mengusap air matanya.


"Apa kamu akan bekerja?" tanya Mila.


"Aku bingung, Bu." Ucapnya lirih.


"Kamu di rumah saja, biar sopir temanmu itu yang meminta izin atau Ibu yang akan menemui pemilik toko," ujar Mila.


"Biar Sabrina telepon saja Pak Andi," ucapnya.


Sopir yang akan mengantar Sabrina berkerja telah datang, ia membunyikan klakson mobil.


"Sepertinya itu dia sopir yang menjemputmu, biar Ibu saja yang bicara padanya," ucap Mila dibalas dengan anggukan Sabrina.


*


*


Sepanjang hari, Sabrina terus menangis. Wanita itu berkali-kali melihat ponselnya, ia mencoba menghubungi Arvan tapi nomornya tidak aktif. Ia juga mencoba melakukan panggilan telepon kepada calon mertuanya, tetap sama tidak bisa dihubungi.


"Kamu makan dulu, Nak!" ucap Mila membawakan sepiring nasi dan air putih ke dalam kamar.


"Sabrina belum lapar, Bu." Ucapnya dengan suara parau.


"Kamu harus makan, Arvan pasti baik-baik saja." Ucap Mila menguatkan putrinya.


"Bagaimana aku bisa makan, Bu? Sedangkan kabar darinya belum ku dapatkan," ungkapnya dengan nada lirih.


"Mungkin sinyal di sana sulit, nanti kamu coba lagi menghubungi mereka," ujar Mila.


Sabrina mengangguk, Mila menyuapkan nasi ke dalam mulut putrinya. Walau menolak, wanita itu tetap memaksa agar ada makanan yang masuk ke perutnya.


"Kamu tidurlah, tenangkan dulu!" Mila berusaha tetap santai, walau hatinya juga gundah.


Sabrina pun tertidur karena lelah menangis.


*


Sore harinya, ia masih membuka ponselnya menunggu kabar dari Arvan. Ia pun mencoba menghubunginya dan keluarganya.

__ADS_1


Panggilan pertama tersambung ke nomor ponsel Dewi.


"Halo, Tante!" ucap Sabrina bergetar.


"Halo, Nak!" jawab Dewi masih dengan suara serak


"Bagaimana kondisi Mas Arvan, Tante?"


"Arvan belum sadar," jawabnya dengan terisak.


"Apa begitu parah?"


Dewi hanya diam dan kembali menangis membuat Sabrina semakin khawatir.


"Tante, apa yang terjadi?" tanya Sabrina mulai panik.


"Tante, belum bisa cerita. Kami akan membawanya pulang," jawab Dewi. "Tante, tutup dulu teleponnya!" ucapnya mengakhiri pembicaraan.


"I..iya, Tante." Masih dengan bibir bergetar ia menutup panggilan teleponnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Masih dengan wajah sedih, Sabrina memaksa untuk kembali bekerja. Walau Pak Andi memberikan izin, tapi ia menolaknya. Karena pemilik toko sudah cukup baik kepadanya.


"Kamu tidak apa-apa, Sabrina?" tanya Meli yang sedang melipat pakaian.


Sabrina berusaha tersenyum.


"Kamu pulang saja, pikiranmu masih kacau." Ucap Meli.


"Aku tidak apa-apa, Mel."


"Baiklah, jika butuh sesuatu panggil aku," ucap Meli.


Meli menjawabnya dengan tersenyum.


Sepulang kerja, Sabrina pergi ke rumah orang tua Arvan. Karena tadi pagi, Dewi mengatakan telah sampai di rumah.


*


Sesampainya di rumah tampak sepi, tidak ada keluarga atau kerabat berdatangan sekedar menjenguknya.


Dewi menyambut calon menantunya dengan wajah ceria dan terlihat santai seperti tidak ada kejadian.


"Mari masuk!" ucapnya ketika Sabrina mengucapkan salam.


"Di mana Arvan, Tante? Bagaimana dia?" cecar Sabrina tak sabar.


"Tenang saja dulu, duduklah. Tante, akan buatkan kamu minuman." Kata Dewi.


Sabrina pun menuruti perkataan calon ibu mertuanya, ia duduk di kursi ruang tamu dengan harap-harap cemas.


"Sebenarnya Mas Arvan, di mana? Kenapa Tante Dewi terlihat biasa saja," batinnya terus bertanya.


Tak lama menunggu, segelas teh tersedia di meja tamu. Sabrina masih memainkan ponselnya melihat foto kebersamaannya dengan Arvan.


"Silahkan diminum tehnya!"


Sabrina mengangkat wajahnya dan melihat ke arah suara. "Mas Arvan!" ucapnya kaget bercampur bahagia.


Pria itu hanya tersenyum, tampak luka di keningnya yang tidak terlalu parah. "Kenapa wajahmu?" Ia mendekati Sabrina dan duduk disampingnya.

__ADS_1


"Tante, bilang kamu mengalami luka yang cukup parah dan tidak sadar," ujar Sabrina.


"Oh, itu. Aku yang menyuruh Ibu berbohong, soal tidak sadar. Memang kenyataannya, pas kamu telepon ku lagi tidur 'ya pastinya tidak sadar," jawab Arvan santai.


Sabrina memukul dada Arvan dan mengerucutkan bibirnya. "Kamu tidak tahu bagaimana khawatirnya aku? Berkali-kali menghubungimu tidak bisa, aku panik dan cemas. Terus-terusan menangis, Mas Arvan jahat banget!" ucapnya sambil mengeluarkan air mata.


Arvan memegang tangannya dan menarik tubuh Sabrina dan memeluknya. "Maafin, aku!" ucapnya tertawa.


"Ini tidak lucu, Mas!"


"Iya, ya. Aku minta maaf," ucap Arvan.


"Tujuan Mas melakukan ini, apa?" Sabrina mendongakkan kepalanya dan melepas pelukan kekasihnya.


"Cuma ingin tahu saja kalau kamu benar-benar sayang atau tidak."


"Tapi tidak begini juga, Mas!" protesnya.


"Aku minta maaf, Nona!" ucapnya tersenyum. "Wajah kamu sepertinya sangat lelah?"


"Sangat lelah," Sabrina menekankan kata-katanya.


"Apa kamu semalam tidak bisa tidur?" tanya Arvan meledek.


"Bagaimana aku bisa tidur nyenyak, kalau kabar kamu saja belum didapatkan," jawab Sabrina ketus.


"Ternyata kalau menangis, wajahmu jelek!" Arvan sengaja memancing emosi calon istrinya.


"Sudah tahu jelek, tapi dibuat menangis," ucap Sabrina kesal.


Arvan menghapus air di sudut mata Sabrina dengan lembut. "Aku janji tidak akan membuatmu menangis."


Sabrina pun tersenyum bahagia ternyata kekasihnya itu baik-baik saja.


"Eheem.." suara Dewi menghentikan obrolan Arvan dan Sabrina.


"Eh, ada Ibu!" Arvan tersenyum nyengir.


"Sepertinya pernikahan mereka harus segera dilaksanakan, Yah." Ucap Dewi yang duduk di depan Arvan dan Sabrina.


"Benar, Bu. Anak kita sepertinya cinta banget dengan calonnya," sahut Fandi.


Arvan menggaruk tengkuknya, begitu juga dengan Sabrina memaksakan senyumannya.


"Maafkan, Tante. Arvan yang menyuruhnya," ucap Dewi merasa bersalah.


"Mas Arvan juga sudah cerita," ucap Sabrina tersenyum.


"Tante, berpikir dia mengalami cukup parah ternyata bagian depan mobil sedikit ringsek. Beruntung dia dan temannya tidak mengalami luka yang serius," jelas Dewi.


"Tante Dewi ketika mendapatkan kabar kecelakaan dia begitu panik, cuma Om menghubungi teman Arvan kalau mereka tidak mengalami luka terlalu parah," sambung Fandi.


"Jadi Om dan Tante, tidak menyusul Arvan ke kota A?" tanya Sabrina.


"Tidak, kami di rumah saja." Jawab Dewi.


"Lalu urusannya di kota A, bagaimana? Apa sudah selesai juga?" tanya Sabrina pada Arvan.


"Sudah, kami mempercepat urusannya biar tidak terlalu lama di sana," jawab Arvan.


"Jadi kalau kamu mau marahi karena telah membuat panik, salahkan Arvan!" tunjuk Dewi bercanda.

__ADS_1


"Iya, aku salah. Ku minta maaf," ucapnya melirik Sabrina.


__ADS_2