Melupakan Sang Mantan

Melupakan Sang Mantan
Bab 7


__ADS_3

"Astaga, aku terlambat menjemput Sabrina!" Yudis terbangun dan melihat jam dinding menunjukkan pukul 10 malam, sepulang dari kafe ia merebahkan diri di sofa tapi malah ketiduran.


Ia melihat ponselnya mati, lupa mengisi daya baterai. Ia mengambil kunci mobil dan berlari tak lupa mengunci pintu rumah. Malam ini hujan turun cukup deras.


"Pasti dia sudah menunggu lama," gumam Yudis.


Sementara itu, Sabrina berkali-kali menghubungi suaminya tapi nomor tersebut tak pernah nyambung. Dia semakin gelisah ketika air dari langit perlahan turun.


Ia semakin tak tenang perlahan satu persatu teman kerjanya berpulangan, lampu toko pun sebagian sudah padam.


Arvan yang keluar toko dan hendak pulang melihat Sabrina duduk sambil memegang ponselnya dengan perasaan cemas.


"Kamu belum pulang?" pertanyaan Arvan mengejutkan Sabrina.


"Suami belum jemput, Pak!" jawabnya.


"Mari, saya antar pulang!" tawar Arvan.


Sabrina belum menjawab dan sejenak berpikir.


"Hujan sangat deras, apa kamu masih mau tetap menunggu?" tanya Arvan lagi.


"Tapi, Pak!"


"Apa sudah menghubungi suamimu?"


"Sudah, Pak. Tapi ponselnya tidak aktif," jawab Sabrina.


"Biar saya antar kamu saja," tawar Arvan sekali lagi.


Sabrina masih berpikir, jika naik ojek belum tentu ada yang mau mengantar hujan begini dengan kondisi hari sudah malam.


"Bagaimana?"


"Boleh, Pak!" Sabrina pun menerima tawaran Arvan tuk mengantarnya tak lupa ia juga menyampaikan pesan kepada penjaga keamanan jika suaminya menjemput katakan kalau sudah pulang.


Yudis, mengendarai mobilnya dengan hati-hati karena jalanan cukup licin. Ia berkali-kali melihat jam di tangannya.


Sesampainya, ia melihat toko terlihat gelap. Lalu ia bertanya pada penjaga keamanan.


"Maaf, Mas. Apa istri saya sudah pulang?"


"Sudah, Pak. Sepuluh menit yang lalu," jawabnya.


"Dengan siapa?"


"Pak Arvan."


"Dia siapa?"


"Pemilik toko ini," jawabnya lagi.


"Oh, kalau begitu. Terima kasih, Mas!" ucap Yudis. Kemudian ia memutar balik mobilnya menuju rumah.


Sabrina yang baru saja sampai di antar Arvan, melihat rumah kosong. Berkali-kali dia mengetuk dan mengucapkan salam tapi suaminya tak kunjung keluar. Dia berjalan ke garasi, ia tak melihat mobil milik Yudis.


"Apa dia sedang keluar?" tanyanya dalam hati.


Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu dan duduk di teras rumah. Tak lama mobil Yudis, suaminya itu segera keluar dari kendaraannya.


"Sayang, maaf. Tadi aku ketiduran jadi terlambat menjemputmu," ucap Yudis merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Mas. Ponselmu kenapa tidak aktif?"


"Aku lupa mengisi daya," ucap Yudis sembari membuka pintu rumah.


"Mas, sudah makan malam?" tanya Sabrina.

__ADS_1


"Sudah tadi di kafe bersama teman-teman," jawabnya.


"Kamu?"


"Sudah, Mas!"


"Tadi kamu diantar dengan siapa?"


"Pak Arvan, bos aku."


"Apa dia masih muda?"


"Mungkin sebaya kamu."


"Kamu jangan tergoda dengannya," ucap Yudis.


Sabrina menatap suaminya dan tertawa kecil."Aku sudah menikah, mana mungkin berani melanggar janji suci pernikahan."


"Aku cemburu jika kamu dekat dengan pria lain," ucap Yudis lagi.


"Aku juga cemburu mendengar Mama menyebut nama wanita lain dan membandingkanku dengan dirinya," sahut Sabrina.


Yudis memeluk tubuh istrinya dari belakang dan berbisik,"Aku mencintaimu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu hari ini masuk kerja jam berapa?"


"Jam 2 siang, Mas!"


"Nanti aku jemput," ucap Yudis.


"Tapi jangan telat lagi, ponsel di isi daya." Ujar Sabrina.


"Siap istriku," sahut Yudis.


"Ibu kemari? Nanti kita mengunjungi mereka, jika kamu resign dan aku libur kerja," ucap Yudis.


"Ya, sudah tidak apa-apa."


"Oh, ya sayang. Besok kemungkinan aku akan pulang larut malam," ujar Yudis.


"Kamu lembur, Mas?"


"Tidak, tapi besok aku harus ke luar kota."


"Kalian tidak menginap?"


"Tidak, perjalanan ke kota sebelah hanya butuh 2 jam saja," jelas Yudis."Maaf, aku tak bisa jemput kamu!" ucapnya lagi.


"Tidak masalah, Mas. Aku bisa naik ojek," ujar Sabrina.


Yudis pun pergi kerja, tak lama suaminya pergi dua orang pria datang menemui Sabrina.


"Cari siapa, Pak?" tanya Sabrina.


"Cari Pak Yudis."


"Kenapa dengan suami saya?"


"Begini, Bu. Suami anda Pak Yudis memiliki utang kepada kami sebesar 3 juta rupiah," jawab seorang bapak dengan ramah.


"Utang untuk apa, Pak. Kalau saya boleh tahu?" tanya Sabrina lagi.


"Saya kurang tahu, Bu. Tapi yang minjam Bu Linda dan Pak Yudis sebagai penjaminnya," jelas bapak itu lagi.


"Masalah apa lagi?" batinnya bertanya.

__ADS_1


"Mereka pinjam dua bulan yang lalu, berjanji akan membayarnya bulan ini. Tapi kami tunggu tak datang juga," jelas bapak yang satunya lagi.


"Maaf sebelumnya nama bapak siapa, ya?"


"Nama saya Andi dan dia Jono."


"Begini, Pak. Suami saya lagi bekerja, jika bapak ingin bertemu dengannya bisa datang kembali nanti sore," tutur Sabrina.


"Baiklah, kalau begitu terima kasih. Kami permisi,Bu!" ucap kedua bapak itu pamit.


"Iya, Pak. Sama-sama," jawabnya.


Setelah kedua bapak itu pergi, Sabrina mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada suaminya.


"Mas, tadi ada dua orang bapak-bapak mencari kamu. Katanya Mama Linda punya utang dan kamu penjaminnya," begitu isi pesan Sabrina.


Tak lama, Yudis membalas pesan istrinya."Iya sayang, aku lupa membayarnya."


"Nanti sore, bapak itu kembali datang. Kamu urus mereka, aku tak mau ikutan masalahmu," balas Sabrina.


"Iya, sayang. Nanti aku akan bertemu dengan mereka," balas Yudis lagi.


Sabrina menghela nafasnya,"Heran aku dengan Mama mertuaku itu, untuk apa dia berhutang. Padahal tidak pernah kekurangan," gumamnya.


*


Malam harinya, saat Yudis menjemput istrinya. Sabrina memberanikan diri untuk bertanya lagi,"Apa Mas sudah bertemu dengan Pak Andi dan Pak Jono?"


"Sudah."


"Apa kamu sudah membayarnya?"


"Belum, aku bilang bulan depan," jawabnya.


"Bukankah gaji Mas cukup untuk membayar utang itu?"


"Aku ada keperluan yang lain jadi belum bisa membayarnya," jelas Yudis.


"Keperluan apa, Mas?"


"Bayar kartu kredit yang mulai membengkak," jawabnya lagi.


"Kamu punya kartu kredit?" Sejak kapan?"


"Sejak setahun yang lalu, aku selalu bayar tepat waktu kok," ujarnya.


"Mas, kenapa tidak jujur padaku?"


"Sayang, yang penting kamu itu aku kasih uang belanja. Kamu tidak usah mikirin utangku," tutur Yudis.


"Tapi aku tidak suka, Mas. Lebih baik kita hidup apa adanya sesuai gajimu, tidak berlebihan." Protes Sabrina.


"Aku janji setelah lunas mobil, tidak akan mengutang lagi." Ucapnya.


"Termasuk kartu kredit, kamu juga harus berhenti memakai kartu itu." Ucap Sabrina.


"Aku tak mau dituduh mama dan kakakmu menghabisi uangmu," celetuk Sabrina.


"Tidak akan sayang," ujar Yudis."Kamu sudah makan malam?" tanyanya.


"Belum," jawab Sabrina.


"Kita cari makan, yuk!"


"Kita makan di tempat saja. Aku tak mau tiba-tiba Mama kamu muncul dan mengambil jatah makan malam ku," ujar Sabrina.


"Iya, sayang."

__ADS_1


__ADS_2